Jalan Anak-anak di Cililin: Menyeberang Waduk Saguling ke Sekolah
Mereka tertawa di atas rakit yang melintasi Saguling. Di balik keceriaan itu tersimpan persoalan akses, keselamatan, dan harapan akan sebuah jembatan.
Mereka tertawa di atas rakit yang melintasi Saguling. Di balik keceriaan itu tersimpan persoalan akses, keselamatan, dan harapan akan sebuah jembatan.
BandungBergerak - Reza dan Aria, dua siswa SDN Budiharja, berjongkok di atas rakit eretan yang membelah air danau di area Waduk Saguling, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa, 1 September 2026. Tangan kedua murid tersebut menjangkau air danau, terayun-ayun mengikuti riak gelombang.
Di bagian tengah rakit, Rendi dan Dian, dua siswa lainnya, sibuk menghindari rembesan air yang keluar di antara bilah-bilah rakit bambu.
“Ini basah kena celana,” kata mereka, sambil mengangkat sepatu-sepatu mereka, sambil tertawa.
Bagi anak-anak SD, keterbatasan sarana transportasi air untuk menuju sekolah menjadi pengalaman yang lucu. Sepanjang mengarungi air danau, mereka terus tertawa dan bercanda.
Di ujung depan rakit, Agus Sumpena menarik meniti bentangan tali sepanjang lebih dari 200 meter. Tali tersebut berfungsi sebagai kemudi. Ketua RT 5 RW 2 Kampung Sadang ini juga anaknya bersekolah di SDN Budiharja.
Agus menjelaskan, transportasi rakit ini lumayan memangkas jarak permukiman anak-anak di Kampung Sadang ke sekolah.
“Kasihan anak-anak kalau jalan kaki lewat jalan darat bisa 30 menit. Tak semua warga punya sepeda motor, kalau pakai rakit antara 5 sampai 10 menit sampai. Rakitnya bisa sampai 20 orang sekali nyeberang, supaya anak-anak bisa sampai sekolah tepat waktu, kan masuknya jam 6.30 pagi,” kata Agus.
Kampung Sadang memiliki lebih dari 40 Kepala Keluarga yang bermukim di dua Rukun Tetangga. Banyak anak-anak dari kampung ini yang akan bersekolah ke SDN Budiharja. Sehingga aktivitas warga dan kegiatan ekonomi warga juga akhirnya sangat bergantung ke transportasi air seperti rakit eretan. Beberapa warga bahkan ada yang punya perahu kayu sendiri yang mereka sebut tongkang. Ada yang menggunakan mesin ada yang didayung.
Setiap hari, 16 orang murid SDN Budiharja dari Kampung Sadang harus naik rakit ke sekolah mereka yang berlokasi di Kampung Gombong. Sejak tahun 1990 dua kampung ini terpisah oleh genangan air danau dengan kedalaman lebih dari 20 meter. Fasilitas warga untuk warga ini tidak dikenai biaya alias gratis.
Dermaga eretan bambu di Kampung sadang jaraknya sekitar 100 meter dari permukiman, dengan kontur jalan menurun tapi terhitung agak landai. Beda dengan kontur jalan di dermaga Kampung Gombong yang terbilang curam dan licin, baik saat musim hujan atau kemarau seperti sekarang.
Sebelum naik rakit mereka melepas sepatu karena air pasti akan merembes dari celah-celah rakit. Agus mengatur posisi anak-anak supaya rakit seimbang. Setelah menyeberangi danau sekitar 10 menit, sampailah anak-anak di dermaga Kampung Gombong.
Anak-anak harus melewati jalan setapak yang curam, panjangnya sekitar 50 meter. Setelah itu mereka jalan kaki lagi sekitar 150 meteran menuju sekolah lewat gang kampung biasa. Saat pulang sekolah anak-anak harus ekstra hati-hati di jalan setapak yang curam. Beberapa anak yang takut tergelincir terpaksa turun dengan cara duduk sambil merosot di tanah jalur setapak, di antara rimbunnya rumpun bambu menuju dermaga.
Baca Juga:Sebuah Kelas Jauh di Cijuhung
Bertahun-tahun Pembangunan Jawa Barat Cenderung Kotasentris
Perjalanan menyeberangi danau yang berisiko tinggi dari rumah menuju sekolah, dan sebaliknya, harus sudah dimulai sejak pukul 6 pagi. Mengikuti aturan Gubernur Dedi Mulyadi, anak-anak diwajibkan tiba di sekolah pukul 6.30, tanpa mempertimbangkan kendala alam yang mungkin mereka hadapi. Padahal, kondisi geografis dan tantangan alam tentu berbeda-beda di setiap wilayah.
Kadang-kadang ada juga orang tua yang sempat mengantar dulu anaknya pakai sepeda motor dari Kampung Sadang ke sekolah di Kampung Gombong yang memakan waktu sekitar 15 menit. Nanti saat pulang sekolah sang anak menumpang rakit bambu.
Ada juga orang tua yang tidak memiliki kendaraan. Santi misalnya, ia pernah mengantar anaknya berjalan kaki yang memakan waktu sekitar 30 menit.
“Jadi harus pergi sangat pagi, sebelum jam 6, kalau naik rakit dengan pak RT paling lima menitan sudah sampai. Cuma kalau musim hujan agak khawatir juga, jalannya kan licin, tapi mau bagaimana lagi, enak ya kalau ada jembatan,” katanya.
Sementara itu, Taufik, Kepala Sekolah SDN Budiharja, mengatakan ada sebanyak 16 siswa SDN Budiharja setiap hari harus menyeberangi danau menggunakan rakit agar dapat tiba di sekolah tepat waktu. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menempuh jalur darat memang memungkinkan, tetapi rutenya memutar dan lama.
“Kecuali pakai sepeda motor, tapi tidak semua orang punya sepeda motor,” kata Taufik.
Di mata anak-anak, saat mereka ditanya kenapa tidak diantar sama orang tua ke sekolah, mereka hanya senyum-senyum. Ada yang bilang tidak ada kendaraan di rumah, ada juga yang bilang hanya ada satu sepeda motor di rumah yang dipakai oleh anggota keluarga yang lain.
Rakit bambu untuk transportasi anak-anak sekolah ini viral di jagat maya. Tiba-tiba saja banyak pejabat tinggi dan aparat yang berkunjung ke kampung yang berjarak antara 25-40 kilometer dengan Kota Bandung itu.
“Tadi ada bapak-bapak dari militer ke sini. Pak Bupati juga kemarin sudah meninjau ke sini, jadi mereka menawarkan solusi untuk mempermudah transportasi anak-anak ke sekolah agar tidak lagi pakai rakit. Kita belum tahu juga seperti apa, ada opsi pembuatan jembatan, ada juga opsi kendaraan operasional untuk antar jemput, karena ke depannya pasti semakin banyak anak-anak yang akan bersekolah di sini,” kata Taufik.
Dikabarkan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berencana mengoperasikan mobil antar jemput bagi siswa asal Kampung Sadang sebagai opsi jangka pendek sambil menunggu kepastian izin pembuatan jembatan. Karena pembuatan sebuah infrastruktur di wilayah perairan Saguling berada dalam kewenangan PT Indonesia Power.
Kebutuhan jembatan untuk Kampung Sadang dan sekitarnya saat ini sangat mendesak sebagai penunjang mobilitas warga yang terpisah oleh danau. Selain anak sekolah, jembatan sangat dibutuhkan bagi warga yang memiliki profesi beragam, di antaranya pengrajin anyaman bambu.
Bahan baku bambu berasal dari Kampung Gombong. Mereka mengolah bambu-bambu itu di Kampung Sadang. Begitu produk jadi, kerajinan bambu buatan warga Kampung Sadang akan melintas kembali ke Kampung Gombong. Alur produksi dan distribusi tersebut semuanya menggunakan rakit. Menurut Agus, kalau ada jembatan proses tersebut tentu akan lebih mudah.
Diketahui, bendungan Saguling rampung tahun 1984, setahun kemudian genangan mulai mengisi area danau atau waduk seluas lebih dari 5.000 hektare, menenggelamkan sawah, kampung, dan perkebunan. Warga sekitar pun beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.
Secara kolektif warga Kampung Sadang membuat rakit eretan. Entah sudah berapa kali mereka ganti rakit. Daya tahan rakit bambu maksimal hanya bisa digunakan selama dua tahun. Rakit itulah yang dipakai untuk mobilitas warga selama beberapa dekade terakhir, termasuk oleh anak-anak sekolah.
Tengah hari, sekolah bubar. Ujung rakit yang ditarik Agus sampai di tepian dermaga. Ia lalu menancapkan pasak besi agar rakit tidak lepas. Anak-anak dengan tertib melompat ke tanah, mereka pilih permukaan yang tidak terlalu keras.
Iring-iringan anak sekolah berseragam merah putih itu berjalan mengikuti jalan setapak, kembali ke rumah masing-masing sambil menenteng sepatu. Sampai kapan mereka harus menenteng sepatu setiap pergi dan pulang sekolah?
***
*Foto dan Teks: Prima Mulia
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami
COMMENTS