• Berita
  • Suara Warga dari Terminal Ledeng: Seni, Botram, dan Kritik terhadap Pembangunan BRT yang Timpang

Suara Warga dari Terminal Ledeng: Seni, Botram, dan Kritik terhadap Pembangunan BRT yang Timpang

Perhelatan kolektif di Terminal Ledeng, merawat ingatan ruang publik, mengingatkan solidaritas untuk pedagang.

Area parkiran motor Terminal Ledeng, Bandung, disiapkan menjadi panggung, 17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

Penulis Ardhzohal Roman Ario Bono31 Oktober 2026


BandungBergerak - Di tengah deretan angkot dan mobil elf di, ruko yang sebagian telah tutup dan sebagian lagi mulai mengosongkan barang-barang, Azis Zulfikar bersama rekan-rekannya sibuk merakit panggung performance musik, Sabtu sore, 17 Oktober 2026. Sementara beberapa pengisi acara baru saja tiba dengan mengangkut set peralatan musik mereka.

Satu per satu penonton, baik warga lokal Ledeng maupun pengunjung dari luar kawasan mulai berdatangan. Mereka disambut berbagai ornamen artwork yang menghiasi dinding dan sudut terminal yang sedang dalam proses pembangunan BRT Bandung Raya.

Di area parkir motor yang kian riuh, beberapa warga lokal mulai membuka lapak-lapak swadaya. Ada lapak pempek, lapak MBG (Mari Botram Gratis) soto ayam, hingga lapak minuman yang disiapkan untuk meramaikan suasana.

Magrib tiba. Terminal Ledeng merayakan perpisahannya lewat sebuah gelaran kolektif bertajuk “Proyek Dialog: RuangRuangRuang”, sebuah nama yang sengaja diulang tiga kali sebagai penegasan bahwa terminal tua di utara Kota Bandung ini bukan sekadar titik kumpul transit kendaraan umum, melainkan ruang hidup, tempat berinteraksi, dan ruang publik warga yang telah melintasi lintas generasi. Acara kolektif tersebut sebagai penyikapan terhadap pembangunan BRT Bandung Raya di Terminal Ledeng.

Salah satu ruko Warung Nasi di Terminal Ledeng, Bandung,  17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)
Salah satu ruko Warung Nasi di Terminal Ledeng, Bandung, 17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

Pelataran parkir motor telah menyala bagaikan panggung utama. Dengan dentuman alunan musik dan gemerlap cahaya lighting, panggung pertunjukan musik secara dibuka. Tak berselang lama, alunan musik elektronik menyahut nyaring dari sudut lain, area pool angkot dan elf. Di sana, gemerlap cahaya dan musik elektronik menghidupkan suasana pool. Satu unit angkot dan satu unit mobil elf yang terparkir dihiasi artwork khusus.

Pertunjukan sempat terhenti sejenak untuk mengumandangkan azan. Setelah itu panggung kembali bergemuruh. Suasana terminal kian padat oleh pengunjung yang tumpah ruah dari kalangan warga terminal, warga ledeng, hingga masyarakat dari luar daerah. Lapakan makanan dan minuman pun diserbu pengunjung yang ingin menikmaki malam kebersamaan.

Saat dua panggung musik sedang ramai-ramainya, perhatian pengunjung terdorong ke sebelah kiri pool terminal, tepat di depan deretan ruko pedagang yang sudah dikosongkan. Di sana, Azis Zulfikar dan MS Noviandi sibuk menyiapkan proyektor. Mereka memutar video stop motion inspirasi karya maestro Joko Pekik bertajuk “Berburu Celeng”. Video diputar secara berulang dengan volume yang lantang, memantik perhatian pengunjung dari area parkiran dan pool untuk merapat.

Penampilan musik membuka acara di Terminal Ledeng, Bandung, 17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)
Penampilan musik membuka acara di Terminal Ledeng, Bandung, 17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

Atmosfer acara kian memuncak. Di area parkir motor, para pengunjung hanyut dalam aksi moshing mengikuti irama musik berdistorsi keras. Sebagian menikmati alunan musik DJ di pool terminal, sementara sebagian lainnya terpaku menyaksikan live performance art Azis Zulfikar dan MS Noviandi. Keduanya memperagakan aksi teatrikal secara langsung di atas atap mobil elf.

Noviandi menjelaskan, video stop-motion tersebut terinspirasi dari karya Joko Pekik Berburu Celeng, yang mengandung simbol kritik terhadap kekuasaan otoriter di masa Orde Baru. Dalam konteks hari ini, gerak para figur yang sebenarnya diam menggambarkan kebingungan masyarakat yang seolah terus bergerak, tetapi tak kunjung beranjak. Barang-barang yang mereka bawa menjadi simbol beban yang dipikul tanpa kepastian arah.

“Cuma ya nggak pergi kemana-mana, kita cuma jalan di tempat,” kata Noviandi.

Noviandi memilih terminal sebagai ruang pamer untuk merespons otoritarianisme yang terus hadir dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mendekatkan seni kepada masyarakat luas. Baginya, seni tidak semestinya terbatas di galeri formal yang cenderung diakses kalangan tertentu, tetapi harus bisa dinikmati dan dimaknai siapa saja di ruang publik.

“Aku lebih suka karya ini dinilai oleh masyarakat luas daripada orang yang itu-itu saja dan elitis,” katanya.

Panggung penampilan musik elektronik dan DJ yang baru saja disiapkan di Terminal Ledeng, Bandung,  17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)
Panggung penampilan musik elektronik dan DJ yang baru saja disiapkan di Terminal Ledeng, Bandung, 17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

Dapur Acara dan Penolakan Alat Berat

Di balik gelaran RuangRuangRuang: Proyek Dialog, Azis Zulfikar, seniman muda sekaligus penggerak LedengLedengLedeng, menjelaskan bahwa acara ini lahir sebagai respons terhadap rencana pengembalian fungsi Terminal Ledeng semata-mata sebagai tempat transportasi. Menurutnya, terminal juga menyimpan ingatan kolektif dan sejarah sebagai ruang publik bagi masyarakat sekitar.

Persiapan acara berlangsung hanya dalam tiga hari melalui jaringan kolektif. Azis bersama Kolektifun, Dago Elos, Bohemian Productions, sejumlah himpunan kampus, dan komunitas kreatif saling membantu menyediakan kebutuhan acara, mulai dari tata suara dan pencahayaan hingga pengisi kegiatan. Dukungan tersebut memungkinkan beragam aktivitas terselenggara, seperti pertunjukan musik, performance art, video art, makan botram gratis, dan lapak komunitas.

Meski digarap secara mendadak, Azis memandang keterbatasan waktu justru melahirkan kejutan estetis dan kebersamaan yang sulit direplikasi dalam acara komersial. Lebih dari sekadar perayaan, gelaran ini menjadi upaya menegaskan bahwa terminal dapat berfungsi sebagai ruang keseharian, ruang publik, dan ruang interaksi warga.

"Ini juga bisa jadi ruang-ruang keseharian, ruang-ruang publik, ataupun ruang terbuka hijau untuk masyarakat sekitar," katanya.

Pemutaran video Berburu Celeng di Terminal Ledeng, Bandung,  17 Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)
Pemutaran video Berburu Celeng di Terminal Ledeng, Bandung, 17 Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Namun, kehangatan panggung malam itu mendadak terusik. Tepat pukul 22.17 WIB, di saat panggung musik dan pertunjukan sedang berada di puncak kemeriahan, sebuah truk besar mendadak datang ke gerbang terminal. Truk tersebut ternyata mengangkut alat berat.

Kedatangan alat berat yang tiba-tiba ini menyulut emosi massa penonton dan warga. Tanpa komando, beberapa peserta langsung menghadang dan mengusir truk tersebut keluar. Mereka bahkan membarikade gerbang pintu masuk terminal menggunakan road barrier (pembatas jalan) plastik oranye yang ada di lokasi hingga truk pembawa alat berat itu terpaksa mundur dan pergi.

Paradoks Kerahiman dan Beban Biaya Mandiri Pedagang

Di balik gelaran perpisahan Terminal Ledeng, nasib pedagang ruko masih dibayangi ketidakpastian. Azis Zulfikar bersama kawan-kawan LedengLedengLedeng turut mengawal para pedagang dan pelaku UMKM yang belum mendapat kepastian pencairan dana, meski telah menandatangani dokumen bermeterai. Ia menilai pemerintah menerapkan standar yang timpang: pedagang dituntut mematuhi tenggat pengosongan, tetapi kepastian atas hak kompensasi mereka justru tertunda.

“Karena mereka memaksa kita untuk menentukan tenggat waktu untuk keluar, tapi untuk kebutuhan kita sehariannya, mereka tidak bisa menentukan tanggal-tanggalnya. Nah, itu kan jadi paradoks ya,” kata Azis.

Fidya, 38 tahun, warga RW 03 Ledeng yang telah berjualan cireng di terminal sejak September tahun lalu dan telah mengenal terminal sejak kecil, mengungkapkan bahwa ia terpaksa merogoh kocek pribadi untuk biaya pembongkaran kios. Ia menjelaskan bahwa dirinya memilih untuk mencicil pengosongan kios sejak H-10 sebelum tenggat penutupan. 

“Kita kan bongkar-bongkar dan pindahan itu harus pakai dana ya, kalau nggak pakai dana kan nggak bisa,” ucapnya.

Baca Juga: CERITA DARI TERMINAL LEDENG: Kang Mono tak Ingin Mesin Fotokopinya Berhenti
Warga Mempertanyakan Dampak Pembangunan BRT Bandung Raya di Terminal Ledeng

Penampilan musik di Terminal Ledeng, Bandung,  17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)
Penampilan musik di Terminal Ledeng, Bandung, 17 Oktober 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

MBG (Mari Botram Gratis)

Di tengah ketidakpastian nasib para pedagang yang terdampak BRT Bandung Raya di Terminal Ledeng, Fiali dan Adit dari lapak Mari Botram Gratis (MBG) turut meramaikan acara dengan menyajikan soto ayam hangat bagi warga dan pengunjung.

Fiali menjelaskan, lapak tersebut mengusung tradisi botram atau makan bersama yang lekat dengan kebiasaan warga saat menggelar syukuran dan acara komunitas. Bagi mereka, makan bersama menjadi cara merawat kebersamaan di tengah ketidakpastian nasib terminal.

Keresahan Fiali juga berangkat dari ikatan keluarganya dengan lahan terminal sejak era 1970-an. Ia khawatir proyek BRT akan mempersempit akses masyarakat terhadap ruang yang selama ini menjadi tempat berkumpul dan menyelenggarakan kegiatan. Setelah pembangunan, warga diperkirakan hanya dapat menggunakan area tertentu di sekitar terminal, bukan lagi seluruh kawasan seperti sebelumnya.

Bagi Fiali, perubahan itu bukan sekadar kehilangan tempat beraktivitas, melainkan juga kehilangan ruang yang telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya selama puluhan tahun.

"Walaupun nanti kalau kita nggak bisa pakai tempat ini, rasanya kayak kita diusir dari rumah sendiri. Ini kan rumah kita, tapi kita yang terusir dari rumah sendiri,” kata Fiali.

Angkot dengan artwork Ledeng in Memoriam di Terminal Ledeng, Bandung,  17 Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)
Angkot dengan artwork Ledeng in Memoriam di Terminal Ledeng, Bandung, 17 Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Berbagai pandangan kritis juga mengemuka dari pengunjung dan musisi yang hadir dalam gelaran RuangRuangRuang. Dedes, 22 tahun, mahasiswi UPI asal Subang yang bergabung dengan Setia Rakyat UPI, menilai penutupan Terminal Ledeng mencerminkan minimnya ruang dialog antara pemerintah dan warga. Baginya, kemeriahan acara justru menyimpan kesedihan karena lahir sebagai respons atas kebijakan yang dianggap mengabaikan suara masyarakat.

“Yang aku lihat, justru Ledeng ini jadi salah satu bukti konkret bahwa pemerintah memang tidak demokratis kepada rakyatnya sendiri. Perjuangan atau perlawanan kita menuntut hak kemanusiaan tidak pernah mereka dengar,” kata Dedes.

Abah Omtris, 57 tahun, solois yang tampil bersama grup musik Kapak Ibrahim asal Cicaheum, menyoroti risiko gentrifikasi akibat pembangunan infrastruktur. Ia menegaskan bahwa pembangunan semestinya tidak mengorbankan ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat. Pemerintah, menurutnya, perlu mempertimbangkan dampak pembangunan sebelum mengambil keputusan.

“Pembangunan penting, tapi saya harap tidak berdampak negatif terhadap masyarakat, terutama ruang hidup masyarakat,” kata Omtris.

Sementara itu, Raskal dari Band Merapi memandang panggung seni di ruang publik sebagai sarana menyampaikan kritik yang tidak selalu mendapat tempat di media sosial. Melalui musik, seniman dapat mengekspresikan kemarahan terhadap persoalan politik dan sosial yang terjadi di Indonesia.

“Kesimpulannya, kenapa musisi harus tampil di ruang publik? Agar bisa mengekspresikan apa yang tidak bisa diekspresikan oleh orang lain di media sosial,” lata Raskal.

Sementara itu, Ballerina, 24 tahun, dari kolektif LedengLedengLedeng menyebut RuangRuangRuang sebagai upaya mengabadikan ingatan kolektif sebelum terminal dirombak. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat solidaritas warga dan mengingatkan bahwa Terminal Ledeng selama ini merupakan ruang yang tumbuh dari kehidupan masyarakat.

“Orang-orang yang datang ke sini juga untuk mengingat bahwa terminal ini dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” katanya.

Menjelang tengah malam acara bubar. Sebelum meninggalkan terminal, peserta, warga, dan panitia bergotong royong memunguti sampah, menyapu, serta merapikan lokasi. Mereka menutup acara dengan membersihkan ruang yang selama ini menjadi tempat berkumpul dan membangun ingatan bersama, menjelang pengosongan kawasan untuk proyek BRT.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//