Kontroversi Pembangunan Lapangan Teuku Umar: Ini Bukan Tentang Sepak Bola Versus Skateboard, tapi Tentang Pengabaian Suara Komunitas dan Warga
“Kami yang kerja bakti, kami yang merapikan. Eh, sekalinya diperhatikan (oleh pemerintah), malah mau dialihfungsikan.”
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah30 Oktober 2026
BandungBergerak – Kabar tentang alih fungsi Lapangan Teuku Umar, Kelurahan Lebakgede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung menjadi skatepark, datang secara mengejutkan bagi sebagian besar warga dan komunitas yang biasa beraktivitas di sana. Tri, perempuan warga setempat, mengetahui informasi ini dari sang anak yang secara rutin berlatih sepak bola di lapangan tersebut.
“Bu, aku kayaknya enggak akan main bola. Katanya mau dijadiin lapangan skateboard,” ujar Tri menirukan percakapan dengan sang anak dalam diskusi terbuka “Tolak Alih Fungsi Lapang”, Rabu sore, 28 Oktober 2026. “Kata siapa? Itu kata pelatih,”
Anak Tri merupakan satu dari banyak anak-anak yang bergabung dalam sekolah sepak bola (SSB) yang menjadikan Lapangan Teuku Umar sebagai tempat berlatih dua kali sepekan. Pesertanya bukan hanya anak-anak dari RW setempat. Tidak sedikit dari mereka datang dari kelurahan dan kecamatan tetangga.
Alih-alih mengalihfungsikan lapangan, Tri berharap agar pemerintah memperbaiki fasilitas yang ada. Menurutnya, lapangan memungkinkan anak-anak memiliki tempat bermain dan berlatih yang layak sehingga mereka tidak melakukannya di gang-gang sempit yang dapat membahayakan keselamatan mereka, selain mengganggu aktivitas warga sekitar.
Novian, warga setempat, mengaku terkejut ketika sedang bermain bola dan mendapati material mulai berdatangan. Itulah pertama kali kabar mengenai rencana alih fungsi Lapangan Teuku Umar menjadi skatepark diketahui oleh banyak warga.
“Kita tidak tahu material itu mau digunakan untuk apa,” ucapnya.
Novian mempertanyakan klaim bahwa pemerintah telah berkomunikasi dengan warga. Menurutnya, komunitas yang selama ini menggunakan lapangan belum pernah diajak berdiskusi mengenai rencana alih fungsi tersebut.
Informasi tentang rencana pembangunan di lapangan baru diperoleh setelah mereka menanyakannya ke pihak kelurahan. Melakukan penelusuran lebih jauh, orang-orang muda bersama Karang Taruna kemudian mengirimkan surat ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung untuk meminta audiensi ulang. Berdasarkan berkas yang ditunjukkan vendor, diketahui bahwa rencana awal pembangunan berupa lapangan skateboard. Namun, saat audiensi dengan DPKP, disebut akan ada penambahan pembangunan lapangan sepak bola berukuran lebih kecil.
Novian membantah anggapan bahwa Lapangan Teuku Umar yang memiliki luas sekitar 2.800 meter persegi ini tidak dimanfaatkan. Ada banyak aktivitas warga di sana. Selain anak-anak yang bermain sepak bola, lapangan tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan lain, seperti latihan tinju dan bahkan acara seleksi perwakilan Kota Bandung yang digelar Karang Taruna kelurahan dan kecamatan.
Novian berharap pemerintah bisa membuka ruang dialog dengan masyarakat sebelum melanjutkan rencana pembangunan. Lapangan tersebut masih dibutuhkan warga dan tidak semestinya langsung dialihfungsikan tanpa melibatkan para penggunanya. Yang mereka harapkan adalah perbaikan fasilitas tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat bermain sepak bola.
Proyek revitalisasi Lapangan Teuku Umar menjadi topik panas pembicaraan publik, terutama di media sosial, dalam empat hari terakhir seteleh Pemerintah Kota Bandung disebut mengalokasikan anggaran Rp3,1 miliar. Versi terkini, proyek mencakup pembangunan skatepark, jogging track, plaza, area duduk, serta lapangan futsal.
Lewat penelusuran situs web Sirup Inaproc, diketahui ada tiga paket proyek dengan kata kunnci “Taman Bugar”. Dua paket dengan mekanisme Pengadaan Langsung adalah “DED Pembangunan Taman Bugar” dengan nilai Pagu Rp92,6 juta serta “Konsultan Pengawasan Pembangunan Taman Bugar” dengan nilai Pagu Rp99,2 juta. Proyek utama “Pembangunan Taman Bugar” dengan nilai Rp3,1 miliar dilangsungkan lewat mekanisme Pembelian Secara Elektronik (E-Purchasing) yang diumumkan pada 13 September 2026. E-Purchasing diartikan sebagai “tata cara pembelian barang/jasa melalui sistem katalog elektronik”. Belum diperoleh informasi tentang pemenang paket ini.
Kepala Bidang Pertamanan DPKP Kota Bandung, Nana Kurniawan, belum bersedia memberikan keterangan lebih lanjut mengenai rencana pembangunan ini. Ia mengatakan, pimpinan meminta agar rencana itu dievaluasi.
“Kalau kemarin kan terkait desain sudah fix, tapi karena ada letupan-letupan penolakan jadi akan dievaluasi sama pimpinan. Jadi saya belum bisa memberikan keterangan,” katanya saat dihubungi BandungBergerak, Kamis, 29 Oktober 2026.

Lapangan dan Kawasan dalam Riwayat Kota
Dalam tulisan Atep Kurnia yang terbit di BandungBergerak, Riwayat Jalan di Kota Bandung (11): Kompleks Provinsi, Pelukis, dan Anggota Kerajaan Belanda, dijelaskan bahwa kawasan Lebakgede masih ditandai dengan garis putus-putus dakan peta Plan of Bandoeng (1924), menandakan infrastruktur jalan yang belum dibangun. Empat tahun kemudian, empat jalan di kawasan tersebut telah tercatat menggunakan nama para pelukis Belanda, yakni Frans Halslaan, Jan Steenlaan, Potterlaan, dan Van Ostadelaan.
Atep menjelaskan, pembangunan kawasan Lebakgede rampung antara 1924 dan 1927, dan bertahan setidaknya hingga 1935. Berdasarkan peta Bandoeng tahun tersebut, jalan-jalan di sebelah timur Van Ostadelaan masih ditandai dengan garis-garis putus-putus.
Pada 1950-an, di sekitar Lebakgede terdapat nama Sorghvlietlaan. Kini, banyak jalan sekitar Kelurahan Lebakgede, Kecamatan Coblong, dinamai dengan tokoh-tokoh Indonesia yang hidup dari abad ke-16 hingga awal abad ke-20. Di Kelurahan Lebakgede, terdapat Jalan Raden Patah, Jalan Dipati Ukur, Jalan Singaperbangsa, Jalan Kyai Gede Utama, Jalan Kyai Luhur, Jalan Hasannudin, Jalan Bagus Rangin, Jalan Imam Bonjol, Jalan Teuku Umar, Jalan Tengku Angkasa, Jalan Haji Hasan, Jalan Haji Wasid, dan Jalan Tubagus Ismail. Selain itu, terdapat Jalan Surapati dan Jalan Diponegoro yang melintasi lebih dari satu kelurahan dan kecamatan.
Pada masa kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Wakil Wali Kota Oded M. Danial (2013–2018), Pemkot Bandung mengembangkan program taman tematik melalui proyek revitalisasi taman kota. Salah satunya adalah Taman Fitnes di Jalan Teuku Umar–Imam Bonjol yang mengusung konsep penempatan peralatan gym dan fasilitas olahraga lain di luar ruangan sehingga mudah diakses warga.
Dalam perjalanan waktu, tidak sedikit taman tematik kurang terurus. Koernia Purwihartuti dan Ade Wildan Fardiyana, dalam artikel Analisis Kualitas Aset Taman Fitness Berdasarkan Development of The Neighbourhood Green Space Tool yang terbit dalam Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas (2026) menyebut Taman Fitnes sebagai ruang terbuka hijau publik yang memiliki fasilitas utama dan penunjang. Dalam observasinya, kedua peneliti menemukan sejumlah persoalan, antara lain sampah yang berserakan di lapangan sepak bola dan jalur jogging track, akar pohon yang menonjol di lapangan, dan beberapa alat fitness yang hilang. Taman tersebut juga belum dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang, seperti tempat sampah, papan informasi, meja piknik, dan tempat berteduh
Sebagai kesimpulan, kedua peneliti dari Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung ini menyebut kualitas aset Taman Fitness masih perlu dikaji dan dikembangkan kembali. Mereka merekomendasikan perencanaan pengembangan aset dan fasilitas untuk mengoptimalkan fungsi taman.

Bagi warga sekitar, Taman Fitnes atau Lapangan Teuku Umar bukan sebatas ruang terbuka hijau. Sejak tahun 1990-an, lapangan tersebut telah menjadi tempat bermain bola sekaligus titik warga berkumpul dan bersosialisasi. Ada latihan rutin Sekolah Sepak Bola (SSB), tapi ada juga latihan tinju dan perayaan 17 Agustus.
Zeno, 28 tahun, warga setempat, menceritakan bahwa kawasan tersebut mulanya merupakan taman. Warga kemudian bergotong-royong membangun lapangan agar bisa digunakan untuk bermain sepak bola. Sejak kecil, Zeno menggunakan lapangan itu untuk bermain bola ketika bergabung dalam SSB Teimer. SSB ini telah berganti nama menjadi Tengku Umar Soccer Club.
Zeno mengaku kaget dan kecewa ketika mengetahui lapangan tersebut akan dialihfungsikan. Pasalya, warga secara mandiri selama bertahun-tahun telah melakukan kerja bakti untuk merapikan lapangan yang dinilai kurang mendapat perhatian.
“Lapangan ini nggak pernah diperhatikan selama bertahun-tahun. Lapangannya begini-begini saja. Kami yang kerja bakti, kami yang merapikan. Eh, sekalinya diperhatikan (oleh pemerintah), malah mau dialihfungsikan,” keluhnya.
Cerita lain datang dari Andri, 40 tahun, warga yang lahir dan besar di kawasan tersebut. Ia mengingat, sebelum menjadi lapangan sepak bola, kawasan itu merupakan taman yang tidak terurus dengan dua lapangan voli di bagian ujung.
Melihat kondisinya terbengkalai, anak-anak setempat berinisiatif melakukan kerja bakti setiap Sabtu dan Minggu untuk membangun lapangan sepak bola secara swadaya. Tiang gawang hingga jaring penahan bola dibuat melalui patungan.
“Jadi, kalau sekarang pemerintah mengklaim lapangan ini tidak terurus atau tidak digunakan, itu sangat keliru. Yang merawat dan menghidupkan lapangan ini dari dulu adalah warga Teuku Umar sendiri,” ujar Andri.
Baca Juga: Setelah Revitalisasi Taman di Bandung: Layar Mati, Sungai Kotor, Trek Hutan Ditutup
PAYUNG HITAM #81: Dari Taman Cikapayang ke Taman Film, Mengembalikan Sepak Bola Kepada Semua

Skaters Dorong Perbaikan Skatepark Yang Ada
Komunitas skateboard di Bandung urun pendapat terkait polemik revitalisasi Lapangan Teuku Umar. Sam, dari Tampra Youth Space, menyebut bahwa pembangunan fasilitas skatepark baru bukan kebutuhan mendesak. Menurutnya, jumlah skatepark di Bandung sebenarnya sudah cukup. Namun, kualitas desain dan fasilitas pendukungnya masih perlu ditingkatkan, terutama penerangan dan toilet yang kerap luput dari perhatian pemerintah.
“Kami malah lebih menyarankan agar Pemkot merawat skatepark-skatepark yang sudah ada,” tutur Sam yang juga aktif di komunitas Ameterdayum, dihubungi BandungBergerak, Kamis, 29 Oktober 2026.
Sam mengaku sudah mendengar rencana pembangunan skatepark di Lapangan Teuku Umar sejak sekitar enam bulan lalu. Namun ia belum pernah melihat site plan nya.
“Kalaupun ada sosialisasi perencanaan, sosialisasi tidak melalui cara yang tepat sehingga beritanya tidak sampai ke kami,” ujarnya.
Sam menyarankan agar anggaran pembangunan skatepark baru dialihkan untuk membenahi fasilitas-fasilitas yang sudah ada, seperti menambah atau mengganti rintangan (obstacle), memperbaiki penerangan, dan menyediakan toilet. Ia juga menegaskan bahwa rencana pembangunan skatepark di Lapangan Teuku Umar tidak datang dari komunitas skateboard sepenuhnya, karena khawatir persepsi itu muncul di kalangan komunitas dan warga setempat.
“Kami tidak mau itu terjadi, dan jadinya ada semacam gesekan horizontal antar komunitas,” beber Sam.
Boit, ibu dari anak seorang skaters, juga mendorong agar rencana pembangunan skatepark di Lapangan Teuku Umar dikaji kembali. Faktanya, lapangan tersebut selama ini digunakan warga untuk bermain sepak bola dan telah menjadi fasilitas olahraga masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.
“Teuku Umar itu tempatnya juga di tengah permukiman. Kenapa nggak dibagusin lapangan bolanya aja?” ujarnya.
Boit, yang mengetahui rencana pembangunan skatepark di Lapangan Teuku Umar melalui media sosial, mengingatkan agar karakteristik aktivitas skateboard yang menimbulkan kebisingan perlu dijadikan pertimbangan dalam menentukan lokasi pembangunan skatepark. Tidak jarang berlangsung hingga dini hari, tentu aktivitas ini akan menggangu warga sekitar.
Tentang niat Pemkot membangun titik skatepark baru, Boit menyimpan keraguan. Ia menyebut riwayat pembangunan skatepark di kolong Pasupati yang pada akhirnya menyimpang dari rancangan yang diajukan komunitas. Alih-alih membangun fasilitas baru, Boit mendorong pemerintah memprioritaskan perbaikan skatepark yang sudah tersedia, terutama di kolong Pasupati.
Bukan hanya di pusat kota, Boit juga mendorong agar pemerintah dapat mengembangkan area bermain skateboard di berbagai taman dan kawasan di pinggiran Bandung. Harapannya, akses skatepark lebih merata.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


