MAHASISWA BERSUARA: Jembatan Cincin dan Catatan Perihal dari Mana Kita Bisa Memandang
Apresiasi dan rasa memiliki cagar budaya menuntut kesadaran konsep kapital, ruang, dan tanggung jawab dari banyak pihak yang tidak dapat didikotomikan.

Annisa Fathiya Hakim
Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran
11 Oktober 2026
BandungBergerak – Saya sangsi bahwa orang-orang yang rutin berlalu-lalang di Jembatan Cincin di Cikuda, Jatinangor mampu membayangkan lagu yang syahdu dan romantis layaknya orang-orang akan otomatis terkenang lagu Kepada Noor atau Untukku saat melintasi Jalan Asia-Afrika di Bandung. Menjadi cagar budaya tidak serta-merta membuat suatu benda diperlakukan istimewa dan diromantisasi. Jembatan Cincin di Jatinangor, yang sejak tahun 2017 telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Sumedang, adalah salah satu contohnya.
Jembatan Cincin dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Negara Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1917-an sebagai bagian dari jalur kereta Rancaekek–Jatinangor–Tanjungsari–Citali. Dahulu jalur ini ditujukan untuk akses logistik orang sekaligus hasil perkebunan teh dan karet yang ditujukan untuk kepentingan ekonomi pemerintah kolonial Belanda.
Hari ini, fungsi jembatannya sudah berubah. Jalur keretanya sudah tidak beroperasi dan warga sekitar menggunakan bekas jalur tersebut sebagai penghubung antardesa. Bagi penggunanya sehari-hari, jembatan ini sangat mungkin pertama-tama bukanlah suatu peninggalan sejarah: ia adalah jalan untuk anak sekolah yang ingin pulang, warga yang hendak bekerja, pengendara ojol yang mengantar makanan, atau mahasiswa yang ingin kembali ke kos.
Dan saya rasa kita tidak perlu buru-buru kecewa dengan hal itu. Saya sendiri tidak yakin penghargaan terhadap cagar budaya harus selalu dibuktikan dengan sikap khidmat di hadapan bangunan tua. Kita terlalu mudah mengatakan bahwa sebuah subjek tidak memahami nilai heritage. Padahal, pertanyaannya adalah apakah subjek-subjek tersebut memang pernah diberi posisi untuk melihat benda budaya tersebut sebagai sebuah heritage.
Pertanyaan itulah yang muncul ketika saya melihat lanskap di sekitar Jembatan Cincin yang menyajikan hamparan sawah dan pekuburan umum di satu sisi, sementara di sisi lainnya menjulang sebuah apartemen modern yang memungkinkan orang melihat tubuh Jembatan Cincin secara lebih utuh. Lengkung-lengkung yang hampir tidak terlihat ketika kita berdiri tepat di atasnya akan tersusun menjadi sebuah pemandangan yang serasi dengan elemen-elemen di sekitarnya. Pemandangan yang akan saya sebut eksotis jika saja Edward Said tidak menulis orientalisme.
Maka, saya berkesimpulan bahwa tampaknya persoalan romantisasi cagar budaya ini tidak bisa direduksi menjadi semata dikotomi masyarakat yang acuh dan yang tak acuh dengan sejarah.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah Jembatan Cincin dan Taman Loji di Jatinangor Bareng Komunitas Bandoeng Waktoe Itoe
Jatinangor 25 Tahun Pertama di Abad ke-21
Kemewahan untuk Mengambil Jarak
Dari hunian bertingkat yang seperti pada umumnya menjadikan pemandangan sebagai salah satu daya tariknya, muncul pengaandaian menarik. Jikalah saya atau Anda adalah penghuni apartemen yang setiap pagi dapat menikmati Jembatan Cincin dari “posisi terbaik”, akankah muncul syak wasangka bahwa orang-orang yang hilir-mudik di atasnya tidak cukup menghargai nilai estetis jembatan tersebut? Kita yang melihatnya dari kejauhan dapat dengan mudah berkata: “Sayang sekali tempat seindah ini tidak diapresiasi!”
Masalahnya, kita dan mereka tidak sedang melihat objek yang sama dengan cara yang sama. Ahli budaya Michel de Certeau (1984) pernah membicarakan persoalan serupa ketika melihat Kota New York dari lantai 110 World Trade Center. Dari ketinggian, kota yang semula berisik dan hiruk-pikuk tiba-tiba terbentang menjadi sesuatu yang dapat dibaca secara keseluruhan–sebagai satu lanskap. Menurut de Certeau, elevasi tersebut mengubah pengamat menjadi seorang voyeur, mata yang memandang dari ketinggian dengan detachment.
Sementara itu, mereka yang berjalan di bawah tidak mendapat kemewahan yang sama. Mereka adalah unsur yang berada di dalam ruang kota. Tubuh mereka terlibat langsung dengan jalan-jalannya dan bagi seorang voyeur, mereka terlihat tidak lebih dari bagian suatu lanskap.
Jembatan Cincin tampaknya ketiban fenomena yang sama. Dari apartemen, siapa pun akan memperoleh jarak spasial tersebut. Jarak yang memungkinkan tubuh jembatan menjadi utuh di depan mata beserta dengan unsur-unsur lain yang mengkomplimennya seperti sawah, pekuburan, jembatan, pepohonan, dan langit yang menyatu dalam satu bingkai. Sedangkan orang-orang yang berjalan tepat di atas jembatan itu berada pada jarak yang terlalu dekat untuk melihat bentuk yang sedang diinjaknya. Ia tidak menangkap Jembatan Cincin sebagai panorama, melainkan mengalaminya sebagai bagian dari ruang keseharian.
Namun, sebagaimana ditunjukkan de Certeau, pandangan dari ketinggian yang mampu menangkap ruang secara menyeluruh justru dapat kehilangan berbagai praktik kehidupan yang berlangsung di dalamnya. Dengan demikian, keindahan yang saya lihat dari kejauhan bukanlah bukti bahwa saya lebih memahami Jembatan Cincin dibandingkan warga yang setiap hari melintasinya. Saya hanya menempati posisi melihat yang berbeda.
Perbedaan posisi inilah yang membuat persoalan melihat menjadi politis. Profesor sejarah dan geografi Denis Cosgrove (1998) menyebut lanskap sebagai a way of seeing. Lanskap bukan semata-mata kumpulan tanah, bangunan, pepohonan, atau langit yang telah tersedia begitu saja untuk dipandang, melainkan suatu cara tertentu dalam menata dan memahami dunia di hadapan mata. Secara lebih sederhana, Cosgrove membaca bahwa cara melihat tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekonomi, kepemilikan tanah, teknik perspektif, pemetaan, serta relasi kelas. Artinya, sebuah pemandangan tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kondisi sosial yang memungkinkan seseorang melihatnya sebagai pemandangan.

Akses Sebelum Rasa Memiliki
Tersirat ironi pada kesimpulan yang membawa kita pada gagasan bahwa posisi tidak selalu tersedia secara sama bagi semua orang. Terlebih, jika posisi yang unggul itu baru akan didapat dengan kapital tertentu. Tentu bukan berarti Jembatan Cincin itu dijual secara harfiah. Namun, bersama sebuah ruang hunian itu turut ditawarkan sesuatu yang kita kenal sebagai view. Dengan kata lain, yang dapat dibeli bukan jembatannya, melainkan posisi untuk memandangnya.
Inilah yang membuat saya skeptis ketika mendapati bahwa sebagian besar penghargaan terhadap cagar budaya diukur dari kemampuan seseorang mengagumi keindahannya. Tetap saja, pada hakikatnya, mengakui bahwa sebuah bangunan indah belum tentu sama dengan memahami mengapa bangunan itu layak dipertahankan. Jika Jembatan Cincin hanya menjadi latar kolam renang, latar swafoto, atau panorama dari jendela kamar, nilai sejarahnya tetap berisiko berhenti menjadi dekorasi.
Sudut pandang estetis pun membutuhkan pengetahuan dan keduanya–baik sudut pandang estetetis dan pengetahuan–menuntut akses. Bukan hanya akses untuk datang atau berjalan di atas jembatan, tetapi juga akses terhadap pengetahuan tentangnya. Informasi, pendidikan, kebijakan, sampai cara sebuah cagar budaya diperkenalkan kepada masyarakat akhirnya ikut menentukan apakah hubungan dengan warisan itu bisa tumbuh atau tidak.
Masyarakat memang mempunyai tanggung jawab untuk merawat warisan, tetapi pemerintah dan institusi kebudayaan juga mempunyai tanggung jawab untuk membuat warisan tersebut dapat dikenal, dibaca, dan dirasakan sebagai bagian dari kehidupan publik. It takes two to tango. Masyarakat berbudaya tidak bisa diminta muncul dengan sendirinya, sementara akses terhadap kebudayaannya dibiarkan timpang.
Maka, saya tidak terlalu tertarik bertanya mengapa masyarakat sekitar tidak cukup “mencintai” Jembatan Cincin. Pertanyaan itu terlalu gampang berakhir pada tuduhan bahwa masyarakat abai. Akan lebih menarik untuk mempersoalkan mengapa sebagian orang mengenal Jembatan Cincin sebagai jalan, sebagian lain sebagai pemandangan, sementara rasa yang menjembatani keduanya absen.
Benar bahwa seorang pujangga Gereja Santo Agustinus pernah berujar: “Ignorance itself is without a doubt a sin for those who do not wish to understand”. Namun persoalannya kini bukan karena orang-orang enggan untuk peduli, tetapi karena memang tidak semua orang mendapat akses yang sama untuk mengenal apa yang ada di hadapan mereka. Dan rasanya memang sulit meminta orang merasa memiliki sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar diperkenalkan kepada mereka.
***
*Kawan-kawan dapat membaca karya-karya lain dari Audrey Laurenza, atau artikel-artiikel lain tentang Komunitas Bandung


