• Liputan Khusus
  • BAYI-BAYI PANDEMI (2): Sebuah Kekhawatiran tentang Khalista

BAYI-BAYI PANDEMI (2): Sebuah Kekhawatiran tentang Khalista

Khalista (1,2) lahir ketika keluarga Hana betul-betul tak punya uang karena sang suami kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Tumbuh kembang si bungsu pun terganggu.

Khalista, 14 bulan, digendong oleh ibunya Hana (42), di rumah kontrakan mereka di Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, awal September 2021. Bungsu dari tiga bersaudara ini memiliki berat dan tinggi badan jauh di bawah ideal. (Foto: Arif 'Danun' Hidayah)

Penulis Tim Redaksi5 Oktober 2021


BandungBergerak.id - Tidak jauh dari rumah petak yang dikontrak Siti dan Herman, masih di Kelurahan Jamika, Bojongloa Kaler, Hana (42) tinggal bersama suami dan tiga orang anak perempuannya dalam rumah berlantai karpet plastik mengkilat dengan hanya satu kamar. Sebuah televisi tabung 21 inci sedang menayangkan sinetron terkenal di salah satu stasiun televisi swasta.

Rumah Hana mudah dikenali. Aroma cabai yang khas dari lapak sebaknya menguar ke mana-mana. Seblak itulah yang jadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga Hana.

Cerita yang keluar dari mulut Hana tidak jauh beda dengan kesaksian Siti. Persalinan si bungsu, Khalista (1,2), juga tumbuh kembangnya, di bulan-bulan awal pandemi Covid-19 tidak pernah mudah.

Menjelang hari melahirkan tiba, keluarga Hana benar-benar kehabisan uang. Sang suami baru saja kehilangan pekerjaan di salah satu bengkel di sentra sepatu Cibaduyut, Bandung. Pagebluk berimbas pada pengurangan banyak pekerja dan perajin.

Di waktu yang sama, keluarga Hana masih berutang uang sewa kontrakan yang harus segera dibayar. Karena betul-betul tidak memegang uang, mereka akhirnya terusir.

Di tengah kecamuk pikiran seperti itu, Hana memperoleh harapan lewat puskesmas yang merujuknya ke Rumah Sakit Kebon Jati. Seluruh biaya persalinan, yang mustahil terbayar dengan uang sendiri, ditanggung oleh program Kartu Indonesia Sehat (KIS).  

“(Saya) Bersyukur dapat rujukan, tapi tetap weh gelisah karena suami sudah mencari pekerjaan kesana-sini, tapi tidak ada satu pun tempat yang menerimanya,” kata Hana, awal September 2021.

Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Hana tak henti menangis. Dia, yang menyimpan juga penyakit hipertensi dan diabetes, memikirkan betul kondisi keluarganya. Ditambah lagi, kekhawatiran tertular Covid-19 yang sering muncul di kepala.

Saat kehamilan sudah memasuki 9 bulan lebih 40 hari, Khalista belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Dokter menyarankan prosedur operasi sesar.

Stunting bukan hanya menyerang fisik bayi, tapi juga, jika tidak tertangani dengan baik sedini mungkin, menurunkan kemampuan perkembangan kognitif otak anak.
Stunting bukan hanya menyerang fisik bayi, tapi juga, jika tidak tertangani dengan baik sedini mungkin, menurunkan kemampuan perkembangan kognitif otak anak.

Berbadan Kecil

“Ini teh kecil wae, gimana ya?” celetuk Hana, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi fisik Khalista.

Sudah berumur 14 bulan, Khalista berbobot hanya 6,5 kilogram dan berpostur lebih pendek dari anak-anak sebayanya. Merujuk panduan berat badan ideal anak sesuai umur dalam dokumen Standar Antrometri Anak yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bayi berumur 14 bulan normalnya memiliki bobot sekitar 9,4 kilogram. Bayi dengan bobot 6,5 kilogram, seperti Khalista, masuk ke dalam kategori indeks poin -3 SD yang berarti berat badan sangat kurang.

Baca Juga: BAYI-BAYI PANDEMI (1): Rasya dalam Gendongan Ibunya
Gagal Tumbuh di Kota Kembang
Data Kasus Balita Stunting di Kota Bandung 2014-2020, Prevalensi Melambung di Tahun Pandemi Covid-19

Yang dialami oleh keluarga Siti, dialami juga oleh keluarga Hana. Mandeknya layanan posyandu dan puskesmas akibat kebijakan pembatasan aktivitas warga selama pagebluk, menyulitkannya memantau tumbuh kembang Khalista. Hana mulai beralih ke susu formula untuk memenuhi kebutuhan si bungsu, meski tidak juga diberikan setiap hari.

Meski layanan sempat mampet, toh para petugas puskesmas sudah beberapa kali menyarankan agar Hana berkonsultasi dengan dokter ahli gizi terkait staus gizi Khalista. Namun dia merasa enggan melakukannya karena meyakini Khalista baik-baik saja. Hana mengaku merasa sakit hati mendengar orang menyebut bayinya menderita gizi buruk atau stunting

Datang juga usulan agar Hana membuatkan Khalista menu sayur-sayuran demi perbaikan gizi anak, tapi sang bayi sering tidak mau melahapnya. Ditambah lagi, saran mengkonsumsi suplemen berbentuk serbuk yang harus dicampurkan ke setiap makanan, sama persis yang disarankan kepada keluarga Siti untuk anak mereka Rasya.

“(Saya) Suka jadi malu kalau ke puskesmas karena suka dibilang Khalista kurang gizi. Ini mah cuma kecil aja sih. Makan dia banyak kok, walau memang dia maunya cuma makan bubur,” ujar Hana sambil menunjukkan semangkok bubur putih polos yang menjadi santapan si bungsu.

Saat ini, setelah berbulan-bulan berjuang, suami Hana sudah bisa bekerja kembali. Namun, keluarga ini masih menyimpan kekhawatiran terhadap Khalista yang masih jauh dari usai. Meski terlihat lincah, si bungsu memiliki badan yang terlampau kecil dan pendek. Beberapa kali dia jatuh sakit, memaksanya melewatkan layanan imunisasi di puskesmas.

*Liputan mendalam "Bayi-bayi Pandemi", yang disajikan secara berseri, merupakan hasil kerja Tim Redaksi BandungBergerak.id yang terdiri dari: Sarah Ashilah, Bani Hakiki, Boy Firmansyah Fadzri, dan Tri Joko Her Riadi, dengan sumbangan foto karya Arif 'Danun' Hidayah

Editor: Redaksi

COMMENTS