Suara Perempuan di Bandung untuk Anggota DPR: tidak Peka terhadap Nasib Rakyat
Para aktivis perempuan di Bandung bersama massa solidaritas untuk Affan Kurniawan menyampaikan rasa muak dan kritiknya pada DPR dan pemerintah.
Penulis Yopi Muharam30 Agustus 2025
BandungBergerak - Suara protes terhadap kenaikan tunjangan DPR semakin membesar setelah Affan Kurniawan, pengemudi ojek online meninggal akibat dilindas mobil Brimob di Jakarta, Kamis malam, 28 Agustus 2025. Kematian Affan memicu solidaritas dari berbagai kalangan, termasuk Jacoste, salah satu demonstran perempuan yang turun berdemonstrasi ke Gedung DPRD Jawa Barat, Bandung, Jumat, 29 Agustus 2025.
Mengenakan topi hitam, Jacoste basah kuyup karena aksi solidaritas diwarnai hujan, Jumat, 29 Agustus 2025. Badan kecilnya menggigil, namun suaranya tak berhenti menyerukan empatik bagi Affan Kurniawan. Menurutnya, kematian Affan memantik rasa kemanusiaan sekaligus kemarahannya.
“Kematian Affan sangat-sangat memprihatinkan dan mengundang kemarahan banyak masyarakat Indonesia,” ujar Jacoste, di sela-sela aksi.
Perempuan berumur 23 tahun ini mengatakan, kematian Affan merupakan kegagalan negara dalam melindungi hak-hak masyarakat Indonesia. Pemerintah dan aparat hukumnya harus mengamankan rakyat dari kekerasan yang berujung kematian.
“Insiden semalam itu ya berarti pemerintah tidak menjamin kesejahteraan dan keselamatan nyawa rakyatnya sendiri,” tutur Jacoste.
Jacoste menilai, kekacauan yang terjadi saat ini bermuara dari anggota-anggota DPR RI. Mereka dianggap tidak peka dengan penderitaan rakyat Indonesia. Ironisnya, mereka adalah wakil rakyat. Ia berharap pemerintah dan legislatif bisa mendengar suara masyarakat Indonesia yang turun ke sajalan.
“Karena bagaimanapun negara ini adalah negara demokrasi pemerintah enggak boleh lupakan tersebut, apalagi para DPR yang mereka mendapatkan banyak dana dengan kontribusi yang sangat-sangat tidak dirasakan oleh masyarakat,” paparnya.
Menurutnya, kematian Affan menjadi alarm solidaritas bagi masyarakat Indonesia. Baginya, solidaritas ibarat satu tubuh.
“Kalau sakit sedikit pasti akan kerasa semuanya, akan menjadi cacat menjadi cacat dan segalanya,” ucapnya.
Perempuan lainnya, Candra, mahasiswi asal Unpar, terdorong mengikuti aksi solidaritas karena rasa kemanusiaan. Mahasiswi semester 5 ini terpukul melihat video Affan yang dilindas di tengah kerumunan demonstrasi yang memprotes arogansi DPR RI.
“Sedihlah melihat kejadian kemarin bahwa ada masyarakat sipil yang dia tidak ikut demonstrasi tapi ikut menjadi korban,” ujar Candra.
Diketahui, dalam peristiwa nahas itu Affan sedang melayani pesanan makanan yang lokasinya bertepatan dengan kerumunan demonstrasi.
Candra mengatakan, aparat tidak seharusnya bertindak berlebihan dalam menangani para demonstran yang meluapkan kekecewaan terhadap DPR.
“Sedih banget dan marah ngeliat kejadian kemarin, karena yang harusnya mengayomi malah menyakiti,” tandasnya.
Baca Juga: Massa Ojol dan Mahasiswa Bandung Bersolidaritas untuk Affan Kurniawan
Berbagai Organisasi Masyarakat Sipil Mendesak Reformasi Kepolisian setelah Meninggalnya Affan Kurniawan

Kecewa pada Wakil Rakyat di DPR
Mahasiswi lainnya, Novi dari Universitas Sali Al Aitaam Bandung, datang ke lokasi aksi sejak siang bersama adik dan ibunya.
“Sedih banget sebetulnya melihat kondisi negara saat ini. Kita seperti dipaksa sehat di negara yang sakit,” ujar Novi.
Novi marah dan kecewa terhadap anggota DPR. Mereka dinilai tidak kompeten mengemban amanah sebagai wakil rakyat.
Dia juga meminta aparat kepolisian segera membebaskan peserta aksi yang ditangkap sejak demonstrasi dimulai dari tanggal 25 Agustus 2025. Terkait kekerasan yang dialami peserta aksi, Novi meminta aparat menghentikan aksi represi.
“Jika terus menggunakan kekerasa, mau dibawa ke mana sih negara kita ini?” tandasnya.
Novi juga melontarkan kritik pada pemerintah. Pengurus negara dan DPR semestinya segera mensahkan Undang Undangan Perampasan Aset untuk menunjang pemberantasan korupsi. Menurutnya, korupsi masih menjadi akar persoalan negara.
“Jadi jangan hanya undang-undang yang enggak penting buat rakyat kalian (DPR RI) sahkan yang malah membuat gemuk (kekayaan) elite saja,” tegas Novi.
Pemerintah justru dianggap malah memberi tunjangan rumah sebesar 50 juta kepada anggota dewan. Total penghasilan anggota DPR RI mencapai lebih dari 100 juta rupiah per bulan.
Kritik rakyat terhadap penghasilan jumbo dibalas arogansi dan joget-joget oleh anggota DPR, seperti yang dilakukan Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, Nafa Urbach, dan anggota dewan lainnya.
Penghasilan Anggota DPR
Juliawati, mahasiswi jurusan hukum Unpas menyadari kekuatan hukum DPR. Menurutnya pembubaran DPR tidak akan efektif karena dinilai tidak sesuai dengan konstitusi yang menyatakan bahwa Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat.
Namun Juliawati menyoroti kenaikan penghasilan anggota DPR yang tak masuk akal.
“Harapan saya sih DPR ini tidak jadi naik gaji karena masih banyak orang-orang miskin di bawah sana kan, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin,” tandasnya.
Juliawati juga berpesan kepada polisi untuk menghentikan tindakan represif. Massa aksi yang menyuarakan ekspresi di lapangan tidak bisa diperlakukan semena-mena. Menurutnya, aksi massa untuk memperjuangkan nasib rakyat yang terpuruk.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB