Massa Ojol dan Mahasiswa Bandung Bersolidaritas untuk Affan Kurniawan
Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, seorang ojol, di Jakarta mendorong solidaritas ojol Bandung, mahasiswa, dan masyarakat sipil.
Penulis Tim Redaksi29 Agustus 2025
BandungBergerak - Sejumlah massa ojek online dan mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung Raya merespons brutalitas aparat kepolisian yang menewaskan Affan Kurniawan di Jakarta, Kamis malam, 28 Agustus 2025. Sejak sekitar pukul dua siang, Jumat, 29 Agustus 2025, massa ojol sudah berkumpul di depan Gedung DPRD untuk menyuarakan aspirasi dan kekecewaan.
Salah seorang massa aksi ojol, Azka (bukan nama sebenarnya), 26 tahun, menjelang pukul dua sudah berada di depan Gedung DPRD. Ia berangkat dari Cimahi. Tadi malam, sepulang kerja dengan kondisi kelelahan, ia istirahat sambil melihat-lihat linimasa. Azka sangat terkejut dan menyayangkan melihat kabar demonstrasi yang merenggut sesama rekannya.
“Lagi scroll IG yang pertama dilihat itu rekan kita sesama ojol yang mencari nafkah di jalanan, ngelihat mereka kita sebagai rakyat Indonesia sudah ditindas, malah dilindas sama mereka (polisi). Sedangkan mereka kita fasilitasi dengan uang kita. Makanya saya ke sini bukan karena emosi saya, karena saudara saya yang kemarin meninggal,” ungkap Azka yang tak berkenan namanya disebutkan.
Azka mengkritik metode pengamanan yang dilakukan aparat kepolisian hingga menelan nyawa dan banyak korban luka-luka. Ia menuntut adanya keadilan bagi keluarga korban. Ia juga mengaku turun aksi karena alasan kemanusiaan melebihi seluruh sekat-sekat yang ada.
“Siapa pun emosi kita, kita tetap jaga atas nama baik korban,” ungkapnya.
Massa ojol lainnya, Aziz Kribo, 29 tahun, juga turun aksi untuk menyuarakan aspirasi dan kekecewaannya. Ia tegas menyatakan, kasus yang menimpa Affan dan ojol lainnya di Jakarta harus diusut tuntas.
“Dari hati bergerak harus ada yang diusut tuntas. Ini karena teman seperjuangan kita ojol dilindes sama Brimob,” ungkapnya.
Di malam tragedi yang menimpa Affan di Jakarta, Aziz menuturkan ratusan ojol Bandung berkumpul di Taman Cikapayang untuk melakukan aksi menyalakan lilin. Aksi itu dilakukan bukan karena terprovokasi, tapi terdorong suara hati sebagai bentuk belasungkawa.
“Ini teman seperjuangan ojol mencari uang di jalan, mencari nafkah di jalan. Terus kebiadaban polisi melindas ojol yang enggak punya salah apa-apa. Pokoknya mah harus usut tuntas sampai beres,” tegasnya.
Sekitar pukul tiga sore, kawasan DPRD Jawa Barat mulai ramai dipadati massa aksi mahasiswa dari kampus-kampus di Bandung Raya. Rombongan datang bergelombang. Sekitar pukul tiga, kepolisian sempat menembakkan satu gas air mata untuk menghalau massa. Hujan gerimis tidak membuat massa aksi beranjak dari barisan.
Baca Juga: Nirempati Sikap Anggota DPR dan Represi oleh Polisi Memicu Warga Turun ke Jalan
Berbagai Organisasi Masyarakat Sipil Mendesak Reformasi Kepolisian setelah Meninggalnya Affan Kurniawan

Solidaritas Mahasiswa
Mahasiswi dari Universitas Sali Al Aitaam Rizka (bukan nama sebenarnya) tergerak untuk turun aksi bersama ojek daring. Ia mengaku sedih dan kesal melihat situasi negara belakangan ini. Puncaknya adalah saat nyawa Affan Kurniawan melayang.
Rizka menuntut adanya reshuffle di dalam pemerintahan, DPR, maupun kepolisian. Ia menilai aparat negara belakangan ini bersikap arogan, nirempati terhadap penderitaan rakyat. Ia juga bersolidaritas terhadap massa demonstrasi di Jakarta yang ditangkap agar segera dibebaskan.
“Kita solidaritas juga gara-gara anggota dewan nih ada beberapa masyarakat yang sampai harus kehilangan nyawa. Dan satu lagi tolong dibebasin ya orang-orang yang kemarin di Jakarta ditangkap gara-gara demo aksi kemarin. Terus dipukulin. Jadi kemarin enggak cuma ojol doang,” ungkap Rizkia.
Pantauan BandungBergerak, massa aksi masih bertahan hingga malam. Kepolisian terhitung sudah menembakkan gas air mata sebanyak empat kali. Massa aksi melempar bom molotov ke arah gedung DPRD, melemparkan kayu, botol, membakar petasan, menyalakan flare, dan lainnya. Sebuah sepeda motor terpantau dibakar oleh massa di depan gerbang DPRD.
Sekitar pukul 17.15 salah satu bangunan yang berada di seberang gedung DPRD Jawa Barat terbakar. Massa menduga di rumah tersebut ada polisi yang menembakkan gas air mata.
Informasi yang dihimpun BandungBergerak, bangunan tersebut merupakan wisma MPR RI. Namun hanya ada beberapa satpam yang berjaga di rumah tersebut.
“Cuma diisi sama security, tadi ada satu orang yang di sana,” ungkap salah satu satpam Gedung Sate.
Sementara itu, warga yang menghuni rumah di area gedung DPRD sudah dievakuasi ke halaman Gedung Sate. “Penghuninya udah bawa beberapa barang, tapi ga bisa semua. Motor juga udah diamanin ke dalam rumah,” lanjut satuan pengamanan tersebut.
Hingga pukul 18.30 wib, massa masih bertahan di pelataran gedung DPRD dan menyalakan petasan. Mereka menyanyikan yel-yel ‘revolusi’ dan ungkapan kekesalan kepada polisi dan anggota DPRD.
*Reportase ini ditulis Reporter BandungBergerak Awla Rajul dengan sokongan data lapangan dari reporter BandungBergerak Yopi Muharram dan Salma Nur Fauziah