• Kolom
  • CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #22: Romantisisme Harian Umum Kompas, Edisi 56 Tahun Silam

CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #22: Romantisisme Harian Umum Kompas, Edisi 56 Tahun Silam

Surat kabar Kompas edisi 27 November 1969 merekam suasana Jakarta yang tengah membangun dirinya menjadi kota metropolitan.

Kin Sanubary

Kolektor Koran dan Media Lawas

Halaman muka Kompas edisi 27 November 1969, dengan harga eceran tercantum 10 rupiah. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)

29 November 2025


BandungBergerak.id – Sejak pertama kali terbit pada 28 Juni 1965, Harian Umum Kompas menempatkan diri sebagai surat kabar yang mengedepankan kecermatan, integritas, dan empati dalam melihat realitas. Di bawah kepemimpinan duo pendiri P.K. Ojong dan Jakob Oetama, Kompas perlahan membangun reputasi sebagai “koran yang tenang” tidak tergesa-gesa membuat penilaian, namun teguh pada amanat hati nurani rakyat. Menjelang akhir dekade 1960-an, ketika Orde Baru mulai menata ulang lanskap politik dan kehidupan pers berjalan dalam kehati-hatian, Kompas hadir sebagai jembatan antara informasi dan tanggung jawab moral.

Membuka kembali halaman lamanya berarti bukan hanya membaca berita, tetapi juga menyimak bagaimana sebuah koran memotret zamannya cermat, hati-hati, dan tetap setia pada nurani.

Adapun box redaksi Kompas terbitan 27 November 1969 memuat nama dan data sebagai berikut:

Pemimpin Umum: P.K. Ojong, S.H.
Pemimpin Redaksi / Penanggung Djawab: Jakob Oetama
Wakil Pemimpin Redaksi: P. Swantoro

Staf Redaksi:

Drs. J. Adisubrata, Irawati S.H., Marcel Beding, Indra Gunawan M., Hartantho, Edward Linggar G., Dra. Erka Azhar, A. Parengkuan, J. Widodo, J. Roestam Afandi, Dra. Threes Nio, A. Tarjadi, Drs. Bob Barnabas, Luwi Ishwara S.H., Henny Phandu S.H., P. Hendranto, H. Kodhyat S.H., Drs. Sani Sanusi, Sumarkotjo Sudiro, Th. A. Budi Susilo, Hw. Kusumoamidjojo, Jimmy Wp.

Illustrator / Karikaturis: G.M. Sudarta; Wartawan Foto: Lukman Setiawan.

Kantor Redaksi beralamat di Jl. Pintu Besar Selatan 86–88, Djakarta Kota, Telp. 21280, 23666, 23667. Adapun Kantor Tata Usaha, Bagian Iklan, Langganan dan Pengaduan Langganan di Djl. Gadjah Mada 104, Djakarta Kota, Telp. 23042. Sedangkan alamat surat untuk seluruh bagian Kompas ditujukan ke P.O. Box 615 DAK. Sementara Alamat Kawat: KOMPAS DJAKARTA.

Harian Kompas terbit tiap hari 8 halaman (Minggu tidak terbit). 

Penerbit: Jajasan Bentara Rakjat. Pertjetakan: P.T. Kinta & P.T. Surya Prabha

Ijin Terbit Kompas:

Keputusan Menpen No. Per-3/SK/Dir.PK/SIT/1969, tgl. 27-8-1969
Kep. Laksus Pangkopkamtibda No. 013/PC/I/1969, tgl. 21-1-1969

Ijin Tjetak:

Laksus Pangkopkamtib Djaya No. KEP.105-PC/IX/1969, tgl. 15-9-1969

Harga: Langganan Rp 225,- sebulan dan eceran Rp 10,-.

Tampilan halaman surat kabar Kompas yang sarat informasi, menunjukkan gaya penyajian berita pada era akhir 1960-an. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)
Tampilan halaman surat kabar Kompas yang sarat informasi, menunjukkan gaya penyajian berita pada era akhir 1960-an. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)

Baca Juga: CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #19: Membaca Jakarta Lewat Pos Kota
CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #20: Majalah Aktuil, Media Musik Legendaris Indonesia dari Bandung
CATATAN DARI MEDIA CETAK LAWAS #21: Bioskop-bioskop di Bandung Era 1970-an dalam Kenangan

Rekaman Situasi Tahun 1969

Kompas edisi tanggal 27 November 1969 yang kita buka kembali ini merekam suasana Jakarta yang tengah membangun dirinya menjadi kota metropolitan. Berita-berita yang tersaji memotret persoalan publik, dinamika kekuasaan, hingga denyut kehidupan sehari-hari yang membentuk wajah ibu kota waktu itu.

Gubernur Ali Sadikin: Problem Pendidikan, Rumah Sakit, dan Kekurangan 6.000 Bus

Laporan utama Kompas menyoroti paparan Gubernur Ali Sadikin mengenai berbagai kendala pembangunan Jakarta. Bang Ali menyebut bahwa anggaran DCI hanya mendapat 1,5% dari pendapatan Jakarta, selepasnya dikelola pemerintah pusat. Karena itu, ia meminta publik tidak menyamakan dirinya dengan Lee Kuan Yew, kapasitas fiskal Jakarta terlalu kecil untuk membuat lompatan besar untuk dibandingkan dengan Singapura.

Bidang pendidikan disebut sebagai masalah terberat, sementara kondisi rumah sakit ibu kota masih memprihatinkan. Pada sektor transportasi, Jakarta kekurangan sekitar 6.000 bus, mencerminkan betapa peliknya mobilitas masyarakat saat itu.

Perceraian Sukarno–Dewi Masuk Ranah Negara

Berita lain yang menonjol adalah kabar rencana perceraian Sukarno dan Dewi. Pemerintah menyatakan akan meneliti dampaknya terhadap kepentingan negara. Karena Sukarno berada dalam kuratele, perkara ini tidak lagi murni urusan pribadi seorang mantan presiden, tetapi juga menyangkut protokol kenegaraan.

Perkara Surat Kabar Angkatan Baru Ditunda

Sidang kasus pemberitaan yang menjerat penanggung jawab Angkatan Baru ditunda karena jaksa sakit. Berita ini mencerminkan betapa sensitifnya dunia pers pada masa itu media harus berjalan di antara informasi dan risiko hukum yang setiap saat dapat menjerat.

Kurs Valuta Asing & Harga Emas

Informasi ekonomi menjadi bagian penting halaman depan Kompas. Salah satunya kurs valuta asing dan harga emas pada Rabu, 26 November 1969, sebagai berikut:

Valuta Asing (kurs beli/kurs djual)

Dollar Amerika Rp386,-/Rp380,-
Dollar Hongkong Rp65,-/Rp61,50,-
Dollar Singapura Rp127,-/ Rp123,-
Dollar Australia Rp424,-/Rp410,-
Pound Inggris Rp910,-/Rp860,-
Deutsche Mark Rp105,-/Rp 100,-
Netherlands Gulden Rp 108,-/Rp 103,-

Harga Emas (Harga belum termasuk ongkos pembuatan dan biaya lainnya):

24 karat: Rp557,50 per gram
23 karat: Rp528,62 per gram
22 karat: Rp501,- per gram
Logam Mulia : Rp570,-

John Lennon Mengembalikan MBE Award

Di kolom luar negeri, kabar budaya menarik perhatian yakni John Lennon mengembalikan penghargaan MBE sebagai protes atas perang Vietnam dan Nigeria. Aksi bernada satire itu ditambah seloroh mengenai lagu Cold Turkey menjadi catatan global yang turut mengisi ruang baca masyarakat Indonesia.

Waktu Puasa & Acara TVRI

Bagian bawah halaman memuat dua informasi yang sangat akrab bagi pembaca era 1960-an yaitu waktu puasa dan jadwal siaran TVRI.

Jadwal Waktu Puasa

Magrib 17.53; Imsak 03.57; Subuh 04.07; Lohor 11.45; Asar 15.04; serta Isya 19.02.

Acara TVRI pada Kamis, 27 Nopember 1969:

18.00 Pembukaan
18.05 Ballet Anak-anak oleh Tunas Djaya
18.40 Film: Hari Ulang Tahun ZENI AD
19.00 Mimbar Agama Islam (fragmen)
19.30 Siaran Berita/Ulasan
20.00 Peringatan Nuzulul Quran dari Istana Negara
21.00 Film: Laporan Perkembangan Ilmu
21.20 Karikatur dalam Pers
21.30 Seriosa Vokalia oleh Jack Roeder Masni Cs
22.13 Film: Frontier Circus
23.08 Tutup
Catatan: Bila siaran dari Istana lebih dari 60 menit, acara “Laporan Perkembangan Ilmu” dan “Karikatur Pers” ditiadakan.

Bioskop-Bioskop Jakarta 1969: Mau Nonton di Mana?

Deretan iklan bioskop menghadirkan panorama hiburan ibu kota. Film-film impor mendominasi layar, dari drama Eropa hingga komedi Hollywood.

Di antaranya adalah film Sexy Susan (Sexy Susan Sins Again) yang tayang di Bioskop Megaria, 30 November 1969. Format film Eastmancolor Scope, dibintangi Jeffrey Hunter & Pascale Petit. Harga tiket untuk Loge/Balcon: Rp600 dan Stalles: Rp 400. Penjualan tiket tersebar di berbagai toko dari Toko Shanghai hingga ticket box Menteng potret distribusi hiburan sebelum era digital. Ada juga film Do Not Disturb yakni film komedi romantis yang dibintangi Doris Day Rod Taylor. Filmt tersebut tayang di Bioskop Megaria dan Cathay. Bahasa iklan yang digunakan: “Romantis! Djenaka! Penuh adegan menggelikan!”

Selain dua film utama itu, banyak judul lain memenuhi layar Jakarta. Film-film yang diputar di Bioskop-bioskop Jakarta selengkapnya yaitu:

Wista Theatre:

17.00 – 19.30 – 21.30 Naked Girls After Demon Pearls

Royal Theatre:

17.00 – 19.00 – 21.00 Silver Maid

Gelora:

15.00 – 19.00 – 21.30 Silver Maid

Krekot:

15.00 – 19.30 – 21.30 Iron Bonus

Megaria:

16.00 – 19.30 – 21.45 The Servant

Cathay:

15.30 – 19.15 – 21.45 The Servant

Menteng:

16.00 – 19.00 – 21.00 The Matriach

Satria:

14.30 – 19.00 – 21.30 The Matriach

Kramat:

15.30 – 19.30 – 21.15 The Matriach

Capitol:

15.00 – 19.00 – 21.00 Afsana

Pomindo:

16.00 – 19.00 – 21.00 Dangerous Seventeen

Extra Show 14.00 — The Four Sisters

Merpati:

13.30 – 19.30 – 21.15 Our Man Flint

Taman Sari:

14.30 – 19.30 – 21.15 The Tuning Sword

Rukiah:

15.00 – 19.30 – 21.15 Our Man Flint

Penulis memegang Kompas terbitan 56 tahun silam, sebagai bagian dari upaya menelusuri kembali jejak sejarah pers Indonesia. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)
Penulis memegang Kompas terbitan 56 tahun silam, sebagai bagian dari upaya menelusuri kembali jejak sejarah pers Indonesia. (Foto: Dokumentasi Kin Sanubary)

Dari secarik halaman Kompas edisi 27 November 1969, kita menangkap potret sebuah bangsa yang sedang menata diri, dari kebijakan Bang Ali yang realistis, dari kabar internasional yang mencerminkan gejolak dunia, dari ritme ibadah dan jadwal siaran yang memandu hari, hingga deretan film yang meramaikan malam warga Jakarta.

Halaman-halaman yang dulu dibaca di beranda rumah, halte bus, ruang kantor, atau warung kopi itu kini menjadi arsip berharga. Jejak sederhana yang mengingatkan bahwa Indonesia pernah berjalan dalam ritme yang lebih perlahan, namun lebih jernih dalam menangkap denyut zamannya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//