Literatur Terkait Indonesia di Masa Uni Sovyet, Cerminan Apa?
Anggaplah tulisan ini semacam pengantar untuk hal-hal umum menyangkut literasi Uni Sovyet hingga Rusia yang terkait Indonesia pada rentang (1922-1991).

Anton Solihin
Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor
3 April 2026
BandungBergerak – Orang Rusia selalu berbangga hati. Dikatakan: “Sejarah bangsa Inggris atau Jerman ialah riwayat suatu bangsa. Sejarah orang Rusia adalah riwayat sejumlah raksasa.”
Kebanggaan semacam itu barangkali yang menjadi alasan mengapa seorang guru besar di Unpad “dengan bangga” selama bertahun-tahun selalu (atau melulu) mengulang-ulang mengucapkan kalimat (yang tampak ganjil) ini di ruang kelas kuliahnya: “Saya adalah sejarawan perempuan pertama yang menginjakkan kaki di Kremlin…” Kremlin adalah sebutan untuk lapangan luas di tengah kota Moskow.
Ganjil? Tentu saja. Sebagai bandingan, kita sering mendengar kalimat bernilai historis seperti: “Neil Armstrong adalah orang pertama yang menginjakkan kakinya di bulan”, atau bahkan ini, “Yuri Gagarin adalah manusia pertama yang berada di luar angkasa, mengorbit bumi”. Gagarin mengatakan, ”Setiap kali manusia terlibat penemuan baru, ia mendapatkan kepuasan batin yang paling dahsyat!” Tidak ada yang ganjil dengan cerita soal Gagarin, begitu membanggakannya peristiwa ini, sampai-sampai pada tahun 1964, dalam kunjungan ke Moskow (atau Moskwa), Presiden Sukarno menganugerahkan Bintang Jasa Mahaputra kepada Cosmonaut Gagarin.
Subyek yang dibicarakan pada tulisan ini adalah Uni Sovyet. Semula merupakan empat republik (Rusia, Ukraina, Belorussia, dan Transkaukasia), dan pada tahun 1956 berkembang menjadi 15 negara Republik Sovyet, termasuk Estonia, Latvia, Lithuania, Moldova, Georgia, Armenia, Azerbaijan, Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Turkmenistan.
Singkatan dalam alfabet Kiril (СССР) untuk Soyuz Sovetskikh Sotsialisticheskikh Respublik, yang berarti Uni Republik Sosialis Sovyet (URSS/USSR) dalam bahasa Rusia, sering kali penulis lihat pada jaket almamater mahasiswa Sastra Rusia. Ini adalah nama resmi negara Uni Sovyet.
Uni Sovyet pada masanya (1922-1991) merupakan federasi yang menganut sistem satu partai (Partai Komunis), yang geografi wilayahnya mencakup setengah Eropa dan sepertiga Asia, dengan Moskow sebagai ibu kota. Uni Sovyet runtuh pada Desember 1991.
Dilihat dari luas, Uni Sovyet adalah negara yang sangat besar. Itu sebab, untuk memahaminya harus juga berpikir terkait hal-hal besar. Katakanlah misalnya dunia sastra. Penulis-penulis Sovyet (khususnya Rusia) sudah lama dikenal luas dan karya-karyanya dibaca khalayak masyarakat negeri ini. Penulis besar banyak dilahirkan di sana, termasuk yang dianggap terbesar seperti Leo Tolstoy, Anton Chekov yang didaulat sebagai bapak cerpen, atau karya-karya penulis yang belakangan popular lagi sebagaimana Dostoyevsky. Museum, monumen, dan theatre dibangun untuk mengabadikan nama-nama mereka, termasuk untuk Mayakovsky, Gorky, Pushkin dan Gogol.
Meski begitu, dalam perspektif Indonesia, bagaimana kita memaknai Uni Sovyet, apa saja catatan tersisa yang bisa ditulis ulang?
Setidaknya terdapat dua jurusan bertajuk Sastra Rusia (dahulu dikenal sebagai Sastra Slavia), yakni di Universitas Indonesia (UI). Sastra Rusia di UI ini dibuka kembali pada tahun 1973 setelah ditutup tahun 1965; dan di Universitas Padjadjaran (Unpad) berdiri tahun 1962. Artinya, Sastra Rusia sebagai kajian berada dalam posisi kategori langka bila rujukan pembanding adalah sastra asing lain seperti katakanlah Sastra Inggris atau Sastra Arab yang ada di berbagai pelosok.
Meski Sastra Rusia terlihat kecil saja, kita mengenal pesohor yang merupakan alumni jurusan itu. Dari UI ada Menteri Kebudayaan Fadly Zon dan Ayu Utami seorang penulis terkemuka yang dikenal pertama kali berkat novel kontroversial berjudul Saman.

Dari Unpad sendiri, mungkin segelintir orang mengenal nama Tines R. yang menerjemahkan karya A.P. Tjechov dalam Kebun Tjeri (Pustaka Jaya: 1972) dan pada 2004 terbit Kumpulan Terjemahan Karya Sastra Rusia yang dihasilkan antara 1972-1979 oleh H. Moh Tadjuddin (Penerbit Alumni).
Pada tahun 2024, Trisna Gumilar, staf pengajar pada Jurusan Sastra Rusia Unpad (yang pada 2002 menerjemahkan cerpen Anton Chekov berjudul Kesedihan dan dimuat Harian Kompas), menulis disertasi di FIB Unpad bertajuk “Konstruksi Maskulinitas dalam Percakapan Laki-laki di WhatsApp Group Komunitas Sepeda Kota Bandung”, yang kemudian dipakai untuk bahan mata kuliah umum Pengkajian Budaya: Boys Will Be Boys Presentation, judul power point-nya. Dalam pandangan penulis, seorang dosen Sastra Rusia menyusun karya ilmiah seperti di atas seperti cerminan. Menampakkan situasi yang merisaukan.
Tema disertasi ini, merupakan pemicu, membuat penasaran–yang akhirnya di benak penulis keruan menumpuk banyak pertanyaan–sebegitu tidak ada hal menarik lagikah yang bisa ditulis menyangkut Rusia, setidaknya terkait zaman Uni Sovyet (1922-1991) sebagai umpama?
Toh itu bukan satu-satunya alasan mengapa perlu tulisan semacam ini.
Pencatatan seperti tulisan ini sebetulnya, seharusnya, dan semestinya dikerjakan oleh jurusan itu tadi, Sastra Rusia. Ya, apa hendak dikata. Apakah CCCP sekedar emblem pada jaket almamater?
Dalam menjelaskan soal ini, penulis coba melacak eksistensi Uni Sovyet dalam literasi menyangkut Indonesia pada rentang yang panjang (1922-1991). Artinya, dalam tulisan ini melulu hanya dalam era Uni Sovyet. Anggaplah tulisan ini semacam pengantar untuk hal-hal umum saja menyangkut literasi Uni Sovyet terkait Indonesia.
Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Uni Sovyet tahun 1950. Tidak lama kemudian, pada Festival Pemuda dan Pelajar Se-Dunia per dua tahun sekali, yang digagas Uni Sovyet selama Perang Dingin – yang penyelenggaraan tahun 1957 diadakan di Moskow, Indonesia mengirim rombongan besar termasuk Mang Koko, Rijono Pratikno, Sampan Hismato dan Rendra. Selama seminggu “Si Burung Merak” dan rombongan naik kereta api dari Kowloon, Hongkong ke Moskow. Perjalanan ribuan kilometer Trans Siberia itu amat berkesan dan diabadikan Rendra dalam cerpen berjudul Wasya Ah, Wasya (1961), yang sayangnya tidak kita temukan pada kumpulan cerpen satu-satunya yang ditulisnya (Ia Sudah Bertualang, Nusantara: 1963).
Tercatat dua film Indonesia dari para sineas hebat mengambil inspirasinya dari karya Sastra Rusia–Tamu Agung (Usmar Ismail, 1955), yang ditulis berdasar naskah drama komedi Nikolai Vasilievich Gogol: Inspektur Jendral, dan ‘Si Mamad’ (1972) yang diperankan Mang Udel (karya Sjumandjaja yang memang lulusan sekolah film di Uni Sovyet), dan naskahnya berasal dari karya Anton Chekov yang berjudul Smert' Chinovnika (the Death of A Government Clerk). Dua film langka ini pernah diputar pada Movie Madness Batu Api (2016).
Sebaliknya, tulisan mengenai film Sovyet, tidak banyak kita temukan. Penulis mencatat uraian bab khusus perfilman Sovyet yang menarik pada buku Publisistik Film (Oey Hong Lee, 1965), yang memuat angka rata-rata belasan film Uni Sovyet yang diputar di bioskop Indonesia antara 1955-1963, namun eksistensinya lenyap tak berbekas setelah masa Orde Baru. Buku lain yang mengulas film Uni Sovyet adalah Film Pinggiran (Gotot Prakosa, 1997). Sementara barangkali, pemutaran di luar kelas sekolah film, pekan film sineas Sovyet baru terealisasi jauh setelah Sovyet bubar–sebagaimana ditulis Leila S. Chudori, Bait-bait Puisi Tarkovsky, D&R, 27 Juni 1998.
Selain film, dalam konteks ini kita bisa menemukan prosa, puisi, naskah drama, tradisi, sejarah hingga cerita anak-anak. Nama-nama terkemuka berperan dalam memperkenalkan literasi Uni Sovyet di Indonesia: Pramoedya Ananta Toer, Idrus, Barus Siregar, L.E. Hakim, Gayus Siagian, Trisno Sumardjo, The Eng Gie, Iwan Simatupang, Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Taslim Ali, M. Radjab, Asrul Sani, Dodong Djiwapradja, Suwarsih Darsoprayitno, Hasjim Djalal, hingga Koesalah Soebagyo Toer, yang penulis anggap Bapak Sastra Rusia di Indonesia.
Memasuki tahun 1960an, selain buku-buku terkait Uni Sovyet berbahasa Indonesia, kita bisa menemukan buku-buku berbahasa Inggris terbitan Foreign Languages Publishing House Moskow (lihat gambar foto). Di Bandung misalnya, buku-buku itu beredar luas, dan waktu itu bisa didapat salah satunya pada Toko Buku Parahiangan, di Jalan Asia- Afrika No. 77.

Baca Juga: Unpad dan Orang-orang Kiri
Anomali Perempuan Indonesia: Dari Door Duisternis Tot Licht, Buiten Het Gareel, hingga School Revolution
Pengalaman Berhubungan dengan Buku Sejarah Nasional
Dari Karya Fiksi dan Non-Fiksi
Kita bisa merunut beragam karya fiksi, yang umumnya, terutama berasal dari negara utama federasi itu, Rusia–untuk menjelaskan betapa dalam rentang waktu yang panjang–begitu tinggi hasrat untuk menerjemahkan literatur bangsa yang begitu kaya tersebut, dan untuk itu kita bisa menikmati karya-karya penulisnya.
Barangkali data ini belumlah lengkap:
- Rumah Mati di Siberia.M. Dostojewsky. Balai Pustaka: 1949
- 8 Kissah dari Russia. Jajasan Pembangunan: 1951.
- Kereta Api Badja 1469. Vselovod Iwanow. Perpustakaan PP dan K. Djakarta: 1955.
- Djatuhnja Seorang Dewa. Igor Gouzenko. Timun Mas Djakarta: 1956.
- Maxim Gorky. Yayasan Pembaruan 1956, Kalyanamitra: 2002
- Puteri Kapten. A.S. Pushkin. Penerbit Tenaga Djakarta, 1957.
- Dokter Zhivago. Boris Pasternak. Djambatan: 1960, 1984, 1990.
- Bintang-Bintang Bulan Agustus. Nikolai Gribachov. NV Nusantara Bukittinggi-Jakarta: 1963.
- Membalas Dendam. Maxim Gorky. NV Nusantara Bukittinggi-Jakarta: 1963.
- Anak Ketjil dengan Biolanja. Pavel Vezhinov. Balai Pustaka: 1969.
- Pada tahun 1969 terbit buku-buku cerita anak dengan ilustrasi yang khas: Masja Jang Pintar, Murai Lambung Putih, dll. yang diterbitkan Penerbit Progress Moskwa (lihat gambar).
- Tarass Boulba (Pahlawan Bangsa Kozak). Nikolaj Gogol. Balai Pustaka: 1972.
- Cinta Pertama.S. Turgenev. Pustaka Jaya: 1972
- Setidaknya pada 1976 Gramedia menerbitkan buku-buku kecil nan ringkas Cerita dari Rusia seperti: Atas Kuasa Raja Ikan, Simon dn Orang Bercahaya, Pedang dan Jambu, Burung Dara Putih, Simizar Putera Raja Zarzand (cerita dari Armenia). Semuanya ditulis dengan cara diceritakan kembali oleh F.B. Indradi.
- Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich. Alexander Solzhenitsyn. Pustaka Jaya: 1976
- Rumah Tangga Yang Bahagia. Leo Tolstoy. Pustaka Jaya: 1976.
- A Pushkin. Karya Kencana Yogyakarta, 1982.
- Inspektur Jenderal. Nikolai Gogol. Pustaka Jaya, 1986.
- Antara Ayah dan Anak. Ivan Turgenev. Pantja Simpati: 1986.
- Kumpulan Cerpen Anton Chekov. Pantja Simpati: 1986.
- Anton Chekov (Ulasan, Hidup dan Karya-karyanya). The Eng Gie (editor), dan Fyodor Dostoyevsky (Hidup dan Karya-karyanya). Kedua buku ini diterbitkan Karya Kencana Yogyakarta pada tahun 1981.
Terdapat juga cerita pendek, puisi, resensi buku, kritik, dan profil sastrawan pada majalah, surat kabar, dll. Ada masa di masa rezim Orde Baru, ketika para pembangkang Uni Sovyet seperti Boris Pasternak, Alexandrovich Brodsky, atau Alexander Solzhenitsyn mendapat tempat khusus dalam banyak ulasan pada majalah seperti Horison & Tempo. Solzhenitsyn, yang kemudian terusir dan menjadi eksil, memang pernah mengatakan, “Kehadiran seorang penulis besar bagi sebuah negara sama dengan kehadiran pemerintah kedua. Itu makanya tidak pernah ada rezim yang senang dengan kehadiran penulis-penulis besar, kecuali penulis kecil!”
Buku non fiksi yang dihasilkan dalam Bahasa Indonesia pun begitu beragam. Sebagai contoh, misalnya catatan perjalanan. Jauh setelah Nikolai Mikluho-Maklai menuliskan pengembaraannya di Tanah Papua di abad 19, dan Bakunin menulis buku Tropical Holland, Five Years in Java (1902).
Sejumlah orang Indonesia pun menuliskan pengalamannya di Rusia selama masa Uni Sovyet. Di antaranya Bertamasya di Belakang Tabir Besi. Jusuf Wibisono. Bulan Bintang: 1953, 1981. Bagian paling menarik dari buku ini adalah cerita yang diberi judul “Bertamasya Bersama Saudara Semaun”; Suka Duka Beladjar di Uni Sovjet. A. Sjukri Hadjat (artikel pada Majalah Intisari, no.66 Djanuari 1969); Kapitalisme Soviet? (Sebuah Catatan Perjalanan), Tjipta Lesmana, Erwin-Rika Press: 1987; Kampus Kabelnaya (Menjadi Mahasiswa di Uni Sovyet). Koesalah Soebagyo Toer, KPG: 2003.

Di sisi lain kita akan menemukan beragam tema literasi: lelucon, spionase, politik, film, balet, musik, biografi, bahasa, bahkan agama. Buku-buku dengan subyek seperti itu, di antaranya:
- Sedjarah Sovjet Rusia. Jean Bruhat. Penerbit Kebangsaan Pustaka Rakjat NV Djakarta: 1954.
- Keradjaan Maut (Pengalaman Dua Orang Spion Soviet). Vladimir & Evdokia Petrov. Tintamas: 1958.
- Bahasa Rusia (Kursus Permulaan). Nina Potapova. Badan Penerbit Buku-buku Bahasa Asing: 1960.
- Sovjet Rusia dan Dunia Islam (1917-1956). Ivar Spector. Pusaka: 1960.
- Rasputin the Mad Monk of Russia. Penerbit Rose Djakarta: 1964.
- Damha (terdjemahan bebas) Dasar Sedjarah Rusia Moderen. Hans Kohn. Bhratara: 1966.
- Pengungsian Besar Bangsa Kazak. Godfrey Lias. Penerbit Endang Djakarta: 1973.
- Perestroika (Pemikiran Baru Untuk Negara Kami dan Dunia). GAP: 1987.
- Mati ketawa Cara Rusia. Z. Dolgopolova (penyunting), yang menariknya diterjemahkan langsung dari Bahasa Rusia. Grafitipers: 1986.
- Perestroika Dalam Perspektif (Strategi dan Dilema Gorbachev). Padma Desai. Grafiti: 1990.
- Mikhail S. Gorbachev (Sebuah Biografi Penuh Keakraban). Editor Majalah Time. Gramedia: 1991.

Sebaliknya, banyak juga orang di masa Uni Sovyet yang meminati, mengkaji, meneliti apa pun terkait Indonesia, dan juga menerjemahkan karya Sastra Indonesia ke Bahasa Rusia, sekaligus mencintai Indonesia setengah mati - untuk itu kita menyebutnya Indonesianis (asal Uni Sovyet).
Dinamika kajian mengenai Indonesia di Rusia yang rupanya suatu masa pernah begitu gempita, dengan menarik dan detail diuraikan Alex Supartono dan Lisabona Rahman dalam Studi Indonesia di Rusia (Sebuah Rumah Sejarah yang Alpa Disinggahi), yang dimuat Harian Kompas, 6 Juli 2001.
Artinya, setelah era 2000-an pencatatan semacam itu mulai mengemuka.
Di waktu berikutnya, dokumenter Gerimis Kenangan dari Sahabat Terlupakan (Seno Joko Suyono, 2006) menambahkan secara signifikan dan amat membantu menyusun katalogisasi Indonesianis (asal Uni Sovyet) yang penulis maksud).
Pada artikel Suka Duka Belajar di Uni Sovjet, Sjukri Hadjat–diceritakan olehnya betapa sangat populernya lagu Tanah Airku (Lambaian Pulau Kelapa) pada masa itu di Uni Sovyet, keunikan yang kira-kira serupa dengan popularitas Bengawan Solo-nya Gesang di Jepang. Kisah lama itu (1969) dibuktikan pada dokumenter Gerimis Kenangan ...: sopir taksi di Moskow menyanyikannya di jalanan dalam Bahasa Rusia, begitu juga yang dengan riang dilantunkan seorang perempuan penjaga toko buku di Museum Hermitage di St Petersburg. Gerimis Kenangan…rupanya hanya merekam secara visual segelintir saja dari apa yang dicatat Alex Supartono dan Lisabona Rahman.
Berikut beberapa Indonesianis yang sempat terdokumentasi dalam film tersebut:
- Ludmila Demidyuk (pengajar di Universitas Negeri Moskow).
- Yuri Sholmov (murid Semaun, Konjen Pertama Rusia di Indonesia). Beliau disebutkan yang pertama membuka siaran Bahasa Indonesia. Diperlihatkannya dalam film. Diktat pelajaran Bahasa Indonesia di Rusia yang disusun oleh Semaun dan Musso. Lev Dyomin (murid Semaun, mantan wartawan Pravda).
- Vladilen Vasilevitch Sugaev (juru bicara Rusia saat kedatangan Bung Karno): dikatakannya Soekarno ke Uni Sovyet tahun 1956, 1959, 1960 dan 1964–ke Moskow, Leningrad, Tashkent, dan Sochi. Soekarno berpidato di Stadion Luzhniki, yang lalu menginspirasinya untuk membangun Stadion Utama GBK Senayan.
- Vladilen Tsyganov (pengamat politik Indonesia): “Kruschev memberikan kepada Soekarno tiruan lambang manusia pernah pergi ke luar angkasa.” Artikel mengenai profilnya dimuat Harian Kompas, 23 Agustus 2004).
- Natalia Alieva (Ahli linguistik Austronesia): menurutnya bahasa Rusia sulit dipelajari, sangat banyak morfologi dan sulit dipakai. Menulis buku Gramatika Bahasa Indonesia (dalam huruf Rusia).
- Vilen Sikorsky (Sejarawan Sastra Indonesia): “Sastra Indonesia tidak pernah dimulai dari Balai Pustaka. Sastra Indonesia harus direvisi.”
- Alexei Drugov (mantan perwira penerjemah di Vladivostok dan juru bicara Laksmana Chernobyl), beliau dikirim ke Indonesia tahun 1962. Artikel mengenai profil Drugov ini juga ditulis Subhan SD (Harian Kompas, 20 Oktober 2008).
- Prof Dr. Larisa Efimova (peneliti arsip-arsip Stalin yang ditujukan kepada Aidit). “Ada satu surat Stalin kepada Aidit yang ditulis dua minggu sebelum kematiannya. Kritiknya dalam surat itu: PKI terlalu radikal!” Tulisan Larissa kemudian dibukukan, dan terbit dalam Bahasa Indonesia (Dari Moskow ke Madiun? Stalin-PKI dan Hubungan Diplomatik Uni Soviet-Indonesia, 1947-1953, Syarikat: 2010.
- Dr. Alexander Oglobin (ahli tata Bahasa Jawa Kuno).
- Aleksandra Kasatkina (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas St. Petersburg).
- Elena Revunenkova (ahli Batak Kuno di Museum Kunstkamera St Petersburg): “terdapat 6000 artefak dari Indonesia.”
- Irina R.Katkova (Institut Ketimuran): Peneliti tradisi kesufian Melayu di Russian Academy of Sciences Petersburg.
- dan Vladimir Lesyagin (penyusun kamus Rusia–Indonesia), termasuk kamus peribahasa dan kamus ungkapan. Di perpustakaan pusat Moskow beliau sebutkan menemukan banyak karya sastra Melayu Rendah dalam berbagai surat kabar.
Sejumlah artikel di Harian Kompas, terutama di awal era 2000-an juga memuat sejumlah sosok penting dari era Sovyet, misalnya Lev Dyomin yang tergila-gila pada lukisan Raden Saleh; Sychev Victor seorang pakar Islam, yang menulis “Indonesia dan Gerakan Islam Asia dan Afrika 1945-1975”; Igor Kashmadze, penyiar radio Moskow berbahasa Indonesia; Prof. Dr. Jenny MT Hardjatno (Rusiolog pertama lulusan Sastra Slavia UI); hingga Awal Uzhara, sutradara film dari era 1960-an yang kemudian selama puluhan tahun menjadi eksil hingga kepulangannya ke Indonesia pada tahun 2014.
Masa akhir Uni Sovyet dengan sangat bagus tergambar dalam dokumenter hebat yang dibuat BBC. Trauma Zone 1985-1999 - What It Felt Like To Live Through the Collapse of Communism & Democracy. Masa akhir Uni Sovyet menarik untuk disimak, persis sebagaimana judul, “Bagaimana Rasanya Mengalami Keruntuhan Komunisme & (tetapi sekaligus juga (‘keruntuhan’)…) Demokrasi!” Gorbachev, Yeltsin hingga Putin pada film dikesankan sebagai para pemimpin popular dengan pemerintahan yang tidak popular.
Banyak hal menarik terungkap di ujung kisah Uni Sovyet sebelum bubar.
Rupanya dahulu di Uni Sovyet terdapat Lembaga Arsip yang menyimpan buku-buku yang dilarang beredar. Ditunjukkan antara lain: (tentu saja) buku-buku terkait Nazi seperti Hitler’s Germanic Legion, Pictorial History of the SS 1923-1945; tetapi juga (ini yang unik)–Royal Wedding (Pernikahan Pangeran Charles dan Lady Di (Hugo Vickers); novel Ian Fleming, James Bond ke-5 -From Russia with Love (1957); kumpulan partitur lagu–The Beatles Complete; hingga the Anarchist Cookbook.
Pada Selingan Majalah Tempo, 24 Oktober 1987, di akhir rezim Sovyet itu, digambarkan bahwa bahkan Gary Kasparov, si jenius catur dari Baku, tak cuma berjuang di papan catur sebelum merebut mahkota juara dunia tetapi juga ia harus menghadapi jaringan “mafia pejabat catur” di Uni Sovyet.
BBC menangkap melalui kamera apa pun yang dianggap menarik, kehidupan sehari-hari ataupun sesuatu yang dianggap baru di akhir era Uni Sovyet: anak perempuan pengemis di perempatan lampu merah, pabrik kue Bolshevik Biscuit Factory, klub malam, punk rock Sovyet, peragaan busana, pembukaan gerai McDonald yang meriah, Rusia disebut negara pertama yang melegalkan aborsi, pertama kali adanya seminar motivasi, pembuatan film cabul secara amatir, penginjil Amerika berkhotbah di Rusia dan Ukraina, rap hiphop ala Soviet, dan juga ririungan menyanyi karaoke di udara terbuka di Byshkek Kyrgizstan!
Di ujung masa rezim Uni Sovyet itu segalanya tampak berantakan (Dari Kabut Politik Kremlin: Gorbachev, dalam Selingan Majalah Tempo, 11 Mei 1985), Nixon Tentang Gorbachev (Selingan Majalah Tempo, 23 April 1988), Laporan Utama Majalah Tempo: Membengkokkan , Atau Meluruskan Komunisme’(2 Juli 1988).
Pada April 1986 terjadi dua ledakan besar di Pembangkit Listrik Chernobyl di Ukraina, yang berdampak luas di seluruh Ukraina, Belarus, dan Rusia. Otoritas di Moskow berusaha menyembunyikan apa yang terjadi (Chernobyl: Momok “AIDS Nuklir”, dalam Selingan Majalah Tempo, 11 Mei 1991). Untuk perspektif yang lebih luas dan baru, belum lama juga dibuat dan rilis Serial Chernobyl (2019).
Sistem medis negara juga telah hancur. Dokter, perawat, guru, banyak yang kabur ke luar negeri, mencari penghasilan yang lebih baik. Korupsi tumbuh makin parah. Ekonomi terjun bebas.
Berlin telah runtuh dan negara-negara Blok Timur telah membebaskan diri dari kendali Moskow.
Namun Gorbachev (pemimpin terakhir Uni Sovyet) masih percaya dia bisa menyelamatkan Komunisme. Dan mempertahankan Uni Sovyet. Dia akan melakukannya dengan mereformasi rencana tersebut. Para penguasa yang menjalankan sistem Sovyet disebut Nomenklatura.
Boris Yeltsin berpikir Nomenklatura telah menjadi kelas yang mementingkan diri sendiri yang tidak percaya pada apa pun. Apa yang akan direncanakan Sovyet telah menjadi tampak absurd dan penuh dengan korupsi, dan komunisme tidak dapat bertahan. Yeltsin (presiden pertama negara Rusia) percaya bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan Rusia adalah dengan mengakhiri sistem komunis sepenuhnya.
Pada Juli 1990 Yeltsin mengumumkan bahwa dia meninggalkan partai komunis. Dia akan melayani “kehendak rakyat” sebagai gantinya. Dia berjanji akan menyingkirkan "kediktatoran pusat". Yeltsin mengatakan bahwa rencana itu telah menjadi "kejahatan terhadap rakyat Rusia” (Sebuah Pembelaan Untuk Boris Yeltsin, Selingan Majalah Tempo, 29 Mei 1993).
Yeltsin berjanji membawa ekonomi pasar ke Rusia dan melakukan reformasi ekonomi: “Kita takut yang lebih buruk.”
Gorbachev sangat marah. Nomenklatura takut Yeltsin akan membawa Rusia keluar dari Uni Sovyet. Jika dia melakukannya, tidak akan ada yang tersisa. Dan kekuasaan mereka akan runtuh.
Republik-republik di dalam Uni Soviet tidak lama kemudian melepaskan diri dari kendali Sovyet.
Gorbachev telah mengizinkan semua republik di Uni Sovyet untuk memilih presiden mereka sendiri.

Boris Yeltsin berkampanye untuk menjadi presiden pertama Rusia (Jadi Apa (bekas) Uni Sovyet? dalam Selingan Majalah Tempo, 21 Desember 1991; Setelah Gorbachev Menang’, Majalah Tempo, 30Maret 1991).
Pada sisi lain, sebetulnya Pemerintah Rusia telah kehabisan uang. Meskipun telah dilakukan privatisasi, pemerintah masih mengendalikan banyak industri kunci yang vital bagi masyarakat.
Tetapi rupanya para petualang politik, mafia, gangster Rusia dan pejabat pemerintah yang korup juga menginginkannya (Mafiozonik di Tengah Krisis Ekonomi , Selingan Majalah Tempo, 22 Januari 1994; Zhirinovsky, Pemimpin dari Jalanan, Selingan Majalah Tempo, 14 Mei 1994).
Di tengah kekacauan, kekuasaan oligarki terus tumbuh. Para oligark ingin menguasai industri-industri tersebut juga. Mereka membuat sebuah rencana. Mereka menawarkan untuk meminjamkan kembali kekayaan mereka kepada pemerintah. Tetapi sebagai imbalannya, mereka akan mendapatkan saham di industri-industri yang tersisa. Mereka tahu bahwa pinjaman tersebut tidak akan pernah dibayar kembali. Jadi, mereka akan mendapatkan kendali atas industri-industri tersebut dengan harga yang jauh lebih rendah dari nilai sebenarnya.
Salah satunya adalah bank milik Alexander Smolensky yang kini menerima miliaran rubel. Tidak ada gunanya menginvestasikannya di Rusia. Negara terlalu tidak stabil dan industri-industrinya runtuh. Sebaliknya, miliaran rubel dipindahkan dan digunakan untuk berspekulasi di pasar keuangan global. Smolensky telah memulai eksodus kekayaan Rusia. Dia menyebutnya bank swasta. Smolensky adalah oligarki ketiga (Rusia: Sama-sama Bisa Kaya atau Miskin, Selingan Majalah Tempo, 27 Februari 1993).
Brezovsky dan mitranya, Roman Abramovich, mendapatkan saham di perusahaan minyak raksasa, Sibneft. Oligark lain, Vladimir Potonin, mendapatkan saham di Norilsk Nickel. Mikhail Khodorkovsky mendapatkan kendali atas Yukov Corp. Dasar kekuasaan dan keamanan negara kini berada di tangan para oligarki.
Adalah Yegor Gaidar, seseorang yang berasal dari keluarga yang berada di jantung kekuasaan komunis. Pada Januari 1992 Gaidar telah berjanji kepada Yeltsin bahwa ia dapat mengubah Rusia menjadi masyarakat kapitalis hanya dalam 18 bulan. Gaidar mengatakan rencana komunis telah gagal karena mencoba mengendalikan segalanya. Langkah pertamanya adalah menghapus semua kendali atas harga dalam semalam dan membiarkan harga segala sesuatu menemukan tingkat alaminya sendiri. Itu adalah versi ekstrem terburuk dari kapitalisme pasar bebas yang pernah dicoba. Diistilahkan "Terapi Kejut".
Dalam dokumenter yang mempesona ini, Yeltsin mulai sering diperlihatkan “menari” dan mabuk di depan umum. “Kaum proletar tidak perlu mabuk. Mereka membutuhkan kejernihan, kejelasan, dan kejelasan lagi”–itu kata-kata Lenin, namun rupanya Presiden Yeltsin semakin mabuk. Korupsi dan kekuasaan semena-mena merebak di seluruh Rusia.
Rusia melihat Yeltsin sebagai pemimpin "pemerintahan mafia" yang menghancurkan Rusia.
Saat pemilihan semakin dekat, partai komunis melonjak dalam jajak pendapat. Krisis ekonomi kini memicu korupsi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan di Rusia.
Saat rencana itu runtuh, sebuah sistem baru yang samar mulai muncul.
Lembaga yang bernama “koperasi” mulai membeli minyak dengan harga murah dari industri negara yang disubsidi. Mereka menyuap pejabat untuk menyelundupkannya keluar dari Rusia. Dan menjualnya dengan harga fantastis di pasar dunia. Kemudian mereka menggunakan uang itu untuk membeli komputer pribadi dengan harga murah di Amerika. Dan menjualnya dengan harga fantastis di Rusia.
Alexander Smolensky merancang jaringan kompleks yang menyembunyikan uang tersebut. Para oligark memasukkan uang itu ke dalam sebuah perusahaan keuangan kecil di Pulau Jersey.
Dari sana, uang itu dengan cepat menghilang.
Lumrah dikatakan saat itu bahwa demokrasi yang dijanjikan telah menyebabkan oligarki yang brutal.
Pada tahun 1996, para oligark kini secara efektif mengendalikan sistem politik.
Namun Komunis memenangkan sebagian besar kursi parlemen.
Para oligark memutuskan mereka akan memastikan Yeltsin menang "dengan cara apa pun yang diperlukan". Mereka “mengambil alih” semua TV nasional. Mereka terus-menerus menayangkan video, memperingatkan bahwa kaum komunis akan membawa kembali kengerian masa lalu.
Satu-satunya kandidat yang mereka izinkan untuk tampil adalah Boris Yeltsin. Dan memang Yeltsin terpilih kembali.
Demokrasi kini dipandang sebagai kekuatan yang menyebabkan kekacauan dan kehancuran.
Demokrasi kini tidak dipandang sesuatu yang istimewa. Setelah sepuluh tahun, demokrasi menjadi semacam kutukan. Anda dapat mengutuk, Anda dapat menyinggung seseorang dengan menyebutnya sebagai seorang demokrat.
Hampir semua uang itu segera dikeluarkan dari Rusia.
Para oligark dan kelompok yang semakin menyusut di sekitar Yeltsin di Kremlin lalu memilih seorang birokrat anonim untuk diajukan menggantikan Yeltsin. Dia akan menjadi boneka mereka. Pertama, mereka menjadikannya kepala dinas intelijen FSB. Kemudian mereka membawanya ke parlemen dan menjadikannya PM Rusia. Mereka menjalankan kampanye untuk menjadikannya tokoh terkenal: …Vladimir Putin, yang kemudian berkuasa hingga hari ini.
Apa yang bisa dipelajari dari cerita keruntuhan Uni Sovyet? Sungguh mengherankan bahwa begitu banyak bagian cerita masa akhir Uni Sovyet dan awal kelahiran Rusia begitu punya banyak kesamaan dengan situasi negeri ini sekarang. Memang kita seharusnya belajar dari sejarah!
Riset kecil semacam ini masihlah mentah dan perlu kajian lanjutan yang mesti digarap serius.
Kembali ke awal tulisan ini, terkait kata “ganjil”, apabila “cerita Gagarin” masih sulit dipahami, barangkali argumen berikut ini akan dengan terang menjelaskan. Penulis yakin–tampaknya tidak satu pun dari begitu banyak nama-nama di atas yang akan dengan bangga berkata: “Saya adalah Indonesianis dari Uni Sovyet (atau Rusia) pertama yang menginjakkan kaki di tempat-tempat seperti: di Lapangan Parkir Timur Senayan, atau di Lapangan Monas, atau di Alun-alun Bandung!”
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

