• Berita
  • Tujuh Bulan Setelah Longsor di Cisarua: Menanam Harapan di Atas Tanah yang Hancur

Tujuh Bulan Setelah Longsor di Cisarua: Menanam Harapan di Atas Tanah yang Hancur

Rumah dan kebun hilang, pekerjaan terputus. Warga kini membersihkan batu demi batu untuk menghidupkan kembali lahan yang tersisa. lon

Warga di bekas lokasi longsor Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 21 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Penulis Jawahir Alma'ani 14 September 2026


BandungBergerak - Tujuh bulan setelah longsor yang menerjang Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, kehidupan perlahan kembali. Namun, denyutnya belum seperti sebelum bencana. Di lokasi longsor yang menelan puluhan korban jiwa itu, batu-batu besar masih berserakan. Sebagian sulit dipindahkan, bahkan dengan bantuan alat berat. Reruntuhan dan tanah longsoran masih menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari warga.

Pantauan BandungBergerak, Sabtu, 21 Agustus 2026, di bagian hilir, sebuah rumah berdinding seng berwarna hijau toska ditempati Adar, salah seorang warga yang kehilangan rumah akibat bencana. Di depannya terdapat lapangan yang cukup luas untuk anak-anak bermain layangan. Saat bencana, lapangan itu menjadi tempat parkir sejumlah ambulans yang digunakan untuk mengevakuasi warga.

Kini, rerumputan tumbuh di bagian pinggir lapangan yang menjorok ke bawah. Beberapa warga datang mencari rumput untuk pakan ternak. Di atas hamparan rerumputan sebelumnya berdiri rumah-rumah warga. Menurut Ahmad, salah seorang penyintas longsor, delapan bersaudara yang tinggal di kawasan tersebut menjadi korban longsor.

"Moal mungkin robih ku satahun, paling dua tahunan meren (Perubahan setelah longsor diperkirakan butuh waktu dua tahunan)," ucap Ahmad, menjelaskan soal dampak longsor terhadap kehidupan warga, yang ditemui BandungBergerak ketika ia sedang menyabit rumput, Sabtu, 21 Agustus 2026.

Sebagian lahan yang tertimbun longsor merupakan tanah pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga. Banyak warga kehilangan pekerjaan setelah bencana. Mereka kembali menjadi kuli dengan mengambil pekerjaan apa saja yang tersedia. Pekerjaan pertanian seperti nyetek dan ngerod yang sebelumnya mudah didapat kini nyaris tidak ada karena sebagian lahan pertanian hilang diterjang longsor.

Sebelumnya, bencana longsor dan pergerakan tanah melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026. Material longsor menerjang tiga kampung, yakni Kampung Pasirkuning, Babakan, dan Pasirkuda. Sekitar 34 rumah, lahan perkebunan, dan peternakan warga terdampak, dengan area longsor mencapai sekitar tiga kilometer. Bencana tersebut menelan puluhan korban jiwa. Hingga hari ke-13 operasi pencarian dan pertolongan (SAR), Kamis, 5 Februari 2026, sebanyak 94 kantong jenazah telah ditemukan.

Warga di bekas lokasi longsor Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 21 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)
Warga di bekas lokasi longsor Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 21 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Mengembalikan Kebun dari Tumpukan Batu

Di Kampung Babakan bagian atas, rerumputan tumbuh semakin tinggi. Batu-batu berukuran besar masih memenuhi lahan. Di tengah kondisi itu, Hendar berusaha mengembalikan kebunnya.

Keringat membasahi dahinya di tengah terik kemarau. Dengan tenaga sendiri, ia mencabut batu yang menutupi tanah, mulai dari kerikil hingga batu sebesar bola basket. Garpu besar yang biasanya digunakan untuk mengolah tanah kini menjadi alat untuk mencabut batu.

Batu-batu yang berhasil diangkat kemudian disusun di sepanjang jalan setapak yang dahulu memisahkan rumah dan perkebunan warga. Susunan itu sekaligus menjadi pembatas antara lahan yang mulai pulih dan area yang masih rusak.

Menurut Hendar, salah seorang penyintas longsor, di balik jalan setapak itu dahulu terdapat lima rumah. Semuanya rata dengan tanah saat longsor terjadi.

Kerusakan lahan, kata dia, bukan hanya akibat material longsor. Kondisinya diperparah oleh pengerukan menggunakan alat berat saat proses pencarian dan evakuasi korban.

Tak jauh dari tempat Hendar membersihkan lahannya, tanaman selada, kol, dan brokoli tumbuh segar. Tanaman itu dirawatnya seorang diri selama lebih dari dua bulan.

Hendar memulai dari mencabut batu, menanam benih, hingga merawat tanaman. Dengan tangan, garpu besar, dan tekad untuk kembali bertani, ia membutuhkan waktu berminggu-minggu hanya untuk membersihkan lahannya. Sekarang, baru sekitar seperempat lahannya yang berhasil dipulihkan.

"Sadayana da tanggungan nu gaduh kebon nyalira. Ditanam ge kedah ku nyalira (Semuanya ditanggung sendiri. Ditanam sendiri)," kata Hendar, Sabtu, 21 Agustus 2026.

Hendar tidak berharap banyak pada bantuan pemerintah yang tak kunjung dating.

Berseberangan dengan kebun Hendar, sebuah rumah yang hancur terseret longsor masih berdiri dalam keadaan rusak. Meski tak lagi layak ditempati, Ade, 65 tahun, tetap datang ke rumah itu hampir setiap hari.

Di belakang rumah terdapat sepetak kebun miliknya yang masih bertahan. Sementara bagian belakang rumah hancur diterjang longsor. Dua kamar dan sejumlah perabot, termasuk televisi di ruang tamu, rusak.

Hingga kini, lumpur masih menempel di bagian dalam rumah. Hanya toilet yang masih digunakan dan teras yang menjadi tempat Ade berteduh serta memanaskan air.

Lokasi longsor Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 21 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)
Lokasi longsor Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 21 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Sejak bencana, Ade tinggal di rumah kakaknya bersama istri dan seorang anak laki-laki.

Ketika sedang berkebun, ia terkadang beristirahat di teras rumah yang rusak itu. Dari sana, ia memandangi puing-puing longsor. Pada kesempatan lain, ia duduk membelakangi puing dan menghadap tanaman kol yang kelak dipanennya.

Ade menjadi saksi ketika longsor menerjang rumah-rumah di bagian hilir. Saat merasakan gemuruh keras seperti gempa, ia segera keluar rumah. Hujan masih turun ketika itu. Dari teras, ia melihat warga yang terseret arus longsor berteriak meminta pertolongan.

"Bapak ngeliat langsung, ningal, lumpur teh tos sakieu, tos tulung-tulungan (Saya melihat langsung longsor. Lumpurnya banyak. Orang-orang panik minta tolong)," cerita Ade.

Kini, bagian belakang rumah yang hancur itu ia manfaatkan untuk bercocok tanam. Tanahnya telah diratakan alat berat, tetapi batu-batu kecil masih memenuhi permukaan.

Ade kemudian menempatkan sekitar 400 polybag berisi tanah dan menanam beberapa bibit selada di lahan tersebut.

Mengembalikan kesuburan tanah bukan perkara mudah. Pada musim kemarau, tanah mengeras. Batu-batu kecil yang memenuhi lahan juga sulit disingkirkan.

Ia belum tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah bekas rumah menjadi kebun. Jika dikerjakan sendiri, membersihkan tanah dengan cangkul saja bisa memakan waktu berminggu-minggu.

"Pami dipacul mah parat 20 dinten eta (Memerlukan waktu 20 hari dengan dicangkul)," ucapnya.

Warga di bekas lokasi longsor Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 21 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)
Warga di bekas lokasi longsor Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 21 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Jalur Pendakian Ikut Terputus

Kampung Babakan berada di kaki Gunung Burangrang. Sebelum bencana, kawasan tersebut ramai dilalui orang dari luar kampung yang hendak mendaki gunung. Para pendaki datang dengan carrier dan perlengkapan mendaki.

Rus, 53 tahun, mengatakan warga setempat dapat mencapai puncak Gunung Burangrang dalam waktu sekitar satu jam. Sementara pendaki dari luar kampung rata-rata membutuhkan waktu dua hingga tiga jam.

Pada akhir pekan, jalan menuju kawasan pendakian biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil. Selain jalur pendakian dan tempat berkemah, kawasan itu juga menjadi akses bagi penggemar trail atau motor gunung.

Kini akses dari kampung tersebut ditutup sementara. Aktivitas pendakian dan suara knalpot motor trail yang sebelumnya akrab terdengar pun berkurang.

"Tempat kemping, trail, tos kajantenan ieu, langki we nu ka puncak oge (setelah kejadian longsor, jarang orang yang naik gunung)," tutur Rus.

Rus biasanya sudah berada di kebun sejak subuh. Ia terkadang tidur di saung bersama petani lainnya.

Namun, saung tempat mereka beristirahat ikut hancur diterjang longsor. Kini hanya tersisa beberapa saung kecil yang cukup untuk berteduh, tetapi tidak lagi memungkinkan untuk sekadar selonjoran.

Di samping saung terdapat kandang sapi yang juga hilang. Menurut Rus, puluhan sapi hingga ratusan domba milik warga hanyut terbawa longsor. Ternak yang selama ini menjadi salah satu bentuk investasi warga Kampung Pasirkuning itu ikut hilang.

Kini Rus kembali bekerja di kebun milik seorang sesepuh desa. Hasil panen dibagi rata kepada para petani yang terlibat.

Berbeda dengan Hendar yang menggarap lahannya seorang diri dan membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk membersihkan beberapa petak, Rus dan delapan petani lainnya dapat mengerjakan beberapa petak dalam waktu sekitar satu minggu.

Rus kembali bekerja di kebun setelah mendapat tawaran dari sesepuh desa. Sebelumnya, ia hanya mengandalkan pekerjaan sebagai kuli dengan penghasilan yang tidak menentu.

Bencana tak hanya menghilangkan rumah dan lahan. Bagi warga Kampung Babakan dan sekitarnya, longsor juga memutus tempat mereka mencari nafkah.

"Da masyarakat mah ngarepken kana pertanian, naon deui atuh? (Masyarakat sangat bergantung pada pertanian)," ujar Rus.

Sejak longsor, perubahan di lokasi belum banyak terlihat. Sebagian warga memang mulai kembali menggarap lahan yang tersisa. Kampung kembali berdenyut pelan, setelah kehilangan rumah, lahan, ternak, pekerjaan, dan bahkan jiwa. Mereka masih membangun kembali sumber kehidupan dari tanah yang belum sepenuhnya kembali.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//