• Foto
  • Keakraban Berbuah Kepedulian di Karst Rajamandala

Keakraban Berbuah Kepedulian di Karst Rajamandala

Karst Rajamandala bukan hanya menyajikan pemandangan elok, tapi juga sumber pengetahuan melimpah. Perusakan oleh aktivitas tambang mengancam kelestariannya.

Fotografer Virliya Putricantika19 Januari 2022

BandungBergerak.id - Ayu Jessy (29) memperhatikan secara seksama penjelasan Sabtanto Joko Suprapto (60), dosen Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung, tentang fenomena-fenomena geologi di Karst Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat. Dari Stone Garden, Gua Pawon, Karang Panganten, hingga Karang Hawu.

“Walaupun pertama kali ikutan, tapi rasanya seperti sudah kenal sejak lama,” ujar Ayu, dosen Teknik Geodesi Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung, yang asyik membuat model tiga dimensi (3D) beberapa bagian bentang karst.

Sabtu (15/1/2022) itu, Ayu untuk pertama kalinya mengikuti geotrek komunitas Matabumi. Wanita yang pernah menjadi mahasiswa Budi Brahmantyo ini, bergabung dengan puluhan orang lain, dengan umur dan latar belakangnya berbeda-beda, yang diangkut landrover dari Kota Bandung. Budi, dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang meninggal tiga tahun lalu, merupakan dua sosok sentral yang membidani geotrek bersama T. Bachtiar belasan tahun lalu.

Farhan (11), yang saat ini duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, sudah mengikuti geotrek sejak usia 4 tahun. Salah satu geotrek favoritnya adalah perjalanan ke Gunung Krakatau. Menjelajahi Karst Rajamandala dengan ditemani orangtua dan neneknya, dia tidak ragu ngobrol dengan peserta lainnya.

“Waktu di Tana Toraja enggak bau kaya yang di sini, tapi waktu di sana aku takut. Jadi sampai sekarang masih ada traumanya, anxiety,” ceritanya ketika turun dari Gua Pawon.

Keakraban lain datang dari sosok Felix Feitsma, seorang tour guide di wilayah Jawa-Bali yang hingga hingga usianya di kepala tujuh saat ini masih turun ke lapangan. Pakaian yang digunakan Opa Felix hari itu membuat siapa pun ingin segera menyapanya.

Dan begitulah yang terjadi. Di sepanjang geotrek, sejak dari titik berangkat di kompleks Museum Geologi, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, para peserta saling melemparkan sapaan ramah. Mereka tidak lagi memikirkan gengsi yang biasa menjadi penghalang dalam membuka obrolan.

Keakraban para peserta geotrek hari itu amat kontras dibandingkan ‘kerasnya’ permasalahan yang dihadapi Karst Rajamandala, juga Karst Citatah. Bentang alam laut dangkal 27 juta tahun lalu yang unik dan eksotik itu kian terancam oleh penghancuran.

Ini tentu bukan kabar baru. Budi Brahmantyo, dalam tulisannya yang termuat di buku Amanat Gua Pawon (2004) mencatat bagaimana bukit-bukit di sepanjang jalan raya Bandung-Cianjur antara kilometer 21 hingga Kilometer 27 tak lagi utuh. Akitivas penambangan kapur meraja-lela. Debu dan asap membubung ke mana-mana. Kekayaan karst dilihat semata-mata sebagai komoditas.

“Enam kilometer yang menyesakkan dada!” begitu tulis Budi yang juga aktif berkegiatan di Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Beruntung, di tengah penghancuran itu, masih tersisa penggal-penggal bentang alam yang bisa diselamatkan, di antaranya Tebing 125, Karanghawu, Gunung Manik, Karang Panganten, Gunung Masigit, dan Gua Pawon. Mereka bukan saja menyajikan keindahan untuk dinikmati, tapi juga menyediakan sumber ilmu pengetahuan untuk terus digali.  

Kedua hal penting itulah yang dijumpai oleh para peserta geotrek Matabumi akhir pekan lalu. Dan mereka melakukannya dengan suka cita, dalam suasana hangat bak keluarga. Mengenal satu sama lain, menurunkan gengsi yang belakangan sering ditinggikan, dan menumbuhkan rasa persaudaraan.

Selain terus bertambahnya pengetahuan dan pemahaman tentang fenomena alam, keakraban ala geotrek hari itu bekal berguna bagi setiap pesertanya untuk semakin peduli pada kelestarian lingkungan. Setiap perjalanan menjadi catatan bagi tiap-tiap individu untuk kemudian beraksi di masa mendatang dengan caranya masing-masing. Lain Ayu Jessy, lain lagi Farhan.

Foto dan teks: Virliya Putricantika

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//