• Berita
  • Bedah Puisi Urban di Perpustakaan Bunga di Tembok: Berhenti Sejenak dengan Lorem Ipsum

Bedah Puisi Urban di Perpustakaan Bunga di Tembok: Berhenti Sejenak dengan Lorem Ipsum

Buku puisi Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan karya Fiu merekam kejenuhan rutinitas kerja, terbatasnya waktu luang, dan persoalan ekonomi generasi muda perkotaan.

Diskusi dan peluncuran buku Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan karya Fiu di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 26 September 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Penulis Ardhzohal Roman Ario Bono9 Oktober 2026


BandungBergerak — Rutinitas kerja, tekanan tenggat waktu, dan terbatasnya waktu luang menjadi bagian dari keresahan yang diangkat dalam buku kumpulan puisi Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan karya Fiu. Melalui puisi, Fiu merekam pengalaman pekerja kreatif urban yang kerap terjebak dalam tuntutan produktivitas. Gagasan ini dibahas dalam diskusi dan peluncuran buku di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 26 September 2026. Diskusi yang dipandu Fiu, Ali, dan April itu membahas hubungan puisi dengan pengalaman kerja, kesehatan mental, realitas ekonomi, serta kehidupan sosial generasi muda.

Fiu mengatakan, Lorem Ipsum bukan sekadar teks sementara yang digunakan dalam desain grafis untuk mengisi ruang sebelum konten sebenarnya tersedia. Istilah tersebut menjadi metafora kehidupan yang terus berjalan di tengah rutinitas, tetapi tidak selalu memberi ruang bagi seseorang untuk memaknai pengalamannya.

Fiu, yang berlatar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Padjadjaran, menggunakan istilah tersebut untuk mendekatkan puisi kepada pembaca yang akrab dengan dunia desain. Ia menggunakan diksi Lorem Ipsum dalam puisinya karena merasa dekat dengan istilah tersebut sebagai bagian dari dunia desain grafis.

Melalui pilihan diksi tersebut, ia ingin mengajak teman-teman sesama desainer grafis untuk menikmati puisi dengan cara yang lebih akrab dan menyenangkan, sekaligus mematahkan anggapan bahwa puisi merupakan karya yang terlalu tinggi atau sulit dipahami. Ia berharap penggunaan istilah yang dekat dengan keseharian mereka dapat menghadirkan pengalaman baru dalam membaca puisi dan mendorong lebih banyak teman di lingkungannya untuk turut menikmatinya.

" Karena kadang mungkin beberapa ada yang memandang puisi itu terlalu tinggilah atau misalkan sulit dipahami. Aku ingin memberikan pengalaman lain untuk membaca puisi gitu. Makanya aku memakai itu yang dekat denganku dan Aku berharap teman-teman yang dekat denganku itu juga ikut membaca," ungkap Fiu.

Puisi-puisi dalam buku tersebut berangkat dari keresahan personal Fiu terhadap pekerjaan konvensional dan rutinitas yang membuat kehidupan terasa mekanis. Menulis menjadi cara untuk mengambil jarak dari tekanan sehari-hari sekaligus memulihkan ruang bagi pengalaman personal.

Azka, rekan Fiu yang hadir dalam diskusi, menilai puisi-puisi itu menggambarkan tekanan yang kerap dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, puisi Fiu mampu menggambarkan pergulatan dan berbagai persoalan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam rutinitas yang kerap dianggap biasa, membosankan, dan penuh tekanan. Dengan menggunakan diksi yang sederhana, puisi-puisi Fiu justru terasa dekat dan relevan bagi pembaca karena mampu merepresentasikan pengalaman serta realitas keseharian yang dialami oleh banyak orang.

“Akhirnya puisinya yang cenderung menggunakan diksi sederhana justru lebih relate karena cukup akurat yang menggambarkan hidup sehari-hari sebagian dari kita,” ujar Azka.

Puisi-puisi tersebut menunjukkan bagaimana rutinitas dapat mengikis makna hidup. Persoalan itu tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, tetapi juga dengan cara seseorang mengelola waktu, membangun hubungan sosial, dan memenuhi kebutuhan untuk beristirahat.

Kerja, Waktu Luang, dan Realitas Ekonomi

Salah satu tema yang dibahas dalam diskusi adalah Nyalse, istilah Sunda yang merujuk pada kegiatan bersantai atau menikmati waktu luang. Dalam puisi Fiu, waktu luang menjadi penting karena berhadapan dengan tuntutan untuk terus bekerja dan menyelesaikan tugas. April sebagai pembahas diskusi, menilai tema tersebut dekat dengan pengalaman generasi muda yang menghadapi tekanan pekerjaan dan pendidikan.

Menurut April, puisi-puisi Fiu relevan dengan kehidupan Gen Z karena mengangkat pengalaman dan keinginan yang dekat dengan keseharian mereka. Salah satu puisi favoritnya, Bebeakan, menyoroti bagaimana waktu untuk bersantai atau menikmati ketenangan menjadi sesuatu yang terasa mewah di tengah kesibukan bekerja dan kuliah. Melalui puisi tersebut, pembaca diajak menyadari bahwa di balik rutinitas yang padat, ada keinginan sederhana untuk beristirahat dan menikmati waktu luang yang kerap sulit diwujudkan.

“Kita tuh selalu dikejar deadline selalu dikejar tugas,” ujar April.

Tekanan tenggat waktu dan tuntutan produktivitas membuat istirahat kerap ditunda. Akibatnya, waktu luang yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan justru terasa seperti kemewahan.

Selain persoalan kerja, buku tersebut mengangkat hubungan antara cinta dan kondisi ekonomi. Cinta tidak digambarkan sebagai pengalaman yang terpisah dari kehidupan material, melainkan sesuatu yang turut dipengaruhi pendapatan, biaya hidup, harga sewa tempat tinggal, dan biaya pertemuan.

Persoalan ini beririsan dengan gagasan “gentrifikasi cinta”, yakni bagaimana kondisi ekonomi dan perubahan ruang perkotaan dapat memengaruhi cara orang membangun serta mempertahankan hubungan. Dalam konteks tersebut, relasi personal tidak lepas dari ketidakpastian finansial yang dihadapi generasi muda.

Melalui puisi, Fiu membicarakan persoalan tersebut tanpa menjadikannya slogan. Pengalaman sehari-hari menjadi pintu masuk untuk melihat hubungan antara tekanan ekonomi, kehidupan sosial, dan kondisi emosional.

April melihat buku _Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan_ dari perspektif ilmu sejarah. Menurutnya, puisi dapat merekam kondisi sosial dan cara suatu generasi memahami zamannya, termasuk pengalaman yang tidak tercatat dalam dokumen resmi.

April menilai buku Menyimpan Lorem Ipsum sebagai kumpulan puisi yang merefleksikan realitas dan dinamika kehidupan Gen Z saat ini. Menurutnya, kekuatan puisi-puisi Fiu terletak pada penggunaan bahasa yang apa adanya, tanpa dibuat-buat atau dihias secara berlebihan.

Pandangan tersebut menempatkan puisi sebagai arsip sosial yang merekam pengalaman sehari-hari. Pengalaman tentang pekerjaan, kejenuhan, waktu luang, dan hubungan personal dapat membantu pembaca memahami kondisi sosial pada masa tertentu.

“Kita harus lebih aware dengan hal-hal kecil di sekitar kita. Terus juga kita harus mencoba untuk berhenti sebentar untuk menyadari apa yang terjadi di sekeliling kita,” pesan April.

Ali menanggapi buku tersebut dari perspektif kesehatan. Ia melihat puisi sebagai sarana untuk memperluas sudut pandang dan mengurangi perasaan terasing ketika menghadapi persoalan pribadi.

Menurut Ali, membaca puisi-puisi Fiu memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan, tetapi mampu memperluas sudut pandangnya dalam memahami berbagai realitas, termasuk cinta yang terdampak gentrifikasi. Namun, karya yang mengungkapkan pengalaman serupa dapat membantu pembaca menyadari bahwa keresahan yang mereka rasakan juga dialami orang lain.

Melalui puisi tersebut, Ali merasa pengalaman dan perasaan yang selama ini dialaminya ternyata juga dirasakan oleh orang lain. Kesadaran ini memberinya rasa ditemani secara tidak langsung, sekaligus mengurangi perasaan terasing ketika menghadapi persoalan yang terkadang sulit dipahami atau diungkapkan seorang diri.

“Dari situ tuh udah kerasa aja memang ada sesuatu yang apa ya? Oh, ternyata ini bukan aku aja yang nge- rasain gitu. Dan udah kalau ngerasanya cuma sendirian kan memang agak gimana ya?,” jelas Ali.

Diskusi dan peluncuran buku Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan karya Fiu di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 26 September 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)
Diskusi dan peluncuran buku Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan karya Fiu di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 26 September 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Baca Juga: Membincangkan Buku Puisi Hanya Waktu, Menengok Relung Seorang Matdon
CATATAN SI BOB #38: Ternyata Buku Puisi Bisa Sejelas ini

Seni, Kesehatan Mental, dan Ruang Alternatif

Diskusi juga membahas posisi seniman dan akses terhadap seni. Fiu menilai seni tidak semestinya ditempatkan sebagai sesuatu yang eksklusif atau jauh dari kehidupan masyarakat.

“Seniman dan manusia itu sejajar, seni tidak harus diposisikan eksklusif atau elitis. Contohnya seperti grup musik The Talawengkar yang beranggotakan para pekerja pabrik genteng di Jatiwangi; seni mereka menyatu langsung dengan kehidupan sehari-hari," ujar Fiu.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa praktik kesenian dapat tumbuh dari pengalaman dan lingkungan kerja masyarakat. Seni tidak harus lahir dari ruang khusus atau kalangan tertentu untuk memiliki makna.

Bagi Fiu, menulis puisi juga menjadi cara untuk mengambil jarak dari kebiasaan menggulir layar tanpa henti atau dumb scrolling, serta dari hiruk-pikuk politik yang menguras energi. Puisi-puisi dalam buku tersebut tidak ditulis sekaligus. Fiu mengumpulkan dan mengendapkan teks-teksnya selama rentang 2022–2025 sebelum menerbitkannya dalam bentuk buku. Proses panjang itu menjadi bagian dari pengolahan pengalaman sehari-hari menjadi karya.

Diskusi interaktif bersama peserta turut membahas kebebasan dan eksperimentasi seni. Pembicaraan menyoroti pentingnya memahami konteks sebuah karya dan melihat keberhasilannya dari kemampuan memantik refleksi, menggugah emosi, serta membuka ruang dialog.

Perpustakaan Bunga di Tembok menjadi ruang bagi pembaca, penulis, dan peserta untuk membicarakan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. Keberadaan ruang independen seperti ini memberi kesempatan bagi kegiatan literasi dan diskusi kritis berlangsung di luar ruang komersial.

Diskusi yang berlangsung hingga pukul 17.40 WIB. Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan penampilan Fiu bersama band Salik dan Jong Jjon.

Melalui Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan, pengalaman tentang pekerjaan, kejenuhan, waktu luang, dan hubungan sosial diolah menjadi catatan tentang kehidupan generasi muda urban. Buku ini memperlihatkan bagaimana puisi dapat menjadi cara untuk membaca realitas sehari-hari sekaligus membuka ruang bagi orang-orang yang mengalaminya untuk saling mengenali.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//