• Pemerintah
  • Data Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung 2020, Ada 22.441 Orang Tidak Bersekolah

Data Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung 2020, Ada 22.441 Orang Tidak Bersekolah

Di Kecamatan Bojongloa Kaler. per 2020 ada 22.441 orang warganya yang belum pernah bersekolah sama sekali. MEreka yang tidak tamat SD juga banyak, 12.550 orang.

Penulis Sarah Ashilah6 Oktober 2021


BandungBergerak.id - Selain kesehatan, kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah dapat juga dinilai dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) berdasarkan tingkat pendidikannya. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, biasanya semakin luas juga pengetahuan yang ia miliki. Dengan pengetahuan yang lebih luas, seseorang dapat mengupayakan perubahan dalam hidupnya.

Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan lebar untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang tertinggi. Sebagian dari mereka terpaksa putus sekolah di tengah jalan, atau bahkan tidak pernah punya kesempatan untuk merasakan bangku sekolah. Kemiskinan menjadi salah satu akar masalahnya.

Di perkotaan, ragam permasalahan sosial banyak ditemukan di permukiman-permukiman padat. Di Bojongloa Kaler, kecamatan terpadat se-Kota Bandung, misalnya, kita akan mengetahui bahwa per 2020 ada sebanyak 22.441 orang warganya yang belum pernah bersekolah sama sekali. Jumlah ini merupakan yang terbanyak kedua setelah kelompok penduduk yang bersekolah hingga lulus SMA, yang mencapai 39.284 orang.

Baca Juga: Data Jumlah Penduduk Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung 2010-2020, Anjlok di Tahun Pandemi Covid-19
Data Jumlah Posyandu di Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung 2003-2020, Berkurang Signifikan dalam Lima Tahun Terakhir
Data Kepadatan Penduduk Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung 2020, Kelurahan Babakan Asih di Urutan Pertama

Asep Wahyudin (57), Ketua RT 04 RW 05 Kelurahan Jamika tidak menyangkal kondisi tersebut. Mayoritas warga termasuk kelompok masyarakat berkemampuan ekonomi bawah dengan tingkat pendidikan yang tidak tinggi. Mereka bekerja di beragam sektor informal, seperti dagang kaki lima dan buruh lepas.

“Kalau di RT saya, tidak ada PNS atau pun warga kelas menengah. Mohon maaf, bukannya saya merendahkan warga saya sendiri, namun memang adanya seperti itu,” ujar Asep, Rabu (18/8/2021) lalu.

Editor: Redaksi

COMMENTS