Gaok dan Ratu Simbar Kancana: Membawa Kisah Lama ke Panggung Hari Ini
Melalui suara gaok, tarian, sinden, dan bunyi instrumen khas Majalengka, kisah putri Talaga Manggung itu kembali hadir di hadapan penonton.
Penulis Tim Redaksi19 September 2026
BandungBergerak - Suara Gaok menggema dari panggung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Selasa sore, 15 September 2026. Suara bernada tinggi itu membuka kisah Simbar Kancana, putri Kerajaan Talaga Manggung yang kehilangan ayahnya akibat pengkhianatan dan perebutan kekuasaan.
Di atas panggung, kisah itu hadir melalui perpaduan seni tutur Gaok, tari, sinden, dan musik dalam pertunjukan Simbar Kancana Ngadeg Raja: Bangkitnya Sang Ratu, persembahan Kabupaten Majalengka dalam Festival Kreasi Pagelaran Seni Jawa Barat 2026.
Pertunjukan diawali iringan kecapi dan kulanter. Suara gegesek bambu kemudian muncul sebelum salah satu pemain Gaok mulai membacakan naskah. Sejak awal, suara penggaok menjadi penuntun jalannya cerita.
Setelah pembacaan naskah, suara gegesek bambu, sitar belentung, dan belentung panggede membentuk bunyi seperti gemuruh. Suara teriakan kemudian memenuhi ruang Teater Tertutup. Suasana sempat hening sebelum kecapi kembali berbunyi, disusul kulanter, belentung panggede, dan gegesek bambu.
Melodi dari instrumen tersebut beberapa kali diulang sebagai musik pendukung sebelum ditutup kecapi dan kulanter dengan kadens yang khas. Pemain Gaok kemudian kembali membacakan naskah untuk membawa cerita ke adegan berikutnya.
Cerita bergerak menuju kematian ayah Simbar Kancana, Raja Talaga Manggung. Suasana panggung berubah ketika Simbar Kancana mengetahui sang ayah terbunuh. Suara tokoh pecah, diikuti gerak tubuh penari dan lantunan sinden yang menggambarkan kesedihannya.
Memasuki konflik, bunyi belentung panggede, sitar belentung, dan gegesek bambu kembali menonjol. Bunyi tersebut berpadu dengan pencahayaan dan ekspresi suara Simbar Kancana untuk memperkuat ketegangan di atas panggung.
Menjelang puncak cerita, para penggaok menggumamkan bunyi-bunyian yang membangun suasana dramatis dan misterius. Suara itu berpadu dengan juru sekar, sitar belentung, dan belentung panggede.
Kematian tersebut menjadi awal persoalan yang lebih besar. Dalam cerita yang dipentaskan, Simbar Kancana kemudian mengetahui bahwa suaminya sendiri terlibat dalam kematian ayahnya dan berusaha mengambil alih kekuasaan Kerajaan Talaga Manggung. Dalam sinopsis pertunjukan, pengkhianatan tersebut dikaitkan dengan Patih Palembang Gunung.
Simbar Kancana dihadapkan pada pilihan antara mengikuti suaminya atau mempertahankan kerajaan yang diwariskan ayahnya. Konflik itu kemudian membawa tokoh tersebut menuju keputusan untuk tetap tinggal dan meneruskan pemerintahan.
Salah satu adegan memperlihatkan Simbar Kancana menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri dengan melayani suaminya untuk terakhir kali. Setelah itu, ia mengambil patrem, tusuk konde, lalu menancapkannya kepada sang suami.
Gerak penari menerjemahkan peristiwa di atas panggung, sementara sinden membawa perasaan tokoh.
Setelah konflik Simbar Kancana mencapai titik akhir, panggung beralih menuju penampilan musik. Iman Sabumi menyanyikan Balada Simbar Kancana sambil memainkan gitar akustik, diiringi sejumlah instrumen lain.
Lagu tersebut merupakan komposisi baru yang dibuat untuk pertunjukan. Liriknya terinspirasi dari naskah asli Simbar Kancana.
“Kematian adalah cinta yang ditikam\ Atas nama penghianatan kepadaku Simbar Kancana, tanah leluhurku\ Engkau rebah dalam pelukanku dalam senyap dalam gelap dalam rasa "dendam", dalam bara dendam \ Darahnya meresap, matanya terlelap kemudian lenyap dan hatiku bergetar\ Kepadamu wahai kekasihku kekasihku, tanah leluhurku Simbar Kancana.”
Pada bait terakhir, Iman dan juru sekar saling bersahutan menyanyikan syair “Simbar Kancana”. Penampilan kemudian ditutup suara gegesek bambu yang disusul instrumen lain, membentuk bunyi seperti gemuruh.
Bagi Bunga, salah satu penonton, adegan ketika Simbar Kancana berteriak setelah mengetahui kematian ayahnya menjadi bagian yang paling membekas.
“Secara delivery penampilannya dapet banget pas Simbar Kancananya teriak, itu kaya merinding”, ujar Bunga.
Sebelum pertunjukan dimulai, Bunga mengaku belum pernah mendengar nama Simbar Kancana. Ia juga belum mengetahui kisah Kerajaan Talaga Manggung yang menjadi latar cerita.
Setelah pertunjukan berakhir, ia membawa pulang pengetahuan baru tentang kisah tersebut.
“Ternyata kebudayaan Sunda tuh kaya banget,” kata Bunga.
Memilih Kisah Simbar Kancana
Darto, sutradara Simbar Kancana Ngadeg Raja, mengatakan kisah Simbar Kancana dipilih karena tema festival tahun ini berkaitan dengan kerajaan. Majalengka memiliki sejumlah kisah kerajaan masa lalu, salah satunya Talaga Manggung.
Namun, cerita tersebut tidak hanya menarik karena latar kerajaannya. Darto melihat konflik personal yang dialami Simbar Kancana sebagai bagian penting dari cerita. Tokoh utama harus menghadapi pengkhianatan dari orang yang seharusnya menjadi orang terdekatnya, sekaligus menentukan sikap ketika kepentingan suaminya berhadapan dengan keberlangsungan kerajaan yang dipimpinnya.
Pilihan tersebut kemudian menjadi inti rangkaian adegan. Simbar Kancana kehilangan ayah, mengetahui pengkhianatan suami, lalu mengambil keputusan untuk mempertahankan kerajaan.
Cerita yang dibawa ke panggung itu juga bukan cerita yang baru diciptakan untuk festival. Menurut Darto, naskah Simbar Kancana Ngadeg Raja diangkat dari catatan Mamacan Gaok karya Engkos Wangsadiharja. Naskah tersebut menjadi bagian dari cerita yang berkembang dalam tradisi Gaok dan telah dicetak sekitar 1978.
“Gaok itu sebuah sastra tutur yang berkembang di wilayah kami,” ujar Darto.
Gaok merupakan seni tutur yang berkembang di Kabupaten Majalengka. Dalam bentuk tradisionalnya, seorang juru mamaos membaca teks, sementara para penggaok melantunkan bagian cerita dengan suara tinggi.
Para pelaku biasanya duduk membentuk setengah lingkaran. Sekitar tiga sampai tujuh penggaok mengikuti pembacaan teks dan menyampaikan cerita melalui suara mereka. Teks yang dibawakan tidak hanya berisi tuturan, tetapi juga mengandung unsur sastra, vokal, teatrikal, dan humor.
Suara tinggi menjadi ciri yang menonjol dalam Gaok. Nama Gaok kerap dikaitkan dengan kata gorowok dalam bahasa Sunda yang berarti berteriak. Dalam tradisi masyarakat Majalengka, Gaok juga digunakan dalam sejumlah kegiatan adat, antara lain babarit pare, ritual yang berkaitan dengan masa tanam padi, dan ngayun, acara yang berkaitan dengan kelahiran bayi.
Namun, ketika dibawa ke panggung Simbar Kancana Ngadeg Raja, Gaok tidak lagi hadir dalam bentuk tradisional sepenuhnya. Para penggaok tidak hanya duduk dan menyampaikan cerita, tetapi mengikuti perkembangan adegan dan menjadi suara yang mengarahkan penonton.
Sebelum sebuah adegan berlangsung, Gaok memberikan gambaran mengenai peristiwa yang akan terjadi. Ketika cerita memasuki bagian kesedihan Simbar Kancana, suara penggaok menjelaskan keadaan tokoh, kemudian gerak penari dan musik memperlihatkan suasana tersebut.
Sinden memiliki fungsi berbeda. Lantunan juru sekar digunakan untuk membawa perasaan Simbar Kancana. Ketika tokoh kehilangan ayahnya, kesedihan tidak hanya ditampilkan melalui ekspresi dan gerak tubuh, tetapi juga melalui suara sinden.
Pembagian tersebut membuat setiap unsur memiliki fungsi masing-masing. Penggaok menuntun cerita, sinden menguatkan emosi, penari menerjemahkan peristiwa melalui tubuh, sedangkan musik membangun dan mengikat suasana.
Menurut Darto, menyatukan unsur-unsur tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses penggarapan.
“Tantangan terbesarnya adalah kita harus mengawinkan tiga elemen yang berbeda,” ujar Darto.

Gaok dan Bunyi-Bunyi Majalengka
Tantangan tersebut terutama terlihat dalam penggabungan Gaok dengan musik. Dalam bentuk tradisionalnya, Gaok tidak menggunakan iringan musik dan mengandalkan suara manusia. Ketika dibawa ke panggung pertunjukan, unsur tersebut kemudian dipertemukan dengan berbagai instrumen.
Ketut Aminudin, 55, penata musik Simbar Kancana Ngadeg Raja, mengatakan perubahan tersebut merupakan bentuk penyesuaian Gaok dengan kebutuhan pertunjukan.
“Kalau gaok itu sebenarnya aslinya awalnya tidak menggunakan musik. Dari mulut aja. Ya, sekarang yang kita gelar itu karena ini untuk pertunjukan. Kemudian Gaok ya. Seiring dengan zamannya itu Gaok lalu diiringi dengan musik begitu,” katanya.
Pertunjukan menggunakan kecapi, kulanter, gegesek bambu, suling, belentung panggede, sitar belentung, kencrik nyere atau lidi, dan gitar akustik. Terdapat pula tiga pemain Gaok maestro yang dipilih karena masih aktif menjalankan kesenian tersebut di Majalengka.
Ketut menata musik mengikuti naskah Simbar Kancana. Musik ditempatkan untuk mendukung suasana sekaligus memperkuat adegan.
Instrumen bambu menjadi salah satu unsur yang dominan. Gegesek bambu, sitar belentung, dan belentung panggede beberapa kali menonjol, terutama ketika cerita memasuki bagian konflik.
Belentung panggede merupakan instrumen yang dibuat dari batang pohon kelapa dan terinspirasi dari suara kodok. Instrumen tersebut dipilih sebagai salah satu ciri bunyi yang membedakan pertunjukan Majalengka dari pertunjukan daerah lain.
Ketut juga sengaja tidak menggunakan gamelan secara penuh. Ia memasukkan gitar akustik ke dalam komposisi agar pertunjukan tidak terdengar sepenuhnya tradisional dan lebih dekat dengan penonton muda. Gitar juga digunakan pada penampilan lagu di bagian akhir acara.
“Saya pikir semuanya pasti gamelan nih. Dari awal dari mana-mana kabupaten lain semua, cuman kita memang memilih menggunakan alat musik tradisional kita sendiri gitu. Kalau gamelan kan dari mana-mana,” kata Ketut.
Pemilihan laras juga menjadi bagian dari penataan musik. Ketut memilih laras pelog karena memiliki kaitan dengan cerita Simbar Kancana dan Kerajaan Talaga Manggung. Salah satu alat musik gamelan tradisional Sunda kuno yang dikaitkan dengan peninggalan kerajaan tersebut adalah Gong Renteng.
Pilihan instrumen dan laras itu kemudian terdengar dalam sejumlah adegan. Setelah pemain Gaok membaca naskah, suara gegesek bambu, sitar belentung, dan belentung panggede membentuk bunyi seperti gemuruh.
Baca Juga: Teater Sapu Tangan Jelaga: Di Antara Adat dan Kebebasan Perempuan
Berkesenian di Tengah Segala Cuaca, Bertekun Mencatat lewat Jurnalisme Seni
Ketika Gaok Dihadapkan pada Regenerasi
Pertunjukan berakhir, tetapi persoalan tentang keberlangsungan Gaok belum selesai. Bagi Darto, salah satu tantangan kesenian tersebut adalah regenerasi.
Sejumlah tokoh yang selama ini menjadi sumber pengetahuan tentang Gaok telah meninggal. Saat ini hanya sekitar dua tokoh penggiat Gaok yang masih menjadi sumber pengetahuan dan perlu didokumentasikan serta diwariskan.
Pengetahuan mengenai Gaok banyak tersimpan pada para pelaku yang lebih tua. Karena itu, memperkenalkan Gaok kepada penonton menjadi salah satu cara untuk membuka kembali perhatian terhadap kesenian tersebut.
Membawa Gaok ke panggung, bagi Darto, bukan berarti menggantikan bentuk tradisionalnya. Gaok tetap memiliki bentuk dan fungsi tradisionalnya, sementara panggung pertunjukan menjadi ruang lain untuk memperkenalkannya kepada masyarakat.
Penonton, menurutnya, tidak harus langsung menjadi penggaok. Namun, ketika sebuah kesenian mulai dikenal, cerita mengenai kesenian tersebut memiliki kesempatan untuk kembali dicari, dibicarakan, dan dipelajari.
Festival Kreasi Pagelaran Seni Jawa Barat menjadi salah satu ruang pertemuan tersebut. Festival ini digelar rutin setiap pekan sejak awal April hingga akhir November 2026 dan menghadirkan berbagai kesenian dari kota dan kabupaten di Jawa Barat. Pertunjukan digelar di Taman Budaya Jawa Barat, Dago, Bandung, dan terbuka untuk penonton tanpa biaya.
Sore itu, Simbar Kancana Ngadeg Raja membawa sebuah cerita lama ke hadapan penonton yang sebagian belum mengenalnya. Kisah tentang putri Talaga Manggung tersebut tidak hanya hadir sebagai cerita kerajaan, tetapi melalui suara Gaok, gerak penari, lantunan sinden, dan bunyi alat musik khas Majalengka.
Ketika suara penggaok akhirnya berhenti, kisah Simbar Kancana selesai di atas panggung. Namun, bagi penonton seperti Bunga yang baru mengenalnya sore itu, cerita tersebut baru saja dimulai.
***
*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Azany Magrina Duarte dan Bagea Awi Dan Heni.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


