AKU DAN BUKU-BUKU PRAM #8: Melihat Wajah Bangsa dari Cermin Gadis Pantai
Aku melihat kondisi hari ini serupa roman-roman yang dituturkan Pram berpuluh-puluh tahun silam. Nuansa feodalisme masa lampau tak benar-benar hilang.

Rizky Adha Mahendra
Juru warta, kerap meliput isu perkotaan, hukum, politik, dan peristiwa di Jakarta dan sekitarnya, terutama Bogor
27 Februari 2025
BandungBergerak - Perkenalanku dengan Pramoedya Ananta Toer melalui guratan tintanya dimulai delapan tahun lalu. Jatuh cinta pertamaku dimulai kala menatap roman Gadis Pantai. Kegigihan sang perempuan tokoh utama di tengah badai feodalisme pada masa itu begitu menginspirasi. Melawan kemapanan struktur sosial adalah barang langka dalam dunia Gadis Pantai.
"Aku harus tegar seperti dia," gumamku dalam hati. Tak hanya tegar, juga berani dan ngeyel dalam pendirian.
Selaiknya pemuda jatuh cinta, aku menelusuri segala yang ada sejauh mata memandang. Aku mencari tahu sosok Pram, menilik silsilah dan tindak-tanduknya. Mengenali Blora, Rembang, Lasem, dan pantai utara Pulau Jawa yang begitu erat dengan anak-anak rohani Pram.
Harus diakui, sebagai mahasiswa yang kala itu mempelajari seluk-beluk masyarakat, agak terlambat aku berkenalan dengan Pram. Baru di tahun kedua kuliah. Setelah membaca Gadis Pantai, rasa sesal muncul lantaran tak mengenal sang sastrawan lebih awal.
Baca Juga: AKU DAN BUKU-BUKU PRAM #7: Demi Sekolah Anak
AKU DAN BUKU-BUKU PRAM #6: Jatuh Hati pada Minke, Menanam Benci pada Feodalisme
Wajah Bangsa Kita
Membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer seperti memasuki dunia baru, dunia yang selama ini barangkali aku abai. Mitos-mitos bangsa yang kadung beredar dan mengakar banyak runtuh dari isi kepalaku setelah halaman demi halaman guratan tinta Pram kubaca.
Membaca Pram juga seperti memasuki lorong waktu. Meski ada sentuhan imajinatif, Pram tak melupakan konteks kehidupan di masa lampau. Aku pun berimajinasi liar tentang kehidupan masa itu. Bagaimana bangsa kita hidup, bahkan jauh sebelum Soekarno membacakan proklamasi.
Roman-roman Pram banyak berkisah seputar masyarakat Nusantara, kini Indonesia, pada masa lampau. Memberiku gambaran soal watak bangsa. Terutama bukan tentang masyarakat kita yang konon murah senyum, baik hati, dan suka gotong-royong, melainkan tentang lingkungan yang penuh intrik dengan penguasa culas yang menindas. Mitos soal murah senyum dan ramah barangkali dibuat untuk menambal luka dari ketidakbecusan penguasa menyejahterakan warganya.
Karya-karya Pram bicara tentang penguasa-penguasa yang haus kuasa. Tentang anak-anak yang direnggut masa kecilnya, petani yang diperas darah dan peluhnya, pemuda yang direnggut kebebasannya. Namun juga tentang orang-orang, tak terkecuali perempuan, yang melawan.
Aku melihat kondisi hari ini serupa roman-roman yang dituturkan Pram berpuluh-puluh tahun silam. Nuansa feodalisme masa lampau tak benar-benar hilang. Barangkali hanya berganti rupa, tapi wataknya tetap sama. Kaum birokrat patuh buta kepada atasannya, tak lebih dari ketar-ketir kehilangan posisi. Yang tua menggadaikan integritas, mencoreng wajahnya sendiri. Sedangkan yang muda-muda jadi juru jilat kekuasaan.
Buah pikir Pram kerap menyerang kesewenang-wenangan, terutama oleh mereka yang berkuasa. Mengutip beberapa bait penyair Wiji Thukul, Pram bagai biji-biji yang tumbuh di tembok. Jemarinya menari-nari di atas mesin ketik merakit cemas bagi penguasa yang serakah.
Disinyalir itulah yang membuat Orde Baru gundah. Berbagai dalih dilontarkan untuk melempar sang pengarang ke Pulau Buru. Karyanya diberangus, buah pikirnya diadang. Namun, justru semangatnya kian menular.
Keteguhan hati dan keras kepalanya Pram berbuah karya-karya yang membuat banyak orang jatuh hati. Aku salah satunya. Membaca karya-karyanya, seperti melihat derita. Seperti membaca amarah yang tertuang dari korban zaman.

Perempuan Tangguh
Aku tak banyak tahu seputar sastra secara konseptual. Sepintas-sepintas saja membaca dan mendengarnya. Namun, roman Gadis Pantai tak hanya membuatku jatuh cinta pada Pramoedya, tapi juga karya sastra.
Dari sanalah aku mulai menjelajah karya-karya sastra dari pengarang lainnya. Membangkitkan semangat membaca, menarik pelatuk dorongan mengenal pemikiran-pemikiran sastrawan dengan berbagai latar belakang lainnya.
Membaca roman-roman realis dan yang non realis, yang panjang dan yang pendek, semua berawal dari Gadis Pantai. Yang indah-indahnya tak seberapa, deritanya tak kira-kira. Keindahan semu, kehidupan bangsawan yang dibangun dari rengekan bayi-bayi di kampung yang miskin.
Membaca Gadis Pantai membangkitkan kegetiranku. Ada sesuatu yang hidup dan tumbuh: kesadaran. Juga keberanian, utamanya berani menyampaikan maksud hati meski tak melulu dengan teriak yang lantang.
Terima kasih Pram, sudah menulis! Terima kasih kepada salah satu dosenku yang kala itu meminjamkan buku Gadis Pantai-nya untuk kutuntaskan. Andai nuraniku tak terasah saat itu, barangkali aku bisa tumbuh jadi sosok oportunis seperti gerombolan muda-mudi politik yang dengan percaya diri menaruh nama solidaritas di partainya.
Syukurlah aku memilih untuk mulai belajar isu-isu sosial, mencari tahu sebab-musabab kehancuran, yang ternyata akibat keserakahan manusia juga. Juga banyak belajar tentang isu perempuan lewat karya-karya Pram karena selalu ada sosok perempuan tangguh dalam tiap-tiap karya Pram: Nyai Ontosoroh, Larasati alias Ara, Midah si Gigi Emas.
Tokoh-tokoh Pram membangunkan kesadaran bahwa wanita bukan lemah, tapi dilemahkan. Ya, dilemahkan oleh sistem sosial, dan Pram membongkarnya. Dia menggambarkan perempuan punya kuasa atas tubuhnya, jati dirinya, dan buah pikirnya sendiri.
Hingga kini, yang baik-baik dari buah pikir Pram masih kupedomani. Masih kujadikan kiblat bertindak-tanduk. Semoga selalu demikian, dan tak hancur dimakan kejamnya zaman.
*Kawan-kawan dapat membaca artikel-artikel lain tentang Buku atau tentang Pramoedya Ananta Toer