Piknik Tanpa Plastik, Langkah Kecil Melawan Timbunan Sampah di Bandung
Di tengah produksi sampah yang terus tinggi, warga Bandung diajak membuktikan bahwa kegiatan bersama tak harus meninggalkan jejak plastik sekali pakai.
Penulis Yopi Muharam3 September 2026
BandungBergerak - Dua perempuan bersantap siomay beralas misting dan daun pisang. Mereka duduk di atas tikar merah muda, di bawah rindangnya pepohonan Taman Panatayuda, Kota Bandung, Minggu, 30 Agustus 2026. Mereka mengikuti Piknik Bebas Plastik yang diinisiasi tujuh organisasi dan komunitas lingkungan.
Ketujuh organisasi tersebut adalah Greenpeace, Walhi, YPBB, Ngadur, River Clean Up, Mari Isi Ulang (MIU), dan Bike to Work (B2W) Bandung. Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah pedagang di sekitar lokasi.
Peserta yang melakukan registrasi mendapatkan tiga kancing yang dapat ditukarkan dengan makanan. Syaratnya, peserta harus membawa sendiri alat makan atau minum.
Meyfie Dewi datang dari Buahbatu bersama rekannya. Ia tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena mengangkat isu kepedulian lingkungan. Selain menikmati makanan secara gratis, peserta dapat mengikuti lokakarya dan pertunjukan teatrikal bertema lingkungan.
Menurut Dewi, persoalan sampah plastik bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga perlu terlibat melalui kebiasaan sehari-hari.
“Saya jadi semakin sadar bahwa kebiasaan kecil yang kita lakukan sehari-hari ternyata bisa memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan,” ungkapnya kepada BandungBergerak.
Dewi mengaku mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tas belanja, botol minum, dan tempat makan saat bepergian. Ketika membeli makanan atau minuman, ia berusaha menghindari wadah plastik sekali pakai.
Kebiasaan tersebut telah ia jalani sejak sekolah dasar. Sekolahnya di tiga jenjang pendidikan menerapkan program go green yang mengajarkan siswa memilah dan mendaur ulang sampah, termasuk mengumpulkan botol plastik.
Bagi Dewi, kepedulian terhadap sampah perlu ditanamkan sejak dini dan ditularkan kepada anak-anak serta generasi muda. Ia berharap kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi sampah plastik, tidak hanya di Bandung, tetapi juga secara lebih luas.
“Semoga semakin banyak orang yang sadar bahwa mengurangi plastik bisa dimulai dari diri sendiri dan dari hal-hal kecil,” harapnya.
Sementara itu, Mahayuna datang dari Baleendah menggunakan sepeda. Selain berolahraga, ia menilai bersepeda dapat membantu mengurangi polusi kendaraan di jalan raya.
Una, sapaan Mahayuna, mengaku kegiatan tersebut membuatnya semakin memahami bahaya sampah plastik. Namun, ia menyadari belum sepenuhnya dapat meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai.
Ke depan, ia berkomitmen mengurangi penggunaannya. Salah satu persoalan yang masih sulit ia hindari adalah kemasan plastik dari belanja daring.
“Sebetulnya ada satu aktivitas nyampah yang sering membuat aku merasa bersalah, tapi tetap dilakukan karena tidak tahu cara mengurangi penggunaannya, yaitu sampah bungkus barang yang dibeli di toko online,” terangnya.
Menurut Una, barang berukuran kecil pun sering dikemas dengan beberapa lapis plastik sehingga menambah timbunan sampah.
Kepeduliannya terhadap persoalan sampah tumbuh setelah membaca berbagai informasi tentang tempat pembuangan akhir (TPA) yang terbakar atau meledak akibat gas metana dari sampah organik yang tertutup plastik.
Ia berharap semangat mengurangi plastik tidak berhenti dalam kegiatan piknik, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari.

Bahaya Sampah bagi Lingkungan
Setiap hari, Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah. Sebagian besar merupakan sampah organik, tetapi sampah anorganik, termasuk plastik, tetap menjadi persoalan karena berpotensi mencemari lingkungan.
Muhammad Luthfi, Tim Advokasi Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB), mengatakan Kota Bandung telah memiliki program Gerakan Sampah Kelas di Wilayah (Gaslah) yang diluncurkan pada 26 Januari 2026. Program tersebut ditujukan untuk menangani kondisi darurat sampah di Kota Bandung.
Petugas Gaslah bertugas memilah sampah organik dan anorganik dengan harapan mengurangi sampah yang dibuang ke TPA. Namun, menurut Luthfi, praktik pemilahan sampah di Kota Bandung belum dilakukan secara luas.
“Kita juga tidak bisa mengandalkan pemerintah saja, kita juga butuh kesadaran dan dukungan dari pihak swasta,” ujar Luthfi. Ia menilai sektor industri juga perlu bertanggung jawab karena turut menghasilkan sampah.
Luthfi mengingatkan risiko ketika sampah plastik bercampur dengan sampah organik. Plastik dapat menutup sampah organik sehingga menciptakan kondisi tanpa udara atau anaerob. Kondisi tersebut memicu proses metanogenesis oleh bakteri metanogen yang menghasilkan gas metana di TPA.
Gas metana menjadi salah satu faktor yang dapat memicu kebakaran di TPA. Menurut Luthfi, pengurangan risiko tersebut dapat dilakukan melalui pemilahan sampah dan memastikan sampah organik serta anorganik tidak tercampur sebelum masuk ke TPA.
“Dua-duanya sama-sama berbahaya dan dua-duanya bisa kita reduksi dengan cara segregation waste, pemilahan sampah, dan juga memastikan tidak ada sampah organik dan anorganik yang tercampur ke TPA,” terangnya.
Di sisi lain, Jefry Rohman dari Walhi menilai pengelolaan sampah plastik di Kota Bandung masih belum berjalan optimal. Plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai sehingga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dalam jangka panjang.
Menurut Jefry, persoalan juga muncul ketika sampah plastik berbahan dasar fosil dibakar secara terbuka karena menghasilkan emisi yang berkontribusi terhadap pencemaran udara dan perubahan iklim.
“Sampah plastik kan notabene bahan dasar fosil. Kalau dibakar terbuka menghasilkan karbon dioksida yang konsentrasi timbalnya menumpuk,” bebernya.
Data Open Data Bandung menunjukkan produksi sampah plastik di Kota Bandung masih tinggi. Pada 2025, rata-rata produksi sampah plastik mencapai 286,4915 ton per hari. Angka tersebut tercatat 249,16 ton per hari pada 2024, 268,83 ton pada 2023, 266,23 ton pada 2022, dan 276,43 ton pada 2021. Produksi tertinggi dalam periode tersebut terjadi pada 2020, yakni 324,28 ton per hari.
Baca Juga: Mikroplastik di Bandung, dari Sungai Tercemar hingga Ancaman bagi Kesehatan
Dari Sampah Plastik ke BBM: Inovasi Energi Alternatif di Cimahi di Tengah Sorotan Risiko Lingkungan
Jejak Sampah di Sungai
Sekitar pukul 08.00, sebelum piknik dimulai, peserta dan panitia membersihkan Sungai Cikapundung di kawasan Braga. Mereka turun ke sungai untuk memungut dan mengumpulkan sampah, terutama plastik.
Egar Anugrah, Country Lead River Clean Up, mengatakan masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Jika terus dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat mencemari lingkungan dan meningkatkan risiko bencana.
Dalam setiap kegiatan bersih-bersih sungai, kata Egar, timnya dapat mengumpulkan sekitar 800 kilogram hingga 1,2 ton sampah nonorganik. Sebagian besar berupa plastik.
Karena itu, menurut Egar, penanganan sampah tidak cukup dilakukan melalui aksi bersih-bersih. Upaya harus dimulai dari hulu dengan membangun kesadaran masyarakat mengenai persoalan sampah dan cara menguranginya.
“Sadar dulu, paham permasalahan, lalu mengurai dengan jawabannya lewat solusi-solusi,” tuturnya.
Solusi dapat dimulai dari rumah, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Namun, perubahan jangka panjang juga membutuhkan dukungan pemerintah melalui sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Penting juga untuk jadi perhatian dari pemerintah. Harus ada dukungan, sistemnya harus dibangun dan berkelanjutan tentunya,” tandasnya.
Sementara itu, Mochamad Andi Nurfauzi, Ketua Bike to Work Bandung, menilai pengelolaan sampah di Kota Bandung belum memiliki arah yang konsisten. Ia menyoroti belum meratanya praktik pemilahan sampah di masyarakat.
Menurut Andi, banyak warga masih membuang sampah ke tempat pembuangan sementara (TPS) tanpa memilahnya terlebih dahulu.
Ia mengatakan kebijakan pengelolaan sampah di Bandung kerap berubah, mulai dari rencana penggunaan insinerator yang ditolak Bike to Work karena dinilai bertentangan dengan prinsip udara bersih, hingga program petugas pemilahan sampah dan Refuse Derived Fuel (RDF).
Di sisi lain, anggota Bike to Work berupaya menerapkan prinsip bebas sampah plastik dalam aktivitas sehari-hari. Saat bersepeda, misalnya, mereka membawa botol minum atau tempat makan sendiri.
“Jadi menurut saya bersepeda teh harus juga upayanya mendukung juga terhadap kita bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakailah,” pungkas Andi.
Piknik Tanpa Plastik
Piknik Bebas Plastik pertama kali diinisiasi pada 2019 di Jakarta. Di Bandung, kegiatan ini baru digelar untuk pertama kalinya. Tujuannya mengampanyekan perbaikan tata kelola sampah sekaligus mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Ketua Pelaksana Piknik Bebas Plastik dari Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar, mengatakan gerakan tersebut ingin membangun kesadaran bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah tidak hanya berada di tangan konsumen atau warga. Perusahaan dan industri juga perlu terlibat.
Melalui konsep piknik, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa kegiatan massal dapat berlangsung tanpa menghasilkan sampah plastik sekali pakai. Pedagang yang terlibat berkomitmen tidak menggunakan plastik sekali pakai, sedangkan peserta membawa wadah makanan dan minuman sendiri.
“Dan peserta juga mau kok untuk bawa wadah sekali pakai (sendiri) dan emang di event juga kita enggak menghasilkan sampah sekali sama sekali gitu,” terangnya saat diwawancarai BandungBergerak.
Ibar menyarankan masyarakat membawa wadah sendiri ketika berbelanja di pasar tradisional, misalnya untuk membeli ayam atau bumbu dapur. Wadah tersebut dapat dicuci dan digunakan kembali.
Ia juga mengimbau masyarakat menolak sedotan plastik ketika berada di kafe atau restoran. Namun, menurut Ibar, upaya individu harus dibarengi langkah industri untuk mengurangi kemasan plastik sekali pakai.
“Artinya apa? Kita harus dorong si industri untuk bisa ngurangi kemasan plastik sekali pakainya,” pungkas Ibar.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


