• Berita
  • Rancaekek Against the Stigma: Bersolidaritas di Palang Pintu Kereta

Rancaekek Against the Stigma: Bersolidaritas di Palang Pintu Kereta

Di antara laju kereta, Rancaekek Against the Stigma mempertemukan orang-orang untuk berbagi makanan, pakaian, buku, dan ruang tanpa sekat.

Bersolidaritas di acara Rancaekek Against the Stigma, jalan raya Majalaya–Rancaekek, Bandung, Jumat 11 September 2026. (Foto: Insan Radhiyan/Bandung)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 19 September 2026


BandungBergerak - Palang perlintasan kereta api turun sesekali. Kendaraan di jalan raya Majalaya–Rancaekek berhenti menunggu kereta melintas, Jumat 11 September 2026. Di antara deretan kendaraan yang menunggu kereta melintas itu, beberapa anak punk yang ikut meramaikan Rancaekek Against the Stigma. Satu anak punk bergerak mendekati pengendara. Ia mengamen sebelum kembali ke sisi jalan.

Beberapa meter dari sana, kawan-kawan dari sejumlah kolektif berkumpul. Sore hingga malam itu, pinggir jalan dekat Stasiun Rancaekek berubah menjadi ruang perjumpaan. Tidak ada sekat yang tegas antara penyelenggara, peserta, dan orang-orang yang selama ini lebih sering ditemukan di jalan. Mereka berbagi makanan dan pakaian, lapakan baca buku, berbagi cerita, dan waktu luang.

Rancaekek Against the Stigma merupakan perhelatan kedua yang melibatkan sejumlah kolektif, salah satunya Pasar Gratis Bandung. Gagasan tentang melawan stigma tidak hanya dibicarakan melalui slogan. Ia berlangsung melalui praktik sederhana: datang, berbagi, dan berbaur.

Di lapak Pasar Gratis Rancaekek ini, pakaian diletakkan agar siapa pun dapat mengambilnya tanpa perlu membayar. Namun, yang datang mengambil bukan orang-orang yang sibuk memilih barang untuk dibawa pulang sebanyak-banyaknya. Beberapa di antaranya justru orang-orang yang kebetulan melintas di jalan: pedagang cuanki, tukang becak, dan warga lain yang tampak membutuhkan.

Bersolidaritas di acara  Rancaekek Against the Stigma, jalan raya Majalaya–Rancaekek, Bandung, Jumat 11 September 2026. (Foto: Insan Radhiyan/Bandung)
Bersolidaritas di acara Rancaekek Against the Stigma, jalan raya Majalaya–Rancaekek, Bandung, Jumat 11 September 2026. (Foto: Insan Radhiyan/Bandung)

Di sisi lain, lapakan baca buku dan nasi gratis berjalan beriringan dengan percakapan antarkawan. Barang dan makanan berpindah tangan tanpa proses tawar-menawar. Orang datang, mengambil sesuai kebutuhan, lalu kembali menjalani aktivitasnya.

Solidaritas sore itu juga tidak berhenti pada orang-orang yang tinggal di Rancaekek. Kawan-kawan datang dari sejumlah wilayah, mulai dari Cileunyi, Sumedang, Majalaya, hingga Dago Elos. Mereka berkumpul di satu ruang yang sama, membawa apa yang dapat dibagikan dan menghabiskan waktu bersama.

Ada pula satu percakapan kecil menarik yang memperlihatkan bagaimana cara berbagi dipahami di antara mereka. Seorang kawan punk sempat hendak berkeliling membagikan nasi gratis kepada orang-orang yang melintas. Namun, kawannya menegur dan mengingatkan bahwa kegiatan itu bukan Jumat Berkah.

Menurutnya, mereka tidak perlu repot mendatangi orang satu per satu; jika membutuhkan nasi, orang-orang akan datang sendiri ke lapak yang telah disediakan. Teguran sederhana itu memperlihatkan perbedaan cara pandang: nasi gratis tidak ditempatkan sebagai hubungan yang hirarkis, melainkan sesuatu yang tersedia dan dapat diambil bersama ketika dibutuhkan.

Nay, 29 tahun, salah satu peserta, kehadirannya di Rancaekek Against the Stigma untuk memperluas relasi, terutama dengan kawan-kawan di ranah kolektif.

“Buatku, keberadaan dan dukungan kecil juga merupakan sebuah bentuk perlawanan,” kata Nay.

Hari itu ia berangkat dari rumah sekitar pukul dua siang. Dari Stasiun Gedebage, ia menempuh perjalanan kereta sekitar 15 menit menuju Stasiun Rancaekek. Ini merupakan kunjungan pertamanya ke lokasi tersebut.

Karena belum mengetahui tempat acara secara persis, ia sempat menghubungi akun Pasar Gratis. Pesannya baru dibalas beberapa jam kemudian, kemungkinan karena penyelenggara sedang mempersiapkan acara.

Nay kemudian duduk, ngopi, dan merokok sambil menunggu. Lokasi acara ternyata berada persis di depan stasiun. Secara tidak sengaja, ia bertemu seorang kawan yang sedang mengamen di palang rel. Ia kemudian diajak bergabung sambil menunggu kawan lain berdatangan.

Sebelum acara dimulai, Nay membawa dua pakaian untuk didonasikan. Salah satunya merupakan pakaian yang memiliki kenangan yang teramat personal: baju “Perempuan Berkepang Kenangan”, pemberian Sinta Ridwan, penulis dan filolog asal Cirebon.

Setelah melahirkan anak kedua, berat badan Nay bertambah sehingga pakaian tersebut semakin jarang digunakan karena kekecilan. Ia kemudian memilih mendonasikannya.

“Daripada cuma jadi pajangan di lemari, aku berharap semoga di tangan orang lain baju itu bisa lebih bermanfaat,” ujarnya.

Bagi Nay, berbagi dalam ruang kolektif tidak selalu berarti hubungan antara seseorang yang memiliki sesuatu dengan seseorang yang dianggap membutuhkan. Ia melihat praktik tersebut sebagai bagian dari kebudayaan kolektif yang berusaha menghapus jarak antara pemberi dan penerima.

Ia mencontohkan Food Not Bombs, gerakan berbagi makanan yang menurutnya sejak awal bukan sekadar kegiatan amal. Makanan dikelola secara mandiri oleh kawan-kawan kolektif melalui keputusan bersama dan dapat diterima siapa pun tanpa syarat.

“Dalam konteks budaya kolektif, aku rasa hierarki itu sama sekali nggak ada,” kata Nay.

Ruang kolektif, bagi Nay, juga bukan ruang yang sepenuhnya tanpa tantangan. Sebagai perempuan, ia merasakan kecanggungan ketika pertama kali harus membaur. Jumlah perempuan yang hadir menurutnya tidak selalu banyak. Sebagai orang yang cenderung pendiam, ia membutuhkan keberanian lebih untuk menyapa orang terlebih dahulu.

Bersolidaritas di acara  Rancaekek Against the Stigma, jalan raya Majalaya–Rancaekek, Bandung, Jumat 11 September 2026. (Foto: Insan Radhiyan/Bandung)
Bersolidaritas di acara Rancaekek Against the Stigma, jalan raya Majalaya–Rancaekek, Bandung, Jumat 11 September 2026. (Foto: Insan Radhiyan/Bandung)

Namun setelah percakapan dimulai, keraguan itu perlahan hilang. Ia merasa kawan-kawan di ruang kolektif ramah dan saling menghargai.

“Bisa berbagi peran secara setara, nggak ada yang merasa superior atau dipandang inferior,” ujarnya.

Stigma terhadap perempuan pun menurutnya masih menjadi bagian dari keseharian, terutama berkaitan dengan penampilan dan aktivitas yang dianggap berbeda. Komentar miring bahkan terkadang datang dari orang terdekat, termasuk keluarga.

Nay memilih tidak terlalu memedulikannya. Baginya, ruang kolektif seperti Pasar Gratis maupun Rancaekek Against the Stigma merupakan tempat untuk merasa hidup karena ia dapat terus bertumbuh sekaligus berbagi hal-hal yang dianggap baik.

Pasar Gratis sendiri bukan sekadar ruang pertukaran barang tanpa uang, melainkan praktik solidaritas yang mengutamakan pemberian, pemenuhan kebutuhan bersama, dan kebebasan dari relasi transaksional. Kehadirannya menjadi bentuk alternatif terhadap dominasi kapitalisme yang cenderung mereduksi hubungan manusia menjadi transaksi, sekaligus membuka ruang bagi kehidupan ekonomi dan sosial yang lebih manusiawi. 

Dengan mengedepankan solidaritas, empati, dan saling mendukung, Pasar Gratis mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan kembali cara berinteraksi dan berkontribusi dalam komunitas.

Baca Juga: PROFIL PASAR GRATIS BANDUNG: Sindiran pada Negara Lewat Aksi Berbagi untuk Tunawisma
Lapak Komunitas Pasar Gratis Bandung Dibubarkan Satpol PP

Bersolidaritas di acara  Rancaekek Against the Stigma, jalan raya Majalaya–Rancaekek, Bandung, Jumat 11 September 2026. (Foto: Insan Radhiyan/Bandung)
Bersolidaritas di acara Rancaekek Against the Stigma, jalan raya Majalaya–Rancaekek, Bandung, Jumat 11 September 2026. (Foto: Insan Radhiyan/Bandung)

Solidaritas Warga

Selain Nay, di antara orang-orang yang datang sore itu terdapat Dede Yusuf. Warga Tanjungsari, Sumedang, itu datang menggunakan sepeda. Di jalanan, ia lebih sering dipanggil Sule.

Ia tertarik mengikuti kegiatan semacam Rancaekek Against the Stigma karena melihat adanya pendekatan terhadap masyarakat dan kepedulian antarsesama, ia juga ingin bersilaturahmi dengan kawan kawan kolektif di jalanan.

Ia tertarik pada keberadaan buku-buku. Menurut Dede, minat baca anak-anak dan remaja saat ini semakin berkurang. Namun kehadirannya di ruang semacam ini juga berkaitan erat dengan pengalaman masa lalunya.

“Kondisi saat ini yang saya lihat itu minat baca itu sudah berkuranglah di kalangan-kalangan anak-anak, remaja, kalua di acara ada lapak baca saya selalu senang,” kata Dede.

Perjumpaan dengan komunitas dan ruang solidaritas seperti Rancaekek Against the Stigma bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang untuk bersilaturahmi, berbagi pengalaman, dan menunjukkan bahwa seseorang tidak semestinya dinilai hanya dari penampilan maupun masa lalunya.

“Don't judge abook by its cover. Jangan melihat seorang itu dari, dari penampilannya, tapi lihat dari isinya, pola piker, dan dari perbuatannya gitu. Seperti acara hari ini ada sisi positif yang melakukan kegiatan-kegiatan amal seperti hari ini gitu kan bagus” kata Dede saat ditanya makna against stigma.

Menjelang acara selesai, Nay harus meninggalkan Rancaekek lebih dulu karena telah memesan tiket kereta dan memiliki urusan lain. Sebelum pulang, ia sempat menghabiskan waktu bersama kawan-kawan yang ditemuinya hari itu. Di tempat yang sama, Dede Yusuf bergegas menuju masjid ketika adzan berkumandang dimalam itu, sekalian berpamitan dengan kawan-kawannya.

Ketika palang kereta kembali turun, jalan itu sekali lagi menjadi panggung singkat bagi anak-anak punk untuk mengamen kepada kendaraan yang berhenti. Di tengah lalu lintas yang kembali bergerak setelah kereta melintas, Rancaekek Against the Stigma menyisakan satu hal: stigma mungkin tak runtuh sore itu, tetapi manusia bisa berhenti sejenak untuk saling melihat tanpa prasangka, dan saling membantu antar sesama.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//