Ladang & Hidang: Berinteraksi dengan Petani dan Pangan Lokal di Lembang
Peserta Ladang & Hidang: Gastronomy Experience tidak langsung disuguhi makanan di atas piring. Mereka diajak menelusuri kebun dan berdialog dengan petani.
Penulis Tim Redaksi17 September 2026
BandungBergerak - Minggu pagi di Kampung Areng, Desa Cibodas, Kabupaten Bandung Barat, dimulai dari kebun, bukan meja makan. Matahari belum terlalu tinggi ketika peserta Ladang & Hidang: Gastronomy Experience berkumpul di The Lodge Maribaya. Sebagian datang bersama orang-orang yang belum pernah mereka temui.
Zine dari Berkawan Sekebun dibagikan kepada peserta, lengkap dengan ruang untuk mencatat pengalaman selama mengikuti kegiatan. Camilan dari Warung Ubi Ibu-Ibu turut menemani pagi itu.
Peserta membuat lingkaran di bawah matahari pagi. Permainan dan perkenalan mencairkan suasana. Tawa muncul dari orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Setelah itu, perjalanan dimulai.
Peserta meninggalkan The Lodge Maribaya menggunakan angkutan wisata menuju kebun warga di Kampung Areng. Di tempat itu, makanan yang biasanya mereka lihat di pasar, restoran, supermarket, atau piring makan hadir dalam bentuk lain: masih tumbuh dan melekat pada tanah.
Peserta memetik cabai, bayam Jepang, parsley, dan endive atau andewi. Waktu yang semula diperkirakan sekitar 30 menit berjalan lebih lama. Sebagian peserta bertanya kepada petani mengenai cara menanam dan memanen. Ada pula yang tertarik belajar berkebun agar dapat mencoba menanam sendiri di rumah.
Bagi sebagian peserta, menyentuh tanah dan mengambil sendiri bahan pangan yang nantinya mereka makan menjadi pengalaman yang jarang dilakukan. Begitu juga saat berinteraksi dengan petani.
Cece, salah seorang petani di Kampung Areng, telah bertani selama sekitar 15 tahun. Ia mengatakan pekerjaan bertani memiliki tantangan sejak tahap penyemaian hingga tanaman dipindahkan ke lahan.
Tanaman yang masih muda dapat mati. Hama dan cuaca juga memengaruhi pertanian. Bayam Jepang, misalnya, harus dipanen pada waktu tertentu karena mudah layu jika terkena panas. Sementara tomat dapat membusuk ketika terlalu banyak hujan.
Bagi konsumen, proses tersebut sering kali tidak terlihat. Ketika sayuran telah berada di pasar, supermarket, restoran, atau piring makan, perjalanan sebelumnya seolah menghilang.
Padaha menurut petani, tanaman justru membutuhkan perhatian setiap hari. Pak Cece menggambarkan cara merawat tanaman seperti merawat anak.
Karena itu, kedatangan pengunjung ke kebun memiliki arti tersendiri baginya. Ketika orang datang, bertanya tentang budidaya, dan ingin mengetahui pekerjaan petani, ia merasa mendapat penghargaan.
“Jadi kita berasa dihargai,” ujar Cece ketika menceritakan pengalamannya menerima kunjungan ke kebun.
Ia juga berharap anak-anak muda tertarik mengenal pertanian.
“Buat tau menghargai makanan harus tau prosesnya dari biji, disemai, dirawat. Harus lebih tau lah lebih mengenal ke pertanian” ujarnya.
Sumpena, petani sekaligus bagian dari pengurus wisata Kampung Areng, merasakan hal serupa. Ia mengaku senang ketika pengunjung datang dan berbincang langsung dengan petani. Namun, pada awalnya, kehadiran pengunjung juga terasa tidak biasa baginya.
“Kok kita bisa di kunjungi ya?” ujarnya.
Menurut Cece dan Sumpena, kunjungan wisata ke kebun tidak hanya menjadi ruang pertemuan dengan konsumen. Pertemuan tersebut juga dapat berkembang menjadi relasi baru. Orang yang semula datang untuk berwisata kemudian kembali untuk bermitra atau memesan sayuran langsung kepada petani.
Kerja sama dengan The Lodge juga mengubah sebagian jalur penjualan hasil pertanian. Sebelum kerja sama tersebut, sebagian hasil panen dijual kepada tengkulak. Kini sebagian hasil pertanian disalurkan melalui kemitraan.
Terdapat perbedaan dalam penentuan harga. Melalui kemitraan, harga lebih terbuka dan ukuran hasil panen tidak menjadi persoalan seperti ketika menjual kepada tengkulak. Parsley dan endive, misalnya, ditanam karena ada permintaan dari mitra. Hasilnya kemudian dikirim melalui pemasok menuju toko atau restoran. Bayam Jepang juga dikirim ke toko atau supermarket.
Hubungan tersebut tidak berhenti pada jual beli. Kunjungan ke kebun membuka kemungkinan bertemunya petani dengan orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal.

Makan Bersama
Setelah dari kebun, peserta kembali ke The Lodge Maribaya. Bahan pangan yang sebelumnya masih tumbuh di tanah kini berpindah ke meja makan.
Peserta mendapatkan pemaparan mengenai ngaliwet. Ia mengajak peserta melihat ngaliwet bukan sekadar kegiatan makan nasi, tetapi juga melalui pemaknaan ekologis dan sharing economy.
Nasi liwet dan berbagai hidangan disajikan di atas bentangan daun pisang. Peserta makan bersama keluarga atau teman masing-masing. Suasana yang sebelumnya riuh perlahan menjadi lebih tenang, meski percakapan dan tawa tetap terdengar.
Salah satu peserta, Cici mengatakan, rangkaian tersebut membuat perjalanan pangan terlihat sebagai satu kesatuan. Mulai dari sumber pangan, memanen, mengolahnya menjadi makanan, hingga memikirkan apa yang terjadi setelah makanan selesai dikonsumsi.
Penggunaan daun pisang sebagai alas makan juga menjadi salah satu hal yang menarik baginya. Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana makanan, lingkungan, dan cara manusia mengonsumsi pangan dapat saling terhubung.
Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa menghargai makanan juga berarti mengenal proses dan orang-orang yang membuatnya tersedia.
“Tidak kenal maka tidak sayang,” kata Cici.
Prima, peserta lainnya, mengaku pengalaman berada di kebun memberinya perspektif baru. Sebagai warga yang menetap di kota, ia jarang berinteraksi langsung dengan asal-usul bahan makanan.
“Pengalaman paling berkesan itu waktu ke kebun. Kita dapat ilmu cara memotong dan mencabut tanaman dengan benar, memetik tomat dan cabai langsung. Ini bikin kita merasa lebih dekat dengan alam dan menjadi makin tertarik untuk tahu perjalanan makanan sampai ke meja,” kata Prima.
Menjelang akhir sesi makan, peserta kembali diingatkan mengenai zero waste. Mereka diajak mengambil dan mengolah makanan secukupnya agar tidak terbuang serta memperhatikan penggunaan benda-benda yang lebih ramah lingkungan.
Setelah makan, musik dari Somah & Ordal kembali menghidupkan suasana. Peserta bernyanyi bersama, kemudian mengikuti permainan tebak-tebakan mengenai hal-hal yang mereka temui selama berada di kebun. Cece dan Sumpena turut naik ke panggung untuk menilai jawaban peserta.
Rangkaian kegiatan kemudian bergerak menuju suasana yang lebih hening. Sesi ngahaturkeun syukur dilakukan dengan diiringi alunan tarawangsa dari Tarawangsa Astungkara.
Sebelum kegiatan benar-benar berakhir, peserta kembali membuka zine yang dibagikan sejak pagi. Catatan yang sebelumnya kosong mulai diisi dengan pengalaman sepanjang hari. Dari tanah, tanaman, petani, panen, hingga makanan, semua kembali dicatat.
Baca Juga: Sistem Pangan Lokal, Alternatif Melawan Dominasi Sistem Pangan Global
Pangan Centils: Menghubungkan Pangan, Tubuh, dan Budaya

Salira Sarerea dan Gagasan di Balik Ladang & Hidang
Pengalaman tersebut merupakan bagian dari konsep yang disusun Salira Sarerea bersama The Lodge Maribaya. Salira Sarerea tidak hadir semata sebagai penyelenggara kegiatan. Salah seorang penggeraknya, Dhea DKI, menjelaskan bahwa kolektif tersebut belum memiliki agenda rutin mingguan. Mereka menempatkan diri sebagai hub keberagaman dan media kolektif dengan pendekatan yang dimulai dari mendengarkan.
“Salira Sarerea ini belum bisa kita sebut sebagai komunitas yang rutin terhubung atau punya kegiatan mingguan. Pendekatan kami berawal dari mau mendengarkan. Akhirnya, Salira Sarerea berbentuk hub keberagaman dan media kolektif,” kata Dhea saat ditemui di sela acara.
Menurut Dhea, nama Salira merujuk pada “diri sendiri”. Inisiasi kolektif tersebut lahir dari refleksi pengalaman Dhea dan suaminya yang sebelumnya bekerja di NGO. Dhea memiliki latar belakang di bidang kesehatan masyarakat, nutrisi, dan pemuda, sedangkan suaminya berkutat pada isu persampahan dan lingkungan.
Pengalaman bekerja di lembaga nonpemerintah membuat mereka mempertanyakan mengapa masyarakat tidak selalu bergerak meskipun persoalan sosial atau lingkungan telah terlihat jelas.
Dari situ, Salira Sarerea mencoba mengambil pendekatan berbeda. Mereka tidak ingin langsung datang dengan ketetapan masalah dan solusi, tetapi terlebih dahulu memahami hubungan emosional warga dengan persoalan tersebut.
“Keresahan utamanya adalah mendengarkan hubungan orang-orang terhadap suatu masalah. Kenapa orang tidak relate? Kami ingin petakan dulu sebelum menentukan solusi. Solusinya bukan dari kami, melainkan warga atau lembaga lain,” tutur Dhea.
Dalam menjalankan perannya sebagai hub, Salira Sarerea mengusung tiga pilar, yaitu budaya keberlanjutan, lingkungan, dan well-being. Ketiganya diterjemahkan melalui dua fokus kerja: engagement dan Citizen Knowledge.
Engagement digunakan untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat yang sebelumnya tidak saling terhubung, mulai dari pegiat seni, akademisi, pengusaha pariwisata, hingga petani lokal. Sementara Citizen Knowledge berupaya menghimpun pengetahuan lokal agar dapat diakses publik.
Salah satu manifestasinya adalah Pangan Centils. Dari kegiatan tersebut, Salira Sarerea menyusun Jejak Centils, sebuah direktori terbuka berbasis Google Sheet yang memuat jaringan komunitas hingga potensi lokal.
Pendekatan inilah yang menarik perhatian Zahrani Hasya, General Manager The Lodge Maribaya sekaligus inisiator Ladang & Hidang.
Zahrani mengatakan pihaknya sedang bertransformasi menuju kawasan pariwisata berbasis wellness dan keberlanjutan. Namun, mereka merasa perlu belajar dari penggerak isu pangan lokal.
“Kami pengen punya pergerakan ini, tapi karena masih proses belajar, kurasa belum percaya diri kalau jalan sendirian. Kita cari penggerak di Bandung yang sudah paham tentang pangan, lalu ketemu Salira Sarerea. Dari diskusi dengan Teh Dhea, konsep acara ini jadi semakin komplit,” ujar Zahrani.
Kolaborasi tersebut, menurut Zahrani, juga menjadi bagian dari persiapan jangka panjang menuju Desa Cibodas Movement dan pemetaan identitas gastronomi lokal di kawasan tersebut.
Ladang & Hidang mempertemukan dua ruang yang selama ini kerap terpisah: ladang dan meja makan. Ketika kegiatan berakhir, zine yang sejak pagi dibawa peserta telah terisi catatan tentang kebun, tanaman yang dipanen, cerita petani, hingga sepiring nasi liwet yang disantap bersama.
Dengan demikian, pangan tidak berhenti sebagai sesuatu yang selesai ketika berada di atas piring. Peserta telah melihat bagaimana ia tumbuh, siapa yang merawatnya, bagaimana ia berpindah dari ladang, hingga akhirnya menjadi hidangan.
***
*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Azany Magrina Duarte dan Abimanyu Ismoyo Santoso. Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


