Menjaga Nyala Ekosistem Hijau: Enam Tahun Cerita dan Ruang Hangat di Toko Nol Sampah
Merayakan ulang taun ke-6 Toko Nol Sampah dengan Junk Journaling menjadi ruang perjumpaan komunitas merawat konsistensi gaya hidup zero waste di tingkat akar rumput.
Penulis Ardhzohal Roman15 September 2026
BandungBergerak – Suasana santai dan tenang melingkupi kedai Toko Nol Sampah di kawasan Jalan Raden Patah, Kota Bandung, pada Minggu, 13 September 2026, petang. Di atas meja kayu, potongan-potongan kertas bekas, prangko lama, dan sampah anorganik rumah tangga tak lagi berakhir di tempat pembuangan. Di tangan peserta yang hadir, limbah-limbah kertas itu dirangkai kembali, ditempel rapi, dan disulap menjadi media ekspresi visual yang hangat.
Momen bertajuk “Nyore: 6 Tahun Toko Nol Sampah” ini digelar bukan sekadar untuk memperingati perjalanan enam tahun berdirinya toko kelontong curah (bulk store) tersebut di Kota Bandung. Melalui workshop dan sesi menjurnal bersama (Junk Journaling), acara ini menjadi ruang perjumpaan komunitas untuk merawat semangat serta konsistensi gaya hidup minim sampah (zero waste) dari tingkat akar rumput.

Baca Juga: Mengenal Inovasi Pelatihan Angklung yang Ramah Difabel di Public Class
Helios English Book Club: Dari Halaman Buku Menuju Percakapan Berbahasa Inggris
Junk Journaling: Merilis Cemas dan Mengolah Limbah Menjadi Karya
Kegiatan Junk Journaling yang menjadi inti dari gelaran ulang tahun ke-6 ini terbukti menjadi pilihan medium edukasi lingkungan yang segar. Tanpa perlu membeli bahan-bahan baru berharga mahal, para peserta membawa sendiri potongan sampah kertas bekas dari rumah yang diolah menjadi karya seni personal.
Sofi, seorang akuntan asal Ahmad Yani yang hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan bahwa mempraktikkan junk journaling memberikan manfaat ganda: melatih kepedulian lingkungan sekaligus menjadi media katarsis secara psikologis.
"Junk journaling itu kita menjurnal dengan media sampah yang mungkin dibuang, tapi kita daur ulang jadi karya. Pertama, aku merasa bisa bikin mini galeri buat diri sendiri atau inspirasi teman-teman. Kedua, secara psikologis ini bisa merilis emosi, cemas, dan stres. Jadi enggak semua jurnal harus pakai barang mahal, media sampah pun bisa," tutur Sofi.
Bagi Sofi yang sudah lama mempraktikkan pemilahan sampah dan terbiasa membawa kantong belanja (tote bag) sendiri, keberadaan Toko Nol Sampah merupakan ruang yang sangat niche dan krusial di Bandung. Ia menilai usaha ramah lingkungan ini harus terus dijaga agar tetap hidup dan memberikan dampak sosial.
Senada dengan Sofi, Quin, seorang karyawan swasta asli Bandung yang turut serta dalam sesi menjurnal, mengaku ini adalah pengalaman pertamanya memanfaatkan kertas bekas untuk bahan karya.
"Biasanya kalau aku journaling cuma menulis aja. Ini pengalaman pertama tempel-tempel dari kertas bekas atau prangko, seru banget. Keberadaan Toko Nol Sampah ini ngebantu banget, apalagi lokasinya yang sekarang lebih strategis dan dekat. Lebih gampang buat mengajak orang datang langsung dan merasakan sendiri pengalaman berbelanja minim sampah," ujar Quin, yang juga telah terbiasa memilah sampah dan mengompos di rumahnya.

Membangun Ekosistem dan Menembus Benteng Sistem Ekonomi
Toko Nol Sampah didirikan pertama kali pada September 2020 oleh Siska. Memasuki usianya yang ke-6 dan mulai menginjak tahun ketujuh, toko kelontong curah dan kedai ini konsisten memposisikan diri sebagai supporting system atau penopang kebutuhan rumah tangga bagi warga Bandung yang ingin beralih ke gaya hidup minim sampah.
Siska menceritakan bahwa perjalanan enam tahun mengelola bulk store bukanlah hal yang mudah. Sebagai toko kecil dengan basis konsumen yang sangat tersegmentasi, Toko Nol Sampah harus melewati dinamika usaha yang pasang surut. Namun, penguatan komunitas di Bandung menjadi kunci utama yang membuat gerakan ini terus bertahan.
"Suka dukanya cukup banyak dari tahun pertama sampai keenam karena kita melewati masa-masa yang enggak mudah. Ini toko kecil dengan customer yang terbatas di kalangan orang yang sudah aware isu sampah. Tapi tiap tahun kian bertambah. Toko Nol Sampah ini bisa tumbuh karena komunitas di Bandung cukup kuat," kata Siska.
Menurut Siska, anak-anak muda di Kota Bandung sebenarnya memiliki motivasi dan kesadaran tinggi untuk melakukan perubahan perilaku hidup ramah lingkungan. Kendala utamanya sering kali terletak pada minimnya supporting system atau sarana yang memfasilitasi mereka untuk berbelanja tanpa kemasan sekali pakai.
"Saya percaya ketika ekosistemnya terbentuk, gaya hidup itu bisa berubah. Makanya fokus Toko Nol Sampah sejak awal adalah menjadi supporting system dalam membangun ekosistem itu," tambahnya.
Meski demikian, gerakan ramah lingkungan independen dan usaha kecil seperti toko curah masih membentur tantangan sistemik. Siska menyoroti bagaimana regulasi usaha dan sistem ekonomi sirkular yang ada saat ini masih kurang berpihak pada pelaku usaha mikro independen. Aturan izin edar produk yang ketat sering kali menyulitkan toko curah untuk merangkul pengrajin lokal (artisan) yang memiliki modal terbatas.
"Tantangannya ada di sistem perekonomian. Narasi ekonomi sirkular yang ramai dibicarakan sekarang jatuh-jatuhnya lebih banyak mendukung pemodal atau usaha yang sudah besar. Buat usaha kecil kayak gini, sistem yang ada sekarang cukup memberatkan. Harapan saya dari awal sederhana, Toko Nol Sampah bisa terus jadi salah satu solusi yang dibutuhkan warga Kota Bandung untuk meminimalisir sampahnya," pungkas Siska.
Melalui kehangatan sesi Junk Journaling di Minggu petang itu, Toko Nol Sampah membuktikan bahwa upaya menyelamatkan bumi tidak selalu harus dimulai dengan aksi-aksi besar yang kaku. Dari meja-meja kecil, obrolan hangat, dan potongan kertas bekas, nyala kesadaran itu terus dirawat bersama.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


