• Buku
  • RESENSI BUKU: Kelinci Percobaan Vaksin Bernama Romusa

RESENSI BUKU: Kelinci Percobaan Vaksin Bernama Romusa

Aiko Kurasawa dan Takao Matsumura pada buku Bom Bakteri dan Vaksin Maut Romusha memberi gambaran babak demi babak kematian massal romusa untuk eksperimen vaksin.

Sampul buku Bom Bakteri dan Vaksin Maut Romusha, Maruta & Unit 731 karya sejarawan Jepang Aiko Kurasawa dan Takao Matsumura. (Foto Sumber: komunitasbambu.id)

Penulis Mukhtar Abdullah5 Januari 2026


BandungBergerak.id – Bulan Mei 2025, Bill Gates menyambangi Indonesia. Ia tak sekadar pesiar, Gates bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka. Sang filantrop bertukar pikir dengan presiden ihwal penyakit menular, seperti TBC, polio dan malaria. Usai pertemuan, Prabowo mengumumkan Indonesia akan jadi tempat uji coba vaksin hasil pengembangan yayasan pendiri milik Microsoft itu.

Pengumuman presiden memancing silang pendapat di sosial media. Sebagian besar warganet mencibir program pemerintah karena dianggap membuat masyarakat Indonesia jadi kelinci percobaan. Menanggapi itu, Menteri Kesehatan, Budi Sadikin membuat klarifikasi ihwal keamanan vaksin yang katanya sudah teruji secara ilmiah.

Meski terdengar konspiratif, rakyat Indonesia memang pernah dijadikan kelinci percobaan vaksinasi. Tepatnya di masa penjajahan Jepang, ratusan romusa meregang nyawa pasca disuntik cairan vaksin di kamp-kamp penampungan. Korbannya bukan cuma mereka, dokter-dokter pribumi dikambinghitamkan atas fenomena kematian massal pekerja paksa tersebut.

Baru-baru ini, karya terbaru dua sejarawan Jepang, Aiko Kurasawa dan Takao Matsumura, mencoba mengupas tragedi tadi secara komprehensif. Buku mereka Bom Bakteri dan Vaksin Maut Romusha, Maruta & Unit 731, memberi gambaran babak demi babak kematian massal romusa hingga pengkambinghitaman para dokter. Keterhubungan dengan proyek sejenis di wilayah penjajahan Jepang lainnya dihadirkan mereka sebagai pembuktian unsur kesengajaan dalam pemberian vaksin.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Hujan, Bandung, dan Kisah Cinta Hema
RESENSI BUKU: Dari Suku Anak Dalam, Butet Manurung Mengajarkan Kita Arti Sebenarnya Merdeka Belajar
RESENSI BUKU: Kita Semua (Pernah) Tolol dan Hidup ini Harus Dinikmati

Dari Klender Hingga Mancuria

Sudah masyhur terdengar betapa bengisnya penjajahan Jepang di Indonesia. Ilustrasinya seperti dikatakan Pramoedya Ananta Toer kepada Kees Snoek, "Mereka lebih dari sekadar penjajah. Mereka penindas. Saya melihat itu, militer Jepang seperti hewan saja. Semua mereka rampas."

Perampasan tak cuma terjadi pada benda, tetapi juga manusia. Baik pria maupun wanita diwajibkan menyerahkan tubuh dan tenaga. Yang satu dikerahkan sebagai romusa. Yang lain dijadikan pemuas birahi pasukan perang. Tindak laku itu, menurut Kurasawa membuat penjajah Jepang ringan tangan menjadikan pekerja paksa kelinci percobaan vaksinnya.

Khususnya di Jawa, perekrutan romusa dilakukan di desa-desa. Setelah dikumpulkan mereka transit sejenak di Jakarta sebelum dilabuhkan ke titik-titik kerja, seperti Sumatra atau Kalimantan. Di tempat persinggahan, mereka digiring ke empat kamp, salah satunya terletak di Klender, Jakarta Timur.

Hasil pelacakan Kurasawa, lokasi bekas Kamp Klender berada di belakang Stasiun Jatinegara. Bangunan penampungan romusa itu didirikan di atas tanah kosong menggunakan bambu. Sekitar seribuan pekerja paksa berjejalan hidup di dalamnya.  Suatu kewajaran setiap harinya kalau ada yang mati karena kelaparan atau pun sakit.

Saat malapetaka vaksinasi terjadi, Kamp Klender sedang dihuni ratusan romusa dari Pekalongan dan Semarang. Sudah jadi prosedur standar Tim Penagannan Romusa menyuntik tiga jenis vaksin: tifus, kolera, dan disentri. Alasan pemerintah militer Jepang melakukannya agar para pekerja paksa terhindar dari penyakit menular di tempat kerjanya kelak.

Alih-alih jadi kebal penyakit, pada 6 Agustus 1944, para romusa yang sudah divaksin mulai berguguran. Mereka meregang nyawa secara mengenaskan. Dalam kondisi sekarat, banyak yang meronta-ronta menahan sakit. Kondisi tubuh mereka kaku dan mengejang hebat, serta mulut tertutup. Tercatat di tanggal itu, 31 orang terjangkit virus.

"Para penyintas ‘ditumpuk’ dan diangkut bolak-balik dengan truk dari Jatinegara ke Salemba, melalui Jalan Matraman menuju Rumah Sakit Ika Daigaku, lalu kembali ke kamp Klender. Akhirnya 31 pasien dikarantina dan dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Ika Daigaku Jakarta". (hlm 21)

Selama hampir dua minggu korban vaksin terus bertambah. Kematian baru dapat dihentikan setelah keluar keputusan pemberian serum pada 15 Agustus 1944. Laporan Kepala Bagian Medis AD ke-16 yang disodorkan Kurasawa, menyatakan total orang terinfeksi sebanyak 478, dari jumlah itu 368 meninggal dunia. Ternyata dokumen tadi ikut memperlihatkan wabah tak cuma terjadi di Klender, tetapi juga di Sumatra dan Kalimantan.

Awalnya kematian romusa dikaitkan dengan penyakit meningitis. Namun para dokter pasca melihat gejala kematian, meyakini para romusa terjangkit tetanus. Padahal itu bukanlah penyakit menular, sebab bakteri tetanus berasal dari tanah dan menginfeksi manusia melalui luka terbuka. Kesimpulan mereka, merebaknya wabah berhubungan dengan pemberian vaksin.

Kempetai–polisi rahasia Jepang–dituliskan Kurasawa memaksa dokter-dokter pribumi mengakui keterlibatan dalam malapetaka vaksin. Skenario pengkambinghitaman disusun dengan bumbu politis, konspirasi anti-Jepang. Para dokter dikatakan bekerja sama menyabotase proyek militer Jepang di Indonesia, caranya dengan mencampur basil tetanus ke cairan vaksin romusa.

Skenario bikinan kempetai berujung vonis hukuman mati kepada dr. Mochtar–direktur Lembaga Eikjman–dan penjara seumur hidup bagi dr. Suleman Siregar–Tim Penanganan Romusa.  Pengakuan mantan perwira intelijen Jepang pasca perang, dr. Mochtar dieksekusi dengan cara di penggal, lalu tubuhnya digilas menggunakan mesin uap di Ancol. Sedangkan, dr. Suleman Siregar meregang nyawa secara misterius di Penjara Cipinang, indikasi utama ia disiksa parah, bahkan keluarga tak boleh membuka peti mati jenazahnya.

Pengkambihitaman dokter pribumi dipakai untuk menutupi proyek pengembangan vaksin dan senjata biologis Jepang. Sebab, kedua dokter yang dibersalahkan tak pernah sama sekali ikut dalam pembuatan vaksin. Semua cairan diproduksi di lembaga Pasteur, Bandung. Institusi itu dikepalai orang Jepang, dan terhubung ke Unit 9420 yang bertugas melakukan karantina dan memasok air bersih di wilayah Selatan.

Unit 9420 terkoneksi ke Unit 731 di Harbin, Manchuria. Unit 731 yang dikepalai Shiro Ishi'i adalah pusat utama menjalankan proyek militer Jepang selama perang. Di daratan Tiongkok, salah satu tugas unit adalah melakukan eksperimen pembuatan vaksin tetanus. Serupa dengan di Indonesia, tubuh manusia dipakai sebagai kelinci percobaan untuk menguji efektivitas temuan mereka.

Dalam melakukan eksperimen, mereka menggunakan tubuh manusia yang ditangkap kempetai karena tuduhan menentang penjajahan Jepang. Subjek eksperimen di tempatkan di penjara khusus di tengah bangunan rogoto. Mereka dilabeli dengan sandi rahasia maruta yang berarti kayu gelondongan atau log. (152)

Vaksin tetanus sangat dibutuhkan Jepang untuk meningkatkan upaya pencegahan kematian prajurit di pertempuran. Sebab, pihak sekutu lebih dulu menemukan vaksin tetanus sehingga efektif memperkuat antibodi pasukan perang mereka. Di luar itu, Unit 731 menemukan terobosan senjata biologis lewat metode "PX", menggunakan kutu tikus sebagai kurir bakteri pes yang disebar melalui udara atau pun darat. Hasilnya, beberapa wilayah Tiongkok mengalami fenomena wabah hitam.

Kurasawa dan Matsumura di akhir memberikan catatan kritis bagaimana proyek tadi ditanggapi pihak sekutu. Meski jaringan Unit 731 disidang dalam pengadilan perang, tetapi sebagian besar eksponennya mendapat amnesti. Itu terjadi karena adanya kontrak rahasia antara AS dan anggota  jaringan unit untuk menukar temuan mereka selama eksperimen. Khususnya, kasus romusa Indonesia, sekutu bahkan tak banyak memberi perhatian.

Ikhtisarnya, sikap skeptis publik terhadap proyek vaksinasi tak boleh dicap konspiratif. Bahkan dalam sejarah Indonesia kepingan penting yang diberikan dua sejarawan Jepang itu jadi bukti penting, penggunaan masyarakat sebagai kelinci percobaan. Sebagaimana dituliskan keduanya: "vaksin militer, oleh militer, untuk militer". Sehingga kita dapat kritis mengatakan jangan-jangan sekarang: "vaksin bisnis, oleh bisnis, untuk bisnis".

Informasi Buku

Judul Buku: Bom Bakteri dan Vaksin Maut Romusha, Maruta & Unit 731

Penulis: Aiko Kurasawa dan Takao Matsumura

Cetakan: Pertama

Penerbit: Komunitas Bambu

Tahun: Juli 2025

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//