LARI DULU, UPLOAD NANTI: Arti Pelari Kalcer di Kota dan Alam Terbuka, Suka Berlatih Malam Hari tapi Takut Jalan Bolong
Adi berlari kembali begitu marak fenomena pelari kalcer di Bandung. Di sisi lain, Irsa memilih berlari ke Gunung Manglayang.
Penulis Tim Redaksi29 Desember 2025
BandungBergerak - Lari bukan lagi tentang olahraga, tetapi juga tentang estetika, status, dan gaya hidup. Para pelari kalcer bergerak di jalan maupun melintas di feed Instagram atau di linimasa media sosial. Mereka menunjukkan kebugaran fisik dan outfit.
Fenomena itu turut memengaruhi Adi Shofwan Rafiadi, 25 tahun, dan Muhammad Irsa Setiawan, 24 tahun. Dua orang muda ini sama-sama hobi berlari meski jenis lari yang mereka lakoni berbeda. Adi biasa berlari di tengah kota, sementara Irsa lebih menyukai berlari di alam terbuka.
Pelari Kalcer Kota
Jika dulu lari hanya menjadi hobi semasa Sekolah Menengah Atas (SMA), kini aktivitas tersebut menjadi bagian penting dari rutinitas hidup Adi Shofwan Rafiadi. Meski demikian, Adi tidak secara tegas menyebut dirinya sebagai pelari kalcer.
Adi mengakui kerap menggunakan barang-barang yang oleh publik dianggap kalcer. Namun baginya, perlengkapan tersebut bukan penanda identitas, melainkan penunjang kebutuhan berlari.
“Karena saya pakai beberapa barang yang dianggap kalcer, jadi publik sudah menganggap itu sebagai kalcer,” ujar Adi, kepada BandungBergerak via telepon, Kamis, 11 Desember 2025.
Posisinya, kata Adi, berada di tengah-tengah antara pelari kalcer atau pelari biasa. Ia merasakan langsung bagaimana budaya pelari kalcer berkembang, terutama melalui media sosial. Banyak pelari menggugah aktivitas larinya, mulai dari jarak tempuh hingga outfit yang dikenakan. Menurut Adi, ada kepuasan tersendiri setelah menyelesaikan latihan lalu membagikannya ke media sosial.
“Ada endorsement, pada akhirnya ada pendapatan yang muncul, nanti tuh dampaknya lebih ketika lari bisa ngedorong juga sih,” jelas pria asal Kopo yang sehari-hari bekerja di perusahaan swasta.
Dari situ, lari tak lagi sekadar olahraga, tetapi juga bisa membuka peluang ekonomi.
Meski begitu, Adi menyadari adanya jarak antara pelari kalcer dan pelari biasa. Pelari biasa, menurutnya, memandang lari sebagai olahraga sederhana tanpa banyak persyaratan atau embel-embel perlengkapan kekinian. Sementara pelari kalcer cenderung menampilkan gaya hidup mereka di media sosial.
“Orang yang enggak begitu banget sama pelari kalcer, dalam artian dia memang suka lari aja, pasti dia menganggapnya kayak apa ya? Ya lari mah lari aja gitu,” ucap Adi.
Di sisi lain, Adi melihat dampak positif dari konten lari yang masif di media sosial. Respons teman-teman, baik berupa komentar maupun reaksi, kerap menjadi penyemangat tambahan. Konten tersebut juga mampu menarik orang lain yang awalnya hanya tahu tentang lari, hingga akhirnya tertarik dan bergabung dengan komunitas.
Di Bandung, Adi mencatat kemunculan komunitas lari baru yang fokus pada fun run. Komunitas ini kerap bekerja sama dengan kafe atau UMKM sebagai titik kumpul. Pola tersebut menciptakan hubungan mutualisme: komunitas mendapat water station, sementara UMKM memperoleh pembeli.
Baca Juga:Friday Football Street, Mencari Lapangan yang Setara di Antara Beton Kota
Friday Football Street, Olahraga dan Ruang Publik sebagai Wadah Positif
Arti Lari bagi Adi
Adi mulai kembali berlari pada Juli tahun ini. Sebelumnya, ia sempat rutin berlari sejak 2015 saat SMA, namun berhenti cukup lama setelah lulus. Keputusan untuk kembali berlari muncul setelah melihat teman-temannya konsisten menjalani olahraga tersebut.
“Waktu itu ngelihat teman-teman pada lari, jadi mau coba lagi,” kenangnya.
Bagi Adi, lari adalah olahraga yang bersifat personal. Ia memandang lari sebagai proses membandingkan diri dengan diri sendiri, bukan dengan orang lain. Tidak ada kerja sama tim, hanya pemahaman terhadap kemampuan tubuh sendiri.
“Cuma diri kita yang tahu akan kondisi kemampuan lari yang kita lakukan,” tegasnya.
Salah satu pengalaman komunitas yang paling berkesan bagi Adi adalah keikutsertaannya dalam Jakarta Running Festival. Menurutnya, penyelenggaraan acara tersebut sangat terstruktur dan ramah bagi pelari pemula, sehingga meninggalkan kesan mendalam.
Sejak kembali menekuni lari, Adi aktif mencari informasi melalui media sosial. Ia mengikuti konten kreator dan influencer, salah satunya Dokter Tirta, yang kerap menyuarakan manfaat dan keseruan lari.
“Bahkan di situ tuh makin ngerti gitu ya, yang jadi daya tariknya lari itu apa gitu,” tutur Adi.
Dari sana, frekuensi larinya meningkat, dari seminggu sekali menjadi beberapa kali. Dalam sepekan ia bisa 4-5 kali lari. Khusus akhir pekan ia biasa melakukan long run di Kota Bandung. Ia menetapkan target jarak tempuh mingguan yang terus bertambah seiring waktu.
“Dimulai dari situ, jadi seminggu harus berapa kilometer, terus makin berbulan-bulan tuh targetnya makin naik,” jelasnya.
Adi terkadang berlari di malam hari jika tidak sempat pagi. Namun lari malam hari memiliki risiko berbeda. Banyak jalan berlubang dan penerangan yang minim dikhawatirkan membahayakan pelari.
“Fasilitas sih yang paling penting, banyak jalan yang bolong-bolong. Ditambah lagi yang lebih parah penerangannya sih gelap gitu,” kata Adi.
Dalam hal latihan, Adi memiliki target yang lebih serius, khususnya untuk long run di akhir pekan. Menurutnya, fun run bersama komunitas sering kali tidak memenuhi menu latihannya, sehingga ia lebih sering long run sendiri atau bersama teman dekat.
“Sebenarnya kalau long run itu lebih ke waktu sih. Mmm, mungkin kurang lebih 15 kilo atau 14 kilo,” ungkapnya.
Tahun depan, Adi menargetkan mengikuti lomba maraton. Meski tergolong baru baginya, ia merasa waktunya sudah tepat untuk mencoba tantangan tersebut. Ia pun berharap komunitas lari di Indonesia, khususnya Bandung, mampu menjaga konsistensi aktivitas lari agar tidak sekadar menjadi tren sesaat.
Menutup ceritanya, Adi berpesan kepada pelari pemula agar menemukan keseruan versinya masing-masing. Baginya, lari adalah soal kepuasan batin.
“Mau cari caranya sebagai pelari kalcer, untuk kesehatan, menurunkan berat badan. Pokoknya apa pun motivasinya tuh go for head,” tutup Adi.

Pandangan Adi terhadap Pelari Kalcer
Adi Shofwan Rafiadi memandang fenomena pelari kalcer sebagai bagian dari tren lari yang kian berkembang di Indonesia, khususnya di Bandung. Menurut Adi, pelari kalcer adalah mereka yang menonjolkan estetika visual dalam aktivitas lari, terutama melalui outfit yang berkelanjutan serta cara memvalidasi rutinitas lari lewat konten media sosial.
“Mungkin itu yang jadi daya seru tren lari di lapangan akhir-akhir ini,” ujar Adi.
Adi menilai, selain visual, musik turut menjadi elemen penting dalam budaya pelari kalcer. Ia menyebut sastra dan musik viral, seperti punk, sebagai medium ekspresi yang ikut mendongkrak tren tersebut. Pendekatan ini dinilai mampu menarik perhatian orang awam yang sebelumnya tidak terlalu tertarik pada lari.
“Ketika dia melihat fenomena itu tuh dia bisa langsung antusias gitu. Terdorong gitu. Oh, ini dia ada pelari kalcer kayak gitu-gitu,” ungkap Adi.
Pandangan Adi sejalan dengan temuan dalam Jurnal Ilmiah Multidisipliner berjudul Pelari Kalcer: Antara Identitas, Eksistensi, dan Gaya Hidup karya Adithya Yohannes Manurung (Vol. 04, No. 001, 2025). Jurnal tersebut menjelaskan bahwa kemunculan pelari kalcer tidak terlepas dari perkembangan teknologi digital dan media sosial. Platform seperti Instagram, Strava, dan TikTok memungkinkan pelari membagikan capaian, dokumentasi aktivitas, serta penampilan mereka secara luas.
Dalam konteks itu, aktivitas lari bertransformasi menjadi ajang representasi diri. Performa, perlengkapan, dan gaya berpakaian memainkan peran penting dalam membangun citra pelari. Fenomena ini sekaligus membuka ruang baru bagi lari sebagai gaya hidup, yang mampu menarik minat masyarakat awam untuk ikut terlibat.

Lari di Alam Terbuka
Jika Adi lebih memilih berlari di tengah kota, lain lagi dengan Muhammad Irsa Setiawan yang terbiasa trail run, lari di alam terbuka. Saat ini ia rutin menjajal Gunung Manglayang, gunung di belakang rumahnya.
Minggu, 7 Desember 2025, Irsa berangkat dari rumahnya di kawasan Cipadung, Kota Bandung, sekitar pukul 08.00 pagi. Mengenakan sepatu lari berdampal tebal, topi lari kecil, serta perlengkapan air yang disampirkan di pundak, ia berjalan terlebih dahulu sebelum mencapai kenaikan elevasi sekitar 500 meter di Gunung Manglayang.
Gunung Manglayang memiliki ketinggian 1.818 meter di atas permukaan laut. Bagi Irsa, lari di alam terbuka menguji kekuatan fisik sekaligus mental, terutama saat berlari menuruni tanjakan yang curam.
Ketertarikannya pada trail run berawal dari kebiasaannya mendaki gunung. Padatnya pekerjaan membuatnya tak lagi leluasa melakukan pendakian panjang, sehingga lari di alam terbuka menjadi alternatif untuk tetap beraktivitas di alam.
Irsa mengaku sebelumnya tidak menyukai lari. Ketertarikan itu muncul setelah ia terpapar konten para pemengaruh olahraga yang memperkenalkan trail run sebagai olahraga menantang. Ia mulai menekuni hobi ini sejak April 2025.
“Saya mencoba trail run, dan di situ saya merasakan lagi senangnya berkegiatan di alam, walaupun saya sebenarnya tidak suka lari,” ujarnya.
Ia biasanya berlari seorang diri, meski sesekali bertemu pelari lain di jalur yang sama. Hari Minggu menjadi waktu khusus yang ia sisihkan untuk berlari dan tak mudah diganggu. Hingga kini, Irsa telah menjajal sejumlah jalur di Bandung, seperti Gunung Manglayang, Jayagiri, dan Lembah Tengkorak.
Pengalaman paling menegangkan, menurut Irsa, terjadi saat ia mengikuti sebuah ajang lari di kawasan Lembang. Perlombaan itu digelar pada malam hari, selepas waktu Isya. Suhu dingin yang menusuk, vegetasi hutan yang rapat, serta trek berliku menjadi tantangan tersendiri.
“Gelapnya hutan jadinya tuh lebih kerasa keseruanya dan lebih terasa aja keintiman sama alamnya,” ujarnya.
Menyisih dari Kebisingan Kota
Bagi Irsa, trail run menjadi cara untuk menjauh sejenak dari kebisingan dan kepadatan Kota Bandung. Di alam terbuka, ia merasa lebih tenang dan bisa berhenti sejenak untuk menata pikiran, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Ia menilai berlari di lintasan khusus pelari terasa cepat membosankan karena gerakannya yang berulang. Sementara jika berlari di jalan raya, ia harus berhadapan dengan polusi udara, kemacetan, jalan berlubang, serta kondisi trotoar yang kurang ramah.
Selain itu, berlari di jalan raya menurutnya memiliki risiko tinggi terserempet kendaraan yang melintas. Risiko tersebut membuatnya memilih jalur alam yang lebih aman dan menantang.
Berlari di alam memberikan rasa kebebasan sekaligus ketenangan bagi Irsa. Bahkan, berada jauh dari kota membuatnya merasa kesenjangan sosial yang sering ia rasakan menjadi hilang.
“Saya merasa alam itu menetralisir semuanya,” tutupnya.
*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Ryan D Apriliyana dan Yopi Muharam. Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

