• Berita
  • MENYAMBUT AKSI KAMISAN CIMAHI PERDANA: Orasi, Lapakan Buku, dan Bersuara tentang HAM

MENYAMBUT AKSI KAMISAN CIMAHI PERDANA: Orasi, Lapakan Buku, dan Bersuara tentang HAM

Mahasiswa di Cimahi menggelar Aksi Kamisan perdana di Alun-alun Cimahi. Mengajak masyarakat untuk peduli pada pelanggaran HAM.

Aksi Kamisan Cimahi perdana di Alun-alun Cimahi, seberang Gedung DPRD Kota Cimahi, Kamis, 15 Oktober 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam16 Oktober 2026


BandungBergerak - Deru kendaraan bermotor hilir mudik di kawasan Alun-Alun Kota Cimahi. Pedagang kaki lima melapak seperti biasa. Sesekali truk militer melintas. Di lapangan, anak-anak asyik bermain bola. Masih di tempat yang sama, mahasiswa Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani) menggelar Aksi Kamisan perdana mereka, tepatnya di sebrang Gedung DPRD Kota Cimahi, Kamis, 15 Oktober 2026.

Sore itu, tangga yang biasa dipakai duduk santai disulap menjadi ruang bagi aksi yang menyoroti pelanggaran Hak Asasi Manusia itu. Poster-poster protes dijejerkan, spanduk berwarna putih yang dicat sengaja ditempel di antara tiang-tiang. Buku-buku dan zine diemperkan. Satu buah mikrofon ditenteng oleh seorang kawan Aksi Kamisan Cimahi yang berorasi.

Aksi Kamisan Cimahi itu dihadiri sekitar belasan orang yang didominasi oleh mahasiswa Unjani yang baru beres kelas. Mereka menempuh 3,8 kilometer perjalanan atau 15 menit ke lokasi Aksi Kamisan Cimahi.

Lintang Dwi Mahari dan Nadila Fadilah, mahasiswi jurusan Ilmu Pemerintahan Semester 7 misalnya. Mereka datang menggunakan motor seusai kuliah umum yang dihadiri oleh perwakilan anggota DPRD Jawa Barat Komisi IV ke kampusnya.

Lintang menjelaskan alasan dirinya turut merapatkan barisan ke Aksi Kamisan perdana di Cimahi ini.  Menurutnya kondisi negara saat ini sedang tidak baik-baik saja. Permasalahan seperti kebakaran hutan berbulan-bulan di sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Sumatera, hingga Papua sampai saat ini belum terselesaikan. Sementara itu, korban bencana alam seperti di Aceh dan Nusa Tenggara Timur (NTT) nasibnya dinilai terabaikan.

Tetapi, kata Lintang, dari permasalahan tersebut masih banyak mahasiswa dan masyarakat yang belum menyadari kondisi saat ini. Dengan mengikuti Aksi Kamisan Cimahi, ia ingin menarik mahasiswa dan masyarakat untuk menyuarakan keresahan yang tengah mereka alami.

Tetapi ia juga menyadari bahwa di Kota Cimahi, sebagian besar wilayahnya adalah kawasan militer. Ia menduga, dengan kondisi wilayah ini mahasiswa dan masyarakat enggan bersuara di ruang publik.

“Kita itu berada di wilayah militer dan itu menjadi salah satu hal yang membuat mahasiswa itu agak takutlah untuk bergerak karena merasa terbatas,” tutur perempuan berusia 21 tahun itu, di tengah-tengah Aksi Kamisan.

Meski begitu, ia menegaskan demonstrasi termasuk Aksi Kamisan Cimahi telah dijamin konstitusi. Demonstrasi dinilai bagian dari demokrasi. Karena itu, ia menyatakan masyarakat perlu memiliki dan menyebarkan kesadaran terkait perkembangan negara saat ini. Dengan begitu, masyarakat bisa mengawal setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Lapakan buku di Aksi Kamisan Cimahi perdana di Alun-alun Cimahi, seberang Gedung DPRD Kota Cimahi, Kamis, 15 Oktober 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Lapakan buku di Aksi Kamisan Cimahi perdana di Alun-alun Cimahi, seberang Gedung DPRD Kota Cimahi, Kamis, 15 Oktober 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

“Nah saya ingin dengan adanya Aksi Kamisan ini memulai masyarakat untuk sadar bahwasanya kita juga punya andil yang sangat besar gitu untuk merubah keadaan negara sekarang,” bebernya.

Lintang juga menyinggung tentang dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibrang Oktober ini. Lintang menilai kepemimpinan saat ini tidak lebih baik dari sebelumnya. Ia menyinggung peran wakil rakyat, khususnya DPRD, terkait masalah kebakaran hutan yang tidak efektif.

“Jadi saya lihat kepemimpinan Prabowo ini sebuah kemunduran,” jelasnya.

Di sisi lain, kawan seangkatan Lintang, Nadila mengungkapkan Aksi Kamisan Cimahi penting sebagai wadah untuk menyuarakan permasalahan negara saat ini. Dia menyoroti biaya proyek MBG yang menyedot anggaran pendidikan dan kesehatan. Ia juga mengkritik sejumlah kasus keracunan yang diduga terkait MBG.

“Kita sebagai penyambung lidah masyarakat itu rasanya ingin sekali kami suarakan kepada pemerintah untuk tidak untuk bisa mendengar keluh kesah kita dan tidak tutup telinga terus,” beber Nadila.

Aksi Kamisan Cimahi perdana di Alun-alun Cimahi, seberang Gedung DPRD Kota Cimahi, Kamis, 15 Oktober 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Aksi Kamisan Cimahi perdana di Alun-alun Cimahi, seberang Gedung DPRD Kota Cimahi, Kamis, 15 Oktober 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Membuka Lapakan Buku

Aksi Kamisan ini digelar bersamaan dengan lapakan buku oleh klub buku Errata, sebuah komunitas yang digagas oleh mahasiswa Unjani. Sebelum orasi dimulai, para peserta Aksi Kamisan Cimahi membaca-baca buku di lapak.

Komunitas Errata baru berumur satu minggu lebih. Ihsan Abdur, dari komunitas, mengatakan klub bukunya sengaja mengikuti Aksi Kamisan Cimahi.

“Sepamahaman aku, klub buku atau perpustakaan jalanan ini lahir karena informasi tidak seluas itu, dan sulit dijangkau oleh masyarakat (menengah),” terangnya.

Ia melihat komunitasnya memiliki kesamaan visi dengan Aksi Kamisan Cimahi. Selain itu, lapakan buku ini diharapkan dapat menjaring masyarakat secara lebih luas lagi.

Ihsan juga menyinggung tentang peran militer. Menurutnya, militer memiliki rekam jejak pelanggaran HAM di masa lalu.

“Salah satu kemungkinan dalang dari penculikan dan korban-korban pelanggaran HAM tuh kebanyakan dari militer,” tutur mahasiswa Psikologi itu, seraya berharap Aksi Kamisan Cimahi dapat diikuti oleh semua kalangan masyarakat dan konsisten digelar setiap hari Kamis.

Lapakan buku di Aksi Kamisan Cimahi perdana di Alun-alun Cimahi, seberang Gedung DPRD Kota Cimahi, Kamis, 15 Oktober 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Lapakan buku di Aksi Kamisan Cimahi perdana di Alun-alun Cimahi, seberang Gedung DPRD Kota Cimahi, Kamis, 15 Oktober 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Mengapa Kamisan Cimahi Digelar?

Muhammad Nizar G dari Aksi Kamisan Cimahi mengungkapkan bahwa aksi ini dibentuk karena sebelumnya belum ada wadah serupa di Cimahi. Selain itu, jarak yang cukup jauh untuk bergabung dengan Aksi Kamisan Bandung menjadi salah satu alasan mengapa aksi ini perlu dihidupkan di Cimahi.

“Aksi Kamisan Cimahi ini ya saya berniatnya untuk menjadi wadah teman-teman Cimahi gitu. Menjadi gairahnya teman-teman untuk terus bergerak dan berjuang,” ujar mahasiswa Unjani itu.

Aksi Kamisan Cimahi direncanakan akan digelar secara rutin setiap hari Kamis di Alun-alun Cimahi. Pemilihan Alun-alun Cimahi didasarkan pada lokasinya yang strategis dan ramai dikunjungi oleh masyarakat.

Sejumlah isu penting turut disoroti dalam aksi ini, mulai dari mengenang perjuangan para aktivis atau masyarakat yang menjadi korban kekerasan negara, menyuarakan hak korban kekerasan negara di masa reformasi, hingga merespons maraknya kasus kekerasan seksual saat ini.

Nizar berharap, dengan semakin banyaknya titik Aksi Kamisan yang terpantik di Indonesia, maka kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu yang belum tuntas bisa segera diselesaikan penanganannya.

Baca Juga: PROFIL AKSI KAMISAN BANDUNG: Sewindu Merawat Ingatan
Catatan Hitam Merah Negara dari Aksi Kamisan Bandung

Sejarah Aksi Kamisan

Aksi Kamisan Cimahi tidak lepas dari sejarah Aksi Kamisan Bandung. Aksi Kamisan Bandung berawal pada 2013 dari inisiatif Wanggi Hoed yang terinspirasi oleh gerakan Aksi Kamisan di depan Istana Negara, Jakarta.

Awalnya, Wanggi melakukan aksi seorang diri di depan Gedung Sate dengan nama Pantomim Kamisan. Sejak 18 Juli 2013, gerakan ini menggunakan nama Aksi Kamisan Bandung sebagai bentuk kepedulian terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan tuntutan penyelesaian kasus-kasus yang belum tuntas.

Dalam perkembangannya, Aksi Kamisan Bandung tumbuh menjadi gerakan kolektif yang melibatkan masyarakat dan berbagai komunitas. Isu yang diangkat tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran HAM, tetapi juga meluas ke persoalan lokal, seperti penggusuran lahan, ketimpangan kesejahteraan buruh, dan ketidakadilan gender.

Melalui aksi diam, orasi, pembacaan puisi, serta penggunaan poster dan spanduk, gerakan ini menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan mempertahankan ingatan publik terhadap berbagai bentuk ketidakadilan. Meskipun menghadapi stigma, ancaman, dan upaya pembubaran, Aksi Kamisan Bandung terus berlangsung setiap Kamis di depan Gedung Sate.

Secara substansial, Aksi Kamisan bertujuan memperjuangkan hak korban pelanggaran HAM dan keluarganya, meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai persoalan kemanusiaan, serta menyediakan ruang publik bagi kebebasan berpendapat. Pakaian dan payung hitam yang digunakan menjadi simbol duka cita bagi korban dan keluarganya, sekaligus pengingat atas kasus-kasus yang belum terselesaikan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//