CERITA ORANG BANDUNG #118: Warung Kecil Mak Enok di Ujung Longsor
Kehilangan rumah, warung, dan 13 anggota keluarga dalam longsor Kampung Babakan, Mak Enok membangun hidupnya dari sepuluh bala-bala.
Penulis Jawahir Alma'ani 19 September 2026
BandungBergerak - Ember di sudut dapur dipakai Mak Enok untuk menyimpan gelas dan piring yang masih berlumpur, sisa longsor yang menghantam kampungnya tujuh bulan lalu. Sebagian bangunan dapur hancur. Pintunya sudah tidak ada, menyisakan sebuah ruang terbuka di bagian belakang rumah.
Mak Enok, 53 tahun, tinggal di Kampung Babakan, Desa Pasiekuning, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Rumahnya berdiri di tepian longsor dengan sebagian bangunan mengalami kerusakan berat. Namun, ia masih bertahan di sana seorang diri.
Suaminya telah meninggal dunia. Setelah longsor terjadi, Mak Enok harus menjalani hari-harinya seorang diri dengan kondisi rumah yang tidak lagi utuh.
Di bagian depan rumah, sebuah etalase warung masih berdiri. Di dalamnya, beberapa makanan ringan tersusun berjauhan, menyisakan ruang-ruang kosong.
Pemandangan itu jauh berbeda dengan sebelum longsor. Etalase tersebut dahulu dipenuhi aneka makanan ringan, minuman sachet, dan gorengan. Warung kecil itulah yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan hidup Mak Enok.
Namun, semuanya berubah dalam hitungan jam ketika longsor terjadi. Ketika proses pencarian korban berlangsung, Mak Enok memilih menyumbangkan seluruh barang dagangannya kepada tim SAR dan para relawan. Setelah itu, warung yang menjadi sumber penghasilannya berhenti beroperasi.
Tujuh bulan sejak longsor, Mak Enok mencoba kembali membuka warungnya dengan jumlah barang tak seberapa. Tapi di sanalah ia menaruh harapan.
Setiap hari, ia kembali menjaga warung kecilnya, menunggu pembeli yang datang. Sesekali, ia masih bertanya-tanya dalam kebingungan: apakah warung kecil ini akan cukup untuk membuatnya terus bertahan seperti di masa sebelum longsor?
“Pami warga te aya mah, saha atuh nu meser? (Kalau warganya tidak ada, siapa yang beli?)” ucapnya, kepada BandungBergerak, Rabu, 26 Agustus 2026.
Diketahui, longsor yang menerjang Kampung Babakan mengubur lebih dari 30 rumah dan memakan lebih dari 90 korban jiwa, Sabtu, 24 Januari 2026. Penduduk kampung yang sebagian besar petani, termasuk Mak Enok, kehilangan sanak saudara dan sumber penghasilan.

Kehidupan Sebelum Longsor
Jauh sebelum warung kecil di depan rumahnya menjadi satu-satunya harapan, Mak Enok lebih dulu menggantungkan hidup pada kebun.
Di sepetak lahan yang berada di pinggir rumah dan menjorok ke bawah, ia membudidayakan labu siam. Sekali panen, hasilnya bisa mencapai 1 hingga 1,5 ton. Untuk memulai musim tanam, Mak Enok meminjam modal dari bandar. Ia mengambil bibit dan kebutuhan bertani tanpa uang muka, lalu membayarnya setelah hasil panen terjual.
Sistem itu ia jalani bertahun-tahun. Dari satu ton labu siam yang terjual sekitar Rp4 juta, kurang lebih separuhnya digunakan untuk membayar utang kepada bandar. Sisanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketika itu, suaminya masih hidup. Namun, selama sekitar sebelas tahun sebelum meninggal pada 2021, suaminya telah kehilangan penglihatan dan mengalami kebutaan total. Dalam kondisi tersebut, sebagian besar tanggung jawab keluarga berada di pundak Mak Enok. Ia mengurus suami, membesarkan dua putrinya, sekaligus mencari nafkah dari kebun.
Pekerjaan apa pun ia jalani selama masih sanggup dan sehat.
“Ari nuju hénteu nyeri kaki mah, pami aya kulian, dicandak wé (Kalau lagi sehat, kalau ada kulian diambil,)” katanya.
Ia pernah menggusur terong, melakukan nyetek dan ngored, memperbaiki perahu kebun seorang diri, hingga memanggul dengan upah 3.000 rupiah per batang.
Kebun memang menjadi sumber penghidupan utama, tetapi hasilnya tidak pernah bisa dipastikan. Panen bergantung pada musim, harga yang ditetapkan bandar, dan nasib tanaman. Sementara kebutuhan keluarga datang setiap hari: uang jajan sekolah anak, cicilan kepada bandar, hingga biaya berobat suaminya yang saat itu tidak memiliki BPJS.
Untuk makan sehari-hari, Mak Enok tidak banyak menuntut. Baginya, yang penting persediaan beras cukup. Selama labu siam masih tumbuh dan bisa dipanen dari kebun kecilnya, ia kerap tidak membeli bahan makanan lain. Sayuran untuk lauk terkadang datang dari tetangga atau saudara yang membagikan hasil panen ketika kebunnya sedang melimpah.
Berbagi hasil panen merupakan hal yang lumrah di kampungnya.
Namun, kebutuhan sehari-hari tidak bisa menunggu musim panen. Dari situlah Mak Enok mulai memikirkan cara mendapatkan penghasilan yang bisa masuk setiap hari. Ia kemudian mencoba berjualan gorengan secara keliling.
Modal awalnya sangat kecil: seperempat kilogram tepung, beberapa potong wortel, dan sedikit kol. Dari bahan itu, ia membuat sekitar sepuluh biji bala-bala untuk dijual dari rumah ke rumah.
“Batur mah jutaan, abi mah ratusan gé hénteu (orang lain modal jutaan rupiah, saya mah ratusan ribu juga engga),” ucapnya.
Ia mengaku sempat malu ketika pertama kali berkeliling menjajakan gorengan. Namun, rasa malu itu perlahan ia kesampingkan. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Hari-harinya kemudian dimulai jauh sebelum matahari terbit. Sekitar pukul dua dini hari, Mak Enok menanak nasi dan menggoreng bala-bala. Ketika langit masih gelap, ia berangkat berkeliling kampung dengan membawa satu jolang penuh gorengan yang dipikulnya sendiri.
Sekitar pukul delapan pagi, ia kembali ke rumah. Jinjingan yang dibawanya pulang biasanya sudah ringan karena dagangannya ludes.
Dari hasil berjualan itulah ia mulai menabung sedikit demi sedikit. Awalnya, ia hanya menjual gorengan, kopi hitam, dan rokok. Permintaan warga kemudian membuat dagangannya bertambah. Ia mulai membuat bala-bala, ulen, gorengan pisang, hingga gorengan ubi.
Pelanggan pun bertambah. Dari satu rumah ke rumah lain, dari satu kampung ke kampung berikutnya, semakin banyak warga yang menunggu kedatangannya pada pagi hari untuk membeli sarapan sebelum memulai aktivitas.
Hingga akhirnya, Mak Enok memutuskan untuk berhenti berkeliling dan membuka warung di rumahnya.
Warung itu berdiri di sisi kawasan kebun seluas lebih dari 20 hektare, tempat ratusan warga Kampung Pasirkuning dan kampung-kampung di sekitarnya menggantungkan hidup. Jalan menuju kebun melewati rumah Mak Enok. Semakin ke atas, tanah semakin menjorok dan miring. Di sanalah para petani menghabiskan sebagian besar hari mereka merawat kol, selada, labu siam, dan berbagai tanaman lainnya.
Posisi itu membuat warung Mak Enok berada tepat di jalur yang setiap hari dilewati para petani.
Awalnya, warung itu masih kecil. Namun, setiap kali petani dan warga singgah, selalu ada permintaan baru. Kopi mulai datang dalam berbagai jenis. Anak-anak yang ikut orang tuanya mulai meminta makanan ringan. Rak-raknya perlahan dipenuhi barang yang sebelumnya tidak pernah ia jual.
Warung itu kemudian menjadi tempat persinggahan para petani.
Pagi hari, mereka mampir untuk minum kopi dan makan roti sebelum naik ke kebun. Siang hari, mereka kembali ketika persediaan kopi di kebun habis. Sore hari, mereka singgah lagi sebelum pulang.
Bukan hanya petani yang datang. Teras rumah Mak Enok perlahan berubah menjadi ruang berkumpul keluarga. Kakak-kakaknya datang membawa anak dan cucu. Mereka duduk bersama di teras, berbincang, dan menghabiskan waktu di sana.
Tahun demi tahun, warung itu semakin penuh. Makanan ringan, minuman dingin, rokok, dan berbagai jenis kopi berjajar memenuhi rak dan etalase. Dari usaha yang bermula dengan sepuluh bala-bala, Mak Enok akhirnya memiliki warung yang menjadi tumpuan hidupnya sekaligus tempat orang-orang terdekat berkumpul.
“Biasana mah sok ngumpul didie teh, sadayana ge didieu sok karumpul, pinuh dina emper teh (Biasanya memang berkumpul di sini. Semua berkumpul di sini, sampai teras rumah penuh)," cerita Mak Enok.
Warung itu akhirnya bukan sekadar tempat Mak Enok mencari nafkah. Di sana, pekerjaan, keluarga, dan kehidupan sehari-harinya bertemu. Tempat yang dibangunnya sedikit demi sedikit itu kemudian menjadi bagian penting dari hidupnya—hingga bencana itu datang dan mengubah semuanya.
Tiga Hari Sebelum Longsor
Rabu, 21 Januari 2026, tiga hari sebelum longsor, Mak Enok baru saja berbelanja untuk mengisi kembali warungnya. Sebanyak 15 kilogram telur, sekarung kerupuk, dua krat minyak, dua karung beras, lima pak rokok, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Satu per satu barang itu ia susun ke dalam etalase dan rak. Dengan penuh semangat, ia mengisi kembali warung yang dirintisnya dari hanya sepuluh bala-bala. Usaha yang ia bangun sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun itu akhirnya terasa benar-benar berjalan.
Pada waktu yang sama, kebun-kebun di sekitar rumah Mak Enok sedang berada dalam masa panen. Cabai, kol, sawi, selada, dan berbagai tanaman lain tumbuh subur. Para petani bahkan bersiap memanen hasil kebun mereka dalam beberapa hari berikutnya.
Namun, menjelang malam, hujan mulai turun deras, dan berlanjut selama tiga hari tiga malam. Air turun tanpa jeda, disertai angin kencang yang merusak bagian belakang rumah Mak Enok.
Aliran listrik kemudian padam. Tanah tiba-tiba bergetar hebat. Gemuruh terdengar semakin keras. Getarannya terasa seperti gempa.
Mak Enok sontak terbangun dari tidurnya. Dalam keadaan panik, ia berlari keluar rumah. Namun sebelum meninggalkan rumah, pikirannya tertuju pada uang sebesar 20 juta rupiah yang dititipkan orang lain kepadanya. Ia mengambil uang tersebut dari dalam lemari dan membawanya keluar.
Uang warungnya sendiri tidak sempat ia ambil. Di tengah kepanikan dan gemuruh yang semakin membesar, uang 20 juta rupiah itu ia lemparkan begitu saja ke depan pintu.
Jeritan terdengar dari berbagai arah. Mak Enok menoleh ke sisi kanan rumah. Aliran longsor telah bergerak turun. Rumah kakaknya sudah dilahap lumpur.
“Pas aya ieu ngageter, suganteh sanes longsor. Tetangga jejeritan da ku angin bumi na,” cerita Mak Enok.
Dalam hitungan detik, lanskap yang selama bertahun-tahun ia kenal berubah.
Mak Enok kemudian mengungsi bersama warga lainnya ke Ganasoli. Setelah matahari terbit, ia kembali ke rumah. Ia teringat uang 20 juta rupiah yang dilemparkannya ke depan pintu.
Rumah itu sudah porak-poranda. Lantainya retak. Genteng bocor di berbagai tempat. Bagian dalam rumah basah. Lumpur masuk melalui pintu belakang yang terbuat dari triplek dan menganga setelah diterjang longsor. Di balik pintu itu, dapur yang selama bertahun-tahun menjadi tempat Mak Enok memasak dan mencuci peralatan rumah tangga sudah hancur dan tidak lagi bisa digunakan.
Mak Enok hanya bisa gemetar melihatnya. Namun, uang yang ia lemparkan malam itu ternyata masih ada, tergeletak tepat di tempat ia menjatuhkannya.
Bersama tetangga, ia kemudian mengamankan barang-barang yang masih bisa diselamatkan: sepeda motor, uang warung, kompor dan tabung gas, kulkas, serta mesin cuci. Barang-barang itu dipindahkan ke tempat yang dianggap lebih aman.
Mak Enok mengaku tidak menyangka suara gemuruh malam itu adalah longsor. Warga di sekitar kaki Gunung Burangrang sudah terbiasa mendengar suara ledakan karena kawasan tersebut menjadi tempat latihan dan uji coba senjata oleh tentara.
“Jadi kan aya nu cing beledug mah kan tos biasa, kan aya tentara nuju latihan,” katanya.
Suara gemuruh yang selama ini dianggap biasa malam itu ternyata membawa bencana.
Dua Puluh Hari Pencarian
Setelah longsor, kehidupan di sekitar rumah Mak Enok berubah menjadi lokasi pencarian korban. Tim SAR dan para sukarelawan bekerja mencari warga yang tertimbun.
Proses pencarian berlangsung selama 20 hari. Pada awalnya, pencarian direncanakan berlangsung selama 14 hari. Namun, karena terdapat anggota tentara yang turut menjadi korban dalam longsor, masa pencarian diperpanjang.
Mak Enok tidak sanggup menyaksikan proses pencarian dari dekat. Ia lebih banyak berdiam diri di pengungsian. Namun, ia tetap berusaha membantu dengan apa yang masih dimilikinya.
Hampir seluruh sisa makanan di warungnya ia berikan kepada para relawan dan tim SAR.
“Seep warung ibu ge, seep dibagikeun nu baseuh-baseuh mah ka relawan sareng tim SAR anu milari,” kata Mak Enok.
Warung yang sebelumnya menjadi tempat para petani beristirahat, tempat anak-anak membeli jajanan, dan tempat keluarga Mak Enok berkumpul pada sore hari, mendadak kehilangan kehidupan yang selama ini mengisinya.
Yang tersisa adalah lumpur yang perlahan mengering dan batu-batu yang menutup kawasan kebun—menutup jalan para petani menuju sumber penghidupan mereka sekaligus menyisakan trauma bagi warga yang selamat.
Namun, bagi Mak Enok, kehilangan terbesar bukanlah warungnya. Ia kehilangan 13 anggota keluarganya. Empat di antaranya adalah kakak kandungnya. Sisanya merupakan keponakan dan cucunya.
"Kulawarga ibu teh 13 nu ngantunkeun. Kantun ibu we nyalira, dulur raka sareng alo,"
Mereka adalah orang-orang yang selama bertahun-tahun mengisi teras rumah Mak Enok. Tempat yang dahulu ramai pada sore hari itu kini kosong.
Sebelum bencana, tiga cucunya kerap belajar bersama di depan rumah. Setelah belajar, Mak Enok terkadang memandikan salah satu cucunya yang bertubuh gempal. Rutinitas sederhana itu menjadi bagian dari hari-harinya sebagai seorang nenek.
“Sok ieu pan ngarencangan les, sareng incu didieu teh, les tilu-an. Didieu teh aya dua, tinggal hiji deui. Terus kadang ngaibakan, mun nanaon sok diibakan, pan gendut, karaos,” cerita Mak Enok.
Kini, tidak ada lagi cucu yang menunggu dimandikan. Tidak ada lagi suara anak-anak yang belajar di teras.
Empat kakaknya pun tidak akan pernah datang lagi. Mak Enok adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakaknya ditemukan tertimbun material longsor. Salah satu kakaknya baru ditemukan sehari sebelum pencarian berakhir, pada hari ke-19.
Padahal, selama hidup mereka, jarak rumah yang berdekatan membuat hubungan kelima bersaudara itu begitu dekat. Ketika salah satu kakaknya sakit, ia kerap datang ke rumah Mak Enok dan meminta dirawat.
“Pami te damang sareng ibu, sok hoyong didieu, kan bumi na caraket didinya, ibu nu ngarawatna,” tutur Mak Enok.
Dulu, Mak Enok masih bisa mendengar ketukan pintu kakaknya. Kini, ketukan itu tidak akan pernah terdengar lagi.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG 117#: Di Antara Barisan Nisan, Ganjar Suhendar Menemukan Arti Pulang
CERITA ORANG BANDUNG #116: Muhammad Tavip dan Dunia Wayang Plastik Bekas
Kembali ke Rumah
Setelah berpindah-pindah tempat pengungsian, dari pengungsian desa hingga mengontrak di kampung tetangga, Mak Enok akhirnya kembali ke rumahnya.
Namun, pulang tidak berarti semuanya kembali seperti semula.
Terkadang, ia masih merasa seolah-olah orang-orang yang dulu memenuhi teras rumahnya berada di sana. Warga, petani, tetangga, saudara, hingga cucu-cucunya seperti masih berkumpul di depan warung.
Pernah suatu ketika, perasaan itu begitu nyata. Mak Enok sontak berjalan keluar dengan wajah sumringah, seolah hendak menemui orang-orang yang ia kira sedang berkumpul di teras.
Namun, tidak ada siapa-siapa. Yang tersisa hanya lumpur longsor yang telah mengering.
“Kadang-kadang perasaan teh aya, lumpat kadieu teh, eh, te aya,” ujarnya.
Halusinasi atau rasa kehilangan yang datang seperti itu menjadi bagian dari hari-harinya setelah bencana. Pekarangan yang dahulu ramai kini terasa kosong.
Sebanyak 13 anggota keluarganya telah pergi: empat kakak, serta keponakan dan cucu. Tanpa mereka, halaman rumah Mak Enok terasa dingin meskipun matahari musim kemarau menyengat.
Kehilangan itu membuatnya mengalami masa yang sangat berat.
Ketika kemudian ia mengungsi di rumah besannya, selama tiga hari pertama Mak Enok tidak bisa tidur dan tidak bisa makan. Ia hanya berdiam diri di kamar, berkabung. Bahkan ketika dipaksa makan, ia tetap tidak mampu menghabiskan makanan.
Di tengah kondisi tersebut, rumahnya kembali mengalami masalah.
Pencuri masuk ke rumah yang ditinggalkannya. Pipa paralon, regulator, hingga keran besi dipotong dan dibawa pergi.
Namun, saat itu Mak Enok hampir tidak memikirkan keamanan rumahnya. Pikirannya masih dipenuhi bencana dan kehilangan yang baru saja dialaminya.
Ia harus menghadapi semuanya dalam waktu yang hampir bersamaan: kehilangan rumah, kehilangan warung, kehilangan sumber penghidupan, dan kehilangan 13 anggota keluarga.
Tujuh bulan setelah longsor, Mak Enok perlahan mulai membangun kembali kehidupannya.
Masa pengungsiannya telah selesai. Ia kembali tinggal di rumah yang sebagian telah diperbaiki. Pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp5 juta sebagai kompensasi atas bencana yang dialaminya. Uang itu digunakan untuk mengontrak rumah selama empat bulan sekaligus memperbaiki bagian rumah yang rusak.
Lantai yang retak diperbaiki. Genteng yang bocor diganti. Pintu dapur yang hancur pun kembali dipasang.
Namun, menurut Mak Enok, bantuan tersebut belum cukup untuk mengganti seluruh kerugian yang ia alami.
Warungnya pun belum kembali seperti dulu.
Di dalam etalase, hanya tersisa sekarung besar garam. Kopi sachet yang dahulu bergelantungan memenuhi bagian atas warung kini tinggal beberapa renceng. Aneka makanan ringan yang dulu memenuhi etalase pun hanya tersisa sedikit.
Warung itu baru kembali ia mulai dengan bantuan dari saudaranya yang memberikan uang 1 juta rupiah secara sukarela agar Mak Enok bisa kembali berjualan.
Dari warung yang dulu menjadi tempat berkumpul para petani, keluarga, dan cucu-cucunya, kini ia kembali memulai dari sedikit barang dagangan.
Ia seperti mengulang perjalanan yang pernah dilaluinya bertahun-tahun lalu: membangun usaha sedikit demi sedikit, dari apa yang ada di tangannya.
Bedanya, kali ini Mak Enok membangunnya setelah kehilangan hampir seluruh orang yang dahulu mengisi rumah dan terasnya.
Kini, ia hanya ditemani anak dan beberapa keponakan.
“Kantun gaduh alo ieu weh sareng murangkalih, raka, alo-alo. Seep, te gaduh sasaha deui.”
Tidak banyak lagi yang tersisa di sekelilingnya. Hanya warung kecil yang kembali ia isi perlahan, rumah yang masih menyimpan bekas longsor, dan kehidupan yang harus ia jalani seorang diri.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami


