PULIHKAN LUKA TAK KASAT MATA: CS Writer’s Club dan Melihat Lebih Jernih, Ruang-ruang Alternatif dari Kesepian
CS Writer’s Club dan kampenye Melihat Lebih Jernih sama-sama membuka ruang alternatif untuk mencapai kesejahteraan psikologis.
Penulis Salma Nur Fauziyah7 Januari 2026
BandungBergerak - Hampir empat tahun terakhir, Dede Yogi Darsita menjalani rutinitas ganda sebagai mahasiswa sekaligus pekerja. Di sela kesibukan itu, ia menemukan satu ruang yang membuatnya bisa bernapas lebih lega: sebuah komunitas menulis bernama CS Writer’s Club (CSWC) di Bandung.
Komunitas ini rutin menggelar pertemuan setiap Kamis malam. Tidak ada struktur kepengurusan atau keanggotaan resmi. Siapa pun bisa datang dan ikut menulis, selama mengikuti informasi yang diumumkan melalui media sosial mereka.
“Kegiatannya nulis bareng tiap hari Kamis, dengan host yang berbeda-beda,” kata Dede melalui pesan suara kepada BandungBergerak.
Host dipilih dari penulis dengan karya terfavorit pada pertemuan sebelumnya. Selain memandu sesi, host juga menentukan tema tulisan dan lokasi pertemuan pekan berikutnya.
Bagi Dede, CSWC bukan sekadar tempat menulis. Ia menjelma ruang aman.
“Aku ngerasa CSWC itu jadi ruang aman buatku. Karena disitu kayaknya gak di judge gitu loh tulisanku. Mau tulisannya bagaimana, mau seabsurd apa tulisannya gitu,” aku Dede.
Perasaan itu, menurut Dede, juga dirasakan banyak peserta lain. CSWC menjadi tempat mengekspresikan diri sekaligus ruang healing dari tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, maupun beban hidup lain yang kerap tak punya tempat untuk diceritakan.
Komunitas ini juga terbuka bagi siapa saja. Di dalam lingkar menulis itu, latar belakang menjadi tidak relevan; yang penting adalah cerita.
Lewat tulisan, Dede justru mengenal orang-orang yang jarang ia ajak berbincang secara langsung.
“Kami atau saya dengan para member itu jarang banget ngobrol ya. Tapi kita tuh jadi lebih mengenal masing-masing itu lewat tulisannya,” tutur Dede.
Dari sana, ia melihat berbagai sisi manusia: ada yang melankolis, ada yang rapuh, ada pula yang tampak kuat. Semua terpantul jujur di atas kertas.
CSWC sendiri bermula dari komunitas traveler internasional Couchsurfing (CS). Namun, seiring waktu, mayoritas peserta yang hadir adalah orang-orang lokal. Dari situlah makna CS bergeser menjadi Cum Suis, frasa bahasa Latin yang berarti “bersama teman-teman”. Perubahan nama itu mencerminkan suasana komunitasnya: akrab, setara, dan tanpa sekat.
Baca Juga: Layanan Kesehatan Mental di Jawa Barat Belum Maksimal
Pagebluk Picu Naiknya Kasus Gangguan Jiwa pada Mahasiswa
Dari Penyintas untuk Penyintas
Ruang aman serupa juga diupayakan melalui kampanye digital kesehatan mental Melihat Lebih Jernih. Kampanye ini berangkat dari sebuah buku berjudul sama karya Foggy FF, yang memuat memoirnya sebagai penyintas gangguan kecemasan serta pengalamannya mempraktikkan mindfulness.
Saat ditemui di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, 26 November 2025, Foggy bercerita bahwa kampanye ini lahir dari keinginan untuk mengubah pengalaman personal menjadi gerakan kolektif.
Bersama Valent Mustamin, ia mengalihwahanakan isi buku tersebut menjadi sebuah program yang bisa diakses dan dirasakan lebih luas oleh sesama penyintas kesehatan mental. Persoalan yang semula bersifat individual, diupayakan menjadi ruang berbagi bersama.
Di tengah dunia yang semakin digital, Foggy menegaskan bahwa kampanye ini bukan tentang detoks media sosial. Ia justru mengajak orang belajar mengelola stres dan berdamai dengan realitas digital yang tak terpisahkan dari kehidupan dan pekerjaan mereka.
Sebagai kampanye digital, Melihat Lebih Jernih menghadirkan sebuah situs yang memuat informasi seputar kesehatan mental. Situs ini juga menjadi wadah bagi berbagai tulisan—baik opini maupun fiksi—yang berkaitan dengan pengalaman kesehatan mental.
“Setiap penyintas itu punya isu yang sama, tapi mengalaminya dengan cara yang berbeda,” ujar Foggy.
Perbedaan pengalaman itulah yang membuat ruang berbagi menjadi penting. Melalui tulisan, keresahan dan pengalaman personal menemukan tempat untuk disuarakan tanpa rasa dihakimi.
Kampanye ini tidak berhenti di ruang digital. Pada 8 November 2025, Foggy dan tim menggelar Ruang Temu: Melihat Lebih Jernih 5.0 di Howl, Library & Creative Space, Bandung. Acara ini menghadirkan empat sesi aktivitas: pengenalan CBT dan praktik support group, menulis dan meditasi mindfulness, journaling, serta creative DIY.
Yang menarik, sebagian besar fasilitator dalam kegiatan tersebut adalah penyintas kesehatan mental. Program ini benar-benar datang dari pengalaman hidup mereka sendiri.
“Kan yang sulit itu ketika profesional membicarakan depresi. Itu kan berupa teori. Kalau kita memang mengalami gitu dan ketika itu disandingkan dengan teori yang diajarkan oleh para professional, kita tuh relate,” cerita Foggy.
Keragaman aktivitas ini sekaligus menjadi alat bantu bagi para fasilitator untuk menghadapi isu kesehatan mental mereka masing-masing. Sejalan dengan keyakinan Foggy, setiap penyintas memiliki cara berbeda untuk meredakan badai di kepalanya.
Dari Ruang Temu ini, lahir ruang aman baru—sebuah support group yang tumbuh dari pertemuan dan cerita. Foggy berharap kampanye Melihat Lebih Jernih terus berlanjut dan membentuk lingkar dukungan baru di setiap aktivasi, menjaring lebih banyak orang untuk saling memahami dan menguatkan.
Isu ini menjadi semakin relevan ketika World Health Organization (WHO) menyoroti kesehatan mental dan kesepian sebagai persoalan global. Pada 2019, WHO mencatat sekitar 970 juta orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental, dengan depresi dan gangguan kecemasan sebagai yang paling dominan.
Kesepian pun tak kalah serius. Dalam laporan From Loneliness to Social Connection yang dirilis 30 Juni 2025, WHO menyebut kesepian dan diskoneksi sosial berdampak luas—bukan hanya pada kesehatan, tetapi juga pada kualitas hidup dan kondisi ekonomi individu.
Isu kesejahteraan psikologis menjadi perhatian serius di Indonesia. Salah satu riset yang menyoroti persoalan tersebut dilakukan oleh Indah Nuraini dan Hermien Laksmiwati dari Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya. Penelitian yang dipublikasikan dalam Character: Jurnal Penelitian Psikologi (2024) itu mengkaji secara khusus hubungan antara kesepian dan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa.
Kesejahteraan psikologis sendiri berkaitan dengan kemampuan individu menjalani hidup secara bermakna, menerima diri, menjalin relasi positif, serta memiliki tujuan dan kontrol atas kehidupannya. Namun, berbagai studi sebelumnya menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa, masih tergolong rendah.
Penelitian Indah Nuraini dan Hermien Laksmiwati menunjukkan bahwa kesepian menyumbang pengaruh sebesar 51,9 persen terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa. Angka ini menegaskan bahwa lebih dari separuh kondisi kesejahteraan psikologis mahasiswa dipengaruhi oleh sejauh mana mereka merasakan kesepian.
Temuan lain yang menarik adalah adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Pada mahasiswa laki-laki, pengaruh kesepian terhadap kesejahteraan psikologis tercatat sebesar 54,4 persen. Sementara pada mahasiswa perempuan, pengaruhnya sebesar 50,7 persen. Meski berbeda tipis, data ini menunjukkan bahwa kesepian menjadi persoalan signifikan bagi mahasiswa, tanpa memandang gender.
Tingginya pengaruh kesepian ini berimplikasi luas terhadap kehidupan sehari-hari mahasiswa. Ketika kesepian tidak tertangani, kondisi tersebut dapat mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan motivasi, serta memengaruhi cara individu memandang diri dan lingkungannya.
Penelitian ini menegaskan bahwa kesepian bukan sekadar persoalan emosional yang sepele, melainkan faktor penting yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Upaya membangun lingkungan kampus yang inklusif, suportif, dan membuka ruang relasi sosial yang sehat menjadi kunci untuk menekan dampak kesepian dan meningkatkan kualitas kesehatan mental mahasiswa.
Di tengah situasi itu, komunitas dan ruang temu seperti CSWC maupun Melihat Lebih Jernih hadir sebagai pengingat sederhana: bahwa didengar, diterima, dan tidak dihakimi bisa menjadi awal dari proses pulih.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

