• Berita
  • Gerbang Baru Gedung Sate Menuai Polemik, Antara Selera Gubernur dan Anggaran Miliaran Rupiah

Gerbang Baru Gedung Sate Menuai Polemik, Antara Selera Gubernur dan Anggaran Miliaran Rupiah

Renovasi gerbang dan pagar Gedung Sate menelan biaya 3,9 miliar rupiah. Sementara LPSE menunjukkan banyak proyek digulirkan di kawasan Gedung Sate.

Dua bocah menikmati pemandangan Gedung Sate, Bandung, dari atas bus bandros, Jumat (21/5/2021) siang. Gedung Sate merupakan salah satu bangunan penanda rencana pemindahan pusat pemerintahan dari Batavia ke Bandung pada dasa warsa kedua abad ke-20. (Foto: Fachri Fadlurrohman)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah29 November 2025


BandungBergerakRenovasi gerbang utama dan pagar Gedung Sate, Kota Bandung, riuh menjadi sorotan publik belakangan ini. Selain desainnya yang dianggap semata mewakili selera Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan tidak cocok dengan corak kawasan, biaya pembangunannya menelan anggaran jumbo yang bersumber dari APBD, yakni 3,9 miliar rupiah. Sejumlah pengamat mengkritik proyek ini.

Pemprov Jabar melalui siaran persnya berdalih bahwa pembangunan di pusat pemerintahan provinsi ini sebagai pembaruan karena Gedung Sate selama bertahun-tahun belum mendapatkan sentuhan perbaikan. Meski demikian, tahun 2019 dan tahun 2025 tercatat lingkungan Gedung Sate sudah mengalami beberapa kali perbaikan dengan anggaran mulai dari ratusan juta rupiah hingga lebih dari satu miliar rupiah.

Catatan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Jawa Barat menunjukkan bahwa pada 2025 pekerjaan revitalisasi taman Gedung Sate, baik dari sisi perencanaan maupun pengawasan telah dilakukan pada dua periode pemerintahan berbeda. Dua paket pekerjaan tercatat dimenangkan oleh penyedia jasa berbeda.

Paket pengawasan penataan taman dimenangi CV Multi Karya Mandiri, perusahaan yang beralamat di Ligar Raya, Bandung, dengan nilai pagu 346,5 juta rupiah dan HPS 346,3 juta rupiah. Sementara itu, pekerjaan perencanaan penataan taman dimenangkan PT Galen Sagara Perkasa dari Martanegara, Bandung, dengan pagu dan HPS yang sama, yakni 483,6 juta rupiah.

Jika menengok ke belakang, pada 2019, proyek penataan ruang Gedung Sate menelan dana jauh lebih besar skalanya. Pekerjaan revitalisasi taman depan dan belakang gedung melibatkan dua kontrak utama. Paket jasa konsultansi pengawasan dikerjakan CV Sasana Karya dari kawasan Saturnus Timur, Bandung, dengan pagu 1,04 miliar rupiah dan HPS 376,3 juta rupiah. Adapun paket fisik revitalisasi taman dimenangkan PT Luxindo Putra Mandiri dari Antapani, Bandung, dengan nilai pagu mencapai 18,96 miliar rupiah dan HPS 17,99 miliar rupiah.

Wajah taman depan Gedung Sate yang dibangun di tahun kedua Gubernur Ridwan Kamil inilah yang saat ini diubah lewat proyek pembangunan gerbang utama dan taman di tahun pertama Gubernur Dedi Mulyadi. Saat ini, prosesnya sudah setengah jadi dan mulai terlihat wujud barunya. Masyarakat yang melintas di depan Gedung Sate akan menyadari adanya perubahan tampilan yang secara tegas mencerminkan identitas budaya Jawa Barat.

“Desain gapura mengadaptasi bentuk Candi Bentar, salah satu elemen arsitektur tradisional yang terdapat di berbagai keraton di Jawa Barat. Sentuhan klasik tersebut dipadukan dengan gaya modern agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” demikian keterangan resmi Pemprov Jabar, diakses Jumat, 28 November 2025.

Budayawan Yasraf Amir Piliang menilai pembangunan tersebut mencerminkan bahwa kuasa bekerja lewat simbol-simbol visual yang dipaksakan ke ruang kota. Ini terlihat dari penggabungan arsitektur kolonial art deco dengan gerbang kerajaan Candi Bentar yang menciptakan percampuran yang tak memiliki hubungan historis ataupun kultural dengan lingkungan sekitar Bandung.

“Kalau elemen-elemen yang disusun tidak nyambung, maknanya jadi mengambang. Pertanyaannya apakah mengambang itu memang diinginkan?” kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi Teori Kebudayaan Kontemporer di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut, Bandung, Minggu, 23 November 2025.

Kritik serupa juga datang dari peneliti tata kota Jejen Jaelani yang menyebut estetika gedung warisan kolonial Belanda Gedung Sate selalu berubah mengikuti selera gubernur. Ia mencontohkan, pada era gubernur Ahmad Heryawan, Gedung Sate dipasang lampu warna-warni. Di masa kepemimpinan Ridwan Kamil, giliran halaman depan Gedung Sate diberi tulisan dengan huruf timbul di bagian depan serta lanskap baru yang dinilai merusak karakter aslinya. Kini, Dedi Mulyadi membangun bagian depan Gedung Sate menyerupai candi.

Menurut Jejen, pembangunan Gedung Sate jatuh menjadi urusan selera dan ideologi pemimpinnya. Setiap rezim datang dengan estetika masing-masing tanpa memikirkan keselarasan dengan sejarah bangunan.

“Itu problemnya: problem selera, problem ideologi. Kita bisa membaca bagaimana ideologi dan kuasa bekerja,” kata penulis Semiotika Kota: Pertarungan Ideologis di Ruang Urban (2020) ini. 

Jejen juga menyoroti pembenaran yang disampaikan Pemprov Jabar mengenai penggunaan anggaran besar. Ia menyebut, pernyataan tersebut merupakan bagian dari alat kuasa yang membenarkan keputusan estetika tanpa melibatkan kajian historis maupun konsultasi publik.

Jejen melihat bahwa renovasi gapura Gedung Sate mencerminkan bagaimana simbol-simbol visual bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan pernyataan kuasa yang menentukan wajah dan arah budaya. Padahal, gedung pemerintah seharusnya menggunakan selera masyarakat, bukan selera individu.

Sementara itu, aristek ITB Sigit Wisnuadji mengatakan, Gedung Sate dibangun menggunakan gaya campuran berbagai budaya, yakni arsitektur Eropa dan lokal. Ia menyangkal anggapan bahwa Gedung Sate berarsitektur Eropa. Contohnya, sejak awal dibangun di era kolonial dinding bagian bawah Gedung Sate mengambil desain gaya candi. 

Mengenai desain gapura Candi Bentar, Sigit mengomentari bahwa model ini erat kaitannya dengan budaya kecirebonan. Secara filosofis, Candi Bentar (candi terbelah) sebagai penanda visual untuk menciptakan kesan transisi antara ruang profan (biasa) dan ruang sakral (pusat pemerintahan). Gapura dirancang dengan konsep struktur kepala, badan, dan kaki.

Baca Juga: Memaknai Ucapan Dedi Mulyadi tentang Disiplin dalam Pendidikan
Salah Kaprah Dedi Mulyadi Membawa Siswa ke Barak Militer

Konsep Sakral dan Profan

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyatakan, pembangunan gerbang dan pagar Gedung Sate sebelumnya telah melalui riset oleh arsitek. Desain tersebut kemudian ditetapkan dalam Detail Engineering Design (DED). Ia menepis komentar di sosial media bahwa pembangunan Gedung Sate hanya pemikiran dirinya.

“Jadi ini (Gapura Gedung Sate) yang gambar bukan saya,” kata Dedi Mulyadi, di akun YouTube-nya, Selasa, 25 November 2025. 

Dedi juga mengatakan, anggaran senilai 3,9 miliar rupiah dibiayai dari hasil efisiensi anggaran perjalanan dinas dan belanja seragam gubernur.

Jika merunut ke belakang, Gedung Sate memang kerap dipoles ataupun direnovasi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat di masa Gubernur Ahmad Heryawan pernah merencanakan pembangunan terowongan yang akan menghubungkan Gedung Sate dengan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Wacana ini diungkapkan Aher dalam acara Festival Film Bandung 2014.

Revitalisasi kawasan dari taman depan dan belakang juga dilakukan pada masa Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Ridwan menyebut, revitalisasi ini dilakukan untuk menghadirkan pengalaman sejarah sekaligus wisata. Hal ini dilakukan sebagai destinasi wisata resmi dan ruang publik yang bisa diakses masyarakat.

Dalam praktiknya, Ridwan menyebut pihaknya telah berkonsultasi dengan Bandung Haritage. Menurutnya, revitalisasi menerapkan prinsip place making meliputi penataan arsitektur, penguatan aktivitas publik, dan penciptaan memori kolektif. Salah satu elemen baru adalah pemasangan pilar-pilar simbolik berisi sejarah kabupaten atau kota di Jawa Barat, yang sekaligus mendorong ekonomi lokal di masa pandemi. 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//