Mau Kuliah atau Kerja? Mencari Kemungkinan Hidup di Luar Kapitalisme
Pertanyaan sederhana setelah lulus sekolah menjadi pintu masuk diskusi tentang pengaruh kapitalisme terhadap pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.
Penulis Bagea Awi Dan Heni21 September 2026
BandungBergerak - Ketika seorang siswa SMA udah lulus sekolah, hal yang biasa ditanyakan adalah: “Mau kuliah atau kerja?” seolah-olah pilihan hanya terpaku pada dua hal tersebut. Dalam sistem kapitalisme, pendidikan selalu diarahkan hanya untuk mencetak tenaga kerja.
Gagasan itu muncul dalam diskusi dan bedah buku Merayakan Post-Capitalism karya Rafli Sutrisno bertajuk “Membayangkan Dunia Tanpa Kapitalisme”, di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 12 September 2026.
Rais, penggiat literasi dari Sua Gagasan yang menanggapi diskusi buku tersebut, melihat pengaruh kapitalisme dari kehidupan yang lebih dekat dengan keseharian. Pertanyaan yang ditujukan pada lulusan SMA tersebut menunjukkan bahwa pilihan hidup sering kali dibatasi pada pendidikan atau pekerjaan. Kuliah kemudian diarahkan untuk mendapatkan pekerjaan, sementara pendidikan lebih banyak dipandang sebagai jalan menuju dunia kerja.
Menurutnya, cara pandang tersebut menunjukkan bahwa kapitalisme tidak hanya berhubungan dengan uang dan kegiatan ekonomi, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat menentukan tujuan pendidikan dan kehidupan.
Sementara itu, penulis buku Merayakan Post-Capitalism karya Rafli Sutrisno mengatakan, kapitalisme tidak hanya bekerja sebagai sistem ekonomi, tetapi juga memengaruhi berbagai bagian kehidupan, termasuk pendidikan dan pekerjaan. Salah satu contohnya adalah keberhasilan perguruan tinggi yang kerap dilihat dari jumlah alumninya yang sudah bekerja.
Dengan pola tersebut, kapitalisme mempengaruhi kemiskinan. Menurutnya, kemiskinan tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kerja keras seseorang. Terbatasnya lapangan kerja dan aturan yang merugikan pekerja juga dapat menjadi penyebab. Karena itu, kemiskinan tidak cukup dilihat sebagai persoalan individu.
Ia menyinggung data International Labour Organization (ILO) 2026 yang mencatat sekitar 2,1 miliar pekerja di dunia berada di sektor informal. Kondisi tersebut menjadi pertanyaan bagi anggapan bahwa kekayaan kelompok pemilik modal pada akhirnya akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas. Dalam kapitalisme, pekerja bekerja untuk pemilik modal dan memperoleh upah. Namun, menurutnya, mekanisme tersebut belum menjamin kesejahteraan pekerja.
Rafli kemudian membahas mengapa dunia tanpa kapitalisme sulit dibayangkan. Menurutnya, masyarakat sudah lahir dan tumbuh dalam sistem tersebut sehingga kapitalisme terasa seperti bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
Ia mengibaratkannya dengan ikan-ikan dalam film Finding Nemo. Ikan yang hidup di akuarium dapat mempertanyakan alasan untuk keluar karena akuarium sudah menjadi tempat hidup mereka.
“Ngapain harus ngajak kita keluar, ke laut, kan memang hidup kita di sini,” kata Rafli.
Menurut Rafli, hal serupa terjadi ketika masyarakat menganggap kapitalisme sebagai satu-satunya cara hidup karena sistem tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian.
Bisakah manusia terlepas dari sistem kapitalisme? Rafli mengutip Paul Mason untuk menjelaskan bahwa perubahan dapat dimulai ketika masyarakat menyadari bahwa ada kemungkinan hidup di luar sistem yang selama ini mereka kenal.
Ia menyebut, berakhirnya kapitalisme, post-capitalism, tidak harus ditandai oleh resesi, inflasi, konflik, atau krisis ekonomi. Menurutnya, perubahan dapat terjadi ketika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap kapitalisme.
Post-capitalism, lanjut Rafli, bukan sebuah rambu yang memberikan pertanda bahwa besok kapitalisme akan runtuh. Post-capitalism dinilai segai upaya membangun kesadaran terhadap persoalan dalam sistem yang berjalan saat ini. Kesadaran itu diharapkan dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk memikirkan cara hidup yang berbeda.
Menurut Rafli, salah satu jalan yang bisa menjadi alternatif di era post-capitalism adalah Islam. Contoh, persoalan kepemilikan dalam sistem ekonomi. Menurutnya, Islam membolehkan kepemilikan pribadi seperti rumah, pakaian, dan harta lainnya. Namun, kebutuhan yang menyangkut kepentingan banyak orang tidak semestinya dikuasai oleh satu orang atau kelompok.
Ia juga mengatakan pembahasan ekonomi dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarindividu. Islam, menurutnya, juga membahas ekonomi dalam skala yang lebih luas, termasuk sumber pemasukan negara dan pengelolaan sumber daya.
Meski menawarkan Islam, Rafli tidak menganggapnya sebagai satu-satunya alternatif. Ia mengatakan tetap terbuka terhadap gagasan lain yang mungkin lebih sesuai.
Pernyataan tersebut sejalan dengan buku Merayakan Post-Capitalism yang dirancang sebagai trilogi. Buku kedua akan mempertemukan Islam dan sosialisme, sedangkan buku ketiga akan membahas Islam sebagai alternatif. Rafli menyerahkan pilihan kepada pembaca dan tidak mengharuskan mereka mengikuti gagasan yang ditawarkan dalam bukunya.
Baca Juga: Mengenali Wajah Kapitalisme Mulai dari Seteguk Air di Pagi Hari
Ketika Kapitalisme Menguasai Industri Sepak Bola Modern
Beragam tanggapan terhadap buku tersebut muncul dari peserta diskusi, salah satunya Fanny, 50 tahun, perwakilan Sekolah Damai Indonesia (SEKODI) Bandung. Ia menilai, alternatif yang dibahas dalam diskusi masih perlu diperluas. Menurutnya, gagasan lain perlu disandingkan agar dapat ditemukan bentuk yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Fanny juga melihat kemauan pemerintah sebagai salah satu hal penting dalam menjalankan negara untuk kepentingan masyarakat.
“Nah, kalau misalnya terkait negara dengan negara atau pemerintahan, yang harus kita lihat standar sebetulnya political will. Political will menjadi satu kunci utama bagaimana pemerintah itu bisa menjalankan maksud, tujuan, dan planning bagaimana menjalankan negara untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya, kepada BandungBergerak.
Sementara itu, Widya, 26 tahun, Ketua One Ummah Institute, melihat pengaruh kapitalisme dari kehidupan perempuan di sekitarnya. Menurutnya, pekerjaan dan kemandirian perempuan sering kali dinilai berdasarkan hasil materi yang diperoleh.
Ia menilai kondisi tersebut dapat membuat tujuan perempuan untuk bekerja, mandiri, dan berdaya berhenti pada pencapaian materi. Menurut Widya, ada tujuan lain yang perlu dipikirkan, termasuk tujuan hidup dan ibadah.
Bagi Widya, diskusi tersebut menarik karena tidak hanya membahas sistem ekonomi, tetapi juga mengajak peserta memikirkan kembali kehidupan dan pilihan yang mereka jalani.
“Dengan kondisi hari ini yang di mana membangun kesadaran, terus pergerakan individu hingga masyarakat gitu. Jadi, menurutku kegiatan kayak gini tuh sangat berkesan dan juga sangat merefleksikan kita sebagai anak muda hari ini tuh apa sih sebenarnya yang harus kita lakukan gitu,” katanya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


