Gedebage Berkembang, Angkot Nyaris Menghilang
Di tengah geliat pembangunan, angkot kian menghilang dari Gedebage. Jarak ke stasiun harus ditempuh dengan ojol atau kendaraan pribadi.
Penulis Anisa Putri Balqis12 September 2026
BandungBergerak - Muhammad Febri, 27 tahun, tidak punya pilihan lain selain mencicil motor. Dia tinggal di Gedebage dan bekerja di tengah Kota Bandung. Setiap hari dia harus memutar otak soal bagaimana caranya sampai ke kantor tepat waktu, di tengah kenyataan bahwa transportasi umum di kawasan tempat tinggalnya nyaris tidak ada.
"Saya mau naik transum seperti bis tapi engga ada. Mau naik kereta, dari rumah ke stasiun mau naik apa? Naik ojol boros ongkos," ujar Febri, menggambarkan dilema yang menurutnya serba salah, awal September 2026.
Akhirnya ia memilih mencicil motor, solusi yang sebenarnya menambah beban pengeluaran bulanan, tapi menurutnya lebih masuk akal ketimbang bergantung pada transportasi umum yang jadwalnya tidak jelas dan armadanya tak pernah lewat di kawasannya.
Cerita Febri mewakili keresahan yang dialami banyak warga Gedebage, kawasan di Kota Bandung yang belakangan berkembang pesat dengan hadirnya Stasiun Whoosh, Summarecon, hingga Masjid Al Jabbar, tapi justru tertinggal jauh soal akses transportasi umum bagi warganya sendiri.
Warga lainnya, Azzahra Salsabila Fedita, 20 tahun, mahasiswa yang tinggal di kawasan Summarecon, punya pengalaman serupa. Untuk sampai ke stasiun kereta saja, dia harus memesan ojek online karena tidak ada angkot yang melintas. Ingatannya soal angkot Gedebage bahkan sudah usang.
Terakhir kali dia naik angkot berwarna kuning yang biasa disebut warga sebagai "angkot Gedebage" adalah saat dia masih duduk di bangku SMP. Itu pun operasinya terbatas, hanya sampai sore hari.
Kemacetan di pertigaan keluar Summarecon juga jadi momok tersendiri buat Azzahra. Beberapa kali dia nyaris ketinggalan kereta karena titik itu selalu padat, apalagi saat jam berangkat kerja dan sekolah bertabrakan. Ketika malam hari atau hujan tiba, kesulitan itu berlipat ganda.
"Gojek lumayan susah, kalau sudah malam juga engga pernah naik angkot. Kalau hujan pun susah nyari gojek," ujarnya.
Susianti Febriani Sofiawaty, 44 tahun, warga Gedebage yang bekerja di kawasan Ahmad Yani, mengalami hal yang tak jauh berbeda. Setiap hari dia mengandalkan kereta dari Stasiun Gedebage ke Cikudapateuh, tapi untuk sampai ke stasiun dari rumahnya, ia terpaksa naik ojek online atau membawa motor sendiri.
Dia bahkan pernah datang terlambat kerja gara-gara keretanya molor sampai satu jam. Kalau malam atau hujan turun dan sulit mendapatkan ojek online, jalan satu-satunya adalah meminta anggota keluarga menjemput.
"Kalau aku penginnya bus lewat depan Adipura. Aku tuh mau naik bus dibanding kereta, tapi enggak ada bus di sini," katanya.

Lingkaran Alasan
Kepala Pengendalian dan Ketertiban (PKB) Dinas Perhubungan Kota Bandung, Asep Kurnia, menjelaskan soal minimnya angkot di Gedebage disebabkan pergeseran penumpang ke ojek online dan kendaraan pribadi. Ketika jumlah penumpang angkot terus menyusut, pengemudi tidak lagi punya cukup pemasukan untuk meremajakan armada. Izin trayek yang sudah lama tidak beroperasi pun akhirnya sulit diperpanjang, dan bank juga enggan mengucurkan kredit peremajaan karena tidak ada jaminan jumlah penumpang.
"Kalau penumpangnya banyak, kan dia bisa membiayai untuk peremajaan. Kalau penumpangnya nggak ada, ya pihak bank juga nggak bisa akses kredit itu untuk peremajaan," jelas Asep, 2 September 2026.
Siklus itu berputar terus: makin sedikit angkot yang beroperasi, makin banyak warga beralih ke kendaraan pribadi atau ojek online, yang pada gilirannya makin mempercepat matinya trayek angkot yang tersisa.
Di tengah situasi itu, Pemkot Bandung tengah menyiapkan proyek Bus Rapid Transit (BRT) dan angkutan feeder yang direncanakan menjangkau Gedebage. Menurut Asep, salah satu rute BRT nantinya akan melintasi Gedebage, menghubungkan Stasiun Tegalluar dan Stasiun Hall. Selain itu, ada rencana rerouting sejumlah trayek angkot eksisting, misalnya dari kawasan Cicaheum menuju simpang Summarecon dan GBLA, serta trayek baru dari Cimincrang menuju kawasan pasar di Gedebage.
Namun, saat ditanya apakah rute-rute itu akan benar-benar masuk ke jalan utama permukiman warga seperti Jalan Gedebage Selatan, jawaban Asep masih penuh catatan. Jalur masuk ke kawasan itu rencananya melalui simpang Summarecon, tapi jembatan penghubung ke arah Al Jabbar yang jadi salah satu opsi jalur akses hingga kini belum juga rampung dibangun, terkendala anggaran sejak sebelum pandemi. Soal titik-titik pemberhentian di dalam kawasan permukiman pun belum ada kepastian.
"Karena belum dioperasikan. Nanti kalau mau dioperasikan disurvei bareng-bareng," kata Asep.
Ia menyebut proyek ini ditargetkan mulai berjalan penuh sekitar 2027-2028, tergantung ketersediaan anggaran dari provinsi dan lima kabupaten/kota yang menjadi mitra kerja sama.
Untuk solusi jangka pendek, sebelum BRT dan feeder benar-benar terealisasi belum ada program konkret yang disiapkan Dishub bagi warga Gedebage. Ketiadaan anggaran dan minimnya lahan menjadi kendala utama.
Baca Juga: GEDEBAGE BUKAN TEKNOPOLIS #3: Mengorbankan Pertanian Demi Mimpi Membangun Kota Pintar
GEDEBAGE BUKAN TEKNOPOLIS #2: Berebut Jalan Menuju Masjid Al Jabbar

Apa Kata Warga
Kabar rencana BRT dan feeder ini ternyata belum banyak sampai ke telinga warga. Susianti mengaku belum pernah mendengarnya sama sekali, dan justru skeptis proyek itu bisa berjalan mulus.
Menurut Susanti, keberadaan ojek pangkalan yang masih ada di Gedebage berpotensi menimbulkan konflik dengan feeder, seperti yang pernah terjadi saat awal kemunculan ojek online.
Namun, Azzahra punya pandangan yang lebih terbuka. Ia mengaku ingin optimis, dengan syarat proyek itu benar-benar digarap matang, lengkap dengan jadwal yang presisi dan jalur yang jelas. Ia juga menyoroti kontainer dan truk-truk besar yang kerap parkir sembarangan di pinggir jalan sebagai salah satu biang kemacetan yang mempersempit ruas jalan di kawasan tersebut.
Ketika ditanya apa yang paling dibutuhkan warga Gedebage soal transportasi umum, jawaban mereka nyaris senada: kehadiran angkutan yang benar-benar masuk ke dalam kawasan Gedebage.
Azzahra berharap ada bus yang menghubungkan Gedebage dengan pusat Kota Bandung, serta sistem tiket kereta yang lebih efisien tanpa harus memesan lewat aplikasi dan membayar QRIS minimal sepuluh hingga dua puluh menit sebelum keberangkatan. Susianti punya harapan yang lebih sederhana: bus yang melintas di jalan Gedebage Selatan, tempat ia tinggal, supaya ia punya alternatif selain kereta dan motor pribadi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


