• Opini
  • Abnormalitas di Saparua-Ciliwung

Abnormalitas di Saparua-Ciliwung

Membandingkan Andre Muller dengan orang Indonesia yang gemar berasing-asing dalam berbahasa, maka yang asing itu sebenarnya siapa?

Cecep Burdansyah

Penulis fiksi dan nonfiksi, pemenang Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 2019

Taman Inklusi di sekitar kawasan Saparua Park, Bandung, 8 Juni 2021. (Foto: Cecep Burdansyah)

9 Juni 2021


BandungBergerak.idSelama dua bulan, Maret-April penyakit lambung saya kambuh. Praktis saya numpi di rumah. Baru pada awal Mei, perut mulai bisa diajak kompromi, dan saya memanfaatkan waktu dengan olahraga jalan sehat mengelilingi GOR Saparua.

Terus terang, cukup lama saya tidak ngalanto ke Kawasan Saparua. Saat sedang asyik berjalan mengitari GOR, saya melewati sebuah papan nama persis di depan GOR: “Saparua Park”.

Lalu saya menoleh ke kanan, ke arah yang dulu dikenal sebagai Taman Maluku. Di taman itu, persis saling berhadapan dengan papan nama “Saparua Park”, tertulis “Taman Inklusi”.  

Pas mau pulang, saya lewat Jalan Ciliwung. Ternyata di situ ada juga taman yang diberi nama “Pet Park”. Mungkin kalau saya menyediakan waktu, masih bisa ditemui “park-park” lainnya. Entah sejak walikota Bandung dijabat siapa, Bandung mendadak bertaburan “park”.

Saya tidak tahu apa maksud kata “inklusi” di belakang kata Taman itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online, tidak ditemukan kata inklusi. Dalam Tesaurus Eko Endarmoko juga tidak ditemukan. Mungkin berasal dari Bahasa Inggris, “inclusion”, yang artinya pencantuman, penyertaan, pemasukan, termasuknya.

Dalam sebuah tayangan video youtube ada yang berusaha menjelaskan apa makna inklusi. Ternyata maknanya sangat banyak. Bisa peduli, toleransi, kesetaraan, satu dalam keragaman. Jadi, apakah maksud penamaan “Taman Inklusi” di Saparua itu?

Sedangkan untuk “Saparua Park”, saya memahami. Kalau dulu GOR Saparua, kini berubah jadi Saparua Park. Jadi nama Saparua hingga kini dipertahankan. Cuma soalnya, mengapa harus “park”, padahal dalam Bahasa Indonesia kita mempunyai kata “taman”. Mengapa pula harus “Pet Park”?

Saparua Park, Bandung, 8 Juni 2021. (Foto: Cecep Burdansyah)
Saparua Park, Bandung, 8 Juni 2021. (Foto: Cecep Burdansyah)

Baca Juga: Kita dan Kota
Unpad Telaah Fenomena Kata ‘Aing’ dalam Percakapan Bahasa Indonesia

Baik “park”, “inklusif” maupun “pet” tak lain dan tak bukan, adalah kata yang dipungut dari Bahasa Inggris. Begitu memikirkan kata-kata asing itu, saya langsung teringat pada orang asing, seorang bule Swedia Bernama Andre Muller.

Andre Muller sejatinya orang asing. Tapi soal penguasaan Bahasa Indonesia, dia melebihi rata-rata orang Indonesia. Ia suka menganalisis gejala Bahasa Indonesia, bahkan mengkritik orang Indonesia dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Salah satu yang dia kritik, orang Indonesia suka berasing-asing dalam berbahasa. Seolah-olah tidak percaya pada kekuatan bahasanya sendiri.

Membandingkan Andre Muller dengan orang Indonesia yang gemar berasing-asing dalam berbahasa, maka yang asing itu sebenarnya siapa? Asing, menurut KBBI: 1 aneh; tidak biasa;  2 belum biasa; kaku; 3 datang dari luar (negeri, daerah, lingkungan); 4 tersendiri; terpisah sendiri; terpencil; 5 lain; berlainan; berbeda.

Sinonim kata asing menurut Tesaurus Eko Endarmoko: 1 aneh, eksotis; 2 terasing. Masih dalam kamus yang sama, Eko juga menulis sinonim abnormal, yaiu: 1 ajaib, aneh, asing; 2 invalid, kurang, cangga, cenangga; 3 balik akal, berubah akal, gila, miring, sedeng, sinting, terganggu. Perubahan kata abnormal jadi abnormalitas, artinya: cacat, keanehan, keganjilan, keheranan, ketidaknormalan.

Merujuk kamus Tesaurus Eko Endamoko, tiga papan nama di Kawasan Saparua itu termasuk abnormal atau abonormalitas. Terserah kita mau mengartikan apa dari kata abnormal dan abnormalitas itu; apakah asing, aneh, gila, invalid, sinting, kegilaan, kesintingan atau cacat. Saya sendiri hanya sampai pada taraf aneh dan keheranan, tidak tega kalau harus menyebut gila apalagi sinting.

Jangan-jangan, kita sudah menjadi orang asing di negeri sendiri, bahkan mungkin sinting.

Editor: Redaksi

COMMENTS