• Berita
  • Menjelang Satu Abad Ajaran Mei Kartawinata: Merawat Spiritualitas Sunda di Tengah Perjuangan Kesetaraan

Menjelang Satu Abad Ajaran Mei Kartawinata: Merawat Spiritualitas Sunda di Tengah Perjuangan Kesetaraan

Di balik kirab dan simbol-simbol ritual, tersimpan perjalanan spiritual yang berkelindan dengan sejarah buruh dan kebangsaan

Persiapan menjelasng peringatan Pangeling-Ngeling Pamendak Bapak Mei Kartawinata di Pasewakan Waruga Jati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 16 September 2026. (Foto: Bagea Awi Dan Heni/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi22 September 2026


BandungBergerak - Asap kemenyan mengepul di tengah kirab sasajen. Tumpeng, telur, bubur merah dan putih, kopi, teh, serta air bening dibawa dalam rangkaian ritual yang bagi penghayat kepercayaan Budi Daya bukanlah persembahan kepada makhluk gaib, melainkan simbol hubungan manusia dengan alam dan asal-usul dirinya.

Di Pasewakan Waruga Jati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 16 September 2026, kirab itu menjadi bagian dari Pangeling-Ngeling Pamendak Bapak Mei Kartawinata, peringatan ke-99 turunnya pitutur luhur atau wangsit yang menjadi dasar ajaran Budi Daya. Setahun lagi, komunitas ini akan memasuki penanda satu abad ajaran yang berakar dari pengalaman spiritual Mei Kartawinata pada 1927.

Di sela peringatan tersebut, Ketua Umum Organisasi Penghayat Kepercayaan Budi Daya sekaligus Presidium Pusat Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Engkus Ruswana, 71 tahun, menuturkan kembali perjalanan ajaran yang menurutnya tumbuh dari pergulatan dengan persoalan buruh, kebangsaan, hingga pencarian spiritual.

Menurut Engkus, Mei Kartawinata lahir pada 1897 dari keluarga bangsawan. Latar belakang keluarganya membuat ia dapat mengenyam pendidikan di sekolah milik pemerintah kolonial Belanda hingga jenjang setingkat SMP. Ia kemudian bekerja di sebuah percetakan.

Di tempat kerja itulah, menurut Engkus, Mei berhadapan dengan ketimpangan upah antara pekerja pribumi, Tionghoa, dan Eropa meski mengerjakan pekerjaan yang sama. Pengalaman tersebut mendorongnya masuk ke gerakan buruh.

"Dari situ timbul gagasan beliau untuk memperjuangkan hak kesetaraan soal buruh," tutur Engkus, menirukan riwayat yang diwariskan para sesepuh Budi Daya.

Ketika tinggal di kawasan Pasar Baru, Jalan Kebon Jati, Bandung, Mei bertetangga dengan Inggit Garnasih. Rumah Inggit menjadi tempat bertemu sejumlah tokoh pergerakan, termasuk Tan Malaka dan Sukarno. Pergaulan tersebut memperluas medan perjuangan Mei dari persoalan buruh menuju gerakan kebangsaan sekitar 1918–1925.

Aktivitas itu membuat Mei harus berpindah-pindah untuk menghindari penangkapan pemerintah kolonial, dari Bandung ke Cirebon, kemudian Sukamandi dan Subang.

Di Subang, pada 17 September 1927, saat bermeditasi di sekitar Sungai Cileuleuy, Mei mengalami pengalaman yang kemudian menjadi titik penting dalam sejarah spiritual Budi Daya. Menurut riwayat yang disampaikan komunitas, pada tengah malam ia mengalami pencerahan berupa cahaya yang keluar dari tubuhnya.

Pengalaman tersebut dikenal sebagai penerimaan wangsit dan kemudian dirumuskan dalam ajaran mengenai kesadaran diri, empat unsur pembentuk raga—air, angin, tanah, dan api—serta konsep ingsun sebagai kuasa Gusti dalam diri manusia.

Wangsit itu juga dikenal melalui Pupuh Asmarandana, pupuh yang disebut berisikan mulai dari kelahiran Bapak Mei hingga bagaimana nantinya ia akan berpulang.

Dari ajaran tersebut berkembang prinsip untuk mengasihi dan merawat diri, alam, dan sesama manusia. Dalam khazanah Sunda, prinsip itu dikenal sebagai ngertakeun bumi lamba, yang memiliki padanan dengan memayu hayuning bawana dalam tradisi Jawa.

Ajaran tersebut kemudian berkembang bersamaan dengan gerakan organisasi dan politik. Engkus menyebut sekitar 1935–1937 dibentuk Perhimpunan Rakyat Indonesia Kamanoesaan (PRI Kamanoesaan), yang kemudian berganti nama menjadi PERMAI atau Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia.

Menurut penuturan para sesepuh yang diteruskan Engkus, Mei telah menyampaikan konsep Pancasila, Panca Dria, dan Panca Dharma kepada pengikutnya sejak awal 1940-an. Dalam riwayat yang sama, istilah "Marhaen" yang kemudian lekat dengan gerakan Sukarno disebut berkaitan dengan gerakan rakyat yang dibangun Mei.

PERMAI kemudian menjadi partai politik dan mengikuti Pemilu 1955. Partai itu memperoleh satu kursi DPR dan dua kursi Konstituante. Pada tahun yang sama, PERMAI dibubarkan karena tidak memenuhi persyaratan wilayah dan kemudian kembali menjadi gerakan spiritual bernama Perjalanan.

Setelah Mei Kartawinata meninggal pada 1967 di Ciparay, kepemimpinan diteruskan oleh putra sulungnya, Rustama Kartawinata. Organisasi Perjalanan kemudian terpecah menjadi tiga organisasi, salah satunya Budi Daya.

Kini, Budi Daya dipimpin Engkus dan memiliki sekitar 500 kepala keluarga anggota yang tersebar di sejumlah wilayah Jawa Barat hingga Jawa Timur.

Baca Juga: Lika-liku Jalan Penghayat Kepercayaan di Bandung Raya untuk Mendapatkan Pengakuan dari Negara
Susah Payah Kaum Penghayat Bandung dan Cimahi dalam Meraih Kesetaraan

Tokoh penghayat di Pasewakan Waruga Jati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 16 September 2026. (Foto: Bagea Awi Dan Heni/BandungBergerak)
Tokoh penghayat di Pasewakan Waruga Jati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 16 September 2026. (Foto: Bagea Awi Dan Heni/BandungBergerak)

Dari Hak Sipil hingga Makna Sasajen

Perjalanan ajaran Mei tidak berhenti pada pewarisan ritual dan pengetahuan spiritual. Bagi penghayat kepercayaan, persoalan lain yang terus menyertai perjalanan komunitas adalah pemenuhan hak-hak sipil.

Engkus mengatakan kondisi penghayat kepercayaan kini telah banyak berubah dibandingkan masa Orde Baru. Sejumlah hak yang sebelumnya sulit diperoleh mulai mendapat pengakuan dalam administrasi kependudukan, perkawinan, pendidikan, dan pekerjaan.

Ia menyebut perkawinan secara kepercayaan mulai dapat dicatatkan pada 2006, meskipun saat itu kolom agama dalam dokumen kependudukan masih dikosongkan. Setelah putusan Mahkamah Konstitusi pada 2017, kolom kepercayaan dapat dicantumkan dalam KTP.

Di bidang pekerjaan, Engkus menyebut penghayat kepercayaan mulai diterima sebagai PNS atau institusi negara. Pendidikan kepercayaan juga telah tersedia di sekolah sebagai pilihan pengganti pendidikan agama sejak 2016.

Pemakaman menjadi persoalan yang menurut Engkus masih kerap muncul di lapangan. Ia menyebut masih ada jenazah penghayat kepercayaan yang mengalami penolakan ketika akan dimakamkan di pemakaman umum.

Persiapan menjelasng peringatan Pangeling-Ngeling Pamendak Bapak Mei Kartawinata di Pasewakan Waruga Jati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 16 September 2026. (Foto: Bagea Awi Dan Heni/BandungBergerak)
Persiapan menjelasng peringatan Pangeling-Ngeling Pamendak Bapak Mei Kartawinata di Pasewakan Waruga Jati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 16 September 2026. (Foto: Bagea Awi Dan Heni/BandungBergerak)

Pemerintah sebelumnya menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan pada 2009 yang mengatur fasilitasi pemakaman serta pendirian tempat ibadah atau persemayaman bagi penghayat kepercayaan. Di Kota Bandung, ketentuan tersebut kemudian diakomodasi dalam peraturan daerah yang disahkan pada 2026. Salah satu fasilitas yang disebut Engkus adalah kavling khusus pemakaman penghayat kepercayaan di kawasan Cibiru, Ujungberung.

Di tengah perjalanan memperoleh pengakuan tersebut, ritual seperti kirab sasajen tetap menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan komunitas. Engkus menegaskan sasajen bukan sesembahan, melainkan perlambang dari apa yang diberikan alam kepada manusia.

Air kopi, teh, dan air bening melambangkan tritunggal lahir, batin, dan ingsun. Tumpeng berbentuk segitiga dimaknai sebagai persatuan diri dalam membangun bangsa. Telur melambangkan cita-cita, sementara bubur merah dan putih melambangkan darah ibu dan ayah sebagai pengingat asal-usul manusia.

Kemenyan yang dibakar merupakan simbol empat unsur alam—tanah, air, api, dan angin. Di dalamnya terkandung pesan agar manusia menjaga "keharuman" dirinya melalui tekad, ucapan, dan perbuatan baik.

Ketua Pelaksana Pangeling-Ngeling Pamendak Bapak Mei Kartawinata Wildan, 30 tahun, mengatakan peringatan tahun ini memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan, khususnya Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, turut hadir.

Panitia juga menyerahkan Batu Kujang kepada Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat sebagai simbol sekaligus kenang-kenangan. Sementara warga Pasir Pogor turut membawakan Tarian Ibu Pertiwi. Tarian itu dinilai sebagai pengingat bahwa manusia tidak dapat memisahkan kehidupannya dari alam.

“Mereka menampilkan sebuah tarian Ibu Pertiwi dengan konsep yang sangat luar biasa melihat keadaan alam yang memang sedang tidak baik-baik saja namun itu menjadi pengingat kita gitu. Jadi bahwasanya kita ya di alam dunia ini kan hidup bersama-sama harus berdampingan dengan alam. Nah, begitu pula dengan penghayat kepercayaan,” kata Wildan.

Pada malam hari, Pupuh Asmarandana diperdengarkan sebagai bagian dari puncak acara, disusul pertunjukan wayang golek dan iringan gamelan.

Bagi komunitas Budi Daya, angka 99 dalam peringatan kali ini bukan sekadar hitungan menuju satu abad. Ia menjadi penanda perjalanan panjang sebuah ajaran yang lahir dari pengalaman seorang manusia di tengah pergulatan sosial dan kebangsaan, lalu diwariskan sebagai cara memandang hubungan manusia dengan dirinya, sesama, dan alam. Angka tersebut dinilai yang terbesar sebelum kembali lagi ke nol dan satu.

***

*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Didan Permana dan Bagea Awi Dan Heni. Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//