Kesaksian Ai dan Ade, Ketika Hujan Deras dan Gerakan Tanah Melenyapkan Keluarga dan Rumah di Cisarua dalam Sekejap
Puluhan keluarga terimbas longsor Cisarua. Pencarian korban berlanjut di tengah tantangan tanah labil. Lebih dari tujuh puluh korban masih hilang.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah26 Januari 2026
BandungBergerak - Longsor di lereng Gunung Burangrang, Kabupaten Bandung Barat, menewaskan sedikitnya 17 orang dan menyebabkan puluhan lainnya masih dalam pencarian. Bencana yang melanda Kecamatan Cisarua dan Lembang itu menimbun sekitar 30 rumah di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu. Fokus penanganan dan evakuasi berada di Cisarua. Sebanyak 52 kepala keluarga atau 158 jiwa terdampak langsung, sementara 66 jiwa terpaksa mengungsi akibat rumah rusak atau tertimbun material longsor.
Setiap korban yang berhasil dievakuasi di lokasi longsor langsung dibawa ke Puskesmas Pasirlangu menggunakan ambulans. Puskesmas itu kemudian berubah menjadi pusat laporan orang hilang dan pos Disaster Victim Identification (DVI), yang melakukan identifikasi korban. Dua ruangan yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan sekolah kini berfungsi sebagai ruang forensik yang dipenuhi dokter.
Puluhan warga duduk di selasar menanti kabar. Salah satunya adalah Ai (45 tahun), yang menunggu informasi tentang saudaranya. Tangisnya pecah saat melihat proses evakuasi adiknya, Ujang Koswara (41 tahun), bersama istrinya Ai Sumarni (36 tahun), dan anak perempuan mereka Nina Haerunissa (16 tahun).
Ai menceritakan bagaimana ia pertama kali mendengar kabar longsor di Kampung Pasirkuning, tempat tinggal adiknya.
"Saya langsung ingat adik saya tinggal di sana," ujarnya.
Rumah Ujang Koswara terletak di dekat mahkota longsor Gunung Burangrang, di posisi yang relatif tinggi. Meskipun telepon genggam di rumah masih aktif setelah kejadian, tanah bergerak dengan cepat, meruntuhkan bangunan dan menutup akses keluar dengan batang pohon dan akar.
Hari pertama pencarian sangat sulit. Ai menambahkan bahwa pada hari pertama, mereka tidak memiliki peralatan memadai untuk menyingkirkan material longsor. Pada hari kedua, pencarian berlanjut bersama tim gabungan, yang menemukan sebuah tas sebagai petunjuk pertama. Setelah penggalian, ketiga korban ditemukan dalam keadaan berpelukan.
"Kami menemukannya dalam keadaan bertiga, anak, ibu, dan ayah, saling memeluk. Sudah tertutup, sudah tak bisa keluar lagi," ungkap Ai, menggambarkan temuan tragis itu.
Ketiga korban ditemukan sekitar pukul 22.00 WIB di ruang tamu rumah. Diduga, mereka berusaha menyelamatkan diri, namun longsor datang lebih cepat. Saat ini, keluarga sedang bermusyawarah untuk menentukan lokasi permakaman.
Duka mendalam juga menyelimuti Ketua RW 05, Ade, yang mengingat peristiwa tersebut. Longsor terjadi sekitar pukul 01.00 WIB, Sabtu, 24 Januari 2026, saat sebagian besar warga masih terlelap tidur.
"Tiba-tiba rumah itu goyang-goyang. Saya bangun, keluar, dan merasa ada getaran, lalu terdengar suara gemuruh," kata Ade.
Awalnya, Ade mengira itu adalah suara helikopter militer yang kerap melintas. Namun, air datang tiba-tiba, naik cepat, dan berubah menjadi arus deras. Ia segera berteriak membangunkan warga, namun tak ada waktu untuk menyelamatkan barang atau berpindah tempat.
“Maksud saya waktu itu mau menolong warga saya.Tapi semuanya sudah rata,” ujar Ade, mengenang bagaimana rumah-rumah warga ambruk dan terseret arus lumpur, kayu, dan puing-puing. Dari 23 kepala keluarga di RW 05, hanya dua yang selamat.
Ade, yang selamat bersama istri dan anak-anaknya, mengalami luka akibat benturan kayu saat berusaha menolong warga yang terseret arus.
“Waktu itu lagi menolong warga, air masih deras. Kayu kebawa arus, ke sini, kena ke badan. Waktu kejadian itu, ada yang teriak minta tolong, saya dengar. Tapi habis itu langsung hilang kebawa arus lagi. Langsung hilang, nggak tahu ke mana orangnya,” ungkap Ade.
Luka fisik bukanlah dampak terberat bagi Ade, melainkan rasa trauma.
“Hati saya tetap ke warga saya,” kata Ade dengan nada berat. “Saya lihat kaya gitu langsung mikir, nggak mau ke sini lagi, trauma.”
Saat ini, Ade tinggal sementara di rumah adiknya di Desa Pasirlangu, meskipun di kampung yang berbeda.
Terkendala Medan Pencarian
Sejak hari pertama, tim SAR gabungan terus melakukan pencarian korban di Desa Pasirlangu dengan melibatkan berbagai instansi, relawan, dan masyarakat. Proses pencarian dilakukan menggunakan alat berat untuk menyingkirkan material longsoran.
Berdasarkan data sementara BNPB per pukul 17.00 WIB, sebanyak 14 korban ditemukan meninggal dunia di Cisarua, sementara 76 orang masih dalam pencarian. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, jumlah tersebut masih bersifat sementara dan akan diperbarui sesuai hasil verifikasi lapangan.
Ia menyebutkan, pencarian menghadapi kendala kondisi tanah yang masih labil dan berisiko bagi keselamatan petugas. Pemantauan intensif serta pendataan lanjutan terhadap korban dan rumah terdampak terus dilakukan oleh tim gabungan.
Hingga Minggu, 25 Januari 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat telah mengidentifikasi 11 korban. Pos DVI berada di Puskesmas Pasirlangu, dekat lokasi evakuasi, sementara pos pengungsian berada di Desa Pasirlangu dan SDN 1 Pasirlangu. Bantuan logistik dan layanan kesehatan telah disalurkan ke lokasi pengungsian, meski warga masih mengalami trauma.
Di lokasi longsoran yang berjarak sekitar dua kilometer dari pos pengungsian, tim gabungan masih melakukan penyisiran. Kabid Humas Polda Jawa Barat Hendra Rochmawan mengatakan, selama dua hari operasi ditemukan 25 kantong jenazah, terdiri atas 10 jenazah utuh dan satu korban yang teridentifikasi dari bagian tubuh.
Hendra menambahkan, 10 jenazah utuh serta satu bagian tubuh masih menjalani proses identifikasi lanjutan melalui pemeriksaan post mortem dan ante mortem oleh tim DVI Polda Jawa Barat.
Baca Juga: Longsor Cisarua Menyapu Kampung Pasir Kuning, Delapan Orang Dilaporkan Tewas, 82 Orang masih Dicari
Lereng Curam dan Tanah Vulkanik Lapuk Picu Longsor Pasirlangu
Badan Geologi menyatakan longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dipicu kondisi geologi yang rentan, berupa lereng curam dan batuan gunungapi tua yang telah mengalami pelapukan kuat.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, kawasan terdampak di Kampung Pasirkuning berada di wilayah perbukitan dengan kemiringan lereng 8–40 derajat, bahkan lebih dari 40 derajat di sejumlah titik. Batuan penyusun wilayah ini berupa breksi vulkanik, tuf, dan lava yang mudah melemah saat jenuh air.
Selain itu, keberadaan sesar dan rekahan di wilayah Bandung Barat mempercepat infiltrasi air hujan ke dalam lereng dan membentuk bidang-bidang lemah. Curah hujan tinggi sebelum kejadian meningkatkan tekanan air pori, menurunkan kekuatan tanah, dan memicu pergerakan massa tanah dalam skala luas.
Lokasi longsor berada di Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah, sehingga potensi longsor susulan masih tinggi, terutama saat hujan lebat. Badan Geologi merekomendasikan warga di sekitar lokasi segera mengungsi ke tempat aman, meningkatkan kewaspadaan di sekitar lereng curam, serta menghentikan aktivitas pencarian saat hujan deras. Masyarakat juga diminta mengikuti arahan pemerintah daerah dan BPBD, serta meningkatkan pemahaman terhadap tanda-tanda awal gerakan tanah.
Potensi Bahaya Susulan
Peristiwa longsor di daerah yang masuk Kawasan Bandung Utara tersebut tidak bisa dipahami semata sebagai dampak alih fungsi lahan. Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Achmad Sadisun menyebut kejadian ini merupakan hasil interaksi kompleks faktor alam dan aktivitas manusia yang memicu aliran lumpur (mudflow) dari bagian hulu.
Menurut Imam, wilayah KBB tersusun atas produk vulkanik tua dengan lapisan tanah pelapukan yang tebal. Bidang kontak antara tanah lapuk dan batuan dasar yang relatif kedap air kerap menjadi bidang gelincir longsoran, terutama saat hujan berdurasi panjang membuat tanah jenuh air dan kehilangan kekuatan gesernya. Dengan kondisi tanah tersebut, Imam menegaskan, hujan sedang yang berlangsung lama bisa sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam waktu singkat.
Ia menjelaskan, indikasi awal menunjukkan terjadinya longsoran di hulu salah satu alur sungai di lereng selatan Gunung Burangrang. Longsoran tersebut menutup alur sungai dan membentuk bendungan alam. Saat bendungan jebol, material lumpur, pasir, hingga bongkah batu mengalir cepat ke hilir mengikuti sungai.
“Rumah-rumah warga tidak runtuh karena longsor di lereng tempat berdirinya, tetapi terdampak material kiriman dari hulu melalui alur sungai,” kata Imam.
Karakter aliran bermuatan sedimen ini memiliki daya rusak tinggi dan lebih tepat dikategorikan sebagai aliran lumpur, bahkan berpotensi menjadi aliran debris. Hal ini menjelaskan kerusakan parah di sepanjang bantaran sungai, meski berada jauh dari sumber longsoran.
Imam juga mengingatkan potensi bahaya susulan masih ada. Indikasi sumbatan di bagian hulu sungai dapat kembali jebol jika hujan lebat terjadi, memicu aliran lumpur berikutnya ke wilayah hilir.
Meski secara regional berada pada zona kerentanan longsor rendah hingga menengah, kawasan permukiman di sempadan sungai tetap berisiko tinggi. “Bahaya tidak selalu datang dari lereng di sekitar rumah, tetapi dari sistem aliran yang terhubung dengan lereng curam di hulunya,” ujarnya.
Sebagai mitigasi, Imam menekankan pentingnya stabilisasi lereng hulu, pemantauan jalur aliran dengan sensor dini, serta pembangunan struktur pengendali sedimen. Ia juga mengingatkan warga agar waspada terhadap tanda alam, seperti aliran sungai yang tiba-tiba surut saat hujan masih berlangsung, yang bisa menandakan adanya sumbatan di hulu.
Ia juga menyoroti pentingnya vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng. Selain berfungsi secara mekanik melalui perakaran yang meningkatkan kohesivitas tanah, vegetasi juga berperan secara hidrologis dengan memperlambat kejenuhan tanah oleh air hujan.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

