MAHASISWA BERSUARA: Nyeker, Simbol Kesatuan Manusia dan Alam di Tengah Modernitas
Telapak kaki yang bersentuhan secara langsung pada tanah merupakan simbolisasi bahwa manusia merupakan bagian dari alam dan alam merupakan bagian dari diri manusia.

Gregorius Andrian Ajikusuma dam Albertius Valerian
Mahasiswa Filsafat Budaya di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
29 November 2025
BandungBergerak.id – Nyeker, secara umum kita pahami sebagai sebuah bentuk aktivitas fisik tanpa menggunakan alas kaki. Di zaman modern saat ini, menggunakan alas kaki, seperti sepatu atau pun sandal sudah menjadi kebiasaan dan standar dari menjalani aktivitas termasuk menjadi bagian dari anjuran kesehatan. Dalam masyarakat modern saat ini, nyeker dipandang sebagai hal yang kurang relevan karena dapat merusak kaki dan menghambat kegiatan aktivitas keseharian. Masyarakat modern yang setiap kali keluar rumah memakai alas kaki, akan merasa tidak nyaman dalam menjalani kesehariannya dengan nyeker. Menginjak tanah akan dipandang sebagai hal yang mengotori kaki, menginjak kerikil dipandang sebagai hal yang menyakiti kaki, menginjak aspal dipandang sebagai hal yang dapat merusak tekstur telapak kaki, belum lagi banyaknya sampah berserakan di jalan, serpihan kaca, dan panasnya sinar matahari yang membuat nyeker tampak sebagai hal yang kurang relevan dan praktis. Namun, di tengah pandangan tersebut, Sanggar Reak Tibelat sebagai komunitas seni yang berfokus pada kesenian Sunda, setiap tahunnya tetap mengadakan acara Nyeker sebagai bagian dari tradisi dan ekspresi budaya mereka. Fenomena mengenai keberlanjutan praktik berjalan tanpa alas kaki di tengah masyarakat modern ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji.
Kegiatan Nyeker, terutama di pegunungan, memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Secara medis, penelitian yang dilakukan oleh Taehun Kim dan Dae Yun Seo, menunjukkan bahwa kebiasaan berjalan tanpa alas kaki di permukaan alami (tanah dan rumput) secara rutin dapat memberikan pengaruh pada fungsi otak dan suasana hati. Penelitian ini dilakukan dengan 60 siswa SMA. Para siswa dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama melakukan eksperimen dengan berjalan tanpa alas kaki 30 menit per hari, 3 kali seminggu selama 12 minggu. Kelompok kedua berjalan dengan sepatu dalam durasi dan frekuensi yang sama. Kedua kelompok tersebut diuji secara kognitif, gelombang otak, dan skala stres psikologis dan suasana hati. Hasil dari eksperimen tersebut menunjukkan bahwa kelompok tanpa alas kaki mengalami peningkatan skor lebih tinggi dalam tes konsentrasi dan kecepatan berpikir, terjadi peningkatan gelombang otak beta, gamma, dan alfa (yang muncul saat tubuh berada dalam keadaan rileks), penurunan stres, dan peningkatan suasana hati positif. Dengan demikian, berjalan tanpa alas kaki terbukti tidak hanya menenangkan pikiran, tapi juga dapat meningkatkan fungsi otak dan kesejahteraan psikologis.
Selain memberikan manfaat dalam segi medis, kegiatan nyeker juga membawa manfaat secara ekologis. Berjalan tanpa alas kaki mendorong seseorang untuk lebih berhati-hati dan sadar terhadap setiap langkah yang hendak dipijaknya. Hal ini menumbuhkan kewaspadaan dalam berpijak karena perlu memperhatikan tekstur tanah, makhluk hidup kecil, rerumputan berduri, jamur, dsb. Kewaspadaan dalam berpijak secara tidak langsung membantu menjaga kelestarian alam. Sebaliknya, individu yang memakai sepatu cenderung kurang memperhatikan dataran serta makhluk hidup kecil di sekitarnya. Secara jangka panjang, memakai sepatu dapat mengikis dan merusak tanah. Pijakan dengan sepatu, terutama sepatu dengan sol keras, dapat menekan partikel tanah (pemadatan tanah) yang membuat udara dan air menjadi susah untuk masuk. Udara dan air yang susah untuk masuk ke dalam tanah membuat aktivitas mikroorganisme tanah menurun dan membuat akar tanaman menjadi sulit untuk bertumbuh. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa nyeker merupakan bentuk dari merawat alam.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Sampah Bandung, Cermin Krisis dan Harapan Kota Kreatif
MAHASISWA BERSUARA: Islam dan Tradisi
MAHASISWA BERSUARA: Suara yang Dibungkam, Tragedi Pembangunan Kota demi Kepentingan Elite
Ritual Menghormati Alam
Gunung merupakan tempat yang dianggap sakral. Mitos-mitos tentang gunung pun dibuat sehingga setiap individu yang hendak mendaki gunung menjaga perilaku demi kelestarian ekosistem pegunungan. Sebagai contoh, sebelum mendaki gunung, seseorang diperingatkan untuk menjaga perilaku, tidak boleh menyalakan api unggun sembarangan, serta tidak boleh menebang pohon. Kepercayaan ini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat adat agar siapa pun yang mendaki gunung tidak merusak alam. Secara spiritual, nyeker merupakan wujud dari menghormati alam –terutama terhadap gunung. Telapak kaki yang bersentuhan secara langsung pada tanah merupakan simbolisasi bahwa manusia merupakan bagian dari alam dan alam merupakan bagian dari diri manusia. Hal ini dapat menjadi pengingat bahwa manusia adalah kesatuan dari alam. Manusia dengan alam memiliki hubungan yang bersifat timbal balik: Jika manusia menjaga kelestarian alam, maka alam juga akan menjaga kelestarian manusia. Demikian pula, jika manusia memancarkan energi positif –seperti niat dan tindakan baik yang selaras dengan alam– maka alam juga akan memantulkan energi positif itu kembali. Secara ilmiah, permukaan bumi mengandung ion negatif yang dapat menetralkan muatan positif berlebih dalam tubuh manusia. Aktivitas berjalan tanpa alas kaki terbukti secara fisiologis dapat menurunkan peradangan, menyeimbangkan medan elektromagnetik tubuh, dan membantu menstabilkan sistem saraf. Dengan kata lain, hubungan manusia dan alam tidak hanya sebatas hubungan yang simbolik, tetapi juga nyata secara biologis. Hubungan timbal balik ini mengandaikan bahwa ketika manusia mencintai alam, maka alam pun akan mencintai manusia.
Sayangnya, kesadaran tentang kesatuan manusia dengan alam sering kali terkalahkan oleh ambisi ekonomi. Melihat adanya pemanasan global, kutub es yang mencair, menumpuknya sampah dari tahun ke tahun, dan polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan serta industri, menunjukkan bahwa alam dan satwa perlahan kehilangan ruang hidupnya. Kaum kapitalis selalu berusaha untuk menjajah masyarakat dengan membuat stigma-stigma tidak berguna seperti pentingnya hidup mewah, kecantikan, gaya hidup bergengsi agar masyarakat terus terjebak dalam pola konsumerisme tanpa henti dan melupakan akan pentingnya alam. Di lain sisi, mereka dengan leluasa mengeksploitasi alam demi mendapatkan keuntungan sebesar mungkin.
Simbol Pengingat
Melihat berkembangnya teknologi yang semakin hari semakin canggih menunjukkan adanya kemajuan pesat dalam peradaban manusia. Namun, muncul pertanyaan: apakah dengan perkembangan teknologi tersebut sudah pasti menunjukkan adanya kemajuan? Jika perhatikan, munculnya plastik merupakan teknologi yang tidak dapat lepas dari kehidupan manusia. Banyak benda yang dapat diciptakan dari plastik, mulai dari kantong plastik, botol minum, kursi, wadah produk kosmetik, hingga pipa PVC yang digunakan dalam bidang konstruksi. Dengan maraknya penggunaan plastik, tampak mustahil untuk melepaskan plastik dari kehidupan manusia. Di sisi lain, kita melihat paus yang mati karena menelan plastik, tumpukan sampah plastik yang mengapung di laut seperti pulau, hingga mikroplastik yang ditemukan di tubuh manusia. Hal ini menunjukkan adanya pembalikan: plastik yang seharusnya membantu kehidupan manusia, justru berbalik merusaknya. Dengan kata lain, plastik sebagai teknologi yang dikendalikan manusia, justru menjadi teknologi yang mengendalikan manusia.
Meskipun demikian, masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Banjir yang telah terjadi dari tahun ke tahun tidak juga menumbuhkan kesadaran manusia untuk membuang sampah pada tempatnya. Saya berasumsi bahwa kesadaran tersebut baru akan muncul secara pesat ketika dampak yang dirasakan juga benar-benar ekstrem—ketika banjir semakin tinggi hingga menenggelamkan rumah-rumah, ketika suhu bumi meningkat hingga membuat setiap hari terasa panas, ketika polusi udara di mana-mana hingga tidak adanya udara yang layak disebut sebagai udara. Perubahan yang sangat pesat itu akan membuat manusia kapok dan menyesal karena telah lalai dalam menjaga lingkungan dengan penuh tanggung jawab.
Beberapa restoran cepat saji sudah mulai mengurangi penggunaan sedotan plastik dalam produknya (meskipun hal ini juga dapat menekan biaya pengeluaran perusahaan), beberapa minimarket sudah menggantikan kantong plastik dengan kantong belanja (yang harganya cenderung lebih mahal), dan sejumlah universitas sudah mendorong mahasiswa untuk menggunakan tumbler alih-alih botol plastik sekali pakai (selain demi kepentingan lingkungan, juga demi citra dan reputasi universitas). Namun, upaya-upaya tersebut masih bersifat simbolis dan belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan perilaku masyarakat.
Melihat kacaunya kondisi lingkungan yang terjadi, nyeker dapat dimaknai sebagai simbol pengingat bahwa manusia merupakan satu kesatuan dengan alam. Jika seseorang ingin memiliki kehidupan yang bermakna, maka ia perlu melakukan segala sesuatu dengan cinta kasih –termasuk dalam setiap entakan langkah yang dipijakkannya di atas tanah. Merawat alam itu bagaikan merawat seorang bayi: diperlakukan dengan penuh perhatian, secara perlahan-lahan dan hati-hati. Dengan berbuat baik pada alam, secara tidak langsung kita juga berbuat baik pada makhluk lain yang turut hidup di dalamnya. Lingkungan yang dipenuhi pepohonan, jalanan tanpa sampah, dan udara yang bebas polusi merupakan surga kecil yang baik bagi setiap kehidupan di bumi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

