Seruan Guru Besar dan Mahasiswa di Bandung: Kami Memohon Pemimpin yang Mau Mendengar
Seruan Guru Besar dan mahasiswa di Bandung melakukan doa bersama sebagai respons terhadap bencana kebakaran hutan, unjuk rasa, dan situasi ekonomi.
Penulis Yopi Muharam24 Oktober 2026
BandungBergerak - “Kami tidak meminta pemimpin tanpa kekurangan. Kami memohon pemimpin yang mau mendengar, bersedia dikoreksi, dan tidak malu mengakui kesalahan,” penggalan do’a itu dipanjatkan dalam aksi Do’a Bagi Indonesia kami, Dengarkan Suara Kami, Pulihkan Negeri Kami, yang digelar oleh Forum Intelektual Antar Disiplin (FIAD), yang digelar di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat pada Jumat sore, 23 Oktober 2026.
Fiad merupakan jaringan dan wadah yang menghimpun para guru besar, akademisi, hingga intelektual publik dari berbagai latar belakang disiplin ilmu di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Aksi ini digelar sebagai respons terhadap situasi Indonesia yang dinilai memburuk dari berbagai level, seperti ekonomi, politik, sosial, hingga penanganan bencana.
Permana Wardayanti Permadi, Guru Besar Astronomi Institute Teknologi Bandung (ITB) sekaligus koordinator aksi menjelaskan, masyarakat perlu melakukan aksi yang terkoordinasi untuk merespon kondisi saat ini. Baginya situasi Indonesia perlu dibenahi dari berbagai sektor.
Menurutnya yang paling penting dari situasi ini ialah memahami masalah yang terjadi, menerima masalahnya, selanjutnya memikirkan langkah terbaik untuk merespons masalah tersebut dengan kepala dingin. Salah satu langkah positif dalam merespons situasi tersebut ialah dengan berdo’a dan menguatkan antarsesama.
“Nah, berdoa bersama adalah salah satu upaya untuk mengumpulkan semuanya tanpa perbedaan politik dan lain sebagainya,” ujar Permadi, usai aksi.
Aksi ini diikuti guru besar dari berbagai kampus seperti Universitas Indonesia (UI), ITB, Unpad, UPI, hingga UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sementara doa dilaukan oleh penganut agama berbeda-beda. Menurut Permana, masing-masing individu bergerak pada porsi dan kompetensi masing-masing untuk terus bersuara dalam membenahi permasalahan yang terjadi. Diketahui, forum ini sebelumnya sudah melakukan aksi yang sama di Tugu Proklamasi, Jakarta, 19 Oktober 2026 lalu.
Peserta aksi, Susi Dwi Haryanti yang juga Guru Besar Hukum Tata Negara (HTN) Unpad mengungkapkan, tema FIAD kali ini Indonesia Berdo’a. Pengambilan tema ini terkait harapan kepada Tuhan Sang Pencipta. Namun, aksi ini dilakukan bukan sebuah tanda untuk menyerah pada situasi, melainkan dibarengi dengan perjuangan dalam melakukan perubahan.
“Bukan berarti menyerah, tetapi kita tetap berusaha, kita tetap berjuang, tetapi kita dikuatkan dengan doa-doa dari berbagai lintas agama,” tutur Susi.
Baca Juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran: Mahasiswa Bandung Soroti Ekonomi, Pendidikan, dan Karhutla
Surat untuk Balita di Palaran yang Meninggal Gegara Asap Pembakaran Hutan
Desakan Membebaskan Massa Aksi yang Ditangkap
Selain do’a bersama, aksi ini juga merespons unjuk rasa yang dilakukan masyarakat dan mahasiswa pada 20 Oktober lalu bertepatan dengan dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran. Menurut Susi, ada mahasiswa yang ikut unjuk rasa ditangkap oleh pihak kepolisian. Doa bersama dalam aksi ini juga untuk menguatkan massa aksi yang ditangkap.
“Ada beberapa mahasiswa dari Fakultas Hukum, mahasiswa saya juga yang ditangkap tetapi sudah dikeluarkan,” lanjut Susi.
Susi berharap, muncul kesadaran untuk memperbaiki kondisi Indonesia. Kesadaran ini diharapkan menjadi visi bersama bagi semua elemen, mulai dari mahasiswa, dosen, dan masyarakat. Dengan begitu mereka bisa bergerak sesuai kemampuannya masing-masing. Jika kemampuan seluruh elemen disatukan, lanjut Susi, perlahan-lahan akan muncul perubahan yang diinginkan.
“Kita selalu punya kemampuan untuk melangkah dan kemampuan-kemampuan semacam itu adalah kemampuan-kemampuan yang harus terus-menerus dilakukan,” terangnya, sembari menegaskan bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa melakukan tindakan.
Hal senada diungkapkan oleh Nahdah Nabillah, Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITB. Dia menurutkan kehadiran mahasiswa di aksi ini sebagai upaya menjaga napas perjuangan, serta merawat apa yang sudah masyarakat lakukan akhir-akhri ini, seperti; menuntut pemerintah untuk melakukan perbaikan dan evaluasi.
Kehadiran mereka di do’a bersama ini pula sebagai bentuk solidaritas bagi kawan-kawan yang tertangkap selepas aksi 20 Oktober lalu. Dia berharap massa aksi yang tertangkap untuk segera dibebaskan oleh pihak kepolisian.
“Untuk teman-teman kami yang masih tertangkap pastinya kami tetap bersolidaritas dan berharap semoga teman-teman kami segera dilepaskan,” harap Nahdah.
Persoalan lain yang menjadi sorotan aksi doa bersama ini adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, hingga Papua. Sejak tiga bulan karhutla berlangsung, pemerintah belum juga menetapkan sebagai bencana nasional.
Nahdah, peserta aksi lainnya, mengungkapkan kondisi karhutla saat ini sangat mengkhawatirkan, bahkan diperparah dengan El Nino yang sedang terjadi di Indonesia. Menurutnya penanganan pemerintah merespons karhutla dinilai sangat lamban sehingga menimbulkan banyak korban jiwa.
“Padahal selama ini untuk kebijakan-kebijakan lain tuh sangat kilat,” bebernya.
Dia berharap pemerintah lebih bijak dalam menentukan skala prioritas. Ia menilai karhutla menyebabkan efek domino berkepanjangan bagi masyarakat.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


