• Opini
  • Persib Sudah Juara, Lantas Kota Bandung Kapan?

Persib Sudah Juara, Lantas Kota Bandung Kapan?

Kita terlalu sering menggunakan kejayaan Persib sebagai candu untuk melupakan bobroknya fasilitas publik, hingga lupa menuntut hak kita sebagai warga kota.

Acep Saepulloh

Penulis Lepas yang berprofesi sebagai Ojek Daring dan Jasa Kebersihan.

Keluhan atau keresahan warga menjadi sumber wawasan untuk memperbaiki kota. (Ikustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

9 Juni 2026


BandungBergerak – Bagi warga Bandung, tidak ada akhir pekan yang lebih indah dan paripurna ketimbang menyaksikan dan merayakan Persib mengangkat trofi juara. Apalagi kemenangan kali ini mencetak sejarah baru sebagai klub sepak bola pertama di era profesional yang berhasil meraih gelar juara tiga kali berturut-turut atau three-peat.

Begitu peluit panjang ditiup wasit dan kepastian juara diraih, kota ini langsung berubah menjadi lautan biru. Flare dinyalakan, konvoi sepeda motor menderu-deru, klakson saling bersahutan, dan seluruh warga mendadak hanyut dalam kebahagiaan kolektif lewat teriakan, "Juara deui, juara deui!" dan "Champions again Persib Bandung!"

Euforia perayaan Persib juara begitu magis, tidak ada yang menyangkalnya. Sepak bola di kota ini bukan cuma hiburan sembilan puluh menit di lapangan, melainkan tradisi yang mengakar kuat di seluruh lapisan masyarakat. Keberhasilan Persib adalah pelipur lara paling mujarab bagi warga yang sehari-harinya sudah lelah dihajar oleh realitas kehidupan yang kian mencekik.

Namun, di balik kepulan asap flare dan sorak-sorai yang mulai mereda, sebuah ironi besar justru sedang menanti. Ketika sisa-sisa sampah konvoi mulai dibersihkan dan warga dipaksa bangun dari mimpi indah, sebuah kesadaran pahit mendadak muncul ke permukaan. Persib memang sudah profesional dan berhasil menjadi juara sejati, tetapi tata kelola kota tempat klub ini bernaung justru semakin amatir dan jalan di tempat. Kita terlalu sering menggunakan kejayaan Persib sebagai candu untuk melupakan bobroknya fasilitas publik, hingga lupa menuntut hak kita sebagai warga kota.

Baca Juga: Persib, Bandung, dan Kota yang Belajar Percaya pada Kemustahilan
Persib dan Politik Kebudayaan
Menolak Menjadi Penonton: Membebaskan Persib dan Bobotoh dari Cengkeraman Masyarakat Tontonan

Persib Juara di Lapangan, Bandung Degradasi di Jalanan

Mari lepaskan dulu sudut pandang fanatisme sepakbola Bandung sejenak. Ketika tim asuhan Bojan Hodak dengan cerdas mengeksekusi strategi matang di lapangan hijau, warga Bandung sehari-hari justru harus pontang-panting mengeluarkan taktik bertahan hidup di jalanan. Lembaga riset TomTom Traffic Index bahkan sempat menobatkan Bandung sebagai kota termacet di Indonesia. Predikat "juara" yang satu ini jelas bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, apalagi sampai dipajang di lemari trofi balai kota.

Bandung hari ini telah berubah menjadi kota yang melelahkan. Bayangkan saja, waktu tempuh dari Pasteur sampai Lembang saat akhir pekan atau tanggal merah bisa menghabiskan waktu setara dengan menonton dua laga penuh Persib plus babak perpanjangan waktu. Rencana revitalisasi angkutan umum yang sejak dulu digembar-gemborkan sampai sekarang masih begini-begini saja. Alhasil, warga terpaksa beralih ke kendaraan pribadi atau ojek online, membuat jalanan Bandung yang sempit akhirnya kolaps karena macet parah.

Jika Persib memiliki striker tajam seperti Andrew Jung yang sukses menyabet gelar top skor musim ini, Kota Bandung juga punya barisan lampu merah yang tidak kalah tajam dalam memotong waktu produktif warganya. Tengok saja lampu merah Samsat Kiaracondong di Jalan Soekarno-Hatta. Durasinya yang mencapai 500 detik lebih membuat lampu merah ini dinobatkan sebagai yang terlama di Indonesia. Saking lamanya, siapa pun yang terjebak di sana bisa menggunakan waktu tunggu untuk merenungi nasib, menghafal draf skripsi, atau bahkan menonton siaran ulang perjalanan Persib meraih juara dari tahun ke tahun di YouTube sampai kuota habis.

Klub sepak bola yang sehat dan bermental juara biasanya memiliki manajemen yang profesional, pencarian bakat yang jelas, dan eksekusi strategi yang presisi. Sayangnya, manajemen pemerintahan kota ini sama sekali tidak memperlihatkan kualitas kepemimpinan yang serupa dengan manajemen Persib. Ketidakmampuan mengeksekusi kebijakan publik dengan rapi ini akhirnya melahirkan berbagai masalah klasik yang tidak pernah selesai.

Salah satu bukti nyata dari buruknya tata kelola ini adalah masalah darurat sampah, 2 Juni 2026 kemarin Wali Kota Bandung Muhamad Farhan meminta Pemprov Jabar menetapkan kota Bandung Darurat Sampah. Bandung yang berjuluk Paris van Java terasa sangat ironis ketika masalah limbah domestik masih menjadi momok menakutkan yang merusak kenyamanan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2026, capaian pengelolaan sampah di Kota Bandung saat ini baru menyentuh angka 22 persen. Sisa persentase yang sangat besar itu bisa kita saksikan sendiri dalam bentuk tumpukan sampah yang menggunung di TPS, pinggir jalan, hingga pasar-pasar tradisional.

Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur jalan yang rusak dan minimnya penerangan. Romantisisme Kota Bandung seketika pudar begitu kita berkendara di malam hari. Bukannya dimanjakan oleh fasilitas jalan yang mulus dan terang, para pengendara justru harus selalu fokus dan melakukan manuver ekstrem demi menghindari lubang-lubang jalan yang siap mencelakakan.

Menolak Menjadikan Persib sebagai Tirai Kebobrokan Kota

Tulisan ini tentu saja tidak bermaksud untuk merusak suasana pesta atau mengurangi rasa hormat pada perjuangan tim. Persib sangat layak menyandang gelar juara. Kerja keras para pemain, kecerdikan pelatih, serta dukungan militan dari Bobotoh adalah kombinasi sempurna yang melahirkan prestasi tertinggi di tanah air.

Namun, alangkah indahnya jika mentalitas juara yang dimiliki Persib ini bisa menular ke jajaran birokrasi di balai kota. Warga Bandung hari ini sangat membutuhkan jajaran pemerintahan yang memiliki visi besar dan komitmen kuat. Kita merindukan eksekusi kebijakan publik yang tegas dan berani, layaknya tekel-tekel bersih yang diperagakan oleh barisan pertahanan solid Persib saat menghalau serangan lawan di lapangan hijau.

Jangan sampai kita terjebak dalam romantisisme semu yang melenakan. Kita boleh bangga luar biasa karena klub kebanggaan berhasil menjadi penguasa sepak bola nasional dengan total koleksi lima gelar juara di era modern. Namun, di saat yang sama, kita tidak boleh pasrah, maklum, dan menutup mata ketika kota tempat kita tinggal justru semakin mundur dan tidak berbenah diri.

Pada akhirnya, kita harus mengubah cara pandang dalam melihat hubungan antara Persib dan Kota Bandung. Selama ini, ada narasi yang menyebutkan bahwa prestasi sepak bola adalah penyelamat wajah kota, sebuah pelarian yang menjaga warga tetap waras di tengah tumpukan masalah yang tidak kunjung usai. Namun, jika dipikirkan kembali secara jernih, cara berpikir seperti ini justru sangat berbahaya.

Menempatkan Persib sebagai "penyelamat" satu-satunya hanya akan membuat pemerintah kota Bandung merasa nyaman bersembunyi di balik euforia. Prestasi Persib seharusnya tidak dijadikan tirai untuk menutupi kebobrokan tata kelola kota, melainkan harus dijadikan cermin besar bagi balai kota. Jika sebuah klub sepak bola bisa dikelola dengan begitu profesional hingga meraih prestasi tertinggi, mengapa mengelola sampah, kemacetan, dan lampu jalan saja pemerintah kota Bandung selalu gagal?

Keberhasilan Persib meraih three-peat champions tahun ini harus menjadi momentum bagi warga Bandung untuk berhenti bersikap maklum. Kita tidak bisa selamanya merayakan juara di atas jalanan yang berlubang, dikepung macet, dan dihiasi tumpukan sampah. Sudah saatnya euforia ini diubah menjadi energi kritis untuk menagih hak-hak kita sebagai warga Bandung yang membayar pajak.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//