• Opini
  • Jatinangor 25 Tahun Pertama di Abad ke-21

Jatinangor 25 Tahun Pertama di Abad ke-21

Bila tahun 1918/1919 Kerkhoff memuji Jatinagor sebagai “surga” lalu pada 1983 penyair Itjang menyebutnya “neraka”, Jatinangor sekarang harus kita sebut apa?

Anton Solihin

Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor

Buku panduan Jatinangor Jatinangor! (Foto: Anton Solihin)

26 Juli 2026


BandungBergerak“Ieu lain deui Cikeruh nu ceuk kolot baheula. Ieu teh miniatur naraka nu dikelola ku panitia kiamat lokal, di mana Gusti Allah geus lila paeh, diganti ku iblis nu pinter ngaji.” (Terjemahan bebas: “Ini bukan Cikeruh yang dikatakan orangtua dahulu. Ini adalah miniatur neraka yang dikelola panitia kiamat lokal, di mana Tuhan sudah lama mati, diganti oleh iblis yang pintar mengaji.” dikutip dari buku antologi puisi Otopsi Syair yang pertama kali diterbitkan oleh Komite Hitam pada tahun 1983, dan diterbitkan ulang pada tahun 2025 oleh Muslihat Press)

Pernyataan yang cenderung kasar itu ditulis oleh orang asli Cikeruh atau Jatinangor yang eksentrik bernama Itjang Djoedibarie (1 Mei 1956–10 September 1983). Ia kriminolog lulusan Universitas Indonesia (UI) sekaligus seorang penyair dengan pemahaman terkait puisi yang tidak biasa dan unik.

Nama Itjang sebetulnya lebih dikenal dalam catatan sejarah alternatif lokal karena pernah melakukan sabotase simbolik dengan mencuri lonceng Menara Loji pada tahun 1983 sebagai bentuk pembalasan dendam atas kematian ayahnya. Semacam perlambang perlawanan terhadap warisan kolonial. 

Menara Loji (“Menara Loji Jatinangor” dalam Harian Pikiran Rakyat edisi 30 Oktober 2016) adalah satu dari dua peninggalan ikonik tersisa dari masa kolonial Belanda di Jatinangor, selain bekas jembatan kereta api yang kini dinamakan “Jembatan Cincin”. Buku album foto Het Paradijs van Java (terj: Surganya Jawa) yang diterbitkan kemungkinan antara 1918/1919 di masa pemerintahan Bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja (1883-1919), memuat karya fotografer Wijnand Kerkhoff yang mengabadikan kereta api yang sedang melintasi Jembatan Cincin mengarah ke Tanjungsari dengan cerobong asap mengepul. Foto yang identik dengan citrai landmark Jatinangor tempo dulu tersebut sering kali kita lihat terpampang pada dinding entah kafe, kantor, atau ruang publik lainnya. Juga dalam unggahan beragam media sosial.

Jembatan yang kini sudah tidak berfungsi sebagai jalur kereta api itu dalam buku promosi wisata Kerkhoff diberi catatan dalam enam bahasa (Belanda, Melayu (Indonesia), Jerman,  Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia) sebagai berikut: Beton spoorbrug over de „Tjikoeda” — Djambatan kerèta api dari pada beton atas „Tjikoeda” — Beton-Eisenbahnbriicke über den Fluss „Tjikuda” — Concrete railway bridge across the river “Tjikuda” — Pont de chemin de fer en béton jeté sur la rivière „Tjikouda” — Puente de ferrocarril en hormigón sobre el rió „Tjikuda” — Ponte ferroviario di calcestruzzo sul fiume „Tjikuda”. Gambar foto tampak berwibawa dengan keterangan seperti itu!

Di masa kiwari, dalam catatan penulis. terbit sejumlah tulisan yang memuat uraian terkait Jembatan Cincin ini. Contohnya skripsi yang ditulis Vera Sari: Studi Arahan Lokasi Stasiun Kereta Api Jalur Bandung-Jatinangor, Jurusan Teknik Planologi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITB, 1999, riset Agus Mulyana “Militer dan Pertahanan Pembangunan Jalan Kereta Pada Lajur Rancaekek-Sumedang (1917-1921)“ pada Konferensi Nasional Sejarah IX, 5-7 Juli 2011, artikel-artikel seperti: “Kisah Berakhirnya Jalur KA Rancaekek-Tanjungsari” dalam Harian Pikiran Rakyat edisi 26 September 2015, dan “Jalur Kereta Api (Jembatan Cincin Cikuda Masih Menawan)” dalam Harian Kompas edis4 April 2016.

Di antara foto-foto tentang Sumedang yang dimuat dalam buku Kerkhoff itu, terdapat dua foto yang terkait Jatinangor atau Cikeruh. Selain foto dan catatan mengenai Jembatan Cincin di nomor 8, dimuat juga foto yang diberinya keterangan: “toekang2 senapan desa Tjikeruh” (no.49). Kerkhoff sama sekali tidak tertarik memotret Menara Loji, yang belakangan loncengnya raib dicuri Itjang. 

Lalu mengapa Sumedang, dan mengapa Sumedang disebut "Surganya Jawa”? Hanya Kerkhoff yang bisa menjawabnya, dan dia hanya mewariskan kita sedikit catatan mengenai hal itu pada buku yang ditulisnya: “Bagian paling timur dari Preanger, yang oleh wisatawan dunia disebut "Italia (di) Timur", adalah Sumedang.” Lalu ditambahkannya: “Sumedang yang tak terlupakan, di mana seseorang dapat menikmati pemandangan sawah dan pegunungan yang indah, dengan puncak-puncak fantastisnya yang bersinar di bawah matahari terbenam, dengan untaian awan di tengah hari, dan bayangan ungu saat matahari terbenam.”

Terdengar menawan dan fantastis memang apa yang diuraikan Kerkhoff. Untuk memperoleh gambaran Sumedang dengan sudut pandang yang sama, baca juga tulisan Fadly Rahman “Mengenang ‘Surganya Jawa’” di Harian Kompas edisi 23 Juni 2010.

Tidak jauh dari Jembatan Cincin yang diceritakan di atas, di kawasan perkebunan tempo dulu, mengalirlah Sungai Cikeruh. Dinamai begitu karena keadaan airnya yang keruh, dan bahkan ketika sekarang banyak perubahan terjadi, airnya malah malahan semakin keruh. Dari Sungai Cikeruh inilah asal-usul nama Kecamatan Cikeruh yang pada tahun 2001 diubah menjadi Kecamatan Jatinangor (lihat gambar foto: Suara Warga edisi perdana 18 Mei 2001: “Resmi Kecamatan Cikeruh Diubah Menjadi Kecamatan Jatinangor”). Sementara kisah Jatinangor tempo dulu sebelum berubah menjadi apa yang kini dinamakan “Kawasan Pendidikan Jatinangor”, ditulis dengan menawan oleh Supriatna dalam artikel bertajuk Jatinangor Bareto! dalam Majalah Cupumanik No. 18, 2005. Oleh penulis, artikel ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dan menjadi “bagian pertama” dari dua artikel berseri mengenai Jatinangor. Sebagai pembanding tulisan Supriatna, silakan baca juga tulisan sezaman dari H. Kuswandi Md., SH berjudul “Tanjungsari-Jatinangor Tahun Limapuluhan” dalam Harian Pikiran Rakyat edisi 18 Juni 2000 dan “Mimosa dan Perkebunan Jatinangor” dalam Harian Pikiran Rakyat edisi 6 Mei 2001.

Kita tidak dapat menilai dan mengharapkan lagi Jatinangor di abad ke-21 seeksotis sebagaimana yang diceritakan dan dicitrakan Wijnand Kerkhoff atau Supriatna. Satu-satunya pilihan, dan ini menarik, adalah melihatnya dari apa yang ditulis oleh Itjang Djudibarie. Tidak ada lagi yang tersisa dari “Surganya Jawa” ala Kerkhoff atau kawasan asri dengan kampung dan tradisinya seperti dituliskan Supriatna dengan “hangat”. Gambaran Jatinangor “di masa depan”  sepertinya akan kita temukan dengan cara yang pahit dan nihilis,

Terbitan-terbitan lama untuk membaca Jatinangor. (Foto: Anton Solihin)
Terbitan-terbitan lama untuk membaca Jatinangor. (Foto: Anton Solihin)

Intelektual Radikal yang Terlupakan

Sebagai seorang intelektual radikal, Itjang Djudibarie tidak banyak diketahui khalayak sampai bukunya diterbitkan ulang pada tahun 2025. Ia dikenal sebagai aktivis yang menentang keras struktur ketidakadilan era kolonial di kawasan perkebunan karet tempat ayahnya dahulu dipekerjakan sebagai kuli kontrak. Di masa hidupnya, belum terbayangkan bakal ada yang namanya “kawasan pendidikan Jatinangor” sebagaimana realitasnya saat ini. Aksi pencurian lonceng Menara Loji dilakukan Itjang bersama Bonang P. Sirait, yang kemudian ditukar dengan dana untuk membiayai pelariannya. 

Karya Itjang sangat berbeda dengan penyair pada umumnya. Puisinya menyerupai laporan hasil autopsi kedokteran, dengan cara membedah kondisi sosial dan kemanusiaan seperti halnya seorang kriminolog. Antologi puisinya berjudul Otopsi Syair ibarat arsip bawah tanah dari zaman Orde Baru yang diterbitkan secara terbatas oleh kelompok Komite Hitam pada tahun 1983 dan didistribusikan secara sembunyi-sembunyi. Cerita itu mendahului kisah heroik Jurnal Fowi (Forum Wartawan Independen) yang disebarkan secara klandestein di tahun 1990-an. Konon karya Itjang tersebut kini dipelajari dalam literatur gerakan sosial serta perlawanan terkait anarkisme, sama halnya seperti anak muda membaca dan mempelajari karya Tsuji Jun: tokoh Dadaisme, anarkis, filsuf, dan biksu Jepang, atau tulisan Ben Anderson yang memetakan interaksi intelektual kompleks penulis besar Filipina Jose Rizal dan Isabelo de los Reyes.

Begitulah Itjang memang terlupakan bahkan di kampung halamannya sendiri, di Cikeruh atau sekarang Jatinangor. Apabila dihitung dari tahun 1983 ke 2026, itu artinya nyaris selama empat dekade. Namun di Indonesia, kasus seperti ini bukan hal aneh, dan ini bukan yang pertama. Bukankah fenomena semacam ini juga kita temukan pada kisah Bapak Republik Tan Malaka yang dilupakan negara selama nyaris 50 tahun lebih, sebelum kemudian ujug-ujug belakangan “dibangkitkan dari kubur” dan dirayakan? 

Dalam Deklarasi Ketidakhadiran, Itjang menulis seperti ini:

Kepada Warga Cikeruh, aku tawarkan satu hipotesis sosiologis:

“Subkultur perlawanan hanya akan lestari jika ia membebaskan diri dari jebakan solidaritas palsu dan mitos kepahlawanan formal. Data lapangan menunjukkan kontrol sosial pusat kota-dengan birokrasi dan festival kultural-telah mematikan dinamika kreatif dan negasi kultural kita di pinggiran.”

Lalu lanjutnya,

“Jangan terperangkap pada narasi “pahlawan desa”; kembangkan metanarasi tersendiri yang jauh dari alibi agung dan retorika menyejukkan. Bila suatu saat surat ini jatuh ke tangan kalian, ketahuilah bahwa hidup kalian terlalu penting untuk dibentuk oleh narasi dari luar. Jangan biarkan akademisi dari kota datang dan memberi bingkai terhadap kenyataan yang telah kalian hidupkan sendiri, dan bila perlu, palsukan masa lalu agar sejarah kalian tak bisa dikendalikan siapa pun. Bangunlah kebohongan yang lebih jujur dari kebenaran mereka”. (2025: 71-72).

Apakah pemikiran radikal Itjang berlebihan? Untuk menjelaskan soal ini, kita bisa merujuk kondisi terkini Jatinangor yang proses-proses “pembusukannya” sudah berlangsung sejak awal tahun 2000-an.

Masalah lokal di media lokal Jatinangor. (Foto: Anton Solihin)
Masalah lokal di media lokal Jatinangor. (Foto: Anton Solihin)

Kecamatan yang Kosmopolitan

Uraian Jatinangor sebagai Kawasan Perguruan Tinggi bisa dibaca dalam buku Sejarah Daerah Jatinangor: Dari Nama Perkebunan Menjadi Nama Kecamatan (Widyo Nugrahanto, dkk. 2001: 81-106) atau Arahan Pembangunan Kecamatan Jatinangor yang bisa diakses di digilib.itb.ac.id. Di luar artikel, terselenggara sejumlah seminar yang membahas mau seperti apa Jatinangor di masa depan. Contohnya: Seminar Nasional: Pengembangan Kota Perguruan Tinggi Jatinangor pada 2 Desember 1989 di Bandung dan “Dialog Pengembangan Kawasan Jatinangor” yang diselenggarakan KBK Teknik Unwim pada 2001. Sebagaimana umumnya seminar, diskus, atau lokakarya yang khas dunia akademis dan birokratis, hasilnya adalah basa-basi dan jadi sekadar pemanis untuk menghabiskan anggaran. Pertanyaan “mau kita apakan Jatinangor” dijawab dengan istilah-istilah asing, data statistik, serta metodologi ini itu. Pokoknya, (seolah-olah) ilmiah!

Realitas di lapangan sungguh berbeda! Kalau Hindersah Wiraatmadja, Rektor Unpad periode 1974-1982, berpikir bahwa Jatinangor akan menjadi seperti Tsukuba, Jepang, yang menjadi inspirasinya ketika membayangkan Kawasan Pendidikan Tinggi Jatinangor dalam 25 tahun pertama abad ke-21 ini, penulis yakin beliau akan bermuram durja. 

Untuk meninjau realitas lapangan di kota kecamatan yang kawasan utamanya memanjang dari Cikuda sampai Cibeusi, pertama-tama kita harus melihat bagaimana keberagaman etnik yang luar biasa khas Indonesia terejawantahkan di sini. Bisa dikatakan bahwa Jatinangor adalah “Indonesia kecil”. Praja (sebutan untuk mahasiswa) dari nyaris setiap kabupaten di Indonesia terwakili di kampus IPDN. Belum lagi puluhan ribu orang mahasiswa atau pelajar lainnya yang datang dari seluruh sudut Nusantara setiap tahunnya untuk menuntut ilmu di kampus-kampus besar seperti ITB, Unpad, dan Ikopin, serta sejumlah kampus lain di sekitarnya. Para mahasiswa itu secara dinamis bermukim selama beberapa tahun di Jatinangor.

Kiranya tidak berlebihan apabila penulis mengklaim Jatinangor sudah bersifat kosmopolitan. Selama nyaris tiga dekade tinggal di sini, penulis pernah berinteraksi dengan orang-orang dari negara-negara di lima benua: Bangladesh, Mesir, Kongo, Tunisia, Thailand, Malaysia, Kamboja, China, Singapura, Kuba, Afrika Selatan, Australia, Pakistan, Syria, Prancis, Namibia, Papua New Guinea, AS, Inggris, Belanda, Rusia, Vietnam, Finlandia, Jepang, Jerman, dan banyak yang lain. Padahal Jatinangor bukan kota turis!

Artinya, Jatinangor sebetulnya harus dilihat berbeda sebagai entitas “kecamatan”. Tidaklah tepat tempat ini mendapat perlakuan sama katakanlah sebagaimana birokrasi mengelola Parakanmuncang, Tanjungsari, Wado, atau Buahdua.

Beragam zines, jurnal, buletin, atau selebaran yang dibuat warga lokal atau komunitas kampus di Jatinangor. (Foto: Dokumentasi Anton Solihin)
Beragam zines, jurnal, buletin, atau selebaran yang dibuat warga lokal atau komunitas kampus di Jatinangor. (Foto: Dokumentasi Anton Solihin)

Zine dan Karya Persma

Perihal Jatinangor sebagai “kota mahasiswa”, ada sisi lain yang perlu dicatat terkait banyaknya peri kehidupan civitas academica dan mahasiswa yang tidak mencerminkan peran mereka sebagai agent of social change. Para mahasiswa menjadikan media-media hiburan, tren, dan pola pergaulan remaja umumnya, sebagai rujukan utama. Tentunya kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja karena hal ini juga berhubungan dengan proses-proses budaya popular yang digerakkan oleh kekuatan industri yang tidak terbendung. Ditambah sistem pendidikan yang ada sepertinya tidak membantu memperbaiki keadaan itu.

Untuk melihat bagaimana Jatinangor pada abad ke-21, sumber literatur utama yang dirujuk penulis adalah zine dan karya-karya persma (pers mahasiswa) yang pernah ada dari akhir abad ke-20 hingga dua dekade awal tahun 2000-an yang mengaitkan Jatinangor dengan semua peri kehidupannya. Cerita-cerita yang mereka terbitkan umumnya tidak ada di media massa mainstream karena sifat lokalnya. Dan begitulah cara jurnal, buletin, atau zine itu bisa eksis meski untuk waktu yang rata-rata tidak lama. Namun justru kesementaraan itulah yang membuat literatur lokal semacam itu menjadi harta karun tidak ternilai dalam memahami dinamika Jatinangor dalam kurun tiga dekade awal abad ke-21, sebelum tergerus era digital, termasuk media sosial dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Beragam zine, jurnal, buletin, dan selebaran terbatas di Jatinangor memuat begitu banyak sudut pandang tentang ragam permasalahan yang dijadikan bahasan. Dari kajian serius terkait filsafat hingga profil cewek cakep di kampus. Dari isu gay sampai runyamnya persoalan sampah.

Urutannya dari SUARA WARGA (JATINANGOR) edisi perdana 18 Mei 2001; MERE BEDJA (edisi perdana, Tahun 1 No.1/September 2002); JATINANGOR JATINANGOR! Guidebook, Agustus 2003), memuat banyak keterangan menarik pada masanya, berita terkait isu mungkin tidaknya dibangunnya “kebun binatang” di Jatinangor, informasi tempat makan, kos, wartel, warnet, dst.; serta KAKOEWATAN FIKIRAN, 4 Edisi –Oktober 2006, Mei 2007, Juni 2009, Juli 2010. Atau yang dibuat lingkungan kampus-kampus: PYRAMID (Fasa Unpad) Juni-Juli 2000; PADJADJARAN POST (Buletin Bulanan, Mei 2000 yang memuat wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer; CONTRAESQUE 7 Agustus 2001; RAJA KADAL #4 Agustus 2004;  FIKOMBABES #8 2005 (Fikom Unpad); APHORISMA (Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Unpad) 24 September 2002; DIE BLAETTER Edisi 3/Maret 2005 (zine khusus mahasiswa Sastra Jerman Unpad); DIURNA Juni 2006: Jalur mahal masuk Unpad, sampah di Bandung, warna-warni musik Unpad (dari Nasyid sampai Event Organizer), April 2007, Juni 2007, Januari-Februari 2008, Mei-Juni 2008; DJATINANGOR September 2005: Jatinangor: Kawasan Pendidikan atau Dagang?, September 2006, Mei 2007: Dibalik Isu Bangkrutnya Ikopin Jatinangor, Februari 2009, November 2010, Mei-Juni 2012, Desember 2012, Mei-Agustus 2013, April 2014-Agustus 2014; POT Januari 2007; POT Funzine tentang beda pendapat. Edisi Bahasa, Juni 2009; JEJAK MERDEKA No. 1 Tahun ke-1, Edisi Juli 2007; NADEZDA (Buletin Mahasiswa Sastra Rusia) November 2007; UNPADMAGZ 2007: tentang bis Damri, mal dengan tempat biliar dan karaoke, tentang Jatinangor yang suka bikin sebel mahasiswa karena struktur tanahnya gak rata yang menyebabkan sepatu cepat rusak, tentang Jatinangor yang sering macet parah selain jalanannya yang lumayan mengerikan karena banyak kendaraan gede yang lewat; OASE Buletin Sejarah-Budaya-Sastra (FIB Unpad) #3 Maret 2008, dilanjutkan BISIK (BICARA KLASIK) Edisi Oktober 2011, Agustus 2013, Volume 5 (?); BULETIN LANGKAH September 2009, Oktober 2009, November 2009, April 2010; AUFKLARUNG (lppmd Unpad) Edisi Agustus 2011, Edisi Oktober 2017;  BIROKRA (zine praja IPDN) Edisi 1,2 – Januari, 1,2 – Februari, 1,2 Maret, April, Mei, Juni 2010, Edisi Pengukuhan & November 2010; TINTA PENA SASTRA #2 Desember 2010, pembangunan Gedung baru di Sastra: Gedung D,  lantai pertama Museum Naskah Kuno (khususnya naskah sunda), lantai dua perpustakaan berbasis IT, lantai tiga aula serbaguna (6) (catatan penulis: tidak terealisasi); POLAR No. 01 Juli 2013, No. 2 Agustus 2013, POLAR Edisi Magang 2013; GENERA MAGAZINE #03 Oktober 2014 persma Faperta Unpad;  MAHASISWA INDONESIA Edisi Khusus–Unpad: Dikenal atau Dikenang? (No. 3/Oktober 2014); GABUTS Maret 2014, September 2014, Desember 2015; hingga GENTRA (Media Berita Unpad) Edisi Khusus Dies Natalis 53 (tanpa tahun).

Karya-karya pers mahasiswa di Jatinangor. (Foto: Anton Solihin)
Karya-karya pers mahasiswa di Jatinangor. (Foto: Anton Solihin)

Merawat Kota

Dengan riwayat yang membentang jauh, lalu bagaimana contoh merawat jati diri sejarah kota untuk kasus Jatinangor?

Di awal sudah dituliskan bahwa warisan kolonial tersisa di Jatinangor tinggal dua: Menara Loji dan Jembatan Cincin. Lalu bagaimana mungkin apartemen dibangun persis di sepanjang bentang Jembatan Cincin dan menutup akses atau hak masyarakat untuk menikmati pemandangan alam yang luar biasa? Dahulu, bila orang berdiri di atas jembatan itu dan melihat ke utara, dia akan menatap Gunung Manglayang, dan bila dia berbalik badan ke arah selatan, ditatapnya Gunung Geulis. Sekarang tidak mungkin itu terjadi. Suatu ketika seorang teman, profesor sejarah dari Oxford, Inggris, yang penulis ajak melihat apa yang terjadi, hanya bergumam singkat: stupid!

Belakangan, di “kawasan pendidikan” Jatinangor bisa ditemukan sebuah destinasi wisata megah yang (sungguh malang) berjarak tidak jauh dari bangunan Rektorat Unpad yang berbentuk sarang burung, yakni bangunan “kastil-kastil ala Eropa” dengan warna cat menyala. Termasuk bangunan serupa Kremlin, Rusia, cuma dalam ukuran lebih kecil. Betapa kontras! Selain merusak lanskap heritage, bangunan-bangunan ini mengganggu pemandangan di depan gedung rektorat Unpad, kampus yang mendapuk dirinya pusat peradaban dan pusat ilmu pengetahuan, serta menginginkan dirinya menjadi world class university. 

Apa lagi penanda “internasionalisasi" di Jatinangor? Mungkin banyaknya tipe “toponimi baru” yang seolah mengisyaratkan hubungan antara Jatinangor dengan Uruguay atau Semenanjung Iberia, Simak nama-nama kos-kosan di kawasan ini Casa Elegante, Casa de Aminda, Casa de Fiore, Casa de la Madre, Casa Mia, Casa de Is. Tengok juga nama-nama kompleks perumahannya: Cordoba, Sevilla, Granada, Andalusia, atau Lalagoon Waterpark.

Semua penamaan ini tidak ada urusannya dengan fenomena sister city dengan kota di Spanyol.Memangnya kita akan menemukan nama-nama Cisempur, Jatiroke, atau Dangdeur sebagai nama apa pun di Montevideo, Madrid, atau Barcelona? 

Cerita lain datang dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ketika pada tahun 2021 berencana mengembangkan kampus di Jatinangor. Yang ditonjolkan ketika itu adalah penerapan teknologi digital 4.0 untuk menjadikan Jatinangor Valley ibarat Silicon Valley ala California,. Lalu apa hasilnya pada 2026? "The Silicon Valley of Jatinangor" (TSVOJ) adalah julukan untuk proyek mega-apartemen dan kawasan terpadu dari sebuah kelompok pengembang yang dirancang khusus untuk mahasiswa dengani peruntukan sewa atau beli unit apartemen di sekitar kawasan kampus. Ya, contohnya-contohnya seabsurd itu!

Isu soal pengaktifan kembali jalur Rancaekek-Tanjungsari sudah berembus sejak 2009, dan hingga kini tetap dalam posisi “menjadi rahasia umum” dan kasak-kusuk tidak jelas juntrungannya. Namun dari brosur promosi sebuah apartemen (2019) kita akan menemukan catatan yang tidak biasa atau bahkan mencengangkan. Dalam peta yang dibuat pengembang, rupanya jalur lama kereta api yang sudah mati nantinya adalah lanjutan jalur kereta cepat dari arah Bandung/Rancaekek yang nantinya mengarah ke Bandara Kertajati di Majalengka dan yang dinamakan stasiun–sepertinya persis di sekitar Gedung Komunitas Unggulan Unpad. Barangkali itu menjelaskan mengapa banyak apartemen dibangun di kawasan ini. Para oligark atau pemilik modal sudah tahu site plan ke depan seolah-olah mereka adalah futurolog tanpa kita semua menyadarinya.  

Brosur promosi sebuah apartemen tahun 2019 yang memuat rencana reaktivasi jalur kereta Tanjungsari-Rancaekek. (Foto: Dokumentasi Anton Solihin)
Brosur promosi sebuah apartemen tahun 2019 yang memuat rencana reaktivasi jalur kereta Tanjungsari-Rancaekek. (Foto: Dokumentasi Anton Solihin)

Baca Juga: Literatur Terkait Indonesia di Masa Uni Sovyet, Cerminan Apa?
Babi, ‘Babi’, dan Pesta Babi
Membaca Kembali Catatan Supriatna tentang Jatinangor Bareto

Kampus-kampus Hari Ini 

Untuk memahami seperti apa ruang publik Jatinangor, penulis menyarankan para petinggi kampus-kampus dan para birokrat yang berdiam di “menara gading” untuk sering-sering jalan kaki, blusukan menyusuri jalanan “kota” yang secuil ini. Silakan mendalami banyak aspek yang selama ini kelihatan sepele dilihat dari mobil ber-AC. Dari sekedar berjalan kaki, akan segera tampak bahwa nyatanya bersihnya kampus (meskipun tidak selalu bersih juga) cuma sampai di batas gerbang. Keluar sedikit dari pagar kampus, sampah menggunung di mana-mana: dari got hingga jalanan, seperti pameran egoisme massal. 

Penulis tinggal di Jatinangor sejak 1999, di awal era apa yang disebut “Reformasi”, dan pengertian “membuang sampah” ketika itu adalah membawanya dengan tolombong untuk dibuang di belukar yang kini bernama Mall Jatos. Di era berikutnya, ada mantan mahasiswa yang berinisiatif membeli mobil pickup rongsok untuk membawa sampah, dan kita warga membayar iuran untuk jerih payah ini. Di masa berikutnya, sampah dibawa tukang berangkal, lalu entah dibuang di mana–pokoknya jauh dari rumah. Belakangan, sejak 2010 sampah dikelola semacam komunitas: Komunitas Peduli Sampah Jatinangor (KPSJ).

Belum lama pola ini berlalu, ada cerita lucu tentang seorang PNS entah dari kelurahan atau kecamatan yang memaksa membeli sapu dan pengki yang dipakai penjual bubur ayam di depan rumah pagi-pagi benar. Rupanya (Gubernur) KDM sedang dalam perjalanan entah ke mana dan dia akan lewat Jatinangor. Para aparat kelurahan dan kecamatan dibuat gelagapan, barangkali karena mereka belum siap dengan perlengkapan bersih-bersih itu tadi.

Itu contoh kecil terkait soal karut-marut pengelolaan birokrasi di Jatinangor yang  sudah banyak dibahas dan dikeluhkan. Selain sampah, ada kemacetan di waktu-waktu tertentu, akses pejalan kaki yang buruk, penampakan kendaraan besar sampai truk pengangkut tanah dan batu bara yang sibuk hilir mudik persis di depan kampus, ketidakpatuhan berkendara yang kasat mata, pendirian beragam bangunan kos dan usaha pada lahan sawah yang subur atau tebing curam, franchise besar hingga lokal yang berlomba-lomba hadir di tengah mahasiswa: Starbucks, McD, Fore, dan lainnya, serta obyek wisata water boom yang berdiri di belakang kuburan.

Juga di masa-masa awal penulis tinggal di Jatinangor, berita kampus yang menjadi sorotan publik bukan terkait pencapaian “dunia kampus” yang membanggakan, tetapi kabar duka menyangkut tewasnya praja Ery Rahman (2000), Wahyu Hidayat (2003), dan Cliff Muntu (2007). Rentetan tragedi itu memunculkan banyak keprihatinan dan melahirkan banjir buku: Maju Tak Gentar Membongkar Tragedi IPDN, Mereka Membunuhku Pelan-pelan, Membongkar Kasus IPDN: Potret Hitam Pendidikan (Birokrat) Indonesia, Kampus Maut! Fakta-fakta Paling Rahasia dari Aksi kekerasan di IPDN, IPDN Undercover, dan Tragedi IPDN: Kesaksian Para Korban dan Komentar Pakar. Doktrin norak yang acapkali mengemuka waktu itu: “Binalah juniormu dengan cara menyentuh hatinya. Kalau tidak bisa, sentuhlah ulu hatinya.” Atau juga: “Bila tidak bisa diluruskan, maka patahkan!

Sungguh ironis! Bukan deretan kisah pilu yang ingin kita dengar dari hadirnya IPDN di Jatinangor. Malahan seharusnya sekolah kedinasan ini bisa dijadikan acuan untuk birokrasi pengelolaan kota (kecil) seperti Jatinangor. 

Tidak berselang lama dari kejadian itu, pada 2010 Universitas Winaya Mukti (Unwim) yang dikelola Pemprov Jabar kolaps dan diambil alih oleh ITB. “Otomatis kita jadi perguruan tinggi tunawisma, karena tidak punya rumah," kata Rektor Unwim Endang Sufiadi saat itu (Okezone News, 27/9/2010), menyisakan kampus yang terbengkalai dan berakhir dijadikan tempat lokasi syuting acara hantu-hantuan sebuah stasiun televisi.

Keberadaan Ikopin (Institut Koperasi Indonesia) sejak lama diposisikan sebagai “kawah candradimuka“ untuk riset koperasi, tapi apa betul begitu realitasnya? Kalau betul, Koperasi Merah Putih yang ramai belakangan ini seharusnya digodok di tempat ini dan menjadi contoh riset koperasi terbaik, dong! Koperasi-koperasi yang dibentuk berdasar inisiatif warga dan kampus juga seharusnya banyak berdiri di sini. Namun apa mau dikata! Persis di depan gerbang kampus Ikopin, malahan berdiri  seolah-olah menantang bangunan waralaba seperti Indomaret atau Alfamart. 

Tentang Unpad, sudah menjadi rahasia umum bahwa kini kampus ini masuk kategori “bendera merah” untuk riset dan jurnal ilmiah. Tidak mengherankan! Dalam kurun 2018-2026 penulis menulis sejumlah artikel terkait ketidaklayakan dan permasalahan menyangkut perilaku buruk akademisi termasuk para doktor dan profesor dari Unpad yang menulis buku, naskah akademik, dan jurnal ilmiah abal-abal. Namun sayangnya, hingga tulisan ini dibuat, tidak satu pun tulisan itu mendapatkan tanggapan yang pantas. Artikel-artikel itu boleh jadi merupakan contoh, semacam puncak gunung es dari “buruk rupa akademik” dunia kampus di Jatinangor yang rupanya dibiarkan berlarut-larut. Dan ini sungguh tragedi yang memalukan! 

Bila tahun 1918/1919 Kerkhoff memuji Jatinagor sebagai “surga” lalu pada 1983 penyair Itjang menyebutnya “neraka”, Jatinangor sekarang harus kita sebut apa?

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//