• Berita
  • Dari Lapangan Teuku Umar, Warga Menendang Balik Ancaman Alih Fungsi

Dari Lapangan Teuku Umar, Warga Menendang Balik Ancaman Alih Fungsi

Pertandingan sepak bola menjadi cara warga untuk mempertahankan ruang publik mereka. Diramaikan Maragboys vs Riverside Forest FC.

Acara Sepak Bola Kampung Kota, Tolak Alih Fungsi Lapangan Sepak Bola di Lapangan Teuku Umar, Bandung, Minggu, 1 November 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Penulis Jawahir Alma'ani 3 November 2026


BandungBergerak - Gelak tawa membahana di Lapangan Teuku Umar, Bandung, Minggu, 1 November 2026. Warga, klub sepak bola lokal, dan komunitas akar rumput memenuhi setiap sudut lapangan. Mereka bersenda gurau sambil menyaksikan pertandingan sepak bola dengan latar belakang spanduk-spanduk bernada perlawanan menolak alih fungsi lapangan oleh Pemkot Bandung. 

Sejumlah brand turut menunjukkan solidaritas dalam pertandingan sepak bola bertajuk “Sepak Bola Kampung Kota: Tolak Alih Fungsi Lapangan Sepak Bola”. Di antaranya adalah Maternal Disaster, Prung Terraceswear, First and Famous, Lads and Club, Bandung Belong to Us, Against, dan My Pride.

Brand-brand tersebut membawa baju, topi, dan barrel bag sebagai hadiah untuk memeriahkan berbagai permainan yang melibatkan penonton di sela-sela pertandingan. Permainan itu antara lain adu penalti, kuis, dan tantangan menari dengan gaya Brasil.

Pertandingan berlangsung di tengah rencana alih fungsi lapangan yang mendapat penolakan dari warga sekitar maupun pengguna media sosial. Dalam pertandingan persahabatan kali ini, empat klub bola turut ambil bagian, yakni Maragboys, Riverside Forest FC, Teuku Umar Soccer Club (TUSC), dan Created to Respect (CTR). Mereka memainkan empat pertandingan yang, menurut komentator, menggunakan sistem “rarajaan”.

Pertandingan pertama mempertemukan Riverside Forest dan Maragboys. Setiap babak berlangsung selama 15 menit. Riverside Forest mencetak satu gol pada babak pertama dan disambut sorak-sorai penonton. Pada babak kedua, Maragboys membalas gol tersebut. Penonton kembali bersorak.

Di atas lapangan seluas 2.800 meter persegi itu, sepak bola tampaknya bukan sekadar tentang siapa yang mencetak gol terbanyak. Lebih dari itu, permainan menjadi ruang bagi semua orang untuk bersenang-senang di atas tanah mereka sendiri.

Di tengah pertandingan, hujan mengguyur lapangan. Para penonton berteduh di warung terdekat atau di balik stan tempat komentator memeriahkan pertandingan. Beberapa lainnya menggunakan spanduk-spanduk perlawanan sebagai pelindung dari hujan.

Namun, para pemain tidak meninggalkan lapangan. Mereka tetap menggiring, merebut, mengoper, dan menendang bola ke arah gawang. Genangan air mulai terbentuk di sejumlah bagian lapangan.

“GOLLLL,” teriak komentator di sisi utara lapangan, memeriahkan pertandingan.

Spanduk di Lapangan Teuku Umar, Bandung, Minggu, 1 November 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)
Spanduk di Lapangan Teuku Umar, Bandung, Minggu, 1 November 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Alih Fungsi Lapangan Teuku Umar

Lapangan Teuku Umar menjadi sorotan setelah muncul rencana pembangunan oleh Pemerintah Kota Bandung. Dalam pemberitaan sebelumnya, disebutkan bahwa vendor akan membangun lapangan skateboard. Namun, dalam sebuah audiensi, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) menyebutkan bahwa proyek tersebut juga akan mencakup lapangan sepak bola berukuran lebih kecil. Versi terbaru rencana pembangunan mencakup skatepark, jogging track, plaza, area duduk, dan lapangan futsal. 

Pada 26–30 Oktober, isu pembangunan Lapangan Teuku Umar ramai diperbincangkan di media sosial. Pada 28 Oktober, warga menggelar diskusi terbuka bertajuk “Tolak Alih Fungsi Lapang”. Sehari kemudian, Kepala Bidang Pertamanan DPKP Kota Bandung Nana Kurniawan mengatakan desain pembangunan sebenarnya sudah final. Namun, menyusul penolakan warga, rencana tersebut akan dievaluasi oleh pimpinan.

Lapangan ini memiliki keterikatan erat dengan warga. Sejak 1990-an, warga memanfaatkannya untuk bermain sepak bola dan berkumpul. Awalnya, kawasan tersebut merupakan taman terbengkalai dengan dua lapangan voli. Warga kemudian bergotong royong dan mengumpulkan uang secara swadaya untuk membangun lapangan sepak bola.

Pada 2013–2018, ketika Ridwan Kamil menjabat Wali Kota Bandung, kawasan ini masuk dalam program taman tematik dan ditetapkan sebagai Taman Fitnes. Belakangan, taman tersebut kurang terurus. Warga mengaku merawatnya secara swadaya. Karena itu, mereka terkejut ketika material proyek mulai berdatangan baru-baru ini.

Warga tidak mengetahui tujuan kedatangan material bangunan tersebut. Mereka kemudian mencari informasi ke kelurahan. Pemuda dan Karang Taruna selanjutnya mengirim surat kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) untuk meminta audiensi mengenai nasib Lapangan Teuku Umar.

Jadi, pertandingan sepak bola pada 1 November 2026 itu digelar bukan tanpa alasan. Warga dan komunitas datang untuk mempertahankan sejarah yang terukir di Lapangan Teuku Umar. Warga dari berbagai generasi yang pernah aktif bermain di lapangan tersebut turut hadir meramaikan aksi penolakan terhadap rencana alih fungsi.

Pian, Ketua Karang Taruna RW 10, bersyukur atas solidaritas berbagai pihak yang ingin mempertahankan Lapangan Teuku Umar.

“Jadi lebih banyak aktivitas di sini ya, banyak yang mau support,” ucap Pian.

Pian memahami betul interaksi warganya di Lapangan Teuku Umar. Aktivitas di lapangan ini beragam. Selain sepak bola, warga juga bermain rugbi, muay thai, dan tinju. Lapangan tersebut juga menjadi tempat senam ibu-ibu dan berkumpulnya para pemuda.

“Sebenarnya nggak alih fungsi atau apapun kita juga sebenarnya tiap hari pun ada main bola gitu,” kata Pian.

Salah seorang warga yang turut bersolidaritas, Erlangga Putra Prayoga, mengatakan penolakan terhadap alih fungsi lapangan dilakukan demi menjaga ruang publik, khususnya ruang bermain anak.

“Kalau misalkan si lapang ini diambil alih sama pemerintah, si anak kecil nanti mau main di mana lagi gitu,” ungkapnya.

Erlangga datang bersama teman-temannya dari komunitas CTR. Mereka merasa terpanggil oleh keresahan warga terkait rencana alih fungsi Lapangan Teuku Umar. Menurut Erlangga, CTR merupakan salah satu komunitas yang kerap bermain di lapangan tersebut sepulang sekolah.

Dalam pertandingan ini, kata Erlangga, mereka datang untuk mempertahankan kenangan di Lapangan Teuku Umar sekaligus menyuarakan penolakan terhadap perampasan ruang bermain.

Pendapat serupa disampaikan Dede, salah satu perwakilan Maragboys. Ia menegaskan bahwa sepak bola merupakan “alat perjuangan”. Menurutnya, mengisi Lapangan Teuku Umar dengan berbagai kegiatan, terutama sepak bola, dapat membuat ruang publik tersebut tetap hidup.

“Kita bisa melawan dengan cara kita bermain bola, kita menyuara-nyuarakan di lapangan, di pinggir lapangan, di tribun atau di manapun kita bisa menyuarakan perlawanan itu,” kata Dede.

Bagi warga, Lapangan Teuku Umar lebih dari sekadar tempat bermain bola. Wiya, 27 tahun, datang bersama suami dan anaknya yang masih balita untuk menyaksikan pertandingan.

“Hari ini juga walaupun hujan tetap seru,” kata Wiya. 

Dahulu, Wiya kerap menyaksikan adiknya berangkat bermain sepak bola ke Lapangan Teuku Umar. Adiknya juga tergabung dalam SSB Teimer bersama anak-anak RW 10 lainnya.

Baca Juga: Kontroversi Pembangunan Lapangan Teuku Umar: Ini Bukan Tentang Sepak Bola Versus Skateboard, tapi Tentang Pengabaian Suara Komunitas dan Warga
Suara Warga dari Terminal Ledeng: Seni, Botram, dan Kritik terhadap Pembangunan BRT yang Timpang

Spanduk di Lapangan Teuku Umar, Bandung, Minggu, 1 November 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)
Spanduk di Lapangan Teuku Umar, Bandung, Minggu, 1 November 2026. (Foto: Jawahir Almaani/BandungBergerak)

Klub Sepak Bola Lokal

Lapangan Teuku Umar turut melahirkan klub-klub sepak bola lokal. Effan, salah seorang pemain Teuku Umar Soccer Club (TUSC), mengatakan lapangan tersebut menjadi tempatnya bertumbuh dalam dunia sepak bola.

Sejak berusia enam tahun, ia kerap bermain di lapangan itu bersama teman-temannya. Mereka bermain sepak bola, kejar-kejaran, atau sekadar menghabiskan waktu di bawah pohon rindang.

Effan menyaksikan perubahan lapangan dari tahun ke tahun, terutama sebelum kawasan tersebut dinamai Taman Fitnes. Saat memasuki sekolah dasar, orang tuanya mendaftarkan dia ke SSB Teimer. Klub tersebut telah bertahan secara turun-temurun di wilayah Teuku Umar dan sekitarnya.

“Karena ya karena turun-temurun ya SSB Teimur tuh dari orang tua, dari kakek. Jadi mau enggak mau kalau kita main bola pasti dimasukin ke Teimer,” ungkap Effan kepada BandungBergerak.

Menurut Effan, lapangan ini tidak hanya digunakan oleh warga Kelurahan Teuku Umar, tetapi juga masyarakat dari berbagai daerah. Teimer sendiri merupakan singkatan dari lima wilayah yang sejak dahulu aktif menggunakan lapangan tersebut, yaitu Teuku Umar, Imam Bonjol, Raden Fatah, Teuku Angkasa, dan Multatuli.

Ia berlatih secara rutin setiap pekan sejak SD, SMP, hingga SMA. Saat masih SMP, ia kerap berlatih pada pagi hari dan bertanding dengan teman-teman maupun pemain dewasa pada sore hari.

Effan juga mengenang masa ketika komunitas Viking beberapa kali berlatih di lapangan tersebut, bahkan menggelar turnamen.

“Dulu kan sering dipakai turnamen sama komunitas Viking ya, kayak tim England yang kayak gitu. Dulu udah rame dari dulu,” ungkapnya.

Harapan Warga

Sore mulai menghangat di Lapangan Teuku Umar. Permukaan lapangan masih basah setelah diguyur hujan. Komentator menyampaikan salam perpisahan kepada seluruh pihak yang hadir dan menunjukkan solidaritas. Para pemain telah selesai membersihkan sepatu bola yang kotor oleh lumpur, lalu meninggalkan lapangan.

Lapangan mulai sepi. Hanya tersisa warga setempat dan genangan besar di depan gerbang barat. Beberapa warga mengambil cangkul, pengki, dan linggis untuk mengalirkan air dari genangan menuju saluran pembuangan. Cangkul digunakan untuk membuat jalur aliran air, linggis untuk memperlebar jalur tersebut, sedangkan pengki digunakan untuk mendorong air.

Setiap kali hujan mengguyur dan menimbulkan genangan, warga harus membersihkannya sendiri. Mereka tak pernah lelah merawat lapangan tersebut. Harapan warga masih sama: jangan alihfungsikan Lapangan Teuku Umar.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//