MENEMUKAN PERSIB DI PERANTAUAN: Catatan Seorang Bobotoh yang Pergi Jauh dari Bandung
Persib hanya menjadi pintu masuk. Setelahnya kami berbicara tentang kampung halaman, pekerjaan, keluarga, perjalanan, dan kehidupan masing-masing.

Dodi Rokhdian
Antropolog lulusan Unpad dan UI, konsens pada etnografi dan lingkungan. Pendiri Sokola Rimba sekaligus salah satu pendiri Viking Persib Club.
12 September 2026
BandungBergerak - “Njirr jiga munding ieu motor.”
Saya sedang mencuci motor trail yang baru keluar dari hutan tropis dataran rendah di jantung Sumatra, ketika seorang pegawai tempat pencucian motor di Kota Bangko, Provinsi Jambi, mengatakan itu. Lumpur menutupi hampir seluruh badan motor. Ia menunjuk motor saya sambil tertawa, lalu menyebutnya seperti kerbau sehabis berkubang karena begitu kotornya. Ia begitu saja berceloteh dalam bahasa Sunda dan mengira saya bukan orang Sunda.
Saya menyambut celotehnya: “Memang munding.”
Ia kaget dan langsung menoleh sambil nyerengeh, alias cengengesan.
“Aa timana? Bandung?”
Saya mengangguk. “Bandung.”
“Ah, punten, Aa,” katanya.
Obrolan yang semula hanya soal motor berlumpur tiba-tiba bergeser menjadi cerita hangat tentang hal-hal di sekitar Bandung. Tak lama kemudian, pemilik tempat pencucian keluar karena mendengar percakapan kami. Rupanya ia orang Lembang, Bandung Utara; seorang perantau seperti saya. Ia menikahi gadis setempat, kemudian menetap, membangun keluarga, dan merintis usaha di kota itu.
Kami kemudian berkenalan dan tanpa proses panjang langsung menjadi akrab. Seakan ada ikatan aneh: baru bertemu, tetapi terasa dekat.
Dari obrolan itu saya baru tahu bahwa rumahnya merupakan tempat berkumpul komunitas orang Sunda di kota tersebut. Ketika Persib bermain dan pertandingannya disiarkan di televisi, orang-orang datang untuk nobar.
Saya beberapa kali datang ke sana. Ketika Persib bertanding di televisi, ada ikatan emosional yang membuat para perantau Sunda seakan kembali terhubung dengan tempat asal. Selama sekitar 90 menit atau lebih, saya merasa seperti berada di rumah, meski terpisah lautan dan pulau.
Saat itu saya menganggapnya sekadar kebetulan yang menyenangkan. Belakangan saya sadar, kebetulan semacam itu ternyata terus berulang dalam perjalanan-perjalanan kerja saya.

Syal Viking di Hutan Kalimantan, Paparan Medsos di Kudus, dan Kaus di Kapal Menuju Agats
Saya meninggalkan Bandung tak lama setelah lulus sarjana dari Jurusan Antropologi FISIP Unpad, tepatnya pada akhir 1999. Bidang pekerjaan membawa saya bepergian dan tinggal di berbagai pulau lain di Indonesia. Sebagai antropolog, sebagian besar kehidupan profesional saya berlangsung jauh dari kota tempat saya lahir dan tumbuh. Saya bekerja bersama masyarakat adat, meneliti persoalan konservasi dan tenurial, serta terlibat dalam kerja-kerja pendidikan alternatif dan pengorganisasian komunitas.
Dalam pekerjaan lapangan seperti itu, tanpa kantor dan tanpa seragam, saya terbiasa menjadi orang asing di wilayah yang asing. Datang ke sebuah tempat, tinggal bersama penduduknya, mencoba memahami kehidupan mereka, lalu membangun kepercayaan dan mencatatnya.
Namun ada sesuatu yang menarik dari perjalanan saya sebagai perantau sekaligus bobotoh: di berbagai tempat yang jauh dari Bandung, saya justru menemukan orang-orang yang membuat jarak itu mendadak terasa dekat.
Sering kali, Persib menjadi awalnya.
Di Kalimantan, saya pernah berada di sebuah kawasan hutan untuk penelitian di sebuah komunitas ketika, di antara desiran angin dan suara pepohonan, terdengar alunan lagu yang begitu saya kenal.
“... Somse, alah meni somse, sombong sekali...”
Weyy, Doel Sumbang!
Saya mengikuti suara itu dengan menyusuri setapak di tengah kelebat hutan hingga menemukan sebuah pondok kayu sederhana di tepi anak sungai. Pintu pondok saya ketuk sambil mengucap salam.
Di dalam pondok ada dua orang lelaki lajang berusia 20 tahunan yang berasal dari Garut. Mereka berkebun sekaligus mencari gaharu.
Kami berbincang. Di tengah obrolan, pandangan saya tertumbuk pada sebuah syal Viking yang tergantung di sudut pondok.
Saya spontan tersenyum. Di tengah kelebat hutan Kalimantan, saya menemukan Viking.
Saya tidak tahu dari mana syal itu berasal atau sudah berapa lama tergantung di sana. Mungkin dibawa dari Garut. Mungkin dari Bandung. Mungkin pemberian seorang teman.
Namun benda sederhana itu seketika mengubah suasana pertemuan. Sebelumnya kami tidak saling mengenal. Kini ada sesuatu yang bisa dibicarakan: Persib, Viking, Garut, dan Bandung.
Sebuah syal yang tergantung di sudut pondok rupanya menjadi pembuka percakapan. Dan percakapan, seperti yang sering saya alami dalam pekerjaan sebagai antropolog, menjadi awal dari sebuah hubungan; termasuk untuk membangun kedekatan yang saya perlukan dalam pekerjaan lapangan.
Di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di wilayah sekitar lereng dan lembah pegunungan Muria, saya menemukan pengalaman yang berbeda.
Saya pernah bekerja sekitar lima tahun dalam sebuah program konservasi berbasis masyarakat dan restorasi hutan Gunung Muria. Sebagai antropolog, saya tidak hanya dituntut memahami budaya penduduknya, tetapi juga membangun hubungan dan bekerja bersama mereka.
Dalam kerja semacam itu, diterima oleh masyarakat merupakan hal penting karena menjadi pintu masuk untuk membangun kerja sama. Surat tugas tidak otomatis membuat pintu rumah terbuka. Nama lembaga tidak otomatis membuat seseorang dipercaya.
Suatu hari saya berada di rumah seorang tokoh dusun dan melihat seorang pemuda mengenakan kaus Persib.
Saya bertanya: “Kenapa suka Persib?”
Jawabannya sederhana.
“Dari medsos.”
Ia bukan orang Sunda. Bukan orang Bandung. Ia mengenal Persib melalui internet dan media sosial. Saya kemudian berbicara lebih jauh dengannya.
Dari pemuda itu saya menjadi dekat dengan keluarganya. Orang tuanya merupakan tokoh dusun. Saya akhirnya bisa tinggal di rumah mereka, makan bersama keluarga mereka, bergaul dengan warga, dan lebih mudah masuk ke kehidupan komunitas. Bagi pekerjaan saya, hal semacam itu sangat berarti bagi kelancaran kerja lapangan.
Sekali lagi, pintunya bukan dibuka oleh sosialisasi formal, tetapi oleh Persib.
Pengalaman di Kudus ini membuat saya melihat sesuatu yang berbeda. Persib ternyata tidak hanya menjadi identitas yang dibawa oleh orang Bandung atau orang Sunda. Ia juga bisa dipilih oleh seseorang yang sama sekali tidak mempunyai latar belakang itu.
Pemuda di Kudus tersebut tidak membawa kenangan tentang Bandung. Ia menemukan Persib. Lalu memilihnya. Dan pilihan itu kemudian menjadi bagian dari identitas sosialnya.
Pengalaman unik lainnya terjadi di pesisir selatan Papua.
Saat melakukan studi etnografi, saya harus melakukan perjalanan laut dari Timika menuju Agats, ibu kota Kabupaten Asmat. Saya menumpang kapal PELNI. Di kapal itu saya melihat seorang awak kapal mengenakan baju Persib.
Spontan saya berseru: “Weeyyy, Persib!”
Ia menoleh.
“Persib?”
Saya mengangguk.
Ternyata ia orang Sunda dari Bandung.
Ia seorang teknisi kapal. Kapal tersebut bukan hanya tempat ia bekerja, tetapi juga tempat tinggalnya selama menjalankan pekerjaannya.
Kami berbicara tentang Bandung dan apa pun yang berhubungan dengan asal-usul dan tanah kelahiran. Saya bercerita tentang pekerjaan dan tujuan perjalanan saya. Ia bercerita tentang kehidupannya di kapal dan tempat-tempat yang pernah didatanginya.
Pucuk dicinta ulam tiba. Ia menawarkan saya masuk ke kamarnya. Ada ranjang susun, kasur, dan toilet sendiri. Saya yang semula hanya seorang penumpang kelas ekonomi kemudian mempunyai tempat yang jauh lebih nyaman. Kami menjadi akrab sepanjang perjalanan.
Di luar kamar, laut Papua terbentang menuju Agats. Tetapi di dalam kamar itu, percakapan kami berkali-kali kembali ke tanah asal: Bandung dan Persib. Ada kerinduan pada tanah kelahiran dan asal-usul yang terekspresikan.
Dan semua itu bermula dari sebuah kaus.
Baca Juga: Di Luar 90 Menit: Ketika Rivalitas Menemukan Batasnya
Persib dan Politik Kebudayaan
Ketika Identitas Berpindah Tempat
Jika saya mengingat kembali keempat peristiwa itu, tak satu pun bermula dari sesuatu yang istimewa. Di Jambi, sebuah kalimat dalam bahasa Sunda. Di Kalimantan, lantunan Doel Sumbang dan sebuah syal Viking. Di Kudus, kaus Persib seorang pemuda non-Sunda. Di Papua, baju Persib seorang teknisi kapal.
Tidak ada yang saya rencanakan. Tetapi setiap kali saya mengenali tanda yang sama, sebuah percakapan terbuka.
Dari sana, Persib hanya menjadi pintu masuk. Setelahnya kami berbicara tentang kampung halaman, pekerjaan, keluarga, perjalanan, dan kehidupan masing-masing. Kadang percakapan itu berhenti di situ. Kadang berlanjut menjadi keakraban, bahkan kepercayaan.
Di situlah saya melihat sesuatu yang berbeda dari kultur suporter di perantauan.
Di Bandung, Persib adalah bagian dari lanskap sehari-hari. Kausnya ada di mana-mana. Pembicaraannya hadir di warung, kantor, kampus, media sosial, dan stadion. Sebuah kaus Persib mungkin tidak membuat siapa pun berhenti untuk memulai percakapan dengan orang yang tidak dikenal.
Tetapi semakin jauh dari Bandung, simbol itu justru semakin bermakna. Sebuah kaus Persib di sebuah dusun di Kudus dapat menjadi alasan untuk bertanya. Sebuah syal Viking di tengah hutan Kalimantan dapat menjadi tanda bahwa kita menemukan seseorang yang memiliki bagian dari dunia pengalaman yang kita kenali. Sebuah baju Persib di kapal menuju Agats dapat menjadi alasan dua orang asing membuka percakapan.
Selama ini kultur suporter lebih sering dibicarakan melalui stadion: tribun, chant, koreografi, away, rivalitas, dan konflik. Padahal kehidupan suporter juga berlangsung jauh dari sana: di rumah perantau, tempat kerja, warung, pondok hutan, rumah tokoh dusun, dan kapal.
Di ruang-ruang semacam itulah identitas bekerja secara sederhana: mempertemukan orang, membuka percakapan, dan kadang menjadi jalan masuk ke lingkungan sosial yang sebelumnya asing.
Sebagai antropolog, saya tahu bahwa akses sosial tidak kalah penting dari akses geografis. Kita bisa datang ke sebuah desa, tinggal di sana, bahkan melakukan penelitian, tetapi semua itu belum tentu membuat kita diterima atau membuat orang bersedia membuka kehidupannya.
Karena itu, bagi seorang perantau, satu kesamaan kecil bisa membuka banyak pintu. Dalam beberapa perjalanan saya, Persib menjadi salah satu jembatan itu.
Saya termasuk salah satu pendiri Viking Persib Club. Ketika itu, saya tidak membayangkan kultur suporter yang tumbuh di Bandung akan dibawa sejauh ini.
Saya mungkin membayangkan tribun, pertandingan, dan komunitas di sekitar Persib. Tetapi setelah sebuah kultur tumbuh, ia tidak lagi sepenuhnya berada di tangan orang-orang yang memulainya.
Orang-orang membawanya ke tempat baru, menafsirkannya kembali, dan menjadikannya bagian dari kehidupan mereka sendiri. Bahkan, ada yang mengenalkannya kepada orang-orang yang tidak pernah punya hubungan dengan Bandung.
Itulah yang saya temukan dalam perjalanan saya.
Namun saya tidak ingin meromantisasi semua perjumpaan itu. Kesamaan klub tidak otomatis membuat kabeh bobotoh adalah dulur atau saudara. Persib tidak menghapus perbedaan kelas, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, atau pandangan politik.
Persib hanya membuka pintu. Selebihnya, intuisi manusia yang menentukan apakah hubungan itu akan berlanjut atau tidak.
Selama ini saya mungkin terlalu terbiasa melihat perantauan sebagai proses menjauh dari Bandung. Perjalanan justru menunjukkan sebaliknya. Semakin jauh saya pergi, semakin sering saya berjumpa dengan sesuatu yang mengingatkan saya pada tempat asal.
Mungkin karena itu, yang menarik dari kultur suporter di perantauan bukan hanya bagaimana bobotoh membawa Persib ke tempat yang jauh, tetapi bagaimana sebuah identitas terus hidup setelah meninggalkan tempat asalnya. Ia bisa berubah bentuk, berbaur dengan kehidupan baru, bahkan menjadi bagian dari orang-orang yang tidak pernah berasal dari Bandung.
Salam dari perantauan. Sebab, Persib selalu punya cara untuk mempertemukan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


