• Opini
  • Babi, ‘Babi’, dan Pesta Babi

Babi, ‘Babi’, dan Pesta Babi

Sebelum “Pesta Babi” mewabah seperti saat ini, terdapat sejumlah film bertema babi. Dalam budaya popular, “babi” telah lama menjadi inspirasi.

Anton Solihin

Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor

Nonton film Pesta Babi tentang tradisi di Papua di lapangan Balai RW Dago Elos, Bandung, Minggu siang, 10 Mei 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

30 Mei 2026


BandungBergerak – Di mana-mana ada babi.

Kecuali untuk urusan makan daging babi, saya punya banyak pengalaman dengan hewan jelek dan menggelikan itu. Sewaktu kecil di Bandung di akhir 1970-an, pernah sekali waktu pergi ke Taman Ria (sejenis “pasar malam” tetapi tidak berpindah-pindah, matuh dan banyak tempat permainannya) di sudut utara Tegallega (kira-kira di ujung lapangan luas tidak jauh dari Monumen Bandung Lautan Api–sekarang lokasi ini tempat pembuangan sampah). Dengan membeli karcis masuk, kita dihadapkan pada tontonan sadis yang dikenal sebagai adu bagong. Kira-kira empat hingga lima ekor anjing, mereka sungguh ganas,  bertarung menghadapi seekor babi hutan. Mengherankan juga, tontonan berdarah-darah semacam ini di era itu menjadi konsumsi banyak anak kecil, yang sungguh malang, tertancap kuat selamanya dalam ingatan.

Di tahun 1980-an, pernah ibu saya ditagih utang tukang daging babi padahal kami keluarga Muslim. Tukang di masa itu biasa berkeliling memanggul daging babi yang putih kemerah-merahan dengan cara dipanggul di antara dua panggul kayu. Rupanya dia salah menagih karena bentuk rumah di kompleks itu sama. Kejadian itu terjadi di Kefamenanu, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Kebiasaan memelihara babi lumrah di kalangan orang Tetun dan masyarakat pulau-pulau lain di sekitarnya.

Dengan tampilan bak pejuang masa revolusi kemerdekaan, di pertengahan 1990-an saya juga pernah ikut yang namanya moro bagong. Belasan orang bersenjata senapan angin  hingga pentungan–kami keluar masuk ladang, pinggir hutan, hingga belukar mengikuti anjing-anjing yang memburu babi hutan. Itu terjadi di Tanggeung, Cianjur selatan. Melelahkan sekaligus menyenangkan, semacam piknik (yang menyusahkan) di hari Minggu.

Di sekitar era itu juga saya sering berinteraksi dengan babi jinak yang berkeliaran di jalanan dan sekitar rumah saat bermukim di jantung Kalimantan, di Putussibau. Orang Dayak di sana terbiasa memelihara anjing dan babi, termasuk di sekitar rumah panjang mereka. Tak lama setelah itu, tidak jauh dari sana terjadi “Peristiwa Sambas”, disebut Gerry van Klinken sebagai “perang kota kecil”, antara orang Dayak dan Melayu dengan orang Madura.

Pengalaman terakhir dengan babi barangkali saat suatu ketika saya berkunjung ke Cigugur–Kuningan di awal 2000-an. Menginap di rumah warga , urang Sunda, tapi persis di belakang rumah beternak babi. Awalnya aneh saja, karena Sunda toh biasanya identik Muslim. Rupanya tidak selalu begitu realitasnya. Belakangan kita tahu, yang bersangkutan, si pemilik rumah penganut Sunda Wiwitan.

Babi sebenarnya bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan orang Sunda. Mohamad Ambri (1892–1936), sastrawan besar yang dijuluki sebagai Bapak Realisme dalam Sastra Sunda, pada tahun 1932 merilis Munjung.  Munjung bisa diartikan pesugihan lewat memuja makhluk halus atau roh dengan perantara hewan tertentu seperti babi (sering disebut ngepet) untuk mendapatkan kekayaan secara gaib dan instan.

Karya itu disebut menggambarkan suasana, alam pikir, dan keinginan hati orang desa. Banyak dialog menarik, di samping itu munjung juga mendobrak tradisi karena menggunakan bahasa Sunda sehari-hari yang realistis tanpa undak-usuk basa (tingkatan bahasa) yang kaku. Dalam cerita-cerita pada buku itu, Ambri lihai menyandingkan unsur mitos masyarakat dengan realitas kehidupan sosial masyarakat perdesaan. Hingga hari ini, desas-desus terkait munjung masih saja sering kita dengar.

Babi diperkenalkan pertama kali setelah masa kemerdekaan dalam Bahasa Indonesia pada buku untuk anak sekolah tingkat SMP yang ditulis G. Den Hoed dan M. Soendoro, Fauna Indonesia djilid I, diterbitkan Noordhoff-Kolff NV Djakarta pada tahun 1953.

Dikatakan dalam buku itu, bahwa bahan kuku babi itu sama benar dengan bahan kuku manusia, yakni bahan terkait rambut dan tanduk (Den Hoed, 1953: 45). Dikatakan juga pada halaman yang sama, “Karena babi tidak pilih-pilih mentjari makanannja, bahkan suka djuga memakan bangkai, sekalipun bangkai binatang djenisnja sendiri, maka pantaslah ia haram bagi orang Islam.

Sebenarnya tidak sesederhana itu penjelasannya. Terkait larangan dalam agama, kita harus membaca pandangan antropologi pada buku klasik Marvin Harris pada bagian “…Pembenci Babi”, dalam Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Marjin Kiri pada 2019. Ada tantangan untuk menjelaskan mengapa masyarakat tertentu membenci babi, yang terkait dengan kalangan orang Yahudi, Islam dan Kristen. Harris menguraikannya dengan panjang lebar dan banyak sudut pandang realistik mengapa babi tidak popular dan dikutuk najis di Dunia Timur Tengah.

Di Indonesia, binatang ini banyak jenisnya. Ada babi tanah, ada yang namanya Nangui (di Sumatra), babi putih (Kalimantan),  atau Bai di Sulawesi. Di Sulawesi dan di Pulau Buru ada babi-rusa. “Binatang itu disebut begitu karena taringnja jang besar melengkung ke belakang; dari djauh tampaknja seolah-olah angga rusa. Sajang taring itu tak dapat dipergunakan sebagai sendjata. Itulah sebabnja maka babi-rusa itu hampir habis-punah diburu orang” (Den Hoed, 1953: 43-46).

Mengutip Kolonisasi Satwa (Eksploitasi, Kekerasan dan Wacana Kesejahteraan Satwa di Hindia Belanda). LP3ES, yang ditulis Budi Gustaman pada 2022, rupanya sejak era kolonial sudah ada aturan soal ‘babi’. Misalnya pada lampiran 2 mengenai satwa liar yang dilindungi di Jawa dan Madura (1909), pada aturan no. 2 telah dicantumkan mengenai babi liar (bagong, nanen, babi-oetan, celeng, wraha). Sementara Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 247, tahun 1940 mencantumkan kriteria kelompok satwa liar yang boleh diburu, yakni babi liar (babi liar jenis Sus) pada Lampiran 4 halaman 222.

Baca Juga: Anomali Perempuan Indonesia: Dari Door Duisternis Tot Licht, Buiten Het Gareel, hingga School Revolution
Pengalaman Berhubungan dengan Buku Sejarah Nasional
Literatur Terkait Indonesia di Masa Uni Sovyet, Cerminan Apa?

Babi dalam Budaya Popular

Miss Piggy barangkali adalah karakter babi paling terkenal di dunia. Tampil sebagai sosok yang dikenal karena tampil dalam acara The Muppet Show buatan Jim Henson, dan di Indonesia acara ini pernah lama tayang di Stasiun TVRI. Debut pada 1976, Frank Oz mementaskan karakter tersebut dari 1976 sampai 2000 dan digantikan oleh Eric Jacobson pada 2001. Miss Piggy terinspirasi oleh penyanyi jazz Peggy Lee. Kermit the Frog dan Miss Piggy adalah pasangan paling ikonik dari waralaba boneka legendaris The Muppet Show. Hubungan mereka yang lucu, "putus-nyambung", dan penuh dinamika telah menghibur penonton selama beberapa dekade.

Dalam industri rekaman musik popular “babi” telah menjadi inspirasi sejak era blues-jazz di tahun 1920an, hingga era folk, bahkan bluegrass di tahun 1950-1960-an.

Namun lagu klasik tertua yang tercatat dalam rekaman menyangkut babi justru berasal dari China, judulnya  Big Idiot Buys A Pig (entah apa Bahasa Mandarinnya), dimainkan dengan cantik oleh He Zemin & Huang Peiying, dan kita temukan pada rekaman lagu-lagu buluk Victrola Favorites–Artifacts from Bygone Days.

Amerika menyumbang banyak lagu terkait babi. Ada lagu tradisional anak-anak dari Arthur Smith Trio Pig At Home In the Pen, atau lagu calypso lucu dari Kepulauan Bermuda, Pigs Knicks and Rice. Tahun 1960an Jim Croce menulis Pig’s Song yang pertama kali saya dengar di loakan Cihapit tahun 1990an.Di era lebih belakangan ada band funk The Teacher Hatters (Big Pig Alley), atau kelompok hiphop Cypress Hill –  Pigs.

Kita mengenal Blind Willie McTell (bluesman yang menjadi panutan Bob Dylan dalam berkarya) menyenandungkan Pig’n Whistle Red. Carey Bell–Mellow Down Easy (Blind Pig); Whistler & His Jug Band–Pig Meat Blues; Blind Boy Fuller–I Grave My Pigmeat; Big Bill Bronzy–Pig Meat Strut; Leadbelly–Pig Meat Papa; termasuk para diva blues periode awal: Bessie Smith, Nina Simone–Gimme A Pigfoot and a Bottle of Beer; Odetta–Three Pigs; hingga Memphis Minnie–Pig Meat On the Line. Tetapi hanya Linda Ronstadt satu-satunya yang punya cover album di kandang babi (Silk Purse, 1970).

Pada era hard rock, selain nama band “babi”:  Pig Iron, Blodwyn Pig, termasuk Alex Harvey dengan band-nya Tear Gas–Piggy Go Getter; terdapat juga lagu istimewa & terkenal Black Sabbath–War Pig, termasuk Soft Machine–Pig, the Who–Waltz for the Pig, hingga band underground Jepang Food Brain–the Conflict of the Hippo & the Pig,  juga yang fenomenal, Pink Floyd–Pigs On the Wings (part 1&2) yang dikenang dengan illustrasi canggihnya–“babi terbang”.

Babi terbang terkenal dari Pink Floyd bernama "Algie." Dibuat untuk album Animals tahun 1977, babi betina tiup itu terkenal melayang di antara cerobong asap Pembangkit Listrik Battersea di London. Konsep album ini terinspirasi oleh Animal Farm karya George Orwell. Babi Algie melambangkan kegemukan dan ketidakbertanggungjawaban.

Di era punk, ada band-band seperti The Nose Bleeds menyanyikan Fascist Pig, Plasmatics–Pig Is A Pig, NME C81–Furious Pig (Bare Pork), hingga spirit 1990-an pada kugiran bising seperti Suede–We Are the Pigs, Silverfish–Big Band Baby Pig Squeal, hingga Nine Inch Nails–Piggy dan March of the Pigs.

Di Indonesia, dulu terkenal lagu yang dinyanyikan  Wieteke van Dort "Geef Mij Maar Nasi Goreng" (Beri Saja Aku Nasi Goreng). Lagu ini sangat populer karena berisi kerinduannya pada makanan Nusantara, salah satunya: sate babi!

Jauh setelahnya, barulah kita menemukan Babi pada album band Netral berjudul Paten (1999). Sebelum itu, pada 1996, tiga personel Krakatau, Indra Lesmana, Pra Budi Dharma & Gilang Ramadhan membentuk Pig–Lost Forest. Kita tidak tahu, apakah Pig di sini diartikan babi?

Menarik bahwa (ini sih cocoklogi) “Pig – Lost Forest” di tahun 1996 seperti “menjelaskan sesuatu di tahun 2026, terkait: film Pesta Babi! Ya, “babi dan hutan yang hilang”.

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2006) merupakan film dokumenter investigatif yang disutradarai oleh kolaborasi Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale (antropolog dan peneliti isu Papua), yang rupanya punya efek dahsyat, keruan membuat semua orang ingin menontonnya. Dan sebagaimana film-film Dandhy Laksono sebelumnya (Sexy Killers & Dirty Vote), visual provokatif ini memang layak tonton.

Sebelum “Pesta Babi” mewabah seperti saat ini, terdapat sejumlah film bertema “babi”.

Di masa Hindia Belanda kita mengenal film Tie Pat Kai Kawin (Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet) (1935), dan di era 2000-an ada judul Babi Buta Yang Ingin Terbang (Blind Pig Who Wants To Fly), menggambarkan sejumlah fragmen unik, yang dibingkai dan disutradarai Edwin pada 2008.

Di Jepang pada 1961, Shohei Imamura merilis Pigs and Battleship (1961), film klasik hebat bergenre black comedy. Berlatar di kota pelabuhan Yokosuka pasca-Perang Dunia II, film ini menceritakan sepasang kekasih yang berusaha bertahan hidup di tengah kekacauan, korupsi bisnis lokal, Yakuza yang menggunakan peternakan babi ilegal sebagai kedok bisnis gelap, dan kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat. Film ini adalah potret sarkastik Jepang yang sedang berjuang menemukan identitasnya di bawah bayang-bayang imperialisme gaya baru.

Di tahun 1968 dokumenter In the Year of the Pig (1968) muncul di layar bioskop dan membuat kehebohan. Disutradarai Emile de Antonio, tentang keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam,  film ini dirilis ketika AS berada di tengah-tengah keterlibatan militernya, dan secara politis kontroversial. Ketika dihadapkan dengan tuduhan bahwa In the Year of the Pig memiliki perspektif kiri, de Antonio mengakui hal tersebut, dia menjawab: “Hanya Tuhan yang objektif, dan Dia tidak membuat film.” Pengaruh foto diam yang digunakan dalam film itu yang menampilkan Kopral Marinir Michael Wynn kemudian terkenal karena dimasukkan ke dalam sampul album untuk album kedua The Smiths, Meat Is Murder (1985).

Barangkali  film terkait “babi” paling unik adalah When Pigs Have Wings atau Le Cochon de Gaza (Sylvain Estibal, 2011). Dikisahkan: Suatu hari di Gaza Palestina, Jaafar, seorang nelayan miskin, entah bagaimana, menangkap seekor babi di jaring ikannya. Terombang-ambing antara keyakinan Muslimnya dan keinginannya untuk memperbaiki kehidupan, melunasi hutang, dan menghadapi kenyataan konflik, dia memutuskan untuk menjualnya. Hewan najis yang dianggap tidak suci bukan hanya oleh agama Islam tetapi juga oleh agama Yahudi. Lalu bertemulah Jaafar dengan Yelena, perempuan Yahudi yang memelihara babi dan–karena tidak memiliki babi jantan sendiri–ia meminta Jaafar untuk membawakan bibit babi jantannya. Kisah film ada di situ, usahanya menjual babi! Mula-mula kepada seorang pejabat PBB, kemudian ke sebuah koloni Yahudi tempat Yelena memelihara babi bukan untuk dagingnya tetapi untuk alasan keamanan. Menyiasati tanpa diketahui ke sana kemari membawa “hewan terlarang”, di antara saudara-saudara Palestinanya, melewati tentara Israel dan di bawah pengawasan fundamentalis Islam bukanlah hal mudah menyertai serangkaian kesialan yang menantinya.

Pesta Babi

Adalah film berjudul Mondo Cane (istilah ini berasal dari sebuah kata umpatan Italia yang kasar, secara harfiah berarti “dunia anjing”). Dokumenter ini berasal dari tahun 1962, disutradarai oleh Gualtiero Jacopetti, Paolo Cavara, dan Franco E. Prosperi. Merangkum  praktik budaya di seluruh dunia dengan tujuan untuk mengejutkan atau membuat penonton film di Barat takjub. Gambar visual disajikan dengan sedikit kontinuitas, karena dimaksudkan sebagai kaleidoskopik untuk memberikan efek kejut.

Dalam film inilah saya pertama kali menyaksikan apa itu “pesta babi”. Dokumenter ini khas tipikal 1960-an, di mana banyak sudut dunia masih belum terekam secara visual, dan tontonan yang tersaji terkait ‘pesta babi’ pada film ini begitu barbar dan sungguh “mengganggu”.

Diilustrasikan oleh si narator mengikuti gambar film (namun lebih bagus bila ditonton filmnya): “Anak perempuan ini telah terbunuh. Sekarang ia harus menyusui seekor babi kecil yang ibunya telah mati. Beginilah hukum Cimbus berlaku di jantung Papua Nugini. Masih ada tempat di bumi ini di mana tidak ada perbedaan antara kehidupan anak dan kehidupan babi.”

Pada adegan lain selanjutnya, dinyatakan dengan “puitis”:

Di bawah langit yang luas, di pegunungan tinggi yang seolah mengangkat tanah ke sumber cahaya, manusia hidup dikelilingi kegelapan. Tanah, yang masih menunggu untuk mengetahui rahasia bajak dan benih, tidaklah murah hati.

Itulah Kerajaan Kelaparan.

Banyak dari orang-orang ini telah memakan daging manusia, yang dulunya merupakan makanan biasa leluhur mereka. Suku itu telah turun ke desa, tempat perayaan umum, yang akan segera dimulai, yang menurut tradisi yang dipaksakan oleh kemiskinan, hanya terjadi sekali setiap lima tahun.  Sebuah perayaan yang penuh kekerasan, selama 3 hari dan 3 malam mereka akan melahap daging babi sampai mereka meledak. Tak lama kemudian, ratusan babi, satu-satunya kekayaan yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun kelaparan, akan dibunuh dan dilahap dalam beberapa jam. Lalu kembali ke puasa yang panjang.

Akan dibutuhkan lima tahun mengerikan lagi sebelum para penyintas kembali untuk merayakannya. Tiga hari berpesta sembari mengenakan bulu burung cenderawasih.                                                                            Memasak babi mungkin lebih brutal daripada eksekusinya.  Di sini, memasak babi berarti, kurang lebih, di sana-sini hewan-hewan yang mati masih memiliki isi perut yang penuh. Tetapi penduduk asli tidak percaya pada formalitas, tak ada basa-basi untuk itu. Kelaparan tak sabar menunggu. Manakala para kepala suku mengumumkan bahwa akhirnya, setelah lima tahun menunggu, makanan pun siap disantap.”

Apabila uraian di atas terlihat “tidak beradab”, Marvin Harris menjelaskannya dengan (mencoba) ilmiah seperti berikut ini:

Bagian lainnya yang kurang begitu dikenal adalah tradisi pecinta babi fanatik. Pusat cinta babi di dunia ini berlokasi di New Guinea dan Kepulauan Melanesia Pasifik Selatan. Bagi suku-suku hortikultutal penghuni kampung di wilayah itu, babi adalah binatang suci yang harus dikurbankan kepada leluhur dan disantap dalam semua hajatan penting, seperti pernikahan dan pemakaman. Di banyak suku, babi harus dikurbankan untuk menyatakan perang dan untuk berdamai.  Orang-orang ini percaya bahwa leluhur mereka yang telah meninggal mengidam-idamkan daging babi. Begitu dahsyatnya rasa lapar akan daging babi itu, di antara yang hidup dan yang mati, sehingga dari waktu ke waktu pesta besar digelar dan hampir semua babi milik suku itu disantap seketika. Selama beberapa hari berturut-turut, penduduk kampung dan tamu-tamu mereka  melahap daging babi dalam jumlah besar, memuntahkan apa yang tidak bisa mereka cerna demi menyisihkan ruang  untuk dijejali lebih banyak lagi daging babi. Sesudah semua itu selesai, jumlah kawanan babi begitu menipis sampai-sampai dibutuhkan upaya beternak yang susah payah selama bertahun-tahun untuk mengembalikannya seperti semula. Begitu hal itu tercapai, persiapan segera dilakukan untuk pesta rakus gila-gilaan berikutnya. Begitulah, siklus aneh yang tampaknya seperti salah kelola terang-terangan itu pun terus berlangsung” (2019: 31).

Dan sebagaimana dijelaskan film “Pesta Babi”, rupanya ritual itu bagian dari siklus ekologis. Roy Rappaport sudah menuliskannya terkait orang Maring di Pegunungan Bismarck New Guinea pada Pig for the Ancestors: Ritual in the Ecology of a New Guinea People.

Terakhir, ada kisah “babi” paling terkenal di seluruh dunia. Animal Farm (1945), yang ditulis oleh George Orwell. Setidaknya dalam catatan saya empat kali Animal Farm diterjemahkan oleh penerbit berbeda. Pertama adalah Kisah Pertanian Hewan (oleh Joesoef Sou’yb, Penerbit Seminar Medan: 1963). Lalu Binatangisme (H. Mahbub Djunaidi, Penerbit Iqra, 1983, Gading Publishing: 2017), Animal Farm, Sumbu Yogyakarta: 2001, hingga Animal Farm, Bakdi Sumanto, Bentang: 2015.

Cermin dari cerita “persekutuan babi dan manusia” pada cerita ini adalah menyangkut kekuasaan dan kepentingan. Ketika kekuasaan lalim yang satu jatuh, yang terjadi adalah naiknya kekuasaan lalim berikutnya.

Saya menduga, dalam proses pembuatan Pesta Babi, selalu terngiang-ngiang  dalam kepala Dhandy Laksono kalimat terkenal Animal Farm ini:

“Para binatang yang berada di luar dan mengintai dari jendela tercenung. Mereka meneliti saksama wajah-wajah yang berada di dalam gedung: dari wajah manusia kemudian ke wajah babi, kemudian ke wajah manusia lagi, lalu beralih lagi ke babi. Kini rasanya sudah mustahil membedakan mana yang manusia dan mana yang babi! Babi dan manusia sama saja.” (terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 2017: 146).

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//