• Kolom
  • SISI SELATAN BANDUNG: Dari Kabupaten Menuju Kota

SISI SELATAN BANDUNG: Dari Kabupaten Menuju Kota

Yang melelahkan adalah ketika banyak kebutuhan hidup akhirnya mengharuskan kami pergi ke kota.

Dinda Aina

Aktif di Kawah sastra Ciwidey dan Prosatujuh, bisa disapa di @dindaainaaa dan dindaaina.wordpress.com

Di jalan padat, menempuh perjalanan jauh. (Foto: Dinda Aina)

13 September 2026


BandungBergerak – Saya tidak terlalu sering pergi ke Bandung, dan justru karena jarang, perjalanan itu terkadang terasa melelahkan. Dari Ciwidey ke Bandung jaraknya sekitar 32 kilometer. Saya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Pada jam-jam tertentu, seperti pagi hari ketika orang-orang berangkat bekerja atau bersekolah, lama perjalanan bertambah karena jalanan pasti padat. Apalagi sekarang Bandung dinobatkan menjadi kota termacet di Indonesia.

Saya jadi teringat kakak saya. Kalau sedang pergi ke Bandung, ada satu kebiasaan yang sering dilakukannya: berhenti sebentar di Indomaret setelah melewati Miko Mall untuk beristirahat. Bukan karena perjalanannya sudah sangat jauh, tetapi karena tubuh butuh untuk berhenti. Apalagi dia membawa anak. Di warung waralaba di kawasan Jalan Kopo itu, ia bisa duduk sebentar, membeli camilan, makan, minum, sebelum melanjutkan perjalanan.

Dari kesaksian ini, saya berpikir: kalau perjalanan yang hanya dilakukan sesekali saja sudah membuat kami merasa perlu “checkpoint”, bagaimana dengan orang yang harus melewati jalan yang sama hampir setiap hari?

Di jam sibuk. (Foto: Dinda Aina)
Di jam sibuk. (Foto: Dinda Aina)

Keharusan Pergi ke Bandung

Bukan melulu untuk jalan-jalan, ada sekian banyak alasan yang membuat orang Ciwidey harus turun ke kota. Untuk sekadar menonton film di bioskop, pilihan terdekat seperti CGV di Miko Mall membuat kami harus pergi cukup jauh. Padahal tujuan awalnya sederhana: ingin duduk, menonton film selama dua jam, lalu pulang. Namun dari Ciwidey, kegiatan sederhana itu bisa berubah menjadi perjalanan yang jauh lebih panjang, termasuk harus melewati daerah seperti Katapang dan Kopo dengan kondisi jalan yang selalu ramai. Hiburan yang seharusnya menjadi cara beristirahat dari rutinitas malahan bisa berakhir dengan tubuh yang kembali lelah.

Masalah pendidikan juga begitu. Setelah lulus sekolah, pilihan untuk melanjutkan pendidikan tidak selalu tersedia di dekat rumah. Tidak ada satu pun perguruan tinggi di Ciwidey. Kampus terdekat ada di Soreang, dan itu pun jaraknya 10 kilometer. Kota Bandung menjadi salah satu tujuan utama karena di sana terdapat banyak perguruan tinggi. Ada Universitas Pendidikan Indonesia dan Universitas Pasundan di Jalan Dr. Setiabudi, Institut Teknologi Bandung di Jalan Ganesha, dan banyak yang lain.

Jadi bagi orang Ciwidey yang ingin berkuliah, jarak bukan lagi sekadar persoalan di peta. Jarak menjadi bagian dari kehidupan keseharian: bangun lebih pagi, pergi lebih jauh. Kami berangkat sejak gelap, dan pulang dalam gelap.

Lalu urusan rumah sakit. Ciwidey memang sudah memiliki rumah sakit Bedas Pacira, tetapi untuk kebutuhan kesehatan tertentu masyarakat tetap harus menuju rumah sakit lain yang fasilitasnya lebih lengkap dan sudah ter-cover BPJS. Lagi-lagi, rumah sakit yang tepat untuk memberikan pertolongan seringkali ada di luar kawasan dan kami harus menempuh perjalanan jauh untuk mencapainya.

Dalam keadaan sehat, perjalanan puluhan kilometer mungkin masih terasa biasa. Namun ketika yang dibawa adalah orang sakit, keluarga yang panik, atau seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, jarak yang sama bisa terasa berkali-kali lipat lebih panjang.

Dari sini saya mulai merasa bahwa masalahnya bukan sekadar jarak Ciwidey yang jauh dari Bandung. Yang melelahkan adalah ketika banyak kebutuhan hidup akhirnya mengharuskan kami pergi ke kota. Mau main, jauh. Mau kuliah, jauh. Butuh layanan kesehatan tertentu, jauh. Kalau ingin mencari pekerjaan sesuai bidang jurusan di sekolah, jauh juga. Dan bagian terakhir ini yang paling membuat saya berpikir.

Saya yang pergi ke Bandung hanya sesekali saja sudah merasa lelah dan rasanya ingin langsung tidur setiap kali sampai rumah. Tapi paling tidak saya masih bisa memilih kapan pergi dan tidak. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak punya pilihan seperti itu?

Ada buruh pabrik dari Ciwidey yang setiap pagi harus berangkat ke wilayah Bandung dan sekitarnya untuk bekerja. Mereka pergi karena pekerjaan yang menunggunya. Bayangkan mereka harus bangun pagi, bersiap sebelum matahari benar-benar tampak, lalu menempuh perjalanan yang sama jauhnya menuju tempat kerja. Setelah berjam-jam berdiri, duduk, bekerja, mengejar target, dan menghabiskan tenaga di pabrik, perjalanan panjang masih harus dilakukan lagi untuk pulang. Besoknya diulang. Lusa diulang lagi.

Mungkin bagi seorang buruh pabrik, 32 kilometer bukan lagi sekadar angka. Di dalamnya ada waktu yang hilang, ongkos yang harus dikeluarkan, badan yang lelah sebelum sampai rumah, dan waktu bersama keluarga yang terenggut.

Saya jadi merasa malu sendiri ketika mengingat bahwa saya bisa mengeluh karena satu perjalanan ke Bandung, sementara ada orang yang harus menjalani perjalanan itu hampir setiap hari demi menyambung hidupnya dan hidup keluarganya.

Butuh istirahat ketika berjalan jauh. (Foto: Dinda Aina)
Butuh istirahat ketika berjalan jauh. (Foto: Dinda Aina)

Baca Juga: SISI SELATAN BANDUNG: Terkungkung di Zona Nyaman Sinumbra
SISI SELATAN BANDUNG: Ciwidey dalam Buku Cerita Anak Lawas

Ke Kota sebagai Pilihan

Karena itu, ketika membayangkan masa depan Ciwidey, saya tidak hanya membayangkan bioskop yang lebih dekat, kampus yang lebih mudah dijangkau, atau rumah sakit yang semakin lengkap. Saya juga membayangkan pilihan-pilihan pekerjaan yang lebih banyak tersedia di Ciwidey. Bukan supaya semua orang berhenti pergi ke Bandung, tetapi supaya pergi ke kota menjadi pilihan, bukan kewajiban.

Saya tetap ingin Ciwidey menjadi Ciwidey. Tidak perlu berubah menjadi Bandung. Tetap dingin, tetap dikelilingi perkebunan, tetap punya suasana lebih tenang. Tetapi alangkah baiknya suatu hari nanti seseorang bisa berkata “Saya kerja di Ciwidey” tanpa merasa pilihan hidupnya menjadi lebih kecil.

Mungkin ketika waktu itu tiba, perjalanan ke Bandung akan terasa berbeda. Bukan lagi perjalanan yang harus dilakukan untuk memenuhi hampir semua kebutuhan, tetapi sekadar perjalanan ketika memang ingin pergi. Dan mungkin, kalau hari itu datang, saya tidak perlu lagi bertanya kenapa pergi ke kota selalu melelahkan.

Karena akhirnya, kita punya pilihan untuk tidak selalu pergi.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//