PROFIL KOMUNITAS LAYUNG WANOJA: Menolak Tua dengan Nada
Lewat angklung, perempuan dan lansia di Pasir Layung, Bandung, menemukan ruang untuk berkumpul, mengembangkan potensi, dan merawat kebersamaan.
Penulis Retna Gemilang16 Oktober 2026
BandungBergerak - Di antara riuh angklung yang mengisi Saung Angklung Udjo, Bandung, pagi itu, sekitar 120 perempuan berkebaya warna-warni memenuhi pelataran tribun C. Mereka tampil dalam pertunjukan Touch of Harmony: The Evolution of Angklung Toél, Jumat, 25 September 2026. Bersama enam kelompok musik dan lima SLBN di Jawa Barat, mereka memainkan angklung dalam satu harmoni.
Masing-masing perempuan memegang angklung dengan pita warna-warni yang tersemat di atasnya. Menjelang akhir pertunjukan, mereka memainkan lagu Mojang Priangan dan Jangan Menyerah dari D’Masiv. Para perempuan itu merupakan anggota Layung Wanoja, komunitas perempuan dan lansia dari Kelurahan Pasir Layung yang akan genap berusia satu tahun pada November 2026.
Berasal dari 13 RW di Kelurahan Pasir Layung, para anggota Layung Wanoja memainkan nada masing-masing. Ada yang memegang satu angklung, ada pula yang memainkan dua sekaligus. Bagi mereka, tampil di Saung Angklung Udjo bukan sekadar bermain musik. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk sejenak keluar dari rutinitas rumah, bercengkerama, dan bersenang-senang bersama.
Salah satunya Nia Kurniawati, 50 tahun. Sehari-hari, ia menjalankan usaha kuliner sekaligus menjadi kader posyandu. Kesibukan itu membuat hari-harinya banyak diisi dengan urusan rumah tangga dan kegiatan di lingkungan sekitar.
Bergabung dengan Layung Wanoja memberinya ruang baru untuk berkegiatan sekaligus mempelajari alat musik yang sebelumnya tidak dikuasainya: angklung.
“Ya, Alhamdulillah kami sebagai warga di sini, jadi terbantu juga refreshing bisa silaturahmi di sini (Saung Angklung Udjo) dengan ibu-ibu lain,” ujar Nia kepada BandungBergerak, Jumat, 25 September 2026.
Meski menyukai musik dan tinggal di sekitar Saung Angklung Udjo, tepatnya di RW 7, Nia mengaku belum pernah berpengalaman memainkan angklung. Ia mempelajarinya dari awal, mulai dari mengenali nada hingga menyelaraskan permainan bersama anggota lain di bawah arahan pelatih, Kang Tata.
Kini, Nia terbiasa memainkan angklung bas C. Dalam pertunjukan, ia bahkan bisa memegang satu hingga dua angklung sekaligus. Ia juga kerap membantu mengisi nada ketika ada anggota lain yang berhalangan hadir.
Menurut Nia, belajar angklung bukan sekadar menambah keterampilan bermusik. Kegiatan ini juga menjadi jalan bagi perempuan dan lansia untuk saling bertemu. Melalui angklung, warga dari 13 RW di Pasir Layung berkesempatan berkenalan, menjalin hubungan, dan mengembangkan potensi tanpa dibatasi usia maupun gender.
“Jadi buat ibu-ibu itu istilahnya buat mengembangkan potensi ibu-ibu di sini bisa disalurkan,” ujar Nia yang ditemui dengan kebaya kuning dan hijau cerah.
Kegiatan bersama Layung Wanoja juga memberinya kesempatan untuk menjajakan produk kuliner. Seusai pertunjukan Touch of Harmony, misalnya, Nia segera beralih menjaga stan dagangannya. Ia menjual nasi kotak, kue basah, hingga aneka camilan kering dengan harga relatif terjangkau.
Di sela latihan angklung, ada ruang bagi anggota Layung Wanoja untuk saling berniaga dan memperkenalkan kemampuan masing-masing. Musik menjadi pintu masuk untuk membangun kebersamaan, sekaligus membuka peluang bagi anggotanya untuk berkegiatan secara produktif.

Menolak Tua Bersama Layung Wanoja
Anggota Layung Wanoja lainnya, Dian Tresnawati mengatakan, komunitas ini menjadi ruang untuk kembali menekuni kesenian Sunda setelah bertahun-tahun bekerja di bidang perhotelan. Memasuki masa pensiun, perempuan berusia 59 tahun itu kembali bersentuhan dengan kesenian yang akrab dengannya sejak sekolah. Semasa remaja, ia pernah mengikuti jaipongan dan bermain degung.
Kini, Dian menjadi Ketua Kelompok 3 Layung Wanoja yang beranggotakan sekitar 45 orang. Karena jumlah anggota komunitas cukup besar, mereka dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri atas perwakilan dari berbagai RW. Kelompok Dian mencakup anggota dari RW 5, 7, 8, 9, dan 12.
Dian menyebut kelompoknya sebagai yang paling heboh. Salah satu ciri khas mereka adalah pita warna-warni yang selalu disematkan pada angklung setiap kali tampil.
Pita itu bukan sekadar aksesori. Untuk pertunjukan Touch of Harmony, Dian membuat sendiri pita bagi 120 penampil. Ia ingin penampilan mereka terlihat ceria tanpa membebani anggota dengan keharusan membeli perlengkapan baru.
“Saya bikin sendiri, biar orang jadi senang,” kata Dian.
Di kelompoknya, Dian dikenal disiplin dan tegas. Ia rutin mengingatkan anggota tentang jadwal latihan dan kehadiran, mengatur inventaris angklung, hingga memastikan persiapan pertunjukan berjalan baik. Perhatiannya juga mencakup hal-hal kecil, seperti membuat pita warna-warni untuk para perempuan dan lansia yang tampil.
“Bukan buat saya, bukan apa-apa. Pengin lebih kelihatan ibu-ibu teh,” ujarnya.
Menurut Dian, keterlibatan dalam Layung Wanoja tidak berhenti pada kegiatan bermusik. Di sela latihan rutin, para perempuan, ibu rumah tangga, dan lansia juga berkumpul untuk jalan-jalan atau botram bersama. Ia melihat komunitas ini membuat perempuan seusianya merasa lebih leluasa menjalani kegiatan dan seolah kembali muda.
“Saya aja menolak tua,” ucapnya diselingi tawa.
Baca Juga: PROFIL KOMUNITAS UTARA CREW: Musik Rap untuk Merawat Kekacauan
Menjaga Nyala Ekosistem Hijau: Enam Tahun Cerita dan Ruang Hangat di Toko Nol Sampah
Merawat Ruang Berkumpul dan Pemberdayaan Perempuan
Layung Wanoja lahir pada 23 November 2025. Ketua komunitas, Rini Widya Ningsih, mengatakan bahwa komunitas ini bermula dari keinginannya menyediakan ruang berkegiatan bagi perempuan di Kelurahan Pasir Layung.
Awalnya, komunitas tersebut ditujukan bagi para kader perempuan. Namun, gagasan itu kemudian berkembang hingga terbuka bagi perempuan dari seluruh 13 RW di Pasir Layung. Kini, Layung Wanoja memiliki sekitar 200 anggota, mulai dari perempuan muda, ibu rumah tangga, hingga lansia.
Angklung menjadi salah satu kegiatan utama komunitas. Banyak anggotanya pernah aktif bermain angklung di Saung Angklung Udjo ketika masih muda. Melalui kegiatan bersama, mereka kembali menekuni alat musik tersebut sekaligus menjalin kembali hubungan yang sempat terputus.
“Kebanyakan di Layung Wanoja senior-senior dulu yang pernah main angklung, udah lama enggak megang ‘kan. Terus sekarang kita kumpulin lagi jadi sekalian reunian,” tutur Rini, yang akrab dipanggil Umi di komunitasnya.
Nama Layung Wanoja merujuk pada tempat asal para anggotanya, yakni Pasir Layung. Dalam bahasa Sunda, layung berarti warna langit saat sore hari, yang dimaknai sebagai keberagaman warna anggota komunitas. Sementara itu, wanoja berarti perempuan.
Bagi Umi Rini, Layung Wanoja bukan semata-mata tempat belajar memainkan angklung. Komunitas ini diharapkan menjadi ruang bagi perempuan untuk saling mengenal dan mengisi waktu dengan kegiatan positif di sekitar Saung Angklung Udjo.
“Meh teu seueur ngagibah ibu-ibu teh ‘kan, penginnya ibu-ibu teh ngariungnya positif, terus intinya mah pengin se-Pasir Layung itu mereka saling kenal gitu,” ujarnya.
Sejak berdiri, Layung Wanoja telah menggelar beragam kegiatan, mulai dari latihan rutin setiap Jumat, kelas memasak, hingga beauty class. Mereka pertama kali tampil dalam penutupan acara Hari Angklung Sedunia, Wonderful Angklung in Harmony, di Udjo Ecoland pada Minggu, 30 November 2025.
Kegiatan bermusik mereka pun mulai berkembang. Selain angklung, Umi Rini kini memperluas latihan ke alat musik gambang dan arumba yang dimainkan oleh perempuan.
Meski belum berfokus pada pemberdayaan ekonomi, Layung Wanoja telah memberi kesempatan kepada anggotanya untuk memasarkan produk selama kegiatan komunitas berlangsung. Nia, misalnya, bisa menjajakan makanan dagangannya setelah tampil bersama anggota lain.
Namun, menurut Rini, manfaat yang paling terasa saat ini justru terletak pada terbentuknya ruang sosial yang aman bagi perempuan untuk berkumpul dan berinteraksi melalui musik. Ia menyadari komunitas ini baru berjalan hampir satu tahun, sehingga masih banyak kegiatan yang dapat dikembangkan untuk mendorong kemandirian anggotanya.
Dukungan Saung Angklung Udjo turut membantu keberlangsungan kegiatan tersebut. Saung menyediakan tempat latihan dan pelatih, Kang Tata. Angklung juga dibuat secara khusus dan diinventariskan untuk 200 anggota Layung Wanoja.
Setiap anggota boleh membawa pulang angklung inventaris untuk berlatih secara mandiri dan semakin mengenali nada-nadanya. Namun, angklung tersebut tetap berstatus inventaris komunitas dan harus dikembalikan apabila anggota tidak lagi aktif.
“Biar chemistry aja sama angklung, meh sahate gitu,” tambah Umi Rini.
Melalui Layung Wanoja, perempuan-perempuan Pasir Layung tidak hanya belajar memainkan angklung, tetapi juga berkesempatan mengenal warga di luar lingkungan RW masing-masing. Di tengah kesibukan mengelola komunitas, Umi Rini sendiri lebih banyak mengurus kegiatan daripada ikut bermain angklung.
Bagi Umi, memastikan ruang berkumpul itu tetap hidup merupakan bagian penting dari upaya merawat kebersamaan. Sebab, di balik nada-nada angklung yang dimainkan bersama, Layung Wanoja menawarkan sesuatu yang lebih luas: kesempatan bagi perempuan untuk kembali berkegiatan, mengembangkan potensi, dan membangun hubungan sosial di luar rutinitas sehari-hari.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


