• Opini
  • Di Balik Tagline Persib “Lives Inside Us”: Konflik, Narasi Kultural, dan Hal-hal yang Tak Selaras dengan Logika

Di Balik Tagline Persib “Lives Inside Us”: Konflik, Narasi Kultural, dan Hal-hal yang Tak Selaras dengan Logika

Persib bukan lagi sekadar kesebelasan yang bermain 90 menit di lapangan. Ia adalah bahasa pemersatu, eskapisme, dan menjadi cara bagi orang-orang mengingat kota.

Bikry Praditya

Seorang buruh tulis, foto, dan juga video di salah satu media musik Indonesia. Mari bercengkerama via IG @bikrypna

Nobar Persib Bandung vs PSM Makassar di Terminal Dago, Coblong, Kota Bandung, Minggu, 17 Mei 2026. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

8 September 2026


BandungBergerak – Persib menggelar launching tim untuk mengarungi musim 2026/2027 pada Selasa, 25 Agustus 2026,  sore. Acara yang digelar di Gor C-tra Arena itu menjadi sorotan karena jadi tim sepak bola pertama yang launching timnya disiarkan di TV nasional. Di kesempatan itu, Persib mengumukan tagline baru: “Lives Inside Us”. Tagline itu mungkin jadi representasi paling organik untuk menunjukkan seberapa besar pengaruh Persib bagi masyarakat, salah satunya saya yang memaksa mengumpulkan kembali memori-memori soal Pepersiban yang tidak tiba-tiba itu.

Sampai akhirnya ingatan saya terbawa pada suatu sore di Bandung yang tak pernah mengecewakan, tak pernah juga semeriah sore hari di tanggal 24 April 2007, saat Persib Bandung berhasil mengalahkan Persija Jakarta dengan skor 3-0 di Stadion Siliwangi. Itulah kali pertama seorang bocah kecil datang ke stadion yang dibasahi hujan seharian, namun tetap berteriak lantang meski kedinginan. Di hari itu, bocah tujuh tahun tersebut memasuki gerbang tak berujung bernama fanatisme.

Berbicara tentang Persib berarti berbicara tentang kota, lebih sentimentil dari faktor politis yang mendasarinya. Sebagian meyakini bahwa Persib adalah warisan, sebagian lain merasa bahwa Persib adalah “agama” yang mengakar pada keseharian warganya.

Rasanya saya telah cukup merasakan berbagai macam fase ngabobotohan, mulai dari muak atas 19 tahun tanpa gelar, mencekamnya tahun 2014, hingga jadi saksi sejarah untuk pertama kalinya di Indonesia ada klub sepak bola yang dapat meraih tiga gelar liga berturut-turut (2024, 2025, 2026).

Di ruang-ruang itulah Persib kemudian muncul bukan lagi sebagai klub, ia adalah bahasa pemersatu yang tak bisa dilafalkan atau ditulis lewat abjad. Ada pengalaman spiritual tertentu yang harus membuat kita bisa mengerti mengapa Persib sedigilai ini.

Baca Juga: Menolak Menjadi Penonton: Membebaskan Persib dan Bobotoh dari Cengkeraman Masyarakat Tontonan
Persib Sudah Juara, Lantas Kota Bandung Kapan?
Mengukur Seberapa Jauh Jarak Bobotoh dengan Persib

Persib, Fanatisme, dan Penindasan Sistematis

Di era sekarang ini, sepak bola bertransformasi bukan lagi sebagai hiburan dan olahraga saja. Ia kemudian menjadi induk dari segala praktik kapitalisme di bawah bayang-bayang fanatisme.

Jika kita berbicara soal fanatisme, ia lahir dari kawin silang antara cinta, kebanggaan, dan keterikatan yang tumbuh terlalu dalam untuk dijelaskan secara sederhana. Pada titik tertentu, ia tidak lagi berdiri sebagai bentuk dukungan, melainkan berubah menjadi keyakinan yang hidup dalam diri masing-masing penganutnya. Ia dibawa pergi ke tribun kandang, dijaga sepanjang perjalanan tandang, lalu diwariskan terus-menerus dengan cara yang hampir serupa dari generasi ke generasi.

Di situlah sepak bola berhenti menjadi sekadar pertandingan. Ia menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih personal sekaligus brutal. Ada nafkah yang dipertaruhkan, harga diri yang dijaga habis-habisan, sampai hidup yang rela dipertaruhkan demi sebuah lambang di dada. Karena bagi mereka yang hidup terlalu dekat dengan sepak bola, menang dan kalah sering kali hanya menjadi bagian paling kecil dari keseluruhan cerita.

Kiranya begitulah gambaran mengapa Persib bisa dicintai sebrutal ini oleh para pendukungnya. Persib itu identitas yang tak kan pernah bisa luntur karena telah mengakar jauh bersama DNA. Namun muncul satu bab baru dalam fanatisme tersebut yang kemudian jadi penilaian baru mengapa Persib bisa masyhur lebih jauh di penjuru daerah yang tak berkaitan dengan Bandung itu sendiri. Kapitalisme adalah jawabannya.

Kita tidak bisa mengingkari fakta bahwa setelah Persib menjadi badan usaha di tahun 2009, pola penyebaran Persib sebagai “klub warga” mulai bergeser jadi “klub bagi yang mau-mau saja”. Transisi tersebut memang tidak langsung terasa, kiranya pasca juara tahun 2014, praktik exercising power dari PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) mulai terasa; entah dilakukan oleh “geng lama” atau “geng baru” di dalam kursi manajemen Persib.

Gelombang resistensi muncul bergilir, itu bukan ekspresi kebencian, justru seperti itulah cinta dijabarkan; terkadang perlu cara-cara keras agar didengarkan. Dikotomi yang kemudian memicu perpecahan horizontal dimulai sejak muncul istilah “Bobotoh Santun”. Ya, betul, sangat menjijikkan memang membuat sebuah istilah moralis mampus hanya untuk melanggengkan praktik bisnis yang mengikis akar kepercayaan dari bobotoh itu sendiri.

Jadi bobotoh di era itu tidaklah mudah, ancaman penculikan bahkan penangkapan sering kali terdengar. Puncaknya di era Teddy Tjahjono, rasanya itulah titik di mana Persib sebagai klub berada begitu jauh bersama suporternya. Entah apa yang dirasa, namun praktik yang dilakukan manajemen di era itu persis seperti opresi militer terhadap masyarakat adat.

Polanya, mengubah “kebiasaan” lama guna membentuk “kebiasaan” baru dengan segenap aturannya yang mengekang. Tujuannya tentu agar bobotoh jadi budak kapitalisme busuk yang hanya perlu tunduk dan mengatakan “ya” pada manajemen beserta aturannya.

PT PBB berhasil mengubah stadion yang notabene lahan bermain para suporternya menjadi penjara Panoptikon, seperti yang dikatakan banyak literatur, bahwa kapitalisme modern tidak hanya beroperasi melalui penguasaan ekonomi, melainkan melalui kontrol atas tubuh, pikiran, dan perilaku manusia.

Kapitalisme selalu punya celah dalam melihat potensi-potensi bisnis. Hingga tibalah hari di mana manajemen Persib di bawah PT PBB melakukan manuver paling konyol dengan secara mendadak membuat penelitian nirfungsi guna menegaskan tahun lahir Persib yang telah dipercayai massal pada 14 Maret 1933 jadi 5 Januari 1919.

Berita tersebut jelas memunculkan perlawanan di mana-mana. Persib bukanlah sebuah klub, melainkan keyakinan, kepercayaan, dan hal apa pun yang mendasari fundamental pendukungnya untuk hidup. Toh, bobotoh juga bukan benda mati. Tanpa fanatisme dari mereka, mustahil kapitalisme modern bisa melihat Persib sebagai peluang bisnis.

Entah apa yang dirasa PT PBB era Teddy Tjahjono dengan proyek tersebut. Lagi, gelombang perlawanan yang muncul kemudian bermuara pada satu diskusi antara bobotoh dan tim peneliti. Tidak ada jawaban memang dari diskusi tersebut, tapi satu hal yang diketahui pasti; bahwa penelitian tersebut bukanlah penelitian murni berdasarkan urgensi bersama, melainkan nafsu segelintir orang untuk mematenkan nama perusahaan agar lepas dari embel-embel klub milik bersama.

Sulit rasanya memisahkan praktik kapitalisme dalam kehidupan modern ini, termasuk pada tata kelola klub sepak bola berbasis korporasi. Tapi di situlah peran dari suporter sangat diperlukan sebagai penyeimbang, bukan jadi hambatan. Dalam kasus ini, bobotoh jadi salah satu kelompok suporter yang sangat vokal terhadap dinamika yang terjadi dalam tim Persib.

Persib sudah hadir sejak hari pertama mereka menghirup udara dunia, ditiupkan serupa roh ke dalam tubuhnya, dan mengalir bersama darah. Jadi, mengusik Persib sama artinya dengan mengancam nyawa seseorang. Logis? Tentu tidak, tapi begitulah adanya.

Bobotoh, Sepak Bola, dan Nalar yang Berhenti Bekerja

Seperti satu malam, sehabis berlatih, saya keluar ruangan dengan celana sontog dan sendal jepit membingkai kaki, berniat menghampiri tukang sekoteng yang tengah berkeliling. Di sela-sela heningnya malam di daerah Trunojoyo, ia membuka obrolan, “A, Persib cuma butuh imbang buat jadi juara lagi. Alhamdulilah kaalaman nyaksian Persib 3x juara berturut-turut.”

Mendengar itu saya terdiam, bagaimana mungkin dia tanpa clue apa pun dia bisa mengenali saya sebagai bobotoh dengan penampilan saya yang lebih terlihat seperti penjaga warnet dibanding bobotoh di stadion? Ternyata itulah jawabannya, Persib adalah bahasa yang mengaburkan sekat kecanggungan di batas perkenalan.

Ia merupakan kesadaran kolektif yang tumbuh dari obrolan-obrolan kecil di pinggir jalan, dari suara radio warung kopi, dari orang-orang yang mungkin tidak saling mengenal, tapi bisa langsung akrab hanya karena menyebut satu nama yang sama. Persib adalah rokok dan korek yang mengaburkan kecanggungan di sela-sela berteduh di kios pinggir jalan.

Ada semacam rasa memiliki yang sulit dijelaskan, seolah Persib bukan cuma urusan sepak bola, melainkan bagian dari cara orang Bandung dan sekitarnya membaca dirinya sendiri. Lalu bagaimana menjelaskan hal-hal di luar nalar ini kepada warga kota yang sekadar tinggal tanpa merasakan komponen di dalamnya? Tentu sulit.

Menjelaskan fanatisme suporter sepak bola pada awam sama sulit dan melelahkannya seperti menjelaskan tentang Tuhan pada Ateis atau menjelaskan alasan harus berpisah pada kawan yang terus-terusan minta balikan pada mantannya. Dalam konteks ini, Persib menyelip dalam jeda harian, ia ada di tiap waktu luang bersama keringat atau kemeja lusuh para pekerja yang sebagian keuntungannya digunakan untuk menyaksikan langsung ke stadion.

Bagaimanapun juga, rasa cinta bobotoh terhadap Persib tak kan bisa dijabarkan lewat logika umum. Ia harus membentuk logika baru yang paham akan apa yang diperjuangkan.

Dan mungkin itu alasan kenapa perayaan juara Persib selalu terasa lebih besar dari sekadar kemenangan klub sepak bola. Persib bagi warga Bandung dan Jawa Barat lebih dari sekadar pelarian, bayangkan tinggal di negara dengan presiden kacrut, gubernur tukang gimmick, dan wali kota yang, maaf, entah kapan saya ingat Bandung terakhir kali punya wali kota. Persib jadi eskapisme bagi mereka yang tetap butuh sesuatu untuk dirayakan bersama.

Persib kemudian hadir bukan cuma sebagai hiburan, tapi juga ruang untuk pulang. Ruang tempat orang-orang bisa lupa akan hidup yang berat. Tidak peduli umur, pekerjaan, atau generasi, semua menyatu dengan cara yang sederhana. Ada bapak-bapak yang sejak muda sudah ikut awayday ke kandang lawan, ada anak kecil yang baru fasih bernyanyi Halo-Halo Bandung, ada orang tua yang mengajak anaknya konvoi untuk pertama kali. Semuanya bertemu di perasaan yang sama, sebagai memori dan kehadiran kolektif.

Maka ketika nanti kota kembali dipenuhi lautan biru dan orang-orang turun ke jalan sambil saling peluk dengan orang yang bahkan tidak mereka kenal, yang dirayakan mungkin bukan cuma soal piala; tapi perasaan bahwa di tengah hidup yang belakangan terasa kacau. Kita masih punya alasan untuk bahagia bersama.

Saya akan mengatakan bahwa sebagai bobotoh kita harus punya nalar kritis dan ruang untuk tetap berjarak serta mengawasi kinerja manajemen. Tapi soal yang satu ini saya harus sepakat. Slogan “Lives Inside Us” adalah kalimat yang paling mudah untuk menjelaskan bagaimana Persib diposisikan sebagai nadinya masyarakat.

Secara nama, Persib memang sebuah klub sepak bola. Tapi secara makna dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, Persib adalah bahasa. Bahasa yang dipahami tanpa perlu diterjemahkan. Persib bukan lagi sekadar kesebelasan yang bermain sembilan puluh menit di lapangan. Ia telah menjadi bagian dari cara orang-orang mengingat kota, merayakan sesuatu, bahkan mengenali dirinya sendiri sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Pada akhirnya, hubungan orang-orang dengan Persib memang tidak selalu bisa dijelaskan lewat hitung-hitungan prestasi, taktik, atau klasemen. Ada hal-hal yang tetap dipertahankan meski sering pula kecewa, tetap dicintai meski tidak selalu memberi kemenangan.

Orang-orang tetap meluangkan waktu untuk datang ke stadion, tetap menyisihkan uang untuk beli merchandise, tetap banting tulang demi menonton pertandingan, bahkan di tengah hidup yang makin sibuk dan melelahkan. Kadang manusia hanya butuh sesuatu untuk dipercaya, dirayakan, dan dirasakan bersama-sama, agar hidup tidak terasa terlalu sepi dijalani sendirian. 

Dan mungkin memang begitu seharusnya. Persib Lives Inside Us. Karena tak semua hal mesti selaras dengan logika.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//