• Kampus
  • Maggot dan IoT, Solusi Cerdas Menghadapi Masalah Sampah Makanan

Maggot dan IoT, Solusi Cerdas Menghadapi Masalah Sampah Makanan

Tim mahasiswa Universitas Telkom menggunakan maggot dan IoT untuk mengurangi limbah makanan sekaligus menciptakan ekonomi sirkular berkelanjutan.

Tim RedooceIt Universitas Telkom mengenalkan inovasi pengelolaan sampah makanan di Desa Lengkong, Kabupaten Bandung. (Foto: Tim RedooceIt Universitas Telkom)

Penulis Tim Bergerak Project11 Juni 2024


BandungBergerak.idNegara ini masih menghadapi masalah yang serius terkait pengelolaan sampah, khususnya sampah makanan. Sebagai salah satu negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, Indonesia mengalami kerugian ekonomi yang signifikan akibat limbah makanan yang tidak dikelola dengan baik, seperti yang terlihat di Desa Lengkong, Bojongsoang Kabupaten Bandung.

Sebagian besar sampah di Desa Lengkong berasal dari kegiatan sehari-hari rumah tangga dan pasar tradisional, yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dan menyedot energi yang signifikan setiap tahunnya. Di tengah situasi ini, terdapat sebuah Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R) yang beroperasi di desa tersebut, namun mengalami kesulitan dalam mengelola sampah organik.

Keterbatasan tenaga dan sumber daya manusia menyebabkan pengelolaan yang tidak efektif, terutama dalam pengolahan sampah makanan dengan maggot. Sebelumnya, maggot digunakan sebagai agen pengurai, namun perawatan yang rumit dan hasil yang tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan menjadikan proses ini kurang optimal.

Alat pengelolaan sampah inovasi Tim RedooceIt Universitas Telkom di Desa Lengkong, Kabupaten Bandung. (Foto: Tim RedooceIt Universitas Telkom)
Alat pengelolaan sampah inovasi Tim RedooceIt Universitas Telkom di Desa Lengkong, Kabupaten Bandung. (Foto: Tim RedooceIt Universitas Telkom)

Tim mahasiswa Universitas Telkom yang menamakan diri “RedooceIt” kemudian mengenalkan proyek inovatif pengelolaan limbah makanan berbasis komunitas di Desa Lengkong. Tim RedooceIt Universitas Telkom mengembangkan sistem yang tidak hanya bertujuan mengurangi limbah makanan tetapi juga menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Desa Lengkong dipilih salah satunya karena kedekatannya dengan lokasi kampus Universitas Telkom dan potensi besar untuk pengembangan.

Tim Redoocelt terdiri dari tiga mahasiswa Telkom University yaitu Nisrina Thifal K., Alfara Nafi Dinara, dan Nazwa Tazkia K. Selama melaksanakan riset ini, mereka didampingi oleh dosen pendamping, Suryatiningsih, S.T., M.T. Tim Redoocelt merupakan salah satu pemenang kompetisi Innovillage 2023 kategori Zero Waste Solution. Program Innovillage sendiri adalah kompetisi yang diinisiasi PT Telkom Indonesia bersama dengan Universitas Telkom yang menjembatani mahasiswa untuk dapat mengimplementasikan inovasi-inovasi yang berorientasi kepada pembangunan berkelanjutan kepada masyarakat.

Nisrina Thifal K menjelaskan, proyek ini mengintegrasikan beberapa teknologi canggih, termasuk pembuatan perangkat IoT (internet) untuk budidaya maggot yang dapat mengurai limbah makanan secara otomatis. Maggot, yang dikenal sebagai pengurai alami limbah organik, diharapkan dapat mengurangi volume sampah secara signifikan. Proses penguraian ini tidak hanya menghasilkan kompos yang bermanfaat tetapi juga maggot yang bisa digunakan sebagai pakan ternak, memberikan nilai tambah ekonomi.

Menurut Nisrina, dalam mengoperasikan proyek ini, tim telah melakukan berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat setempat. Mulai dari sosialisasi, pelatihan, hingga pengembangan aplikasi yang memungkinkan pengelolaan dan monitoring proses pengolahan sampah makanan secara real-time. Aplikasi ini juga memfasilitasi pemberian reward kepada warga yang aktif dalam memilah sampah, yang bisa ditukarkan dengan kebutuhan sehari-hari atau sembako, mendorong partisipasi masyarakat dalam program tersebut.

Tim RedooceIt Universitas Telkom menggunakan teknologi internet untuk mengelola sampah makanan di Desa Lengkong, Kabupaten Bandung. (Foto: Tim RedooceIt Universitas Telkom)
Tim RedooceIt Universitas Telkom menggunakan teknologi internet untuk mengelola sampah makanan di Desa Lengkong, Kabupaten Bandung. (Foto: Tim RedooceIt Universitas Telkom)

“Selain aplikasi, tim juga mengembangkan mesin MaggoFeed. Mesin ini memainkan peranan penting dalam proses pengolahan limbah. Mesin dirancang untuk mempercepat proses penguraian sampah menjadi pakan maggot, yang kemudian bisa diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi,” terang Nisrina.

Upaya yang dilakukan ini telah menarik lebih dari 74 keluarga di Desa Lengkong untuk berpartisipasi aktif dalam program, dengan total pengolahan lebih dari 502 kg sampah. Melalui media sosial, tim telah berhasil meningkatkan awareness tidak hanya di desa tersebut tetapi juga lebih luas, mencapai peningkatan engagement yang signifikan.

Baca Juga: Media Massa Diingatkan agar Menghindari Politisasi Agama dengan Menerapkan Pedoman Pemberitaan Isu Keberagaman
Telkom University Dituntut Kolaborasi, Unpar Tantang Mahasiswa Berwirausaha
Telkom University dan ISI Surakarta Mendukung Digitalisasi Budaya Tradisional Indonesia

Proyek ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, TPS3R, dan mitra industri, yang menunjukkan efektivitas kolaborasi dalam mencapai tujuan berkelanjutan. Melalui RedooceIt, Desa Lengkong bukan hanya mengalami transformasi dalam pengelolaan sampah tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan, mendukung upaya global dan nasional dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan limbah berkelanjutan dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Teknologi pengelolaan sampah makanan buatan Tim RedooceIt Universitas Telkom. (Foto: Tim RedooceIt Universitas Telkom)
Teknologi pengelolaan sampah makanan buatan Tim RedooceIt Universitas Telkom. (Foto: Tim RedooceIt Universitas Telkom)

Manfaat yang didapat yaitu peningkatan kapasitas lokal dalam pengelolaan sampah makanan. Dengan menggunakan teknologi IoT untuk mengotomatiskan budidaya maggot, proses pengolahan sampah menjadi lebih efisien dan efektif. Maggot yang dikembangkan melalui sistem ini membantu mengurai sampah organik, mengurangi volume sampah yang harus ditangani dan mengurangi beban pada TPS3R lokal.

Manfaat ekonomi dari proyek ini juga signifikan. Dengan memproses sampah menjadi produk yang lebih bernilai, seperti maggot yang dapat dijual sebagai pakan ternak, warga Desa Lengkong dapat menciptakan sumber pendapatan baru. Ini tidak hanya meningkatkan keberlanjutan ekonomi dari proses pengolahan sampah tetapi juga memberikan dorongan ekonomi kepada masyarakat desa.

Dengan progres yang telah dicapai, Nisrina dan timnya optimis bahwa inisiatif ini bisa diperluas ke wilayah lain, menawarkan model yang bisa diadaptasi dan diterapkan di komunitas lain yang menghadapi masalah serupa. Inovasi ini adalah langkah maju yang signifikan dalam upaya pengelolaan limbah yang lebih efisien dan berkelanjutan di Indonesia.

*Artikel ini terbit sebagai bagian dari kerja sama dengan PT Telkom Indonesia dan Universitas Telkom dalam Program Innovillage 2023

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//