Pameran Hidangan Ala Kadarnya: Menemukan Kembali Karnedi Nataatmaja
Lukisan Karnedi Nataatmaja yang tersimpan hingga 13 tahun, foto-foto keluarga, katalog lama menjadi pintu masuk untuk merekonstruksi jejak seorang seniman.
Penulis Anisa Putri Balqis29 Agustus 2026
BandungBergerak - Televisi menjadi salah satu kebiasaan Karnedi Nataatmaja, seniman kelahiran Garut, 17 Januari 1924. Di usia tuanya, Karnedi tinggal bersama anak cucunya. Pada masa itu, televisi menyala dan berita berganti-ganti: Bosnia, kelaparan di Afrika, hingga kekacauan yang melanda berbagai daerah di Indonesia. Di ruang keluarga, cucu-cucunya sebenarnya ingin menonton kartun. Tetapi televisi lebih sering dikuasai sang kakek dan berita-berita yang dibawanya.
Apa yang tampak di layar televisi kemudian berpindah ke kanvas yang mengisi ruang pameran bertajuk Hidangan Ala Kadarnya di Tjap Sahabat Gallery & Cultural Hub, Jalan Cibadak 168A, Bandung. Pameran yang berlangsung hingga 30 Agustus 2026 dihadiri lebih dari 100 orang pada pembukaannya.
Jejak dari latar 1999 yang ditonton Karnedi berdiri melalui Kekacauan, kanvas berukuran 135 x 135 sentimeter, dipenuhi kerumunan yang tampak kalut. Nama-nama daerah yang dilanda konflik pada masa Reformasi ditulis langsung di permukaannya: Aceh, Ambon, Banjarmasin, Irian Jaya, Timor Timur, Pekalongan, Jepara. Di sebelahnya, Krismon menghadirkan sapuan-sapuan hitam yang keras dan ekspresif di atas latar merah dan kuning.
“Televisi itu jadi satu kebiasaan beliau yang juga menyebalkan bagi beberapa cucunya, karena jadi rebutan, cucunya pengen nonton kartun tapi akhirnya nonton berita,” kata Wibisono Tegar Guna Putra, kurator pameran Hidangan Ala Kadarnya.
Karya-karya Karnedi menyerupai catatan seorang yang sedang menyaksikan zamannya. Berita yang masuk dari layar televisi diolah menjadi garis, warna, kerumunan, dan kata-kata. Karnedi tidak perlu berada di Bosnia atau Afrika untuk melukis kegelisahan tentangnya. Cukup dengan duduk di depan televisi, menyaksikan dunia yang sedang berantakan, lalu mengangkat kuas.
Karnedi Nataatmaja lahir di Cibatu, Garut, 17 Januari 1924. Selain pelukis, ia seorang pelukis, illustrator, fotografer, dan desainer otodidak yang tidak pernah mengenyam pendidikan seni rupa formal. Ia ikut mendirikan Sanggar Jiwa Mukti bersama Barli Sasmitawinata, mendesain sampul hari pertama Pos dan Giro tahun 1951–1961, dan menjadi ilustrator buku-buku sekolah terbitan Ganaco dan Terate.
Namanya pernah muncul dalam polemik "Mazhab Bandung vs Mazhab Yogyakarta" tahun 1954, ketika kritikus Trisno Sumardjo menulis ulasan keras tentang pameran di Balai Budaya, Jakarta, yang secara keliru menganggap semua peserta, termasuk Karnedi, adalah mahasiswa akademi seni formal.
Tapi di luar momen-momen itu, jejaknya nyaris tidak ada di ruang-ruang tempat sejarah seni rupa biasa ditulis: jurnal kritik, katalog kelembagaan, arsip akademik.
"Internet terbatas sumbernya," kata Wibisono. "Karena Pak Karnedi bukan seniman arus utama pada masa itu, dia besarnya di sanggar bukan di pendidikan yang institusinya formal, jadi mungkin di situ dia juga minim untuk diangkat sebagai bagian dari sejarah besar seni rupa."
Yang ada justru sebaliknya. Arsip melimpah di rumah keluarga. Lukisan bersandar di balik lemari dan di gudang. Foto-foto terselip di antara dokumen keluarga, seperti undangan cetak pameran "agustusan" yang tintanya mulai pudar. Bahkan, beberapa lukisan baru saja dibongkar setelah 13 tahun tidak pernah disentuh.
Baca Juga: Museum Mini Suyadi di Jalan Sawunggaling
Menolak Lupa Pemberangusan Buku di Bandung Melalui Pameran Arsip, Diskusi, dan Musik
Rekonstruksi Arsip
Pameran Hidangan Ala Kadarnya menyebut dirinya "rekonstruksi arsip". Wibisono menjelaskan, yang direkonstruksi bukan hanya hard archive, dalam hal ini lukisan dan ilustrasi, tapi juga memori, ingatan, kebiasaan, dan kegiatan Karnedi.
Dalam persiapan dua bulan, Wibisono dan tim berangkat dari pertanyaan sederhana: keluarga punya apa? Dari situ barulah arah pameran terbentuk, bukan dari konsep ideal di kepala kurator, tapi dari material yang tersedia. Katalog lama, buku ilustrasi, perangko sampul hari pertama, dokumentasi foto, hingga buku-buku bekas yang diburu dari penjual buku lawas di sekitar Bandung.
Sekitar 26 lukisan dan 2 foto yang dipamerkan dipilih berdasarkan satu kata kunci: dekat. Dekat dengan keluarga, dekat dengan isu hari ini, dekat dengan masyarakat. Hanya karya-karya yang masih bisa berbicara dengan konteks hari ini yang akhirnya dipajang.
Hasilnya adalah tata ruang yang terasa seperti rumah, bukan galeri. Pengunjung pertama kali disambut oleh karya-karya awal Karnedi di tahun 1950-an, eksplorasi kubisme, still life, figur-figur perempuan, hal-hal kecil yang merekam kehidupan di sekitarnya.
Dari situ, pengunjung diarahkan masuk ke ruang yang lebih privat: ada kursi dan meja kecil tempat pengunjung bisa duduk dan membaca buku-buku referensi Karnedi, sebuah televisi, rak yang menyimpan album foto dan kamera beliau. Baru setelah itu, pengunjung bertemu dengan karya-karya yang lebih personal seperti Isteriku (1961), potret istrinya Hetty Joewati Oedit yang duduk bersila dengan latar belakang kubistik. Dan di bagian paling dalam, barulah karya-karya yang bicara tentang isu yang lebih luas, seperti isu sosial, politik, nasional.
"Jadi kami konstruksikan pameran ini seperti rumah” kata Wibisono.
Menurut pria yang berlatar belakang antropologi, membaca Karnedi bukan hanya sebagai seniman, tapi bagaimana seniman itu tidak bisa diisolasi dari konteks sosial dan budayanya ketika dia hidup.
Penjelasan Wibisono tampak dari rentang pembuatan karya-karya Karnedi baik secara waktu maupun tema. Pemandangan (1949) berupa still life sederhana di mana hanya ada mangkuk buah di atas meja, cat minyak di atas tripleks. Rujak (1996) melukis bahan-bahan rujak di atas meja dengan gaya yang hangat dan sehari-hari. Nonton Pawai (1952) memindahkan fokus dari prosesi resmi ke penonton yang berdiri di pinggir jalan, orang-orang biasa yang kerap luput dari kanvas.
Pameran ini menunjukkan bahwa sang seniman tidak lahir dari institusi seni rupa. Ia lahir dari percakapan dua cucu Karnedi, Teresa, 38 tahun, dan Terranova, 41 tahun, yang penasaran dengan sosok kakek mereka di luar ruang keluarga.
"Kami penasaran, siapa sih Aki sebenarnya di luar sosok kakek yang kami tahu, di seni rupa itu sendiri siapa," kata Terranova.
Pertemuan dengan Heru Hikayat, kurator seni rupa yang ternyata pernah bertemu langsung dengan Karnedi di tahun 2001 saat Bandung Art Event menjadi pemicunya. Dari situ, arsip mulai dibuka. Lukisan yang 13 tahun tidak disentuh akhirnya dikeluarkan. Dan pameran yang tadinya direncanakan lebih lama, akhirnya terwujud dalam dua bulan persiapan sesuai namanya: ala kadarnya.
"Persiapannya terlalu pendek," aku Terranova. "Tapi ya oke, kita lakuin aja. Ini percobaan pertama, mungkin ke depannya bisa lebih banyak pameran lagi."
Soal penjualan karya yang tercantum kontaknya di katalog. Karnedi sendiri dikenal tidak pernah menjual lukisannya. Tapi apakah itu karena memang tidak diniatkan dijual, atau karena tidak ada yang membeli? Yang jelas, keputusan sekarang ada di tangan ahli waris.
Di mata pengunjung pameran, Muhammad Rafi Pastika, 22 tahun, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Telkom University, adalah salah satu pengunjung yang datang di hari pembukaan. Ia belum pernah mendengar nama Karnedi sebelumnya, Rafi tahu pameran ini dari dosennya. Karya yang paling menarik perhatiannya: 3 Kawan Berkebaya, 3 Kawan Berjilbab (2002).
"Kayaknya ada maknanya sendiri yang pengen disampaikan," katanya. "Bicara soal bagaimana berpakaian dan berbudaya."
Bagi Rafi, format pameran ini terasa berbeda dari yang pernah ia lihat. "Ini ngasih suasana baru di perayaan 17-an."
Dan mungkin itulah yang paling relevan dari seluruh pameran ini, bukan cuma soal siapa Karnedi, tapi soal bagaimana sebuah ingatan diwariskan. Bukan lewat institusi, bukan lewat kritik seni, tapi lewat cucu yang membuka gudang, menemukan lukisan yang 13 tahun tak tersentuh, dan memutuskan: sudah waktunya orang lain juga melihat ini.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami


