• Opini
  • Menolak Menjadi Penonton: Membebaskan Persib dan Bobotoh dari Cengkeraman Masyarakat Tontonan

Menolak Menjadi Penonton: Membebaskan Persib dan Bobotoh dari Cengkeraman Masyarakat Tontonan

Ke mana energi Bobotoh mengalir, siapa yang mengontrol arusnya? Seberapa jauh antusiasme kolektif tetap menyala ketika tidak ada pertandingan?

JIM

Warga sipil

Nobar Persib Bandung vs PSM Makassar di Terminal Dago, Coblong, Kota Bandung, Minggu, 17 Mei 2026. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

3 Juni 2026


BandungBergerak – Setiap Sabtu atau Minggu, atau kapan pun jadwal Liga 1 mengizinkan, Bandung berubah warna. Bukan karena warganya tiba-tiba sadar akan nasib kota yang semakin sumpek dan koruptif, bukan karena ada mobilisasi massa untuk menuntut upah layak atau menolak penggusuran. Tapi karena Persib main. Ribuan manusia tumpah ke jalan, memakai warna biru, bernyanyi. Ada yang bilang itu keindahan. Ada yang bilang itu kekuatan rakyat. Saya akan bilang: mungkin. Tapi mungkin juga itu persis tontonan (Spektakel) yang paling sempurna pernah dirancang kapitalisme untuk mendiamkan kita.

Guy Debord sudah capek mengingatkan ini sejak 1967. Di dalam The Society of the Spectacle, ia mencatat dengan dingin bahwa kapitalisme lanjut tidak hanya merampas tenagamu di pabrik dan kantormu, ia merampas hidupmu seluruhnya, termasuk waktu luangmu, termasuk cara kamu merasa, termasuk cara kamu memaknai kebersamaan. Manusia yang tadinya adalah subjek yang bertindak (being), dipaksa menggeser diri jadi subjek yang memiliki (having), lalu akhirnya cukup jadi penonton dari kehidupan yang dikemas rapi oleh pasar (appearing). Kamu tidak perlu lagi hidup secara nyata. Cukup nonton. Cukup merasa seolah hidup. Dan setiap kali Persib mencetak gol, sistem itu menepuk bahumu dan berkata: nih, itu hidupmu. Sudah terpenuhi, kan?

Tapi tunggu dulu. Karena cerita ini tidak sesederhana itu.

Baca Juga: Menonton Persib Bermain, Mengingat Mimpi yang Tanggal
Persib dan Hal-hal yang Diwariskan
Persib dan Politik Kebudayaan

Energi Bobotoh

Ketika ribuan Bobotoh bergerak massal dari pinggiran kota menuju pusat, ada sesuatu yang terjadi yang tidak bisa begitu saja dikerdilkan jadi “candu baru.” Jalan-jalan Bandung yang dalam keseharian berfungsi sebagai jalur sirkulasi tenaga kerja, dari kos-kosan sempit ke pabrik, dari kontrakan ke kantor, tiba-tiba semuanya direbut. Orang-orang yang sepanjang minggu saling tidak kenal, dipisahkan oleh kelas, oleh hierarki, oleh dinding-dinding cubicle dan pagar perumahan, mendadak melebur. Buruh pabrik dan mahasiswa bernyanyi bersama kalimat yang sama. Ini bukan hal kecil. Situasionis Internasional, gerakan seniman dan pemikir radikal yang pernah ikut memicu ledakan Mei 1968 di Paris, menyebut momen seperti ini sebagai dérive: sebuah pelanturan, di mana manusia secara spontan melepaskan diri dari jalur rutinitas yang sudah diprogram kota untuknya, dan mulai menavigasi ruang secara afektif, berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang hidup.

Dan di tribun, terutama di tribun utara, ada sesuatu yang lebih dalam lagi terjadi. Koreografi massal yang diorganisir bukan oleh event organizer berbayar, nyanyian yang tidak dikontrol oleh MC penonton, drum yang dipukul oleh tangan-tangan yang tidak mendapat bayaran: ini adalah construction of situations versi jalanan. Debord dan kawan-kawannya bermimpi tentang momen di mana batas antara seniman dan penonton dihancurkan, di mana manusia bukan lagi konsumen pasif dari kehidupan tapi penciptanya. Di tribun Persib, mimpi itu, walau sebentar, walau tidak sepenuhnya sadar, kadang-kadang nyata.

Jadi ya, ada energi di sini. Energi yang nyata.

Yang jadi masalah adalah: sistem juga tahu itu.

Kapitalisme bukan musuh yang bodoh. Ia tidak selalu bekerja dengan ucapan dan penjara. Cara kerjanya yang paling canggih, yang Situasionis sebut recuperation, penyerapan kembali, adalah membiarkan perlawananmu tumbuh, menunggu, lalu membeli sahamnya, mengemasnya ulang, dan menjualnya balik kepadamu dengan harga premium. Punk yang tadinya subversif jadi jaket seharga dua juta. Slogan buruh jadi caption Instagram. Dan militansi Bobotoh? Jadi konten, jadi rating siaran TV, jadi alasan harga tiket naik, jadi komoditas yang dijual kembali kepada orang-orang yang menciptakannya.

Lihat bagaimana sistem keanggotaan digital bekerja. Apa yang tadinya adalah hubungan organik antara suporter dan komunitas distriknya, distribusi tiket berbasis kepercayaan dan relasi nyata, kini digantikan oleh algoritma dan aplikasi korporasi. Jika kamu tidak punya uang atau smartphone yang cukup canggih, kamu tidak ada. Subjek kolektif yang tadinya otonom sudah dijinakkan jadi konsumen yang terdata dengan rapi dalam server perusahaan. Dan estetika perlawanan itu sendiri, visual ultras, flare di kegelapan, nyala dan asap yang pernah terasa seperti api ancaman nyata, kini ditempel di merchandise, dikurasi jadi konten brand activation. Ketika “kemarahan terhadap sistem” bisa dijahit jadi kaos seharga tiga ratus ribu, kemarahanmu sudah selesai bekerja. Bukan untukmu. Untuk mereka.

Ini bukan tuduhan bahwa Bobotoh naif. Ini catatan bahwa sistem memang sangat pintar, dan ia bekerja dengan sabar.

Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah Bobotoh punya energi? Jelas punya. Pertanyaannya adalah: ke mana energi itu mengalir, dan siapa yang mengontrol arusnya?

Membajak Makna

Saya kira ada beberapa hal yang perlu mulai dikerjakan, bukan sebagai roadmap dari atas, tapi sebagai bahan percakapan dari bawah.

Yang pertama adalah soal kesadaran sejarah. Persib bukan hanya klub. Ia adalah bagian dari harga diri kultural kelas pekerja Bandung yang tumbuh dalam kondisi nyata: kota yang tidak pernah benar-benar berpihak pada warganya yang paling miskin. Sejarah itu perlu ditulis ulang dengan jujur, dan perlu dibicarakan secara terus-menerus di ruang-ruang komunitas: bahwa musuh nyata yang sama yang membuat hidupmu berat di luar stadion, upah yang tidak pernah cukup, penggusuran, biaya hidup yang terus naik, aparat yang lebih sering melindungi modal daripada rakyat, adalah musuh yang sama yang perlu kamu lawan. Persib adalah titik temu, bukan pelarian.

Yang kedua, infrastruktur kultural yang otonom perlu diperkuat. Zine. Podcast tidak bersponsor. Perpustakaan komunitas. Warung kolektif. Ruang-ruang tempat ide bisa bertukar tanpa harus melewati filter korporasi. Ketergantungan penuh pada ekosistem digital yang disediakan pemilik modal adalah jebakan yang sopan tapi nyata. Begitu platformnya tutup atau kebijakannya berubah, komunitasmu kehilangan rumahnya.

Yang ketiga, dan ini yang paling konkret, adalah soal détournement. Membajak makna.

Menggunakan simbol sepak bola untuk menyelundupkan agenda yang lebih luas ke ruang publik. Energi yang membakar tribun bisa dan harus bisa mengalir ke isu-isu solidaritas di luar stadion: membantu buruh yang mogok, mendampingi warga yang digusur, menyuarakan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dalam 90 menit. Ini bukan memaksa suporter jadi aktivis ideologis. Ini cukup bertanya: solidaritas yang kamu rasakan di tribun, maukah kamu bawa pulang?

Yang keempat adalah soal hubungan suporter dengan klub itu sendiri. Selama klub sepenuhnya berada di tangan oligarki tanpa pertanggungjawaban publik, Persib akan selalu lebih rentan menjadi mesin akumulasi kapital daripada simbol rakyat. Konsolidasi suporter untuk menuntut representasi nyata dalam pengambilan keputusan klub bukan fantasi. Di banyak tempat di dunia, ini sudah dikerjakan. Komunitas suporter yang terorganisir bisa berfungsi seperti serikat, bukan serikat yang berteriak-teriak di luar, tapi yang punya daya tawar nyata di dalam.

Dan yang kelima, dan ini yang paling sering dilupakan: hentikan permusuhan antar suporter yang tidak perlu. Media merawat rivalitas ini dengan penuh semangat karena tegangan itu menjual. Tapi energi yang habis untuk bergeser ke samping, dengan sesama kelas pekerja dari kota lain yang kondisi hidupnya tidak jauh berbeda, adalah energi yang tidak tersisa untuk diarahkan ke atas. Tragedi Kanjuruhan sudah membayar harga yang terlalu mahal untuk pelajaran ini. Rivalitas di lapangan adalah drama yang menyenangkan. Di luar lapangan, yang ada hanya satu kelas yang sedang bersama-sama dieksploitasi.

Persib dan Bobotoh adalah bahan bakar yang hidup dan denyutnya terasa. Saya tidak ragu soal itu. Yang saya ragukan adalah apakah denyut itu akan tetap mengalir untuk dirinya sendiri, atau akan terus-menerus disedot oleh mesin yang sudah lama tahu cara kerjanya.

Kemenangan yang sesungguhnya tidak diukur di papan skor. Ia diukur dari seberapa jauh antusiasme kolektif itu melangkah keluar dari pintu stadion dan tetap menyala ketika tidak ada pertandingan, ketika tidak ada kamera, ketika tidak ada yang menonton, dan justru karena itu, untuk pertama kalinya, tidak ada yang bisa menjualnya kembali kepada siapa pun.

Peluit panjang bukan akhir. Ia adalah pertanyaan: setelah ini, kamu mau ke mana?

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//