• Opini
  • BACA KLIPING: Melihat Kacaunya Bandung dari Cerita Salim dalam Tulisan Duduh Durahman

BACA KLIPING: Melihat Kacaunya Bandung dari Cerita Salim dalam Tulisan Duduh Durahman

Catatan Abah Duduh 38 tahun lalu membuktikan bahwa sudah sejak lama tata kelola Bandung kacau dan wargalah yang pada akhirnya mengambil inisiatif untuk beres-beres.

Reza Khoerul Iman

Pengelola Data dan Media Sosial BandungBergerak, bergiat di Komunitas Aleut

Kliping esai Piraku Kudu Kalpataru karya Duduh Durahman di Mangle. (Foto: Reza Khoerul Iman)

14 Oktober 2026


BandungBergerak – Salim bukan pekerja kontraktor apalagi pegawai Dinas Pekerjaan Umum (PU). Namun setiap pagi sebelum orang-orang berangkat bekerja, di kawasan Cibolerang dan terkadang di Caringin, Kota Bandung, ia selalu terciduk memperbaiki jalanan yang rusak dan merapikan selokan di pinggir jalan. Semua dikerjakan dengan peralatan seadanya.

Saat itu jalanan di Cibolerang rusak akibat terus-terusan dihantam lalu-lalang truk pengangkut material untuk pembangunan area perumahan. Yang bikin geleng-geleng kepala sekaligus membuat orang-orang enggan melintas, jalan bekas kerjaannya tidak dibereskan lagi setelah proyek selesai. Hmmm… Ketika membaca ini saya langsung berpikir: mau dulu atau sekarang, selalu ada korban dari proyek-proyek besar dan pemerintah lamban memperbaikinya.

Di tengah kacaunya tata kelola kota itulah, Salim hadir mengambil inisiatif. Ia bekerja tanpa perintah, tanpa menagih upah, dan tanpa memburu panggung pujian (“taya daweung hayang katangar”). Kalau boleh disebut hobi, itu hobi yang paling aneh dan sulit dipercaya!

Beruntung, Duduh Durahman, sastrawan Sunda asal Ciwidey, mengawetkan cerita tentang Salim dalam esai esai berbahasa Sunda “Piraku Kudu Kalpataru” yang terbit di Majalah Manglé no. 1151 edisi 23–29 Juni 1988. Arsip tulisan ini diperoleh dari laman Perpustakaan Jakarta.

“Nyaeuran jalan nu talingguir, di dinya aya Salim. Jalan lalegok ku koral, manehna bagean meresihan kamalir kenca katuhu jalan. Jajauheun make jeung barangpenta segala. “Ngarana ge ngomean jalan, teu kudu diutuh-etah,”—Salim hideng (Terjemahan bebas: Menimbun jalan yang berlubang, di sanalah ada Salim. Jalan berlubang dipenuhi batu koral, dia bagian yang membersihkan selokan di kiri dan kanan jalan. Jauh dari kesan meminta-minta. “Namanya juga memperbaiki jalan, tidak usah terus-menerus diingatkan,” — Salim mengerti tanpa harus diperintah),” tulis Abah Duduh, panggilan populernya.

Ketulusan hati Salim bahkan membuat Abah Duduh sempat berpikir untuk mengusulkan Salim diganjar Kalpataru—penghargaan tertinggi yang diberikan oleh pemerintah kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Baru belakangan ia tahu bahwa Si Salim itu “geuning jalma gering”.

“Salim, tadina rek diusulkeun sina meunang Kalpataru. Tapi piraku nu kieu kudu disasaruakeun jeung Ma Eroh. Deudeuh Ma Eroh, karunya teuing Salim. Dina ukuran anu beda, dina sikep anu beda, duanana boga jasa (Salim, tadinya mau diusulkan supaya mendapat Kalpataru. Tapi masa orang seperti ini harus disama-samakan dengan Mak Eroh. Kasihan Mak Eroh, kasihan juga Salim. Dalam ukuran yang berbeda, dalam sikap yang berbeda, dua-duanya sama-sama punya jasa),” tulisnya dalam nada satir.

Melalui celetukan tersebut, Abah Duduh menyodorkan ironi tajam tentang pemenuhan hak dasar warga yang harus selalu menunggu lahirnya pahlawan lokal karena kewajiban pemerintah tak kunjung ditunaikan.

Tangkapan layar akun instagram @balataknabandung32.
Tangkapan layar akun instagram @balataknabandung32.
Dulu dan Kini Sama Kacaunya

Membaca kliping membuat kita terlempar ke hadapan cermin masa lalu. Di sana, kita melihat pantulan bayangan yang kita temukan lagi pada kenyataan hari ini. Catatan Abah Duduh 38 tahun lalu membuktikan bahwa sudah sejak lama tata kelola Bandung kacau dan wargalah yang pada akhirnya mengambil inisiatif untuk beres-beres.

Hari ini, di era digital, keresahan yang dicatat Duduh Durahman menemukan panggung barunya di layar kaca ponsel. Salah satunya lewat akun Instagram @balataknabandung32, yang hadir sejak 15 Mei 2026—dihitung berdasarkan konten pertamanya—dan dalam waktu singkat menjadi etalase kekacauan Kota Bandung.

Lewat ungakapan khasnya “Sorry to say, bébékeun!!!”, akun ini merekam buruknya tata kota di jalanan lalu secara swadaya membersihkan tumpukan sampah visual seperti spanduk partai politik, periklanan, obat kuat, dan sisa-sisa kecil lainnya seperti tali-talian yang luput, atau lebih tepatnya abai, dibersihkan oleh aparat yang bertanggung jawab. Padahal, ia seorang warga sipil.

Kolom komentar akun tersebut tumpah-ruah oleh keluhan, kritik, kejengkelan, hingga kekecewaan warga terhadap pemerintah Kota Bandung. Rasa muak kian memuncak saat konten-konten @balataknabandung32 baru direspons setelah menembus jutaan views. Saya mengerti dan berada di satu saf bersama orang-orang yang muak itu: mengapa hampir sebagian besar masalah di negeri ini baru ditindak setelah viral?

Jika pada tahun 1988 Abah Duduh menyentil apakah perbaikan jalan harus menunggu warga mendapat Kalpataru, hari ini pertanyaan itu bergema kembali: apakah reklame dan spanduk ilegal akan ditertibkan oleh pemerintah hanya setelah warga ramai-ramai mempermasalahkannya? Bagaimana kalau warga yang memprotes itu dihadapkan pada backingan preman, ormas, atau aparat? Apakah untuk membereskan permasalahan dan pelanggaran, pemerintah harus menunggu jatuhnya korban akibat pemasangan reklame yang tidak berizin dan tidak memenuhi standar keselamatan?

Antara aksi Salim mengayunkan pacul di Jalan Caringin tahun 1988 dan keberanian warga membersihkan sampah visual di jalanan Bandung hari ini, terentang benang merah yang sama. Keduanya menunjukkan lamban dan abainya kehadiran pemerintah dalam menangani permasalahan tata kelola kota. Dan tak jarang, warga sendirilah yang mengisi kekosongan tersebut.

Dari kliping esai Abah Duduh Durahman dan konten-konten Balatak na Bandung, kita belajar bahwa merawat daya kritis dan kepekaan atas ruang hidup adalah sesuatu yang tak boleh padam—baik di lembaran kertas maupun di layar media sosial hari ini.

Baca Juga: Bupati Cianjur yang Terhormat, Sampai Kapan Jalan Kami Gelap dan Berlubang?
DATA TINGKAT PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN DI KOTA BANDUNG 2019-2025: Angkanya Turun, tapi Mengapa Ekonomi Masih Terasa Sulit?

Siapa Duduh Durahman?

Bagi dunia kesusastraan Sunda dan perfilman, Duduh Durahman bukanlah sosok yang asing. Sebagaimana dicatat Ajip Rosidi dalam buku Tapak Lacak Duduh Durahman, Abah Duduh adalah sosok multitalenta: redaktur fiksi Majalah Manglé, kritikus film dan juri Festival Film Indonesia (FFI), serta aktor teater.

Duduh Durahman juga pernah mengabdi di dunia pendidikan sebagai dosen luar biasa di IKIP Bandung dan Akademi Sinematografi Yapari Bandung. Ia juga mengajar di beberapa sekolah, baik di Bandung maupun di Ciwidey, kampung halamannya. Kariernya berujung sebagai kepala sekolah di SMP Muslimin yang dipimpin oleh Wiredja Ranusulaksana alias Ki Umbara.

“Jero méh 30 taun jadi redaktur fiksi majalah Manglé, Duduh geus marajian para pangarang ngora anu nganggap kolot ka Duduh, kolot tanyaeun jeung saluuheun. Bisa jadi éta sababna Duduh ngaabahkeun ka dirina, lain baé rumasa geus reuay incu, tapi pangpangna ngarasa jauh sakoloteun para pangarang ngora anu sering datang nepungan ka Manglé. Dina nyanghareupan para pangarang boh nu ngora boh anu sagenerasi jeung saluhureunana, kitu deui dina tulisan-tulisanana Duduh, bubuhan guru, tara némbongkeun pikiran atawa sikep anu kontrovérsial,” kenang Ajip Rosidi dalam tulisan “Duduh Durahman (1939-2008)” di buku yang diterbitkan oleh Kiblat, Mei 2016 tersebut.

Menurut Ajip, jiwa seorang pendidik telah menyatu erat dalam diri Abah Duduh. Ini tecermin dari gaya menulis dan caranya mengayomi para pengarang muda: selalu berimbang, menyejukkan, dan sebisa mungkin merangkul semua pihak tanpa harus melempar konfrontasi yang tajam.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//