Cerita Musik Folk di Toko Buku Pelagia: Dari Kerusakan Hutan hingga Konflik Agraria
Di tengah suasana akrab, Toko Buku Pelagia menjadi ruang temu sekaligus panggung alternatif bagi musik dan solidaritas.
Penulis Yopi Muharam7 Oktober 2026
BandungBergerak - Empat musisi folk dari beragam kota di Indonesia berkumpul di Toko Buku Pelagia, Jalan Kompleks Luxor, Bandung, Kamis malam, 26 September 2026. Teras toko yang biasa dijadikan tempat baca dan bercengkrama, disulap menjadi panggung pertunjukkan. Mereka disambut orang-orang penikmat musik.
Hasri, seorang musisi eksperimental yang aktif dalam seni independen asal Kota Bandung, menjadi yang pertama tampil. Lagu ciptaanya mengekspresikan pengalaman hidup. Suasana malam itu semakin hangat ketika ia memulai memetik gitar akustiknya.
Setelah Hasri mengalunkan musik ciptaanya, giliran Irine Sugiarto, musisi folk asal Samarindah, Kalimantan Timur tampil. Irine tampil bukan sekadar menyanyi saja. Lewat lagu yang diciptakannya, perempuan yang menetap di Bandung ini menyelipkan pesan tentang perasaanya lewat pengalaman hidup. Lagu-lagunya banyak menceritakan apa yang dia alamai dan saksikan.
Salah satu lagu berjudul Kembali Nyata. Lagu ini mengangkat tema tentang kerusakan lingkungan, keserakahan manusia, hingga kritik terhadap penguasa. Irene menciptakannya saat kampung halamannya mengalami kerusakan. Flora dan faunanya terpinggirkan akibat penebangan hutan. Belum lagi dengan kebarakan hutan yang merugikan lingkungan dan manusia.
Isu lingkungan ini sangat dekat bagi kehidupan Irene sehari-hari. Sang ayah merupakan salah satu pejuang pemadam kebakaran hutan. Lirik lagu Kembali Nyata pun terasa jujur. Bagi Irine, kejujuran dalam bermusik dapat menyatukan hati banyak orang untuk bergerak bersama.
“Dan sedihnya adalah setiap kali saya nge-posting tentang Samarinda, Kalimantan. Teman-teman dari sana selalu bilang lebih buruk, aslinya lebih buruk, aslinya lebih buruk. Dan 80 persen itu memang adalah sebuah rencana yang akhirnya jadi bencana,” ujarnya, kepada BandungBergerak usai tampil.
Selain isu lingkungan, melalui lagu Irine juga menyoroti kekerasan seksual di tempat kerja yang pernah ia alami. Pengalaman pahit itu tidak bisa diredam oleh dirinya saja, melainkan dapat menjadi pesan bahwa para korban kekerasan seksual tidak beridiri sendiri. Banyak orang sekitar yang pastinya mengulurkan tangannnya untuk bersolidaritas.
“Dari satu lagu jadi satu komunitas, jadi satu gerakan, jadi satu perlawanan, jadi satu perjuangan, jadi menurut aku itu sangat pengaruh,” tuturnya.
Lewat penampilannya di Toko Buku Pelagia ini ia bisa merasakan atmosfer kebersamaan antar kawan-kawan. Di toko ini lagunya menemano orang-orang yang sedang asyik mengobrol, membaca buku, hingga bermain ponsel. Pengalaman bermain musik di toko buku baginya hal baru.
“Saya bukan menyanyikan sesuatu, tapi saya menemani mereka bersuatu,” beber Irine.
Penampilan berikutnya dibawakan Ridlo, musisi folk yang baru menetap di Bandung tahun 2021. Musisi yang sering mendampingi warga yang tergusur seperti Tamansari, Anyer Dalam, hingga Dago Elos membuat keheningan malam terasa hangat.
Bagi Ridlo, acara ini selain hiburan juga menjadi ruang hangat untuk menyatukan kembali simpul-simpul pertemanan yang sempat berpencar setelah peristiwa demonstrasi Agustus-September 2025 dan Mei 2026. Menurutnya, penangkapan massal yang terjadi pascademonstrasi membuat kawan-kawan solidaritas sempat terpisah-pisah.
“Intinya ingin menyemangati kembali dengan acara yang sederhana yaitu akustikan atau folk,” ungkap Ridlo, kepada BandungBergerak.
Pria kelahiran Surabaya itu menuturkan acara ini berbeda dengan beberapa titik panggung lainnya dalam rangkaian perjalanannya yang berbayar. Penampilan di Pelagia sengaja digratiskan sebagai cara untuk merangkul lebih banyak orang.
Dalam konser mini yang bertepatan dengan Hari Tani Nasional itu, ia membawakan lagu andalannya yang berjudul Merawat Nyawa. Lagu tersebut bercerita tentang perjuangan petani di Indonesia, terutama yang berada di kawasan konflik.
Lagu Merawat Nyawa ditulis oleh Ridlo berdasarkan pengalamannya langsung di lapangan bersama warga Tumpang Pitu, Banyuwangi, yang menghadapi konflik tambang emas pada tahun 2020. Bagian awal lagu lahir di Tumpang Pitu, sebelum akhirnya ia rampungkan sepenuhnya setelah melakukan perjalanan ke wilayah Pakel, Jawa Timur, di saat konflik antara petani versus perusahaan perkebunan meletus saat itu.
Ridlo menilai, isu agraria dan nasib petani di Indonesia hari ini masih sangat memprihatinkan. Ia menyoroti kontradiksi antara narasi negara agraris dan realitas pembangunan yang justru menggusur ruang hidup para petani.
“Mereka kan tonggak hidup kita kan. Petani maupun nelayan. Mereka itu basic dari kehidupan ini. Tapi yang seringkali kena penindasan ya, petani-petani itu tuh,” kata Ridlo.
Baca Juga: Panggung Kesetaraan di Saung Anglung Udjo
Forgotten: Melawan Sampai Akhir Hidup
Musik dan Buku
Serenda Pelagia merupakan program baru yang digagas oleh Toko Buku Pelagia. Acara ini merupakan yang kedua. Di bulan sebelumnya, band berhaluan punk rock asal Bandung, Dongker bermain akustikan membawakan album barunya: Melankolia Radikal yang dirilis 28 Agustus 2026.
Ojan, salah satu pegawai Toko Buku Pelagia sekaligus pemandu acara, menuturkan, agenda ini dilatarbelakangi keinginan Toko Buku Pelagia untuk menggelar aktivasi selain diskusi buku. berhubung musik jadi satu media yang cukup dekat dengan Pelagia maka konsep ini terbentuk.
Ojan mengatakan, musik dan literasi dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pelagia, kata ia, juga ingin mengajak kawan-kawan yang aktif bermusik merasakan suasana baru dengan bermain di tempat baru, yaitu: toko buku.
“Membuat suasana baru aja di Pelagia agar semakin banyak kawan-kawan yang berkenalan di Pelagia,” ujarnya, kepada BandungBergerak.
Ojan juga menyadari bahwa di Kota Bandung saat ini sangat sulit menemukan ruang kesenian gratis dan tidak birokratis. Dengan begitu, konsep acara di toko buku ini merupakan salah satu alternatif.
“Toko Buku Pelagia bisa diartikan sebagai ruang kesenian itu sendiri,” tutupnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


