Membaca Kembali Catatan Supriatna tentang Jatinangor Bareto
Artikel Jatinangor Bareto karya Supriatna bercerita tentang Jatinangor dan sekitarnya di masa lalu. Catatan pembanding mencakup banyak hal dan sulit ditemukan.

Anton Solihin
Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor
15 Juli 2026
BandungBergerak – Wilayah bernama Jatinangor di Kabupaten Sumedang mengalami perkembangan pesat, terutama saat memasuki abad 21. Apalagi sejak dinyatakan sebagai Kawasan Pendidikan, banyak orang punya rasa penasaran dan memiliki kenangan tentang Jatinangor–yang menjadi alasan artikel terkait Jatinangor zaman baheula ini dimunculkan lagi.
Artikel bertajuk Jatinangor Bareto!, ini dalam pandangan saya penting dan perlu dibaca kembali saat ini manakala tempat yang bernama Jatinangor sekarang sudah berkembang-bertumbuh begitu cepat dari masa saat apa yang diceritakan dalam artikel tersebut. Di samping bahwa wilayah ini bergerak dinamis menjadi kosmopolitan kecil dengan begitu banyak orang non-Sunda (atau tidak berbahasa Sunda) menetap atau pernah menetap di sini.
Artikel Jatinangor Bareto! adalah kesaksian dan catatan luar biasa. Selain “hidup” dan sangat menarik, sejauh yang bisa saya peroleh, artikel Jatinangor Bareto! yang ditulis Supriatna adalah yang paling mencakup banyak hal dan sulit ditemukan sebagai catatan pembanding untuk apa yang diceritakan beliau mengenai wilayah Jatinangor dan sekitarnya di masa lalu. Artikel tersebut aslinya ditulis dalam bahasa Sunda dan dimuat di Majalah Cupumanik tahun 2004. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, Majalah Cupumanik tidak lagi terbit (termasuk bahwa artikel itu dengan sendirinya terlupakan).
Itu sebab saya berinisiatif (sebisa-bisanya) menerjemahkan (secara bebas) artikel itu ke dalam Bahasa Indonesia, sebelum terlupakan dan hilang ditelan zaman. Karena keterbatasan kemampuan Bahasa Sunda saya, mohon dikoreksi untuk kesalahan, atau penambahan yang tidak perlu. Mudah-mudahan nyaman membacanya.
Almarhum Supriatna sendiri adalah tokoh budayawan Sunda di lingkup Jatinangor dan sekitarnya, sekaligus seniman dan mantan Kepala Sekolah SD di Jatinangor yang dikenal sebagai pelindung dan pelestari budaya lokal. Beliau mendirikan Sanggar Seni Motekar pada tahun 2000 untuk menyelamatkan seni tradisi dan permainan anak (kaulinan barudak) dari kepunahan akibat budaya urban. Beliau juga menulis sejumlah cerita pendek di Majalah Mangle, termasuk tentu saja di Cupumanik.
Semasa hidupnya, beliau juga sangat dihormati atas dedikasinya dalam beberapa aspek budaya seperti memperjuangkan akar sejarah dan pelestarian kesenian Cikeruhan sebagai tari pergaulan asli dari wilayah Cikeruh, Jatinangor. Juga inisiator memunculkan gotong domba sebagai identitas seni lokal Kiara Beres Jatinangor pada tahun 2006. Pada tahun 2007, berkat kerja bareng banyak pihak, di bawah arahannya–terselenggara Jatinangor Festival (Sasarengan Ngamumule Budaya Sorangan). Terselenggara pertama kali dan memang sekali-kalinya itu!
Dulu, selama bertahun-tahun Pak Supriatna adalah teman mengobrol yang hangat. Beliau adalah pembaca yang tekun. Seingat saya beliau menamatkan banyak karya sastra hebat: Rendra, Ajip Rosidi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer, berbundel-bundel Majalah Horison, Budaya Jaya, termasuk karya penulis luar seperti Tolstoy, Chekov, Steinbeck, atau Hansum, termasuk karya sastra dalam bahasa ibunya, Bahasa Sunda.
Teruluk hormat, RIP Pak Supriatna!
Baca Juga: Cerita Kecil Dunia Buku Bandung Era 1990-an
Anomali Perempuan Indonesia: Dari Door Duisternis Tot Licht, Buiten Het Gareel, hingga School Revolution
Literatur Terkait Indonesia di Masa Uni Sovyet, Cerminan Apa?
JATINANGOR BARETO!*
Saat itu, belum musim - desa dan kecamatan dimekar-mekarkan. Kecamatan Cimanggung masih melebur dengan Kecamatan Jatinangor. Malah Kecamatan Jatinangor masih bernama Kecamatan Cikeruh. Kecamatan Cikeruh mencakup Sindulang di timur hingga Cipacing di barat. Seluas itu.
Terdapat sebelas desa di Kecamatan Cikeruh, mulai dari arah timur: Sindulang, Cimanggung, Parakanmuncang, Bunter, Sawahdadap (lima desa ini kini berada di bawah Kabupaten Cimanggung), Cisempur, Jatiroke, Sayang, Cikeruh, Cipacing, Cileles (enam desa ini berada di bawah Kecamatan Cikeruh). Kemudian masing-masing desa dimekarkan menjadi dua, sehingga dari semula enam desa menjadi dua belas desa di Kecamatan Cikeruh: Cisempur dan Cintamulya, Jatiroke dan Jatimukti, Sayang dan Mekargalih, Cikeruh dan Hegarmanah, Cipacing dan Cibeusi, serta Cileles dan Cilayung.
Kejadian memecah-mecah (administratif desa) seperti ini terjadi pada tahun 1983. Sebelum resmi menjadi kecamatan, Cimanggung pernah menjadi Kamantren selama beberapa tahun. Kamantren atau Kemantren adalah istilah administratif setingkat kecamatan yang kini hanya khusus digunakan di wilayah Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Satuan wilayah ini dipimpin oleh seorang pejabat yang disebut mantri pamong praja. Namun di Jawa Barat saat itu istilah ini diartikan sebagai “perwakilan kecamatan”.
Pada tahun 2000, Kecamatan Cikeruh berganti nama menjadi Kecamatan Jatinangor. Kecamatan Cimanggung tetap (dengan nama) itu hingga sekarang juga (tahun 2004 saat tulisan ini dibuat).
Jatinangor adalah nama kampung di bawah Desa Cikeruh. Kampung ini tidak begitu luas. Bangunan juga terhitung tidak banyak atau secuil saja. Atap rumah juga bisa dihitung. Letaknya di sekitar kantor polisi dan rumah-rumah itu di sekelilingnya. Posisinya memang di situ saja di (sekitar) kantor Polsek..Cuma saat itu, kantor polisi agak menjorok ke dalam, tidak menghadap jalan.
Zaman Kontrak
Nama Jatinangor agak terkenal di masa lalu, semata karena digunakan sebagai nama perkebunan teh dan karet milik Baron van Baud, seorang warga Belanda. (Mengenai perkebunan-perkebunan itu) apa yang terlihat (sekarang), tinggal tersisa reruntuhan (masa) kejayaan (Zaman) Kontrak Jatinangor yang tersohor itu.
Istilah zaman kontrak tidak merujuk pada era resmi dalam periodisasi sejarah, melainkan pada era kolonial Belanda abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kala itu, sistem Kuli Kontrak (Koeli Ordonantie) diberlakukan secara masif untuk mendatangkan dan mengeksploitasi buruh di perkebunan-perkebunan besar di wilayah Nusantara.
Seperti yang bisa dilihat, pohon-pohon teh telah (lama) tumbang. Tersisa pohon-pohon karetnya. Pepohonan itu tegak berjajar sepanjang jalan di seberang utara. Jalan itu membentang dari Cikuda ke Cibeusi. Lalu ke utara terus menanjak, yang terhubung dengan lereng Gunung Manglayang.
Jalan menuju bagian dalam Kontrak (dulu itu) terletak di sebelah kantor polisi saat ini. Jalannya sih lebar, tetapi tidak beraspal. Hanya jalan bebatuan sebesar kepalan tangan.
Sekitar 300 meter menjorok ke dalam (dari sisi jalan utama), tampaklah sejumlah bangunan. Gudang, pabrik, Sekolah Dasar Jatinangor, sebuah menara sirene, bekas gedung Juragan Kawasa, sebuah masjid, lapangan sepak bola, dan makam Tuan Baron van Baud di sisi barat lapangan (sekarang kampus Universitas Winaya Mukti yang berada di sana).
Juragan Kawasa adalah julukan atau sebutan untuk seorang majikan atau pemilik modal yang memiliki kekuasaan penuh, wewenang yang sangat besar, atau kendali mutlak atas suatu wilayah, perusahaan, maupun orang-orang yang bekerja di bawahnya. Istilah ini sering muncul dalam karya sastra, novel sejarah, atau budaya Sunda untuk menggambarkan sosok tuan yang sangat dominan, layaknya seorang penguasa.
Saat tulisan ini dibuat di tempat tersebut menjadi lokasi Kampus Universitas Winaya Mukti (Unwim), namun sekarang di tahun 2026, di lokasi yang sama sudah beralih rupa menjadi Institut Teknologi Bandung ITB Kampus Jatinangor.
Konon, makam tersebut awalnya memiliki lempengan marmer dengan nama dan tanggal lahir serta tanggal kematian si Tuan (Baron Baud) yang tertulis di atasnya. Namun saya tidak pernah melihatnya karena (makam itu) dengan cepat dihancurkan oleh orang-orang serakah, ketika mulai ramai yang berjual-beli barang-barang antik.
Perkebunan tersebut tidak terawat dengan baik. Menara tempat sirene dibunyikan dan alat tempat Juragan Kawasa mengawasi para pekerja, sudah ambruk. Menara tersebut tidak dapat dinaiki lagi dan reruntuk tangganya telah ambrol berjatuhan.
Bangunan pabrik karet sudah sekarat. Kondisinya sangat buruk. Dindingnya runtuh, atapnya melengkung, dan banyak balok kayu yang menopangnya sudah sangat tua, dan banyak yang bahkan telah roboh karena aus. Bangunan pabrik karetnya sudah sangat hancur. Keadaannya begitu memprihatinkan. Temboknya koyak di banyak bagian, atap sengnya pada terkelupas. Kayu penopang sengnya sudah banyak yang hancur, malah sudah banyak yang buntung pada bagian batasnya. Banyak jendela yang pecah dan tidak diganti.
Kebunnya juga sudah kurang terawat. Rumput tumbuh liar. Semak-semak, saliara, jarong, dan harendong jarang terlihat. Menandakan dalam jangka waktu yang panjang (tempat itu) tidak besentuhan dengan parang.
Istilah saliara, jarong, dan harendong sudah jarang dipergunakan. Saliara, dalam bahasa Sunda kadang disebut juga, kembang satek, adalah tanaman perdu atau semak liar yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan nama tembelekan atau bunga tahi ayam. Nama ilmiah untuk tumbuhan ini adalah Lantana camara. Karakteristik paling mencolok adalah bunganya yang kecil-kecil dan tumbuh menggerombol membentuk bulatan. Warnanya sangat cantik dan sering kali memiliki gradasi warna yang berubah seiring usia bunga, seperti kombinasi kuning, oranye, merah muda, hingga ungu dalam satu dompolan. Daun dan bunganya mengeluarkan aroma menyengat yang cukup tajam ketika diremas atau terinjak, itulah mengapa di beberapa daerah di Indonesia disebut bunga tahi ayam atau kembang telek.
Lalu jarong, atau dalam masyarakat Sunda disebut jarong lalaki, adalah tanaman liar jenis semak/perdu kecil dari keluarga bayam-bayaman (Amaranthaceae) dengan nama ilmiah Achyranthes aspera. Tumbuhan ini sering dianggap sebagai gulma atau tanaman pengganggu karena sangat mudah tumbuh liar di pinggir jalan, tanah kosong, pematang sawah, atau daerah berumput. Terakhir, harendong adalah nama semacam tumbuhan, buahnya hitam, rasanya keset agak masam.
Pohon karetnya sekarat. Alur-alur rumit pada batang pohon menjadi layu dan rontok. Menandakan sudah lama getahnya tidak disadap. Semuanya memberi kesan bahwa usaha ini, yang berusia sekitar tiga perempat abad, menjelang ajal. Tinggal menunggu waktu. Dan memang, sekitar dua tahun kemudian, usaha ini tutup. Meninggalkan ribuan kenangan kepada masyarakat Jatinangor yang pernah mengenal dan mengalaminya.
Kereta Api
Disebabkan adanya jalur kereta api juga lah yang menjadikan Jatinangor sohor di masa lalu. Rutenya adalah Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari. Perjalanan pulang pergi. Stasiun Kereta Api Jatinangor, haltenya sekarang terletak pada gedung Kantor Dinas Pendidikan, di seberang bundaran pertigaan Warungkalde. Tangga untuk naiknya masih ada sampai sekarang. Menurut buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto (Granesia, edisi pertama, 1984), jalur kereta api ini diresmikan pada tanggal 23 Februari 1918. Jalur ini dikelola oleh SS (Staats Spoorwegen; layanan kereta api era Belanda).
Rutenya sebagai berikut: dari stasiun Rancaekek ke utara, memotong jalan mobil di Cipacing- menuju ke Cipacing – kemudian masuk ke kolong di bawah jalan mobil di sekitar Kampung Caringin–terus ke timur sejajar dengan jalan mobil hingga ke Cikuda–lalu ke utara melintasi jembatan Cincin yang curam dan terjal–melalui wilayah Desa Cileles–lalu masuklah ke Halte Tanjungsari. Dari situ buntu. Kembali lagi melewati urutan jalur yang tadi dijelaskan.
Rute kereta tersebut tidak terus ke Sumedang. Konon memang pernah diteliti secara seksama, cuma daripada salah perhitungan yang tidak terduga terkait Cadas Pangeran yang memiliki topografi curam dan berbatu keras, jalur itu tidak dilanjutkan. Lagi pula jurang-jurangnya terjal dan sangat curam, bukan perkara mudah (untuk mengeksekusinya).
Dari Rancaekek juga, kereta api itu terus ke Bandung. Penumpang yang mau terus ke Bandung harus ganti kereta api.
Bekas tanah rel itu disebut Tanah SS. Sekarang sudah tidak kelihatan, sudah dijadikan kebun atau didirikan bangunan. Sementara di Tanjungsari ada kampung yang dinamakan Kampung SS. Asal muasalnya dari cerita jalur kereta api itu juga. Letaknya dekat jembatan, sedikit di sebelah selatan alun-alun. Stasiun Tanjungsari terletak di sebelah barat jembatan itu. Rel itu dibuat melintasi kolong jembatan jalan raya di atasnya.
Didorong rasa ingin tahu, saya bertanya kepada Abah Idik, sesepuh Kampung Ciawi, Desa Cikeruh, yang lahir tahun 1923. Masih bugar di usia lanjutnya dan beliau memiliki banyak kenangan serta pengalaman masa itu.
Bah Idik mengatakan bahwa kereta api itu mondok atau parkirnya di Tanjungsari. Perjalanan pertama pukul lima pagi, beranjak pelan-pelan dari Tanjungsari. Sampai di Jatinangor pukul lima seperempat. Tiba di Rancaekek pukul setengah enam kurang. Perjalanan kedua pukul enam. Bergerak maju dari Rancaekek. Tiba di Jatinangor pukul enam lebih sedikit, dan sampai di tujuan akhir, Tanjungsari pukul setengah tujuh. Perjalanan ketiga pukul tujuh, dari Tanjungsari. Kereta api bolak-balik seperti itu, lalu beristirahat di tengah hari. Akhirnya, pukul lima sore, berangkat lagi dari Rancaekek ke Tanjungsari. Jalur kereta api ini besar sekali peranannya dalam membantu masyarakat, baik yang memang melakukan perjalanan ataupun yang sedang usaha.
Tidak ada penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk ketika itu. Tiket yang dijual sebanyak tempat duduk yang tersedia. Orang yang kepergok tanpa membeli tiket, didenda tanpa ampun. Tak pernah terimpikan di masa itu ada atap kereta api penuh oleh penumpang.
Kereta api itu hancur selama zaman Jepang. Oleh Jepang relnya itu dipereteli, diambil besinya. "Dikirim ke Tokyo!" kata Abah Idik.
Kehidupan Desa Dahulu
Desa di masa itu boleh dibilang besar wibawanya. Desa itu ditakuti, tetapi juga dijadikan tempat perlindungan dan tempat bernaung oleh masyarakat. Mereka yang bertengkar, di desa. Mereka yang berselisih hebat, didamaikan di desa. Orang yang punya hajat–mau mengundang atau nanggap (sesuatu), ataupun tidak, memberi tahu ke desa. Entah ingin menyembelih domba-sapi, melapor ke desa. Mereka yang rumahnya rusak parah, memohon bantuan ke desa.
Orang yang dipanggil ke desa, akan dianggap aib oleh orang lain, diibaratkan orang yang punya masalah hukum. Orang yang dianggap berperilaku buruk. Malapetaka kalau sampai seseorang dipanggil ke desa. Sebaliknya, kebanggaan “seumur hidup apabila dirinya belum pernah dipanggil ke desa” atau “tidak ada turunan tukang dipanggil ke desa”.
Semua perintah dari desa–kerja bakti, ronda malam, serta pertemuan–sangat ditaati. Tidak ada yang tidak patuh kecuali ada halangan besar. Kalau toh ada halangan, tidak mangkir begitu saja. Harus meminta izin, walaupun hanya dengan ucapan. Selalu harus ada permisi, semacam basa-basi.
Mengumumkan perintah tidak pernah sulit. Cukup dengan ucapan dari RT saja. Itu pun, RT tidak perlu berkeliling ke setiap rumah. Cukup memerintahkan seseorang dan semua orang akan menurut. Pada harinya tentu saja orang akan datang.
Kadang-kadang ada saja yang terlewat. Pyuh, (orang itu pasti) bersungut-sungut mengomel! Menyaksikan orang lain sudah berdatangan dalam jumlah banyak, si orang itu buru-buru menyusul sambil menggerutu. “Salah apa saya sampai tidak diberitahu!”
Kalau ada kerja bakti, membersihkan selokan atau jalan desa, semua datang serentak beserta perlengkapannya. Apabila suaminya berhalangan, diwakili istrinya, yang datang sembari membawa cangkul dan sapu lidi.
Sudah tidak perlu diatur, (sudah) dibagi-bagi bagian pekerjaannya juga. Sadar diri saja pada bagiannya masing-masing yang sudah biasa, biasanya juga tidak harus dengan kerja bakti, karena biasanya juga bersih oleh yang punya rumah itu.
Setiap tahun ada Rapat Bahruteng (semacam Rapat Anggaran Desa di masa kini), dihadiri banyak orang yang berangkat secara bersamaan dari setiap rumah, laki-laki-perempuan. Di balai desa orang-orang sampai tumpah-ruah, malah banyak yang duduk jongkok di pinggir balai desa itu.
Istilah "bahruteng", atau ditulis bahruténg, adalah istilah sosiokultural khas Sunda yang merujuk pada tradisi institusi lokal atau forum rapat warga untuk merencanakan dan mendanai pembangunan infrastruktur secara swadaya/mandiri.
Bahasan rapat bahruteng (biasanya) mengesahkan tutupnya bahruteng tahun itu dan mengesahkan perhitungan bahruteng tahun berikutnya. Tanda pengesahannya yakni dengan serentak berteriak, “Sah”, tiga kali. Di ujung teriakan serentak itu, pak kuwu (atau kepala desa) mengetuk meja dengan palu kayu penabuh saron, yang umum digunakan: Tok! Tok! Tok!
Dari kecamatan juga suka ada yang ikut hadir, baik camatnya, maupun utusannya. Menyaksikan saja. (Kalaupun ikut berbicara) paling juga memberikan pandangan/pendapat serta utamanya menjelaskan mengenai bantuan-bantuan yang diturunkan dari atas.
Sama sekali mereka itu tidak berani mengutak-atik atau menjamah permufakatan rakyat yang dipimpin kuwu dan para aparatnya. Kuwu bersama rakyatnya amat dimerdekakan dalam usaha memajukan desanya. Barangkali itu sebab kewibawaan pemerintahan desa (saat itu) begitu besarnya. Kuwu dan para aparatnya disegani sekali.
Transportasinya
Selain jalan utama, yakni jalan raya dari Bandung ke Garut dan Bandung ke Sumedang, semua jalan di pedesaan tidak beraspal. Bahkan, jalan-jalan desa tertutup tanah. Di musim kemarau, jalan-jalan itu tertutup debu, di musim hujan, jalan-jalan itu becek dan tergenang air.
Mobil umum antar provinsi, (umumnya) bus. Antar kabupaten, bus dan suburban. Apa yang disebut colt belum lama muncul. Untuk jarak dekat, seperti Cicalengka–Bandung atau Tanjungsari–Bandung beda lagi, yaitu seperti mobil Si Doel dalam (acara) TV, yang sopirnya Si Mandra. Boro-boro angdes (angkutan desa), angkot pun belum ada.
Suburben atau Chevrolet Suburban (awalnya dikenal sebagai Carryall Suburban) adalah salah satu pelopor kendaraan SUV (Sport Utility Vehicle) yang diproduksi sejak tahun 1934. Mobil ini menggabungkan ketangguhan sasis truk komersial dengan kenyamanan bodi mobil penumpang yang luas dan berkapasitas banyak.
Colt adalah sebutan populer untuk kendaraan minibus atau pikap keluaran Mitsubishi. Karena saking populernya sebagai angkot (angkutan kota) dan kendaraan niaga pada era 1970 hingga 1990-an, masyarakat Indonesia akhirnya menyebut semua jenis mobil angkutan umum sejenis dengan nama colt.
Jalan desa sangat jarang dilewati mobil. Paling juga sering kali lewat truk yang membawa pasir. Itu karena di kampung saya ada lapang untuk mengambil pasir Kali Cikeruh. Mungkin memang (jalan desa) cocok untuk (pengangkutan) pasir.
Sarana transportasi yang paling umum ke pedesaan adalah becak, keretek, dan sepeda. Tanpa ketiganya, banyak kebutuhan (angkutan atau transportasi) yang tidak akan terpenuhi. Terutama mereka yang pulang dari pasar dengan belanjaan satu becak penuh atau satu delman penuh.
Dalam bahasa Sunda, kata keretek, atau sering juga disebut kahar, merujuk pada sejenis kendaraan tradisional beroda dua yang ditarik oleh kuda, mirip seperti delman atau bendi. Perbedaannya dengan delman biasa terletak pada pijakan kaki penumpang yang lebih lebar.
Sampai-sampai kita yang melihat becak yang membawa tukang warung dari pasar, ikut capek. Melihat saratnya muatan pada becak, sebetulnya lebih dari sekedar penuh. Semua barang belanjaan bergunung-gunung, ada ayakan, ada jinjingan, berkeresek-keresek barang di satukan dalam satu becak, sampai-sampai orangnya tidak terlihat tertutup belanjaan.
Jalannya bukan aspal yang mulus, tetapi jalan tanah yang kasar, penuh dengan lubang layaknya tempat berkubang babi hutan, sampai-sampai jalan becaknya terseok-seok, seperti mobil yang disopiri orang mabuk, atau kendaraan perang yang melaju sedang diberondong peluru musuh. Sampai ngeri melihatnya. Sedangkan keretek tidak separah itu.
Mengenai watak kuda, konon katanya kuda yang memiliki unyeng-unyeng pada kaki disebut “buaya ngangsar”yang bersifat takut terhadap air, suka mogok jalan kalau dibawa ke sungai. Sedangkan kuda yang sering lewat di kampung tidak pernah terdengar ada yang mogok jalan, meskipun musim hujan. Entah karena tidak ada kuda yang punya unyeng-unyeng di kaki atau lubang jalan yang tidak dianggap halangan meskipun tergenang air.
Istilah “buaya ngangsar” menjelaskan watak, sifat, atau pertanda yang buruk, terutama dalam ilmu caturangga atau pengetahuan tentang ciri-ciri hewan, khususnya kuda.
Keretek tidak harus diborong oleh satu orang saja, terkadang oleh dua atau tiga orang dalam sekali jalan. Sepertinya masing-masing sudah berlangganan, sering terlihat menjadi semacam kebiasaan, menggunakan keretek itu dengan penumpang yang itu-itu juga. Apabila sarat muatan, kusir hanya kebagian sedikit tempat duduk, hanya untuk sekedar menempelkan pantat di bantalan tempat duduknya. Ada kemungkinan untuk terjerembap apabila kakinya tidak sampai ke pijakan berbentuk besi bulat.
Menarik apabila dilihat dari belakang dengan muatan yang sudah agak longgar, keretek terguncang ke atas dan ke bawah seperti perahu di Pangandaran.
Mudah saja pabila ingin sakit sakit badan, tinggal naik keretek melewati jalan tadi. Ramai gemeletuk kaki kuda, sampai pukul delapan hingga sembilan saja. Menjelang siang hanya sesekali saja keretek itu jalan, mengangkut yang belanjanya kesiangan.
Sepeda juga naik daun ketika itu.
Bukan bermain sepeda-sepedaan yang dimaksud di sini, tetapi sepeda yang dipakai untuk melayani si pengendara bekerja. Mereka yang berangkat kerja, untuk mengangkut padi, untuk membawa pupuk. Untuk membebani sepedanya dengan rumput atau jerami. Mereka yang berdagang atau berbelanja juga banyak yang menggunakan sepeda. Umumnya sepeda dikasih bagasi dengan maksud untuk kegunaan terkait pekerjaan itu tadi.
Sepeda itu rata-rata diberi warna hitam. Ada juga sebagian kecil yang dipulas hijau lumut. Rasanya tidak ada yang dicat di luar warna-warna di atas.
Sepeda di masa itu rata-rata tinggi kokoh. Anak-anak umumnya tidak bisa duduk pada sadel, tidak nyampe. Berdiri saja menapak pada pedal sepeda.
Belum ada (yang namanya) musim ojek. Soalnya boro-boro motor dijadikan ojek, orang yang punya motor di kampung bisa dihitung dengan jari. Umumnya orang di kampung waktu itu malah tidak punya motor.
Bukan soal mampu atau tidak mampu beli, tetapi umumnya orang di masa itu tidak terbiasa membeli barang yang belum jelas kegunaannya. Agak dihindari malah, apalagi apabila barangnya terhitung mahal.
Sekali-kali lewat truk pengangkut bambu dari Rancakalong atau Tanjungsari ke Majalaya atau Bandung. Bambu berukuran panjang ditata pada truk, sehingga sebagian kecil lonjoran bambu itu menonjol melebihi badan mobil di bagian belakang, menyentuh bidang jalan aspal. Tidak mungkin mobil mundur dalam keadaan seperti itu. Bila itu terjadi, bisa membentur jalan seolah seperti gelombang air.
Jenis angkutan lain yang banyak dikenal warga yakni roda bambu, semacam kendaraan beroda dua pembawa bambu yang rutin lewat sepanjang jalan utama Jatinangor di waktu subuh. Bukan roda kuda, tetapi yang didorong oleh orang, umumnya berdua. Putaran rodanya ada dua, seperti roda meriam zaman Kompeni.
Beban muatannya tergantung bambunya saja. Untuk bambu tali bisa mencapai empat puluh buah, diikat per sepuluh batang bambu. Untuk bambu surat muat dua puluh batang, ditumpuk satuan.
Pada praktiknya, tidak ada keharusan membeli bambu tali per ikat. Siapa pun yang hendak membeli sebatang dua batang juga dilayani. Sebagaimana untuk rokok, yang membeli sebungkus diucapkan terima kasih, yang membeli sebatang tetap dilayani.
Untuk keselamatan selama perjalanan, untuk menghindari saling tabrak atau diseruduk kendaraan lain, pada setiap ujung ikatan bambu diselipkan obor.
Saking sudah menjadi kebiasaan, melintasnya “roda bambu” suka dipakai untuk menandai waktu. “Sebelum roda bambu lewat juga, saya sudah bangun (tidur)”, kata orang yang bangun kira-kira pukul tiga tengah malam.
Pendidikannya
Di masa itu belum ada SLA. SMP Negeri baru ada satu. Dikarenakan adanya di Kampung Cirangkong, makanya disebut SMP Cirangkong. Bangunan itu seperti terselip, diapit oleh kebon karet. Disebabkan tergusur oleh STPDN (sekarang IPDN), SMP itu dipindahkan ke kampung Cisaladah, dekat Cikuda, dan tetap bertahan hingga sekarang.
SMP swasta ada dua. Yang satu SMPI (SMP Islam). Belakangan disebut MTs (Madrasah Tsanawiyah). Sedikit di sebelah barat kecamatan. Agak menyelinap, tidak terlihat dari jalan. Yang satunya lagi SMP Muhammadyah di Citanggulun, Desa Cisempur. Sayangnya tidak lama. Tahun 1990an ditutup karena kekurangan murid.
Berjarak beberapa tahun dari pertama kali saya datang ke Jatinangor, kira-kira tiga puluh tahun ke belakang, berdiri SMP PGRI. Sebelum punya bangunan sendiri, SMP PGRI ini menumpang dulu dengan cara berpindah-pindah. Mula-mula di SD Sayang, terus pindah ke SMP Negeri di Cirangkong.
Saat SMP Negeri tergusur oleh STPDN, SMP PGRI juga ikut pindah ke Cikuda, menggunakan bangunan sendiri, bersisian dengan SMP Negeri, hingga hari ini.
Tiap desa umumnya sudah punya SD. Malah ada yang punya dua.
Yang terlihat sudah ada oleh saya, dalam lingkup Kecamatan Jatinangor ada 10 SD yakni: SD Cileles, SD Cikeruh I, SD Cikeruh II, SD Jatinangor, SD Sayang, SD Cipacing I, SD Cipacing II, SD Jatiroke I, SD Jatiroke II, jeung SD Cisempur.
Sedangkan di bawah Kecamatan Cimanggung sekarang, saat itu baru ada SD Sindulang, SD Parakanmuncang I, SD Parakanmuncang II, SD Cimanggung, SD Bunter I, SD Bunter II, SD Bunter III, dan SD Sawahdadap. Hampir semua SD yang baru saja dipaparkan, hasil mandiri dibangun oleh masyarakatnya secara gotong royong, terutama bangunannya. Keberadaan sekolah dasar ini amat diprioritaskan oleh pemerintah desanya masing-masing.
SD yang sudah ada sejak masih zaman penjajahan, bangunan tuanya hanya ada dua belas. Selebihnya hasil urunan masyarakat, setelah merdeka. SD tempat saya mengajar juga, yang bubungannya berjumlah empat kelas, merupakan hasil masyarakat. Bangunannya ditembok tiga perempat. Ke atasnya memakai ram kawat. Bangunan yang sudah tua hanya dua kelas, membangkitkan semacam memori zaman Sekolah Desa.
Setelah dimana-mana berdiri SD Inpres, timbul dua rupa sebutan, yakni SD Lama dan SD Inpres. Yang barusan dipaparkan, itu SD Lama. Selebihnya dari itu, semua yang sekarang ada adalah SD Inpres buatan pemerintah pusat, yang dicicil pembangunannya sejak tahun 1973. Proses pembangunan SD Inpres ini disertai pengangkatan guru-gurunya. Dikenal saat itu sebagai Guru Inpres.
Setelah ada SD Inpres masyarakat dibuat nyaman, tidak harus memikirkan membuat sekolah. Sayangnya, masyarakat menjadi tidak telaten. Mungkin karena merasa tidak terasa susah payah mendirikannya sebagaimana zaman SD Lama.
Pasarnya
Mendengar dongengnya saja soal pasar di Warungkalde, saya tidak sempat menyaksikan keberadaannya. Saat saya pertama kali ke Jatinangor, pasar itu sudah ditutup. Apalagi pasar yang letaknya di dalam Kontrak. Maklum, itu di zaman Kolonial Belanda. Jangankan saya, orang asli sini pun yang seumur dengan saya tidak mengalaminya juga.
Untuk itu, saya kembali bertanya kepada Abah Idik. Beliau bisa dikatakan mengalami masa ketika kedua pasar itu masih ada.
Menurut beliau, letak pasar Warungkalde sedikit di sebelah timur bundaran. Posisi persisnya di tempat yang sekarang menjadi Gedung Veteran dan Balaidesa Cikeruh (sekarang ini, di tahun 2026, Balai Desa sudah bukan di lokasi dimaksud tetapi dipindahkan ke lokasi baru di Jalan Sayang). Bukanya seminggu sekali, hari minggu. Itu sebabnya dikenal sebagai Pasar Ahad.
Pertama kali ada lebih dulu jalur kereta api Tanjungsari–Rancaekek. Jadi, kurang lebih awal abad ke-20.
Pasar yang diceritakan ini, bisa dikatakan sebagai semacam pasar kecil di wilayah pinggiran. Luasnya cuma kira-kira seratus bata. Dikelilingi kawat berduri, tiangnya menggunakan besi segitiga. Boro-boro dibenteng, maklum tidak ditempati. Setelah “hari pasar” selesai, pasar ini kosong begitu saja. Para pedagang pulang beserta barang dagangannya. Hanya saja bangku-meja tempat mereka berjualan ditinggalkan. Tidak khawatir ada yang mencuri, karena dianggap barang tidak berharga. Ada enam los di pasar tersebut. Los pasarnya polos tanpa dinding dan beratap genteng.
Ramainya dari pukul tujuh hingga sepuluh pagi. Sebelum pukul tujuh yang belanja dilayani sembari penjual memajang barang dagangannya. Lebih dari pukul sepuluh, yang belanja kesiangan, dilayani sembari pedagang membereskan dagangannya menjelang tutup. Setelah Zuhur suasana kembali lengang. Hanya terdengar gesekan sapu dari tukang bersih-bersih.
Yang berjualan sebisa-bisanya berada di los saja. Belum masanya pedagang bebas berjualan di mana saja. Sangat taat aturan. Satu los dibuat dua baris. Mereka yang berjualan saling membelakangi.
Tidak pernah bercampur-baur. Di los daging hanya penjual daging, beras - beras saja, perabotan ya khusus di los perabotan saja. Kain dengan pakaian satu los, telur, ikan asin, buah-buahan ditempatkan pada losnya masing-masing. Karena dagangannya tidak banyak, paling banyak juga setengah los.
Pasar satunya lagi berada di dalam Kontrak Jatinangor. Tidak jauh dari Pasar Ahad. Sedikit ke arah barat, kira-kira seratus meter di belakang Kantor Polsek sekarang.
Losnya ada dua bagian. Bukanya sebulan dua kali. Tanggal satu dan tanggal lima belas. Bertepatan dengan kuli kontrak menerima bayaran. Mulai buka lewat tengah hari, kira-kira pukul satu. Sesuai waktu diterimanya upah. Tutupnya menjelang Magrib.
Meskipun bukan pasar umum, tetapi keramaiannya tidak kalah dengan Pasar Ahad. Bahkan melebihi dalam hal hiruk pikuknya para pembeli. Jumlah mereka sangat banyak. Kalau dihitung seluruhnya bisa ribuan. Tukang petik, tukang ngalayu, tukang ngored, tukang giling satu, tukang giling dua, tukang meber, tukang ngapak, dan lain-lainnya. Padahal mencakup dua afdeling.
Operasional perkebunan dilakukan oleh afdeling. Satu afdeling mencakup area seluas kira-kira 500 hingga 1.000 hektar dan dipimpin oleh seorang asisten afdeling. Di area inilah sebagian besar kegiatan produksi berlangsung, seperti penanaman, pemeliharaan, pemupukan, dan panen.
Dengan jumlah (kuli kontrak) yang begitu banyak, ditambah sakunya sedang tebal, lagi pula kebanyakan mereka mudah membelanjakan uangnya, tentu saja para pedagang laris manis. Diibaratkan, konon seperti “membongkar cengcelengan”.
Sungguh royal, jualan apa pun habis terjual. Tidak pernah ada barang tersisa untuk dibawa ke rumah.
Selain kedua pasar itu, ada juga pasar yang dekat dengan Jatinangor. Pasar Dangdeur di Rancaekek, yang hanya buka pada hari Senin dan Rabu. Pasar Cileunyi, buka setiap Kamis dan Sabtu. Pasar Tanjungsari, bukanya Selasa-Jumat. Ada yang luar biasa di Pasar Tanjungsari, yaitu terdapatnya Pasar Tembakau dan Pasar Domba. Tempatnya berdekatan, terpisah tetapi masih dalam satu kawasan.
Keseniannya
Umumnya setiap desa mempunyai perguruan pencak silat lebih dari satu. Rasanya tidak ada kampung yang tidak punya perguruan pencak silat. Pergi ke mana pun selalu bertemu jagoan penca.
Istilah penca’ adalah istilah bahasa daerah (terutama di Jawa Barat) yang merujuk pada seni gerak atau ibing. Sedangkan pencak silat adalah penggabungan dua unsur: pencak (gerak dasar bela diri yang terikat aturan) dan silat (gerak bela diri sempurna yang bersumber dari kerohanian) yang menjadi sistem bela diri utuh.
Untuk pembacaan yang lebih luas terkait pencak silat di Tatar Sunda bisa dibaca pada buku O’ong Maryono, Pencak Silat Merentang Waktu, Galang Press: 2000 dan Ian Douglas Wilson Politik Tenaga Dalam (Praktik Pencak Silat di Jawa Barat), YOI: 2020).
Di Sayang–Bah Jarma, Uwos, Dayat. Di Caringin–Emen. Di Jatiroke–Andun dan Bang Kancil. Di Cikeruh–Setiawan, Odo, Iim, Ade Suherman, Ahmad. Di Cisempur–Ondo, di Cipacing–Abar Subarna dan Abdulmajid.
Setiap perguruan lengkap memiliki guru, murid, pakaian, termasuk alat musik (untuk penca) dan orang yang memainkannya.
Pada (bulan) Rayagung, perguruan banyak yang bingung mengatur jadwal manggung. Mereka yang mengundang dalam waktu bersamaan bisa dua sampai tiga (tempat). Maklum banyak yang memilih hari baik bersamaan untuk menyelenggarakan hajat.
Istilah rayagung adalah sebutan dalam bahasa Sunda dan tradisi masyarakat Nusantara untuk bulan Dzulhijjah, yaitu bulan terakhir dalam penanggalan Hijriyah. Bulan ini sangat istimewa karena di dalamnya terdapat perayaan Iduladha, pelaksanaan ibadah haji, serta menjadi penanda datangnya musim pernikahan.
Akhirnya diatur-atur saja pembagiannya karena toh punya dua alat yang bisa digunakan pada hajatan yang bersamaan waktunya.
Semua orang mengenal tari serimpi. Pada mulanya saya merasa heran menyaksikan tari serimpi terhitung bisa hidup di Jatinangor. Sebab biasanya tari semacam ini lazimnya hidup di lingkup kaum menak. Seperti di Sumedang, tempat latihannya di Srimanganti, di sebelah Gedung Bengkok. Malah di antaranya ada yang termasuk penari jempolan. Tetapi setelah tahu begitu ya saya tidak terlalu heran.
Jatinangor sangat dekat dengan Rancaekek. Di Rancaekek ada Perguruan Tari Wirahmasari. Perguruan yang dianggap menjadi acuan atau kutub kursus tari (tradisi) di tanah Pasundan. Jebolan dari perguruan ini, Raden Boma Rubama, seorang ahli tari yang sangat terkenal di Tatar Sunda. Dia merupakan murid kesayangan Raden Sambas Wirakusumah.
Raden Sambas merupakan tokoh utama kursus tari itu. Beliau mendirikan Perguruan Wirahmasari diperkirakan sekitar tahun dua puluhan, dan surut pada awal tahun tujuh puluhan.
Lantaran bertetangga, tidaklah mengherankan bila banyak orang Jatinangor yang berguru ke Rancaekek. Mereka yang sudah mahir, menyelenggarakan pelatihan (tari) di kampungnya masing-masing. Itu sebab tari serimpi ini akhirnya menyebar. Cikopo, Cipacing, Sayang, Dangdeur, Cikuda, ramai dengan kursus tari serimpi.
Jagoannya, di Dangdeur oleh Euis Harnelis, yang sempat menjadi juara tari topeng sekabupaten Sumedang. Di Cikuda ada Lili. Tukang kendangnya bernama Didis dari Cipacing, dan Lili dari Cikuda.
Selain Euis Harnelis, yang bisa dianggap (punya kemampuan istimewa) adalah Emar Sumarni, anak sulung Lili. Kelebihannya yang menonjol yakni pada tari yang menunjukkan kegagahan/kewibawaan, terutama Gatotkaca. Sempat juga menjadi juara di Sumedang.
Malahan di Dangdeur sempat ada lingkung seni wayang orang segala. Para pemainnya campuran orang Dangdeur dan Rancaekek.
Euis Harnelis, si orang Dangdeur, Desa Sayang Kecamatan Jatinangor punya perjalanan panjang pada dunia tari ini. Selain memang guru, kemampuannya itu ditularkan kepada murid-muridnya di sekolah. Dengan begitu tidaklah mengherankan bila hingga kini banyak anak-anak yang punya kemampuan menari Sekarputri, Anjasmara, Dewa-Dewi, malah Topeng Kelana dan juga Topeng Wadon.
Memasuki tahun 1980-an tari serimpi terdesak oleh tari jaipongan. Mengikuti perubahan zaman, para seniman serimpi menggarap jaipongan. Seolah-olah membawa semua (pengalaman tari) sebelumnya tanpa menyisakan bekas sama sekali. Si jagoannya, nayaganya, penarinya. Bisa dibilang yang punya sikap mending tidak lagi (menari).
Mau bagaimana lagi, saat diuji masa sulit kita harus terampil atau kreatif, agar dapur atau urusan rumah tangga selalu ngebul (tercukupi), berkah, dan tidak pernah kekurangan makan.
Sandiwara Sunda juga mengalami masa keemasan yang luar biasa. Tahun 1955 pernah ada sandiwara Sekar Gumbira di Sukawening, dekat Cikuda. Dipimpin Pak Idi, sripanggungnya Enih, anak mudanya Ondo. Tidak urung, banyak perempuan yang tergila-gila pada Ondo. Sesuatu yang sangat lazim di masa itu.
Tahun 1960-an (Sandiwara Sunda) muncul lagi di utaranya. Di Pikan. Di Dangdeur juga ada satu. Sayangnya juga, keduanya tidak lama.
Tetapi hingga tahun 1970-an selalu saja ada rombongan sandiwara dari jauh yang sengaja datang untuk ngamen. Menetap, sebulan, dua bulan. Pertunjukan seperti itu selalu ramai didatangi masyarakat.
Untuk tempatnya, di mana saja senyamannya di kampung itu. Baik itu pada lahan kosong yang sudah tersedia, ataupun mendadak membangun tempat (untuk pertunjukan). Dibuat keroyokan dan kadang dikerjakan asal-asalan demi cepat selesai, asal tahan sebulan dua bulan. Bagian yang teduh (hanya) panggungnya saja. Bagian untuk para penonton tanpa penutup, tampak langit, di sekelilingnya.
Terdapat juga sejumlah dalang, di antaranya Lili dari Narongtong, dan Roma dari Jatiroke.
Sinden termasyhur dari Jatinangor yakni Mamah Karmanah dari Kampung Sukamanah, Desa Hegarmanah. Sering dibawa oleh dalang terkenal, baik dari Sumedang maupun Bandung. Saya sendiri waktu masih kecil sudah sering mendengar nama sinden Mamah Karmanah.
Sayangnya beliau keburu berhenti nyinden, disebabkan musibah lalu lintas, cedera pada kakinya. Meskipun tidak parah, tetapi jadinya tidak bisa dibawa duduk lama. Apalagi sampai harus duduk sepanjang malam.
Juru mamaos Cianjuran pun ada yang terkenal, Hatijah. Terkenal dengan nama Ibu Enden. Tinggalnya di Kampung Caringin, pada sisi jalan besar, persis di depan gerbang Ikopin, belokan ke Sadang. Beliau merupakan murid Ibu Saodah. Mereka sering bareng nembang. Di rumahnya pun bisa ditemukan sejumlah foto yang menunjukkan dirinya bareng dengan Ibu Saodah.
Istilah mamaos berasal dari bahasa Sunda yang merupakan bentuk penghalusan dari kata mamaca. Secara harfiah, mamaos berarti seni membaca wawacan (buku cerita) atau puisi Sunda dengan cara didendangkan atau dinyanyikan. Mamaos sering juga disebut sebagai Tembang Sunda Cianjuran. Ini adalah seni vokal Sunda yang dipadukan dengan iringan alat musik kecapi (indung dan rincik), suling, serta rebab. Syair yang dibawakan biasanya berupa pantun, degung, atau tembang macapat.
Di Kampung Cikeruh Lio ada Pak Mahya, seorang juru mamaos. Suaranya begitu merdu. Mitranya Enah Suhaenah, tokoh Cianjuran dari Cipada, Sumedang.
Hingga sekarang pun (tahun 2004) Pak Mahya masih sehat, cuma sudah tidak kuat untuk pentas mamaos. Namun Enah Suhaenah masih melakoninya.
Seni Benjang, meskipun tidak menyebar luas sebagaimana penca, tetapi pernah ada. Orang yang dianggap tersohor jagoannya yakni Haji Uwas dan Ending dari Dangdeur, Desa Mekargalih.
Seni Benjang adalah seni bela diri tradisional yang berasal dari kawasan Ujungberung, Bandung. Kesenian ini memadukan unsur olahraga gulat, seni tari, dan musik tradisional Sunda. Lahir pada abad ke-18, istilah Benjang merupakan akronim dari Sasamben Budak Bujang (arena bermain para jejaka).
Perkembangannya
Kehidupan di Jatinangor waktu itu, sebelum perubahan zaman (yang cepat dan masif sebagaimana sekarang ini), seperti umumnya kehidupan di kampung. Kebanyakan orang bertani. Tetapi karena berbatasan dengan Bandung, kehidupan kota sudah sangat terasa. Sebagian kecil dari mereka adalah pedagang, sopir, pekerja pabrik, pekerja konstruksi, dll. Bahkan, ada juga yang menjadi pegawai negeri sipil, tentara, dan polisi. Pembawa perubahan drastis pada citra kehidupan di Jatinangor adalah berdirinya perguruan tinggi di utara dan pabrik-pabrik besar di selatan.
Jumlah penduduknya membesar secara signifikan. Berlipat puluhan kali! Ada yang terus menetap, tinggal, atau membangun rumah tangga seperti yang saya lakukan. Belum lagi dihitung mereka yang menyewa, mengontrak, atau indekos. Entah itu maksudnya mereka yang ingin menuntut ilmu, atau juga mereka yang mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Belum lagi yang sehari-harinya pulang pergi dari rumah di luar wilayah Jatinangor. Sepanjang hari mereka berada di Jatinangor, melakukan segala aktivitasnya di tempat ini.
Hasil dari bersosialisasi dengan orang-orang dari mana-mana telah memunculkan perspektif baru tentang seluk-beluk hidupnya selama ini. Jejak leluhur yang telah diceritakan selama ratusan tahun dengan sungguh-sungguh, mulai ditimbang kembali dengan alam pikir baru. Perenungannya mulai berantakan, mencong ke sana kemari untuk semacam pencarian sesuatu yang baru secara terus-menerus.
Sayup-sayup terasa bahwa hidupnya yang selama ini adem-tenteram rupanya mulai tampak ketinggalan zaman. Dunia, yang selama ini tampak terbuka lebar, ternyata hanyalah seukuran kurung batok (sebuah babasan atau ungkapan dalam bahasa Sunda yang bermakna kurang pergaulan, sempit wawasan, atau jago kandang). Meluasnya pandangan, memunculkan ribuan fantasi, beraneka ragam tujuan dan keinginan yang berbeda. Menggeliatkan rencana, lalu bangkit untuk mengubah cara hidup.
***
*Diterjemahkan oleh Anton Solihin dari artikel asli karya Supriatna, Jatinangor Bareto, yang terbit dalam bahasa Sunda di Majalah Cupumanik tahun 2004.
**Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


