• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: #KaburAjaDulu, Ketika Negara Gagal Memberi Masa Depan bagi Generasi Muda

MAHASISWA BERSUARA: #KaburAjaDulu, Ketika Negara Gagal Memberi Masa Depan bagi Generasi Muda

Tren #KaburAjaDulu mencerminkan pergeseran pola partisipasi politik generasi muda di era digital.

Gabriela Ivana

Mahasiswa yang mengekspresikan ketertarikannya pada isu sosial dan global melalui tulisan

Aktivisme digital, yang juga rentan direpresi, merawat keterkejutan, harapan, dan daya tahan perjuangan. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

2 Januari 2026


BandungBergerak.id – Media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang bagi publik untuk menyampaikan aspirasi atau kritik terhadap berbagai isu nasional. Setiap kebijakan atau tindakan pemerintah dapat dengan cepat diperdebatkan dan disebarluaskan melalui platform seperti Instagram, TikTok, hingga X/Twitter, sehingga memicu beragam reaksi publik. Di tengah dinamika tersebut, muncul tren tagar #KaburAjaDulu yang menjadi viral di media sosial sebagai tanggapan atas keresahan masyarakat terhadap situasi dalam negeri.

Istilah “Kabur Aja Dulu” dalam tagar tersebut merujuk pada keinginan untuk meninggalkan tanah air secara temporal atau bahkan permanen, demi mencari kehidupan yang dinilai lebih layak. Banyak warganet, khususnya generasi muda, menggunakan tagar tersebut untuk mengungkapkan kekecewaan terhadap minimnya lapangan pekerjaan, meningkatnya biaya hidup, serta kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat. Meluasnya penggunaan tagar tersebut menunjukkan bagaimana media sosial menjadi wadah utama ekspresi publik atas polemik dalam negeri. Oleh karena itu, tren #KaburAjaDulu dapat dipahami sebagai bentuk kritik halus terhadap memburuknya kondisi sosial-ekonomi dan politik serta ketidakpastian masa depan generasi muda.

Salah satu faktor utama yang memicu munculnya tren #KaburAjaDulu adalah terbatasnya lapangan pekerjaan yang layak. Banyak anak muda lulusan sarjana baru atau fresh graduate mengalami kesulitan memasuki pasar kerja. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia sebesar 4,76 persen pada Februari 2025 dari total angkatan kerja nasional, sementara IMF memproyeksikan tingkat pengangguran Indonesia sekitar 5,0 persen pada tahun 2025. Angka ini menjadi sinyal serius di tengah meningkatnya persaingan kerja dan terbatasnya kesempatan kerja formal.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, sementara di sisi lain banyak perusahaan cenderung merekrut tenaga kerja berpengalaman dibandingkan lulusan baru, sehingga kesempatan kerja bagi generasi muda semakin menyempit. Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, perusahaan juga enggan mengalokasikan biaya untuk pelatihan tenaga kerja. Akibatnya, minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan yang layak, ditambah kondisi ekonomi yang tidak menentu mendorong munculnya tren #KaburAjaDulu sebagai simbol kekecewaan generasi muda.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Pemikiran Politik Indonesia dalam Menciptakan Pendidikan Karakter Generasi Penerus Bangsa
MAHASISWA BERSUARA: Suara Formalitas Mahasiswa di Senayan, Krisis Politik Mahasiswa dalam Bayang-bayang Oligarki
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Solidaritas Digital Mengalahkan Birokrasi Negara

Ancaman Ketimpangan Ekonomi

Selain persoalan ketenagakerjaan, kenaikan biaya hidup turut memperkuat tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat. Meskipun inflasi tercatat relatif stabil menurut standar Bank Indonesia, realitas di lapangan menunjukkan kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang secara langsung melemahkan kemampuan daya beli, khususnya oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Data BPS menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga di Indonesia masih didominasi oleh kelompok makanan sebagai komponen terbesar dalam struktur konsumsi, sementara kenaikan upah riil cenderung terbatas. Kondisi ini membuat rumah tangga semakin rentan terhadap perubahan harga pangan.

Pangan sebagai kebutuhan hidup paling mendasar menjadi pengeluaran utama rumah tangga, sehingga setiap kenaikan harga, sekecil apa pun, sangat terasa dampaknya. Harga kebutuhan pokok semakin fluktuatif akibat bergantungnya musim dan cuaca, distribusi yang belum merata, serta rantai pasok yang panjang. Di sisi lain, pendapatan masyarakat tidak sebanding dengan kenaikan harga barang, sehingga tekanan ekonomi semakin kuat dirasakan. Kenaikan upah terutama bagi pekerja kelas bawah sering kali tidak mengikuti kenaikan harga kebutuhan pokok yang berdampak pada semakin tergerusnya daya beli riil masyarakat.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, Indonesia berisiko menghadapi ancaman akan ketimpangan ekonomi dan menurunnya konsumsi rumah tangga. Dalam situasi tersebut, masyarakat mulai mempertanyakan sejauh mana kebijakan ekonomi mampu menjamin kesejahteraan yang merata bagi seluruh golongan. Hal inilah yang kemudian mendorong tren tagar #KaburAjaDulu untuk mencari kehidupan yang lebih sejahtera.

Kritik pada Pemerintah

Kekecewaan publik terhadap pemerintah juga tercermin dari maraknya kritik terbuka dan aksi demonstrasi yang melibatkan mahasiswa serta masyarakat sipil. Hal ini terlihat dalam aksi Tuntutan 17+8 yang berlangsung pada Agustus hingga September 2025 dan ditujukan kepada Presiden, DPR, partai politik, kepolisian, TNI, hingga kementerian ekonomi. Dari semua tuntutan tersebut, hanya sebagian kecil yang masih dalam proses, dan sebagian besar poin belum terealisasi sehingga memicu ketegangan antara masyarakat dan pemerintah. Polemik ini terus memanas dengan adanya pembatasan ruang gerak, intimidasi terhadap para aktivis dan jurnalis, hingga upaya pengalihan isu. Kondisi ini menandakan kemunduran kualitas demokrasi dan lemahnya perlindungan terhadap kebebasan sipil. Ketika aspirasi masyarakat dibungkam, media sosial menjadi sarana utama yang menaikkan popularitas tagar #KaburAjaDulu untuk menarik perhatian pemerintah.

 Dengan polemik sosial-ekonomi dan politik dalam negeri yang masih terus berjalan hingga saat ini, ruang digital menjadi wadah baru bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya melalui tagar #KaburAjaDulu. Studi Participatory Politics: New Media and Youth Political Action menunjukkan bahwa generasi muda menggunakan media digital untuk menyampaikan suara mereka secara langsung, berbagi opini, dan berpartisipasi dalam dialog publik terkait isu-isu sosial dan politik tanpa bergantung pada kanal politik formal tradisional (Cohen, et.al, 2012). Fenomena #KaburAjaDulu mencerminkan pergeseran pola partisipasi politik generasi muda di era digital, sekaligus menjadi ekspresi kolektif atas ketidakpuasan terhadap kondisi sosial-ekonomi dan kebijakan publik.

Oleh karena itu, tren #KaburAjaDulu seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman atau lelucon semata, melainkan sebagai refleksi atas kinerja pemerintah dan kondisi struktural yang dihadapi generasi muda. Tagar ini dapat dijadikan bahan evaluasi bagi perumusan kebijakan publik yang lebih responsif terhadap persoalan ketenagakerjaan, biaya hidup, dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//