• Kolom
  • Situs Batu Kalde #3: Saat Mitos Ronggeng Gunung dan Aria Sapi Gumarang Menjadi Pelindung Sejarah

Situs Batu Kalde #3: Saat Mitos Ronggeng Gunung dan Aria Sapi Gumarang Menjadi Pelindung Sejarah

Situs Batu Kalde berkelindan dengan Ronggeng Gunung dan Aria Sapi Gumarang dari Kerajaan Pananjung.

Merrina Listiandari

Pendiri Komunitas Djiwadjaman, bisa dihubungi via FB: Merrina Kertowidjojo, IG: merrina_kertowidjojo, atau FB page: Djiwadjaman

Para nayaga, pengiring kesenian Ronggeng Gunung dengan 3 kenong sebagai alat musik utama dan sinden dengan nyanyian khasnya. (Foto : Merrina Listiandari)

8 Oktober 2026


BandungBergerak – Berdiri di tengah rimbunnya kanopi pohon di hutan cagar alam bersama puluhan pasang mata, suasana peliputan di Situs Batu Kalde mendadak berubah menjadi sebuah ruang kuliah alam yang magis. Di bawah sorot sinar matahari yang menembus sela-sela daun, Luthfi Yondri menjelaskan potongan-potongan batu pasir berlapis (bedded sandstone) yang berserakan di sekeliling kami. Para peserta tour kebudayaan yang bertajuk Culture for Future: from Eastern Parahyangan, ini diikuti oleh para jurnalis, penulis, peneliti, dan para pegiat kebudayaan.

Mungkin ini hal baru bagi sebagian peserta. Namun mendokumentasikan situs tersebut menegaskan satu hal, Situs Batu Kalde bukan hanya sekadar serakan benda mati. Dalam diamnya di keheningan hutan cagar alam di tepi Samudera Hindia, ia berkisah tentang banyak hal. Tentang sains geoarkeologi yang mencoba merangkai dan mengenali pecahan batuan tersebut berdasarkan bentukan geologinya. Pada saat yang sama situs tersebut memiliki narasi lain yang menjadi memori kolektif masyarakat Pananjung, sebuah narasi mistis tentang ketahanan pangan dan tari perlawanan.

Folklor tidak pernah membutuhkan validasi laboratorium geologi untuk dianggap benar. Bagi masyarakat pesisir Pangandaran, kompleks batuan sedimen ini tidak membutuhkan penanggalan karbon untuk bercerita. Ketika sains arkeologi memetakan struktur ini sebagai sisa-sisa komponen bawah Candi Candha Wasi dari abad ke-7 Masehi, warisan ingatan warga lokal justru melompati beberapa abad ke depan, menautkan situs ini dengan riwayat Kerajaan Pananjung, sosok menteri legendaris Aria Sapi Gumarang, serta kelahiran kesenian mistis Ronggeng Gunung (Yondri, 2025; Mulyana, 2014).

Di sinilah letak pesona terbesar dari penulisan sejarah popular, mengamati bagaimana mitos dan fakta empiris tidak saling menghancurkan, melainkan saling melindungi. Perjalanan pun dilanjutkan ke Galeri Kain Sagati di Cijulang, ketika sains geoarkeologi dan folklore berkelindan mesra dan dikisahkan dengan indah.

Legenda Aria Sapi Gumarang: Filosofi Kedaulatan Pangan dari Pesisir

Dalam tutur lisan yang dirawat secara turun-temurun oleh para sesepuh adat di Desa Pananjung, kawasan batuan purba ini memiliki nama purba yang sejajar dengan Batu Kalde, yaitu Makam Sapi Gumarang. Cerita rakyat mengidentifikasi figur Aria Sapi Gumarang bukan sebagai dewa yang turun dari langit, melainkan seorang menteri pertanian dan logistik yang sangat visioner dari Kerajaan Pananjung, sebuah kerajaan lokal yang dikisahkan menguasai wilayah pesisir selatan Jawa Barat sebelum era Islamisasi (Mulyana, 2014; Perum Perhutani, 2002).

Aria Sapi Gumarang dipuja dalam ingatan kolektif rakyat karena kecerdasannya memetakan bentang alam geologis Pangandaran. Di bawah arahannya, tanah-tanah aluvial pantai yang cenderung basah dan berpasir berhasil diubah menjadi hamparan sawah dan perladangan yang sangat produktif. Sapi jantan miliknya bukan sekadar hewan ternak biasa, melainkan simbol mekanisasi agraris kuno, motor penggerak bajak sawah yang melambungkan kemakmuran dan ketahanan pangan kerajaan di sepanjang garis pantai selatan. Ketika sang menteri mangkat, rakyat yang merasa berutang budi atas melimpahnya pasokan pangan memahat batu nisan di atas kuburnya menyerupai bentuk sapi jantan sebagai monumen penghormatan abadi (Perum Perhutani, 2002).

Secara kronologis ilmiah, klaim bahwa arca Nandi abad ke-7 merupakan pahatan makam seorang menteri dari abad ke-14 jelas merupakan sebuah anakronisme, kesalahan penanggalan yang nyata. Namun, jika kita melihatnya dengan kacamata antropologi budaya, mitos Aria Sapi Gumarang adalah bentuk kearifan lokal yang berfungsi sebagai cultural shield atau perisai budaya yang luar biasa kuat (Ekadjati, 2005). Ketakutan mistis masyarakat akan kualat atau terkena kutukan dari roh "Sapi Gumarang" jika berani merusak atau memindahkan balok-balok batu pasir tersebut telah terbukti menyelamatkan situs ini dari pengrusakan manusia selama ratusan tahun. Jauh sebelum negara hadir memberikan status perlindungan formal cagar alam, mitos agraris Aria Sapi Gumarang telah lebih dulu bertindak sebagai penjaga setia dari sisa-sisa material geologi purba di Pananjung.

Baca Juga: SITUS BATU KALDE #1: Sapi yang Dikira Keledai, Ironi Linguistik pada Tinggalan Geoarkeologi di Pangandaran
SITUS BATU KALDE #2: Koin Keberuntungan di Ceruk Yang Retak, Mitos pada Struktur Geoarkeologi

Tragedi Pasukan Bajo dan Lahirnya Tarian Perlawanan Ronggeng Gunung

Keberadaan Situs Batu Kalde juga berkelindan erat dengan narasi kedukaan romantis yang melahirkan kesenian paling ikonik di pesisir selatan Jawa Barat, Ronggeng Gunung. Mitos menceritakan bahwa kemakmuran logistik yang diciptakan oleh Aria Sapi Gumarang di Kerajaan Pananjung akhirnya mengundang petaka dari luar. Posisi geografis Pangandaran yang berupa pantai terbuka menjadikannya target empuk bagi serbuan brutal para bajak laut yang dalam ingatan lisan diidentifikasi sebagai pasukan Bajo (Suryani, 2011).

Dalam serangan berdarah tersebut, benteng pertahanan Kerajaan Pananjung jebol. Raja mereka, Raden Anggalarang, tewas mengenaskan di tangan para perompak samudra. Istrinya yang jelita, Dewi Siti Samboja, yang kemudian hari dikenal dengan nama Dewi Rengganis, berhasil meloloskan diri ke dalam rimbunnya perbukitan karst dan gua-gua kapur di pedalaman Pananjung (Suryani, 2011; Malik, 2018). Di tengah pelarian dan duka yang mendalam atas hilangnya kedaulatan tanah airnya, Dewi Samboja tidak memilih untuk menyerah. Ia menyamar dan menggunakan seni sebagai senjata taktis.

Dewi Samboja menciptakan sebuah tarian ratapan yang diiringi oleh tabuhan rancak waditra sederhana dari bambu dan kayu. Suara nyanyiannya yang menyayat hati bergema di antara dinding-dinding bukit kapur pesisir selatan, mengundang simpati sekaligus bertindak sebagai kode rahasia untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa prajurit Pananjung yang kocar-kacir di dalam hutan. Ketika para bajak laut Bajo terpikat oleh pesona tarian magis sang putri, para prajurit yang telah terkumpul melakukan serangan balik yang mematikan. Tarian taktis penyamaran dan perlawanan inilah yang dalam perjalanan waktu bermutasi menjadi kesenian Ronggeng Gunung (Malik, 2018).

Kisah tutur di atas sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Abah Sangkeh, seorang pelestari kesenian asli dari Desa Cikalong, Pangandaran. Ia menuturkan bahwa kesenian Ronggeng Gunung, serupa dengan ketuk tilu, yang menggunakan tiga alat musik tradisional, Kenong dan tatabeuhan dari kayu dan bambu tercipta karena balas dendam Dewi Siti Samboja, atas kematian suaminya Raden Anggalarang, “Nya eta Dewi Siti Samboja teh ngabaleskeun dendam ka para bajo nganggo ibing ketuk tilu, nu ayeuna janten kesenian Ronggeng Gunung (Dewi Siti Samboja balas dendam ke para bajo dengan tarian ketuk tilu, yang sekarang menjadi kesenian Ronggeng Gunung)”.

Jika diperhatikan secara mendalam, struktur gerakan dan nyanyian dalam Ronggeng Gunung, sangat mencerminkan bentang alam geologis tempat ia dilahirkan. Suara cengkok vokal yang meliuk-liuk dan berat menyerupai gaung suara di dalam gua-gua karst Pananjung, sementara gerakan kakinya yang mengentak bumi meniru ritme konstan deburan ombak laut selatan yang menghantam tebing batu pasir Formasi Pamutuan. Batu Kalde, dengan keberadaan makam-makam kuno pembesar di sekitarnya sebagaimana tercatat pada papan informasi situs, diyakini oleh masyarakat sebagai episentrum spasial dari memori pelarian dan perlawanan Dewi Siti Samboja tersebut.

Mitos Sebagai Penjaga Kedaulatan Budaya Pesisir

Ketika penulis mendengarkan paparan Abah Sangkeh, selaku pelaku budaya lokal, kami menyadari bahwa kehadiran mitos Aria Sapi Gumarang dan Ronggeng Gunung bukanlah sekadar bumbu dongeng pengantar tidur untuk menarik minat pelancong. Mitos-mitos ini adalah mekanisme bertahan hidup dari sebuah kebudayaan pesisir yang menolak untuk dihapus identitasnya dari lembar sejarah.

Melalui metafora Aria Sapi Gumarang, masyarakat pesisir selatan sebenarnya sedang menegaskan bahwa jauh sebelum wilayah mereka dikuasai dan dipaksa tunduk pada sistem upeti agraris bentukan Mataram Islam di pedalaman Jawa pada abad ke-17 (Lubis, 2013), pesisir Pananjung telah memiliki konsep kedaulatan pangan dan kemandirian ekonominya sendiri. Mereka tidak membutuhkan validasi atau perintah dari pusat kekuasaan yang berjarak ratusan kilometer di timur untuk mengolah batuan sedimen lokal menjadi sistem pertanian yang makmur.

Begitu pula dengan kisah Dewi Siti Samboja dan perlawanan ketidakadilan dengan Ronggeng Gunung. Tarian tersebut adalah proklamasi budaya bahwa sejarah pesisir selatan Jawa Barat dibentuk oleh watak yang tangguh, terbuka terhadap dinamika maritim, sekaligus memiliki daya adaptasi dan perlawanan yang tinggi terhadap ancaman luar, baik itu bajak laut Bajo maupun hegemoni politik dari pedalaman.

Mengintegrasikan folklor Aria Sapi Gumarang dan Dewi Samboja ke dalam analisis geoarkeologi Situs Batu Kalde adalah langkah krusial untuk menolak kekaburan identitas. Kita tidak boleh membiarkan Batu Kalde diingat hanya sebagai puing-puing candi batu pasir yang sepi. Ia harus dibaca sebagai monumen monumental tempat mitos, kesenian, dan lapisan batuan geologi bersatu padu merawat kedaulatan sejarah masyarakat Sunda pesisir di hadapan luasnya Samudra Hindia.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//