Bukan Sekadar Kemarau, Warga Cigintung Bertahun-tahun Berburu Air
Terbatasnya sumber dan distribusi membuat warga Cigintung mengandalkan keran umum, air hujan, hingga membeli air.
Penulis Jawahir Alma'ani 21 September 2026
BandungBergerak - Setiap dua atau tiga hari sekali, Ida mendorong gerobak berisi enam jeriken menuju keran umum yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. Seorang diri, ia biasa mengangkut air untuk memasak, mandi, mencuci, mengepel rumah, hingga menyiram tanaman.
Rutinitas itu sudah berlangsung bertahun-tahun dijalani Ida dan warga Kampung Ciginting, Desa Cangkorah, Kecamatan Batu Jajar, Kabupaten Bandung Barat. Keterbatasan akses air bersih di kampung ini semakin parah saat kemarau.
Ketika hujan turun, Ida justru sibuk menampung air. Ia meletakkan beberapa ember di bawah talang rumah agar air yang mengalir dari genteng dapat terkumpul. Air tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bak hingga penuh dan sebagian disimpan di ember.
Air hujan itu tidak langsung digunakan begitu saja. Ida menyaringnya menggunakan kain bekas untuk mengurangi kotoran yang terbawa dari genteng.
“Tilas naon welah, tilas hordeng naon we, supaya ulah kacandak ieu kokotorna (Disaring dengan kain bekas, supaya tidak kotor),” ujar Ida, kepada BandungBergerak, Kamis, 17 September 2026.
Ida menggunakan segala cara untuk menghemat air. Setiap penggunaan air harus diperhitungkan. Saat mandi, ia hanya menghabiskan satu ember. Ketika memasak, ia memilih menu yang tidak membutuhkan banyak air.
Ia juga memiliki mesin cuci, tetapi mesin tersebut tidak digunakan karena membutuhkan air dalam jumlah banyak.
“Kedah seueur cai atuh mesin cuci mah, kedah boros cai mesin cuci mah (mesin cuci boros air),” katanya.
Ida akhirnya mencuci pakaian secara manual. Sekali mencuci, ia biasanya menghabiskan satu jeriken. Ia tidak terlalu mempermasalahkan jika hasil cucian tidak terlalu wangi atau putih.
Air bekas mencuci dan mengepel tidak langsung dibuang. Ida memanfaatkannya kembali untuk menyiram tanaman di halaman rumah.
Salah satu sumber air yang paling sering digunakan Ida adalah keran umum yang oleh warga disebut “pakar”. Keran itu berada di seberang masjid, dengan tembok sumber air yang menyatu dengan kawasan pabrik tekstil.
Jaraknya sekitar 100 meter dari rumah Ida. Untuk mengambil air, ia mendorong gerobak yang mampu membawa enam jeriken. Rutinitas tersebut dilakukan setiap dua atau tiga hari sekali.
Suaminya tidak banyak membantu karena kondisi tubuhnya kian melemah. Ida bercerita, suaminya pernah jatuh ketika mencoba mengambil air dan mengalami luka di bagian dahi.
Karena itu, mengambil air menjadi pekerjaan yang lebih sering ia lakukan seorang diri. Namun, kebiasaan tersebut sudah dimulai sejak Ida masih muda.
Ketika belum memiliki gerobak, ia mengambil air menggunakan sepeda motor. Jeriken berukuran besar tidak muat diletakkan di atas motor. Ida kemudian menaruh kayu di bagian pijakan kaki agar jeriken tetap seimbang ketika dibawa di antara kedua kakinya.
Air yang dibawa pulang digunakan untuk berbagai keperluan. Karena jumlahnya terbatas, Ida harus mengatur pemakaiannya agar tidak terlalu sering kembali ke keran umum.
Ida mengatakan, sumur galian yang dahulu menjadi sumber air warga sudah tidak lagi efektif. Ia mengetahui sekitar tiga titik sumur di Kampung Cigintung, tetapi sumur-sumur tersebut sudah lama tidak mengeluarkan air.
Ketika hujan turun, warga bahkan mengalirkan air hujan dari talang ke dalam sumur untuk mengisinya.
“Matak boboraah sumur, nu ngabor ge teu ayaan (Boro-boro sumur, sumur bor juga kering),” ucapnya.
Dengan sumber air yang terbatas, membeli air menjadi pilihan lain.
Saepudin, salah satu penjual air galon, disebut Ida sebagai salah satu sumber bagi warga untuk mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Air tersebut bukan air minum yang perlu melalui proses penyaringan, melainkan air bersih yang bersumber dari toren.
Warga juga dapat membeli satu tangki air sekitar 5.000 liter dengan harga 50 ribu rupiah.
Namun, pembelian satu tangki penuh tidak mudah dilakukan semua warga. Truk tangki membutuhkan halaman yang cukup luas untuk berhenti. Air kemudian dialirkan langsung melalui selang ke dalam toren.
Baca Juga: IRONI CIMAHI: Terancam Penurunan Muka Tanah, Tersandera Krisis Air Bersih
Jejak Industri, Hilangnya Air Bersih: Kisah Warga Cisirung Bertahan di Tengah Pencemaran Citarum

Bantuan Air hanya Bertahan Sementara
Sejak awal Juni, menurut kesaksian warga Kampung Cigintung, bantuan distribusi air bersih baru datang sekitar tiga kali. Air yang diterima disebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar satu hari.
Pada Kamis, 17 September 2026, sebuah truk tangki kembali datang membawa 16.000 liter air bersih untuk warga RW 2 Kampung Cigintung.
Menurut salah satu petugas di lapangan, distribusi tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas direktorat jenderal di bawah Kementerian PUPR, yakni Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum dan Direktorat Jenderal Cipta Karya, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat.
Bagi Ida dan warga lainnya, kedatangan bantuan tersebut memberikan tambahan persediaan. Namun, air itu tetap hanya menjadi solusi sementara. Setelah persediaan habis, warga kembali harus mencari air dari sumber yang tersedia.
Pendapat serupa disampaikan warga Kampung Gintung lainnya, Udin, 50 tahun. Menurut Udin, keterbatasan air juga berkaitan dengan semakin sulitnya memperoleh sumber air dan terbatasnya akses distribusi.
Udin mengingat masa ketika air sumur masih melimpah dan jernih. Air bahkan dapat diambil menggunakan gayung tanpa perlu ditimba.
Menurut kesaksiannya, kondisi air mulai berubah setelah pabrik-pabrik mulai berdiri dan beroperasi sekitar tahun 1990-an.
“Desa ieu ge seep-seep na mah pas pabrik berjalan, pabrik berjalan berdiri gitu tahun 90-an,” jelasnya.
Selain keran umum yang disebut “pakar”, pilihan sumber air lain bagi warga juga terbatas. Karena itu, Udin bersama aparat desa pernah mengajukan sebidang lahan untuk dijadikan lokasi sumber air baru.
Lahan tersebut berada di belakang rumah Udin dan Sopiah, 46 tahun, dipisahkan dari kawasan pabrik oleh benteng beton.
Sebagian lahan digunakan sebagai makam umum kecil. Sebagian lainnya dimanfaatkan untuk menanam pohon pisang dan palawija seperti ubi dan singkong.
Warga berharap lahan tersebut dapat digunakan untuk penggalian sumur sibel. Pengajuan pertama, menurut Udin, dilakukan sejak 2020.
“Survei deui teh. Tapi teu aya kelanjutan deui geuningan.”
Pada 2023, warga kembali mengajukan penggalian sumur artesis. Aparat pemerintah terkait sempat datang dan melihat kawasan tersebut. Namun, hingga kini, menurut Udin, penggalian belum diproses.
“Mudah-mudahan ieu bener tiasa kitu aya bantosan. Da ieu mah henteu hoyong acis kitu, hoyong cai,” pungkasnya.
Selain sumber air yang terbatas, persoalan lain terletak pada distribusinya. Menurut Udin, terdapat sumber mata air yang mengalirkan air melalui pipa menuju rumah-rumah warga. Namun, sumber tersebut berada cukup jauh dari Kampung Cigintung. Ia memperkirakan jaraknya sekitar dua kilometer.
Air dari sumber tersebut mengalir melewati RW 7, RW 4, dan RW 2 di Desa Cangkorah.
Menurut Udin, jauhnya jarak membuat aliran air yang sampai ke permukiman menjadi kecil. Selain itu, distribusinya dilakukan secara bergiliran.
Air mengalir sekitar dua hingga tiga hari di satu wilayah sebelum berpindah ke wilayah berikutnya. Dalam periode tersebut, setiap rumah hanya memperoleh kesempatan sekitar satu hingga dua jam untuk mengumpulkan air.
Kesempatan tersebut, menurut Udin, hanya datang sekitar satu kali dalam sebulan karena pengaliran air dilakukan bergiliran sepanjang RW 7, RW 4, dan RW 2.
“Matak 2 hari ka dieu, sahari samalem ka dieu. Heueuh. Ka sahari samalem ka RW nu sanes. Ka sahari samalem deui ka nu sanes deui kitu. Ieu dibagi tilu. Sebatkeun dua dinten sakali ge kitu ngocor cai teh. Ngan kengengna kabageanana sabulan sakali.”
Untuk menerima fasilitas tersebut, warga perlu membayar Rp20 ribu sebagai uang listrik.
Sopiah, 46 tahun, tetangga Udin, merupakan salah satu warga yang merasakan keterbatasan air dalam aktivitas sehari-hari.
Di halaman rumahnya, berbagai tanaman tumbuh dalam pot dan wadah seadanya. Sebagian tanaman menempel di tembok gang, sementara lainnya berada di halaman dan belakang rumah.
Tanamannya beragam, mulai dari anggrek, delima, bakung, bawang dayak, blueberry, calincing, mangga, hingga wijayakusuma.
Di tengah musim kemarau, Sopiah tetap menyiram tanaman. Ia menghabiskan sekitar satu hingga dua galon air ketika menyiram.
Namun, untuk pohon-pohonan, ia lebih sering menggunakan air bekas mencuci, air beras, dan air bekas lainnya. Seperti warga lainnya, Sopiah juga harus menyesuaikan kebutuhan dengan persediaan air yang ada.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


