JALIN JALAN PANTOMIM #8: Mixi Mime Festival 2025, Festival Pantomim Militan untuk Bersikap dan Bersolidaritas
Huru Hara Hurra–Sora Manusa menjadi tema sekaligus pernyataan Mixi Mime Festival ke-3 tahun 2025. Membaca beragam peristiwa kehidupan, kemanusiaan, dan iklim global.

Wanggi Hoed
Seniman pantomim
26 Desember 2025
BandungBergerak.id – Selama tiga hari digelar, dimulai pada 10,11, dan 12 Desember 2025 bertempat di Bumi Pamanah Rasa. Tepat di hari Hak asasi Manusia festival pantomim militan menjadi lokomotif untuk memperluas agendanya yang selalu memberikan ruang pertemuan manusia lintas pengetahuan dan pemikiran kembali dalam pembacaan yang lebih mendalam, banyak bahasan yang terfokus pada kemanusiaan, pangan dan solidaritas global. Selama tiga hari dengan materi acara yang padat dan penuh dengan berbagai pertemuan dengan para narasumber yang berdedikasi dan concern di bidangnya. Bumi Pamanah Rasa dipilih sebagai ruang festival salah satunya membuka ruang diskursus yang saban Rabu memiliki agenda kegiatan rutin bertema Pangan bersama Buruan Sae dan aktivasi ruang yang sangat kental dengan berbagai pertemuan ruang silaturahmi komunitas. Tema pangan dalam hal ini, sangat terhubung dengan agenda yang diusung pada Mixi Mime Festival 2025 sebagai upaya membaca ulang masa depan pangan kita hari ini, di mana programnya selalu di-omon-omon oleh pemerintah namun dalam praktiknya, warga menjadi korban atas kebijakan dari program tersebut.
Mixi Mime Festival 2025 hadir bukan serta merta perayaan seperti halnya festival yang dibayangkan atau momentum festival pada umumnya. Festival pantomim militan (Mixi Mime Festival) dalam kerja-kerja kebudayaan berupaya memperpanjang aktivitas keseharian menjadi ruang apresiasi, mendengar dan membaca kemungkinan taktik lain dari perspektif pembacaan lintas pengetahuan dalam rangkaian kegiatannya, hadirnya pameran arsip dan dokumentasi, pertunjukan seni, diskusi manusia, pasar militan, lelang donasi militan dan pemutaran film dokumenter (film terkurasi) terkait perjuangan warga atas hak ruang hidup dan global seperti halnya Palestina yang masih memperjuangkan kemerdekaan atas tanah airnya. Festival ini turut juga menggalang donasi Solidaritas bagi Palestina dan Sumatra yang diterpa bencana atas bencana politik dan kekuasaan, di mana penyaluran tersebut dilakukan secara transparan dan tepat pada kedua tempat yang membutuhkan secara darurat.

Baca Juga: JALIN JALAN PANTOMIM #5: Pantomim dan Musik sebagai Kekuatan yang Liyan
JALIN JALAN PANTOMIM #6: Nyusur History Bandoeng Bebarengan, Ketika Seni dan Sejarah Berjalan Beriringan
JALIN JALAN PANTOMIM #7: Krisis Literasi Pantomim Anak
Festival Militan yang Bersikap dan Bersolidaritas
Tahun 2025 ini, Mixi Mime Festival yang ketiga kalinya mengusung tema penting menjelang pergantian tahun. “Huru Hara Hurra–Sora Manusa” menjadi tema yang harus dibicarakan pada publik. Mengambil beberapa kata dari Sunda, Jepang dan seruan warga Palestina. Huru (Sunda) artinya dalam bahasa sunda: menyala, terbakar, kobaran. Hara (Jepang) atau dalam makna wilayah adat, menjadi tempat bersejarah, situs keramat, dan sumber kekayaan budaya dan unsur tanah. Hara yang berarti “perut”, tapi bagi kebudayaan masyarakat Jepang lebih dari sekedar fisik. Hubungan ini membentuk identitas dan spiritualitas masyarakat adat, serta menjadi pusat dari praktik-praktik adat mereka selama bertahun-tahun. Hara merupakan entitas dan wadah, yang mengandung unsur-unsur penting bagi manusia, seperti kehidupan, pikiran, perasaan, mentalitas, dan fisik. Konsep Hara “perut” bagi orang Jepang adalah memiliki citra spiritual, psikologis, sosial budaya, dan fisik.
Hurra dalam bahasa Arab Palestina artinya Merdeka, mengacu pada seruan : Filasṭīn Ḥurra; "فلسطين حرة". Seruan yang artinya “Palestina Merdeka” atau “Bebaskan Palestina” menjadi seruan lantang yang mempertegas bentuk festival pantomim militan dan solidaritas atas kehadiran kehidupan itu sendiri dari ketiga kata yang mempersatukan suara kemanusiaan (Sora Manusa) menjadi kekuatan kolaboratif juga solidaritas lintas perjuangan dan harapan untuk menyiasati taktik di masa depan.
Dalam rilis yang tersebar, Mixi Mime Festival ke 3 tahun 2025 kami merebut narasi dan menyatakan seni dalam pernyataan “Huru Hara Hurra–Sora Manusa” dan menjadi tema sekaligus pernyataan sikap festival pantomim kali ini, pembacaan dari beragam peristiwa kehidupan, kemanusiaan dan iklim global yang terjadi selama beberapa dekade ke belakang, dan pembacaan untuk ke depannya. Bahwa “Huru Hara Hurra–Sora Manusa” merupakan manifestasi bagi suara kemanusian, kebebasan, kebertahanan, perlawanan, ingatan, kehilangan, harapan serta perenungan. Festival yang dirancang untuk mempertanyakan dan mendengarkan ulang suara kehidupan kemanusian kita sekarang. Sudah berkesadarankah sebagai manusia? Atau kita semakin menjauh dari kesadaran akan kemanusiaan, merdekakah kita hidup sebagai manusia?

Mixi Mime Festival dengan lugas mempertegas bentuk festival seni pantomim pada ekosistem festival di dunia pantomim global. Memilih jalan sunyi dalam bersikap militan dan mandiri sejak awal Desember 2019 pertama kali festival pertamanya. Dalam atmosfer riung kerakyatan dan semangat kolaboratif dalam solidaritas warga, di mana Mixi Mime Festival yakini bahwa Indonesia sebagai negara dunia ketiga, memiliki posisi yang lentur dan strategis dalam beraktivisme walaupun terjadi dinamika kompleksitasnya di lapangan secara fisik maupun digital.
Festival pantomim Militan adalah jejak sejarah bagi seni pantomim di Bandung yang selama ketiga kalinya digelar secara militan, mandiri tanpa dana sponsor. Festival ini menegasikan bahwa etos dan jejaring yang terawat serta mempertahankan aktivasinya menjadi ruang semangat berbagi dan temu aktivisme seni, humanity dan farmers yang berkesadaran merupakan energi bagi hadirnya festival ini. Dan Bandung, dalam sejarahnya sebagai Ibukota Asia Afrika, turut juga memperkuat festival seni pantomim dengan membawa semangat Bandung atau Bandung Spirit. Di mana situasi dan kondisi geopolitik, sosial, seni budaya dan ekonomi global yang semakin tidak jelas posisinya dan buruknya ekosistem di segala sektor. Mixi Mime Festival meyakini bahwa menyuarakan apa pun banyak spektrumnya dari segala bidang, dan Sora (suara) Manusa (manusia) berupaya menjembatani dan meneruskan suara dari pengetahuan serta mempertemukan pemikiran dan gagasan secara kontinuitas dari berbagai ruang yang terpinggirkan, diabaikan baik yang masih, merawat, bertahan, berjuang di kehidupan era kiamat kesadaran kemanusiaan kita hari ini.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

